
Aku bersyukur karena semua sudah berakhir dengan damai. Aku juga berharap semoga tak ada lagi orang yang akan memisahkan kita setelah ini. ~Jessica Alexzandra Caroline~
****
Akhirnya, selama beberapa hari Sanoci sadar. Hari ini pria itu diizinkan pulang ke rumah. Tentu saja hal itu membuat Mario begitu bahagia atas berkat Tuhan yang masih baik kepada keluarganya.
Seperti niat awal. Bahwa setelah Papanya sembuh. Maka saat inilah waktu dia harus kembali. Kembali pulang ke negara asal membawa Papa dan adiknya yang benar-benar menjadi gila.
Selama disini, Mario tak pernah absen untuk menjenguk Marlena di rumah sakit jiwa. Pria itu benar-benar sedih dengan apa yang terjadi pada adik satu-satunya itu. Tapi bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur dan itu semua tak bisa dirubah kembali. Hanya yang bisa Mario lakukan saat ini adalah membantu adiknya terapi dan berusaha semoga Marlena bisa kembali seperti semula.
Bagaimana kabar Sanoci ketika mengetahui kondisi putrinya saat ini?
Jawabannya adalah shock sekali
Pria paruh baya itu tak menyangka jika rasa cinta dalam diri Marlena hanyalah sebuah obsesi yang berlebihan dan membuatnya termakan akan omongannya sendiri.
Sanoci benar-benar sedih ketika harus melihat putrinya mengamuk di ruang rawatnya setiap hari. Bahkan pria itu mendengar jika putrinya akan selalu disuntik ketika rasa marahnya kembali datang.
Sebagai seorang ayah, ada rasa penyesalan dalam diri Sanoci melihat keadaan putrinya. Semua ini terjadi karena kesalahannya yang mendukung sang putri. Hingga membuat Marlena harus menanggung semuanya sendiri.
Setelah menunggu kehadiran Rey dan Jessi yang datang ke rumah sakit. Mario segera mendorong kursi roda sang Papa dengan diikuti sepasang suami istri itu disampingnya.
Hari ini ayahnya mulai keluar dari rumah sakit dan menjadi tekad Mario untuk langsung membawa semuanya pulang.
"Apakah Kakak yakin untuk kembali ke New York sekarang?"
Bagaimanapun Jessi juga khawatir akan kondisi Sanoci yang baru sembuh lalu dibawa perjalanan jauh. Dia takut jika pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu jatuh sakit lagi.
"Aku yakin, Jess. Tenanglah, aku memakan pesawat pribadi. Jadi semuanya akan aman."
Jessica hanya mengangguk pasrah. Toh dia juga tak mempunyai hak untuk ikut campur. Tugasnya saat ini hanya mengantarkan mereka untuk pulang dan akan bertemu dengan sahabat yang sudah ingin mengambil sang suami darinya.
Ah baru kali ini mereka bertemu kembali setelah semua kejadian ini terