
Sebagai sesama manusia, tugas kita itu hanya satu. Menolong sesamanya dengan ikhlas dan tanpa meminta timbal balik. ~Khadijah Haura~
****
Kabar Perusahaan Pratama yang berada di ambang kehancuran, langsung menjadi trending topic hari ini. Menakjubkan bukan? Perusahaan yang menduduki peringkat tinggi di Indonesia setelah milik Perusahaan Raharja itu menjadi berita terkini hari ini.
Bahkan hampir seluruh stasiun televisi dipenuhi oleh berita tentang Perusahaan Pratama. Sungguh diluar dugaan bukan? Ternyata hanya dengan kata 'hancurkan' yang diucapkan oleh Jackson, mampu meruntuhkan perusahaan yang sudah lama berdiri itu.
Jangan pernah meragukan kinerja anak buah Stevent Alexzandra. Sentil sedikit pasti akan langsung terkabul. Apalagi, kekejaman Jack juga tak kalah kejam dari Stevent. Banyak para pengusaha yang takut pada sosok Jack.
Pria itu adalah orang yang paling setia di belakang Stevent Alexzandra. Jika Ste meminta nyawa Jack, pasti akan langsung dikabulkan oleh pria itu. Maka tak ada orang yang mampu menandingi kekuatan mereka kecuali satu orang. Ya pasti kalian tahu lah, siapa lagi jika bukan Prince Khali.
Kabar tentang perusahaan Rey yang hampir bangkrut, sampai di telinga Adik Khali. Siapa lagi jika bukan Khadijah Haura. Gadis itu tentu saja terkejut bukan main. Bahkan dia sampai membaca halaman web yang ia buka sampai habis.
"Apa yang terjadi?" gumam Haura tanpa sadar hingga membuat Aqila yang sedang membawa buku di sebelahnya terusik.
"Ada apa, Ra?" tanya Aqila sambil menutup buku yang ia pegang.
"Perusahaan Kak Rey hampir bangkrut, Kak."
"Astagfirullah." Aqila tentu saja tersentak kaget. Dia bahkan tak percaya jika perusahaan yang berdiri sejak lama bisa runtuh dalam sekejap.
"Apa masalahnya, Ra?" tanya Aqila yang ikut tegang dan panik sambil meletakkan bukunya diatas meja.
"Entah, Kak. Disini tak ada alasan apapun. Hanya saja, banyak klien yang memutus kerjasama dengan Perusahaan Kak Rey.
"Pasti Tante Ria merasa kacau."
Haura mengangguk. Saat pikiran kedua gadis itu melanglang buana. Kehadiran Khali membuat Aqila tersadar dari lamunannya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Khali setelah mengucapkan salam dan menghadiahi kecupan di puncak kepala istrinya.
"Perusahaan Kak Rey lagi ada masalah, Kak." Itu bukan suara Aqila melainkan suara Haura yang menjawab.
Khali terdiam, dia menatap sang istri yang sedang menatapnya balik. "Ada apa?" tanya Khali
"Kenapa Hubby biasa aja?" Tentu saja respon Khali membuat Aqila bertanya-tanya. Biasanya pria itu akan merasa khawatir juga, jika orang yang ia kenal kesusahan.
"Karena aku sudah mengetahuinya, Sayang."
"Bagaimana bisa?"
"Bisa," sahut Khali. Dia menatap adiknya yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu padanya. "Memikirkan apa, Adikku?"
__ADS_1
"Apa Kak Khali tahu?"
Khali tersenyum, dia tahu betul apa yang dimaksud adiknya ini. Segera lelaki itu mengangguk dan membuat dua gadis di depannya semakin penasaran.
"Apa, Kak?" tanya Haura langsung.
"Karena ada seseorang yang ingin membuat Rey menyerah dan pergi dari New York." Jawaban Khali langsung saja dicerna oleh Haura.
