Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Bersitegang


__ADS_3


Terkadang kita membutuhkan sebuah teman untuk bercerita. Mengurangi rasa sakit dan kecewa dengan berbagi keluh kesah sungguh adalah cara yang ampuh untukku saat ini. ~Jessica Alexzandra Caroline~


****


Jessica benar-benar menangis sampai dirinya merasa tenang. Dadanya naik turun karena emosinya tak stabil. Matanya memerah dengan bekas air mata yang langsung dibantu oleh Amanda untuk menghapusnya. 


"Apa kamu sudah tenang?" tanya Amanda lembut sambil merapikan rambut Jessica yang menutupi wajah bagian depan.


Wanita itu mengangguk dan membuat Amanda lega seketika. Dia segera menyuruh Jessica untuk duduk dan perempuan itu menurut. Dengan penuh perhatian, kekasih Bima itu menggandeng sahabatnya untuk duduk dan bersandar pada susunan bantal yang sudah dia atur. 


Lama mereka saling diam. Hingga perlahan tangan Amanda menggenggam erat kedua tangan Jessica. Mata keduanya bertemu dan membuat senyum manis terbit di bibir Amanda.


"Apakah kamu ingin menceritakan segala keluh kesahmu padaku?" tanya Amanda dengan elusan lembut di tangan Jessi. "Mungkin setelah bercerita kamu akan lega dan ingatlah, di perutmu ada calon keponakanku yang jau aja berpikir," sungutnya pura-pura kesal dengan bibir mengerucut. 


Perkataan Amanda serta bibir monyongnya membuat senyum kecil terbit di bibir Jessica. Dia tak percaya jika hadirnya sahabatnya itu sedikit menghibur hatinya. Apalagi, dia juga sadar bahwa bila dirinya berpikir maka anak yang ia kandung juga akan merasakannya. 


Menghembuskan nafas berat, Jessica menyamankan sandaran punggungnya dan mulai bercerita. Dia menceritakan kejadian tadi pagi dengan detail hingga membuat mulut Amanda menganga lebar. 


Sungguh dia tak tahu semua ini. Bahkan kekasihnya tak pernah bercerita. Tapi dibalik itu semua, Amanda berpikir pasti ada alasan jelas yang membuat Bosnya itu lebih memilih menyembunyikan itu semua daripada menjelaskan pada sahabatnya.


"Aku begitu kecewa padanya, Man. Aku begitu sakit melihatnya jatuh dan berpelukan dengan seorang wanita," ucap Jessica dengan sesenggukan. 


"Tenanglah. Tapi apakah kamu sudah bertanya kepadanya? Maksud aku tanya ke Pak Bos?" tanya Amanda dan dijawab gelengan oleh Jessica.


"Menurutku ini hanya salah paham, Jess." 


"Salah paham bagaimana?" seru Jessica tanpa sadar menaikkan suara nya.


"Tenanglah, Jess." Amanda mengusap tangan sahabatnya, "jangan mudah emosi. Ingatlah bahwa kamu sedang hamil."


Jessica tersadar. Sepertinya hormon kehamilan memang membuatnya gampang marah. Mengatur nafas serta emosinya dia mulai menenangkan diri. 


"Begini maksudku. Apa kamu sudah tanya sama Pak Bos siapa wanita itu?"


"Belum." 


"Nah jika belum tanyakan saja. Menurutku aku bisa menebak jika kejadian itu tak sesuai dengan yang ada di foto. Pasti ada kambing hitam di balik itu semua dan ingin menghancurkan kalian berdua," ucap Amanda menjelaskan.


"Apa benar?" 

__ADS_1


"Bukankah pernikahan itu adalah jalan yang dibenci oleh jin? Maka dari itu banyak hasutan jin yang membuat sepasang pengantin saling salah paham dan hancur." 


Dalam hal pernikahan memang Amanda tak memiliki pengalaman. Tapi dari banyaknya kajian yang didengar melalui televisi dan youtube. Mengajarkan dan membuatnya sedikit mengerti jika Pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang begitu sakral dan memupuk pahala. Maka dari itu dalam sebuah pernikahan pasti banyak ujian yang menguji keduanya untuk bertahan atau melepaskan. 


"Jika kamu tak percaya tanyakan pada Daddymu atau nenek. Pasti mereka akan menasehatimu dengan baik karena pengalaman mereka."


Mendengar penjelasan Amanda membuat Jessica mengangguk. Sedikit demi sedikit emosi dan rasa kecewanya berkurang. Sakit hatinya saja perlahan bisa dia terima dan dia bersyukur hadirnya Amanda membuatnya memiliki teman curhat. 


Bukan maksud dia menjelekkan Rey pada Amanda. Tapi, sebagai seorang manusia. Kita punya sisi dimana kita membutuhkan teman ngobrol untuk mengurangi segala tekanan yang ada dalam diri kita sendiri. 


"Makasih ya, Man. Berkat kamu aku sedikit lebih tenang."


"Sama-sama. Tapi sebagai upah. Kamu harus makan," bujuk Amanda dengan mata penuh permohonan. "Ingatlah, kamu gak sendirian. Ada Baby Rey yang harus kau beri makan." 


"Baiklah." 


Dengan wajah bahagia dan perasaan lega. Manda mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Dia menyuapi Jessica pelan-pelan dan tak lupa dia membantu Jessica untuk minum vitamin bagi kandungannya. 


Setelah selesai dia segera menyelimuti Jessica dan berpamitan untuk keluar sebentar. 


"Kamu istirahat yah. Aku mau nemuin mertua kamu sama Daddy kamu. Ingat tidur yah. Biar keponakan aku juga tidur."


Amanda keluar dari ruangan Jessica dengan senyuman lebar. Semua orang yang berada di luar segera mendekati kekasih Bima itu dengan wajah penasaran.


"Sudah, Nyonya. Jessica barusan mau makan dan minum vitamin. Sekarang dia istirahat." 


Penjelasan Amanda membuat semua orang bernafas lega. Tak henti-hentinya Mama Ria dan Daddy Stevent mengucapkan terima kasih. Tak lupa mereka juga berkenalan dengan sahabat menantu dan putrinya itu hingga membuat semua orang mulai terlihat akrab. Namun yang membuat perhatian Amanda teralih adalah wajah Bima yang menatapnya penuh bangga hingga membuat Amanda ingin sekali jatuh dalam pelukan kekasihnya itu. 


****


"Kelakuan kamu udah kelewat batas, Mar!" seru Mario marah. 


"Memang apa yang udah Marlena lakukan, Kak? Mar aja dari tadi dirumah," sahutnya tenang sambil menatap kuku-kuku lentik miliknya.


"Jangan pura-pura bodoh di depan Kakak. Kakak udah tau semua apa yang kamu rencanain." 


"Wahh." Marlena beranjak dan berdiri di depan Kakaknya sambil bertepuk tangan. "Bagus dong kalau Kakak udah taًu. Jadi Mar gak perlu ngejelasin lagi sama, Kak Mario." Lanjutnya dengan bibir menyeringai.


"Kamu," jeda Mario sambil menahan tangannya yang sudah ada di atas kepala. 


"Kenapa diam?" seru Marlena dengan menatap sengit kakak kandunganya itu. 

__ADS_1


"Jangan harap karena kamu adalah Kakakku, aku akan takut," serunya dengan nafas menderu.


Memang dua kakak adik ini adalah orang yang sulit mengendalikan emosinya. Mereka sama-sama keras kepala dan begitu semangat jika sudah menjadi tekadnya.  


Mario menurunkan tangannya. Dia menatap lembut ke arah sang adik yang begitu dia sayangi.


"Semua yang kamu lakuin salah, Mar. Dia adalah pria beristri, dan istrinya adalah sahabat kamu sendiri." 


"Aku tau," ujarnya cepat dengan mata berkilat marah. "Tapi Mar gak peduli itu. Yang penting sekarang, Rey harus menjadi milikku." 


"Jangan harap rencanamu akan berhasil. Meski aku adalah Kakakmu, tapi aku Mario Sanoci akan melindungi hubungan mereka dari penghancur sepertimu." 


Setelah mengatakan itu, Mario langsung berbalik dan pergi meninggalkan rumahnya. Dia sudah tak melihat bagaimana wajah marahnya seorang Marlena dengan tangan terkepal kuat dan dada yang naik turun.


"Jangan harap Kakak bisa menghancurkan rencanaku!" teriak Marlena marah.


"Karena aku sendiri yang akan melakukan semuanya, sekalipun itu akan menghancurkanmu." 


Tanpa banyak kata, Marlena segera mengambil ponselnya dan sejenak mengotak atiknya.


"Cepat lakukan rencana ketiga dan pastikan semuanya beres dengan bersih. Bawa dia ke vilaku yang tersembunyi dan tunggu aku disana." 


~Bersambung~


Emang si Mar Mar makin gila geng. Maafkan dia hahaha.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di ****)



__ADS_2