
Prince Khali dan Nona Aqila
Pernikahan tak selamanya untuk mendapatkan anak, anak dan anak. Hadirnya seorang penerus itu adalah bonus dari Allah. Yang terpenting, kedua manusia disatukan untuk saling menyempurnakan agama dan memperbaiki diri secara bersama. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
****
Aqila menata kotak bekal makan di meja panjang berbentuk oval itu. Dia membuka satu persatu menu makanan yang dia bawa. Senyum Khali mengembang saat dirinya melihat jika sang istri membawakan makanan favorit dirinya. Sepiring nasi keju tuna ditambah dengan udang tempura digoreng krispi membuat selera makan Khali meningkat.
Sedangkan Aqila, dia membukakan kotak bekal berwarna biru tua yang ternyata isinya adalah nasi goreng seafood yang juga termasuk makanan kesukaan Rey sendiri.
"Ini, Mas." Aqila menyodorkan kotak makan di meja tepat depan Rey.
Setelah itu, gadis memakai gamis hitam beranjak berdiri dan mengambil dua buah gelas besar yang akan diisi jus yang sudah dibuat di rumah. Dengan segera Aqila menuang air berwarna orange itu di dalam gelas dan meletakkannya di depan dua pria yang sedang asyik mencium dan menghirup aroma yang begitu membuat liur mereka ingin menetes.
"Kenapa gak dimakan?" tanya Aqila menatap dua pria yang memegang kotak bekal dan hanya memandangnya.
"Baunya enak banget, La," sahut Rey tanpa sadar.
Aqila hanya tertawa kecil dan menatap sang suami.
"Kenapa, Hubbyku Sayang?" tanya Aqila dengan suara berbisik karena takut mengganggu Rey yang sudah melahap makanannya.
"Suapin!" pinta Khali dengan tersenyum.
"Sini!" Aqila meminta kotak bekal dan memindahkan ke tangannya. Lalu dia mulai menyendok sesuap nasi dan memberikan pada suaminya.
"Gimana?" tanya Aqila dengan wajah penasaran.
Bukannya segera menjawab. Khali malah meresapi setiap kunyahan yang berada di dalam mulutnya. Setelah menelan semuanya, dia mendekat dan berbisik di telinga kiri sang istri.
"Enak banget. Makasih, Ya Humairah."
Pipi Aqila bersemu merah dengan tawa mengembang. Suaminya ini memang pandai memuji. Bahkan selama pernikahan mereka, Khali sekalipun tak pernah marah. Dulu, saat awal menikah, Aqila pernah salah membuat makanan dan menjadikan menu masakannya asin. Namun, dengan senyuman Khali tetap mengatakan jika makanan itu enak dengan memakannya sampai habis karena takut sang istri akan sakit hati.
Itulah sikap yang selalu membuat Aqila ingin memasak apapun yang begitu enam dan tak membuat sang suami tersiksa kembali. Keduanya saling bertatapan penuh cinta dan melupakan bahwa di ruangan itu ada seorang single yang sedang merana. Ehh enggak sih, gak single, kan dah taken hehe. Cuma lagi gak bisa ketemu aja.
__ADS_1
Rey yang melihat sepasang pengantin di depannya ini ikut tersenyum. Dia tak sakit hati, bahkan tak cemburu sekalipun. Malahan, lelaki itu membayangkan jika di depannya ini adalah dirinya dan Jessica. Uhh pasti ia akan menjadi lelaki yang bahagia. Membayangkannya saja sudah membuat bibirnya mengembang dan tanpa sadar jika dirinya menjadi tontonan Khali dan Aqila.
"Tuan Rey baik-baik saja?" Suara Khali mengejutkan lamunan Rey dan membuat pria itu tersentak kecil.
Rey mengangguk dan tersenyum. "Saya barusan hanya sedang berandai-andai," ujarnya dengan salah tingkah.
Rey tak menyangka ia akan ketahuan memandangi keduanya dan terlebih. Dirinya juga membayangkan jika mereka adalah dia dan pasangannya.
"Semoga urusan anda cepat selesai. Lalu anda segera ajak dia menikah," tutur Khali dengan tersenyum.
"Tentu saja. Saya akan menyusul anda nantinya."
Tak lama, setelah makanan mereka habis dan Aqila membereskan semuanya. Rey segera pamit undur diri karena ia harus mengabari asistennya untuk datang ke New York dalam waktu singkat.
"Jika anda butuh bantuan. Kabari saja saya, Tuan Rey." Khali menyodorkan tangannya dan segera diterima oleh Rey.
"Terima kasih banyak atas bantuan anda, Tuan. Saya berhutang budi."
Khali menggeleng. "Ini semua karena memang potensi anda bagus. Saya hanya perantara dari Allah untuk membantu anda."
"Sekali lagi terima kasih dan saya pamit." Khali mengangguk.