Gadis cantik yang dikaruniai otak pintar tentu saja tahu betul maksud sang kakak. Jika begini, ia harus membantu lelaki yang sudah dianggap sebagai kakaknya juga.
"Bolehkah Haura bantu Kak Rey?"
Bagaimanapun dia hanyalah seorang anak dan adik. Apapun yang akan ia lakukan pasti Haura akan pamit pada keluarganya. Mendapatkan jawaban anggukan dari sang Kakak gadis itu mengucapkan banyak terima kasih dan meminta doa agar semuanya berjalan lancar.
Segera Haura mengambil tablet dan berjalan menuju kamarnya sambil mengotak atik benda pipih yang berada di tangan kanannya.
"Terima kasih, Hubby."
"Untuk?"
"Untuk semua yang selalu kau lakukan."
"Itulah tujuan manusia, Sayang." Khali menarik istrinya ke dalam pelukan, "sebagai manusia yang sama-sama ciptaannya. Tugas kita hanya menolong dan menolong mereka tanpa pamrih."
****
Pergerakan Rey yang sedang membereskan semua berkas di meja makan menjadi terhenti. Pria itu merasakan sebuah getaran dari ponsel yang berada di sakunya. Segera dia menggeser layar dan mendekatkan benda pipih itu di telinganya.
"Assalamualaikum." Rey menatap ponselnya lagi. Memang tadi saat menggeser layar ia sudah tak melihat siapa yang menelpon.
"Haura?" gumam Rey dalam hati.
Mendekatkan kembali ke telinga, Rey mulai menyahut. "Waalaikumsalam."
"Apa aku mengganggu, Kak?" tanya Haura.
"Hmm sedikit," sahut Rey.
"Kenapa disana ada suara gaduh?" tanya Haura yang menangkap suara lain dari seberang telponnya.
"Ya, Kakak sedang beres-beres barang untuk kembali ke Indonesia."
"Hmm karena berita itu?"
Rey terdiam. Bagaimana gadis itu tahu. Apakah semua media sudah mencium berita ini. Rey dan yang lain memang sedari tadi tak membuka ponsel. Mereka membereskan semua barang milik Rey untuk segera kembali ke tanah air.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tahu, Ra?" tanya Rey menghentikan aktifitas tangannya.
"Karena berita itu sudah tersebar ke seluruh dunia bisnis."
"Apa?" Rey mendadak limbung. Untungs aja, David yang berada di belakang menahan tubuh Tuannya itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
Rey shock bukan main. Dengan pelan, David membantu bosnya itu untuk duduk. Ia juga memberikan air putih pada Rey dan langsung diminum olehnya. Sungguh ia tak menyangka jika berita ini akan tersebar dalam hitungan jam.
Memejamkan matanya sesaat lalu Rey kembali meraih ponsel yang ia letakkan di meja makan.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Haura khawatir.
Tentu saja gadis itu panik karena mendengar suara David. Dia menjadi merasa bersalah karena mengatakan hal itu pada Rey yang sedang banyak pikiran.
"Aku harus segera kembali, Ra." Suara Rey terdengar buruk. Lelaki itu sungguh tak tahu harus berbuat apa. Semuanya serba cepat dan tak bisa dicegah.
Entah kenapa kepala mendadak sakit dan ia merasa ketakutan sekali. Takut akan mengecewakan sang amma dan almarhum papanya. Perusahaan itu adalah peninggalan orang tua Rey memang, dan dia tak mau jika perusahaannya diakuisisi dan diambil oleh orang lain.
"Jangan, Kak." Tolak Haura cepat.
"Kenapa?" tanya Rey dengan heran.
"Karena Haura yang akan membereskan semuanya. Kak Rey fokus dengan urusan di New York. Percayakan saja, urusan Perusahaan Pratama semuanya kepadaku, Kak."
~Bersambung~
Tak semudah itu, membuat Rey hengkang dari New York ya Jack, wlekkk hahaha.
Ayo Haura semangat, uhuyy.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1