
Kau memang adikku. Tapi jika kau ada di jalan salah maka aku sebagai kakak wajib untuk mengajakmu kembali ke jalan yang benar. ~Mario Sanoci~
****
Dor!
"Papa!" jerit Mario kencang.
Entah kapan Sanoci datang tiba-tiba dia sudah menghalangi peluru itu untuk menembak rekan kerjanya itu. Dia memeluk Stevent yang saat ini mengerang karena Sanoci tak sengaja menekan pahanya.
Namun perlu diingat!
Pria itu menatap wajah Stevent yang ada di dekatnya. Dia meneteskan air mata sambil mengucapkan beribu maaf pada ayah Jessica itu.
"Maafkan perbuatan putriku, Stev. Dia hanya sedang salah arah," ucapnya terbata.
Mario yang melihat itu langsung tak berdaya. Dia berlari ke arah sang Papa dan menjadikan pahanya untuk bantalan kepala pria yang berjasa di hidupnya.
Air mata penuh penyesalan muncul di mata Mario dengan mendekap kepala papanya.
"Bertahanlah, Papa."
"Cepat siapkan heli. Kita harus bawa Papa ke rumah sakit," serunya berteriak.
Semua anak buah Mario bergerak. Namun Marlena yang entah berpikiran apa dia menembakkan pelurunya ke platform rumah.
"Tidak ada yang boleh keluar dari mansion. Jika tidak akan akan menembak kalian," ancamnya penuh amarah.
__ADS_1
Mario menatap adiknya dengan linangan air mata. Dia tak mengerti apa yang sudah ada dipikiran gadis itu. Ini adalah keadaan darurat. Bahkan tangannya sendiri yang menembak papa-nya lalu sekarang kenapa gadis itu berulah kembali.
"Apa yang kau inginkan, Mar? Apa kau tak cukup menembak Papamu sendiri? Apa karena cinta aku mengorbankan Papamu untuk semua keinginanmu?" ujar Mario dengan menangis.
Dia memang pria dan tak seharusnya menangis. Tapi melihat keadaan Papa yang begitu dia sayang sungguh membuat hatinya teriris. Meski selama Sanoci hidup dia tak menjadi ayah yang baik, tapi Mario begitu mengerti jika papanya menyayangi mereka berdua.
Itu semua bisa dilihat bagaimana sayang ya Sanoci pada mereka. Bahkan ketika dulu Mario dan Marlena masih kecil. Jika Sanoci baru pulang kerja tapi kedua anaknya mengajak bermain maka dengan senang hati pria itu mengabulkan.
Lalu kenapa semua itu seperti tak berarti untuk Marlena?
Kenapa semua kenangan dan perjuangan Papanya seperti angin lalu untuk gadis itu?
"Itu semua salah Papa yang memberikan tubuhnya sebagai tameng. Aku hanya ingin Rey, jadi kalian semua diam."
Marlena berjalan menuju Rey yang sedari tadi diam terduduk. Pria itu memang tak bisa melakukan apapun karena sakit dan tangannya di ikat. Maka dari itu dia hanya bisa melihat tanpa bisa melakukan satu hal apapun.
"Berdiri kau!" seru Marlena menarik rnatai tangan Rey.
Mario menatap Papanya. Dia melihat pria paruh baya itu menahan sakit yang teramat sangat di punggungnya. Sanoci memegang tangan putranya sambil berusaha berbicara.
"Tolong selamatkan adikmu, Nak," ucap Sanoci terbata-bata. "Bawa dia kembali ke jalannya dan sadarkan adikmu itu."
Sanoci terbatuk. Bahkan darah mulai keluar di mulutnya. Mario semakin menangis. Matanya memerah dengan nafas menderu.
Seakan rasa kecewa, marah, sedih berkumpul menjadi satu. Dia menoleh ke belakang dan melihat adiknya berjalan sambil menarik Rey.
Ingatan ucapan sang Papa terngiang di telinga nya. Hingga membuat Mario mengangkat kepala Sanoci dan meminta Bima menggantikannya.
"Tolong jaga Papaku sebentar. Aku akan membereskan semuanya," pintanya pada Bima.
__ADS_1
Dengan langkah berat Mario membawa pistol yang ia letakkan tadi. Berjalan beberapa langkah lalu menodongkan pistol mencari area yang tepat pada tubuh adiknya.
"Jika kau tak berhenti. Kakak akan menembakmu," serunya berteriak.
~Bersambung~
Tembak beneran apa gak ya Mario?
Hayoo
JANGAN LUPA VOTE AKU DONG KALAU ADA TIKET DARI NT. Aku semangat updatenya loh.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1