"Wa'alaykumsalam."
****
Setelah mengantar Rey pergi dari perusahaannya. Segera Khali kembali ke ruangannya dengan cepat. Disana, ada sang istri yang sedang menunggunya dengan sabar.
Saat ia dorong pintu kerjanya itu, pandangan pertama yang Khali lihat adalah, sang istri sedang membersihkan meja kerjanya.
"Assalamualaikum, Ya Humairah." Khali melingkarkan tangannya ke perut sang istri dan memeluknya dari belakang.
Aqila tersentak kaget namun ia tersenyum saat mengetahui jika yang memeluk dirinya adalah sang suami. "Waalaikumsalam, Hubby."
"Kamu ngapain, hmm?" Khali menyerukan wajahnya di leher sang istri yang dibalut oleh kerudung. Wangi mawar yang begitu memabukkan membuatnya enggan menjauh dan melepaskan dekapannya.
"Lagi beresin meja kerja kamu, By. Lihat, kalau begini, 'kan bersih?" Aqila memperlihatkan hasil kerja kilatnya barusan.
Khali tersenyum, istrinya ini memang tak pernah malu. Bahkan dia selalu terlihat tersenyum bahagia meski di luar sana banyak gadis yang selalu iri dan mencacinya.
__ADS_1
"Kok diam, By." Aqila berbalik dan menatap wajah sang suami yang terlihat sendu.
"Ada apa?" ulang Aqila penasaran.
Khali menggeleng, "aku hanya berfikir Allah baik sama kita, Sayang.
"Kok bisa?"
"Karena Allah masih nyuruh kita pacaran. Dia tahu jika kita menikah bukan karena pacaran melainkan taaruf. Jadinya waktu-waktu ini kita buat saling mengenal dan bersama."
Aqila tersenyum getir. Dia tahu kemana arah maksud sang suami. Melepaskan pelukannya, gadis itu berjalan menuju jendela besar yang berada di belakangnya. Matanya menerawang ke depan, dengan tangan kiri yang ia gunakan mengusap perutnya.
Memejamkan matanya, ia menahan gemuruh hati yang selalu muncul ketika membahas ini. "Apa kau menginginkan seorang anak diantara kita, By?" tanya Aqila tanpa melihat suaminya itu.
Khali merasa bersalah, ia segera berjalab menuju sang istri dan membalikkan wajahnya. Tatapan keduanya bertemu dan Khali menghapus air mata yang menetes di kedua mata Aqila.
"Maafkan Hubby jika kata-kataku menyakitimu, Sayang." Khali mencium kedua mata sang istri dengan perasaan menyesal.
Aqila memaksakan tersenyum dan menggeleng. "Jawab Hubby. Apa kau menginginkan seorang penerus?"
"Aku memang menginginkan seorang penerus. Tetapi tujuanku menikah bukan hanya itu saja, Sayang." Jelas Khali dengan memberikan pengertian. Ia ambil dua tangan sang istri dan menyatukan dengan tangannya.
"Aku menikah ingin menyempurnakan agama. Adanya anak atau tidak itu hanya bonus dari Allah. Jangan jadikan itu beban untukmu. Karena selamanya Hubby tak akan pergi meninggalkan kamu selain Allah yang akan memisahkan kita."
Aqila segera menghambur ke pelukan Khali. Suaminya ini selalu mampu menenangkan gejolak hatinya. Pria ini tak pernah menuntut apapun, bahkan perihal anak. Aqila juga bersyukur memiliki mertua dan keluarga yang tak pernah memaksanya untuk segera memiliki momongan. Mereka semua sama jawabannya dengan sang suami. 'Anak hanyalah bonus dari sebuah pernikahan. Namun tujuan pernikahan yang sebenarnya adalah untuk menyempurnakan agama kita dan memperbaiki amal serta perbuatan yang nantinya akan mereka lakukan secara berdua.'
~Bersambung~
Semua orang pasti pemikirannya beda-beda. Tetapi kalau aku sendiri, sebuah pernikahan bukan melulu tentang mendapatkan anak.
Anak menurutku adalah bonus terindah dari Allah untuk mereka pasangan pengantin. Namun, tujuan nikah kalau aku ya untuk menyempurnakan agama yang pasti.
Yang biasanya males sholat dan telat-telat, kalau ada pasangan halalnya kan jadi seneng bahagia. Apalagi ditambah, apa yang dilakukan sebelum nikah yang awalnya haram, setelah menikah menjadi halal. Dapet pahala berlipat lagi.
Jadi yang di luar sana, yang lagi nunggu kehadiran sosok anak, semangat terus. Tapi ingat, jangan jadikan beban hidup. Jalani aja pelan-pelan, berpikir kalau Allah masih nyuruh kalian pacaran berdua.
Oke? Salam sayang dari Je.
__ADS_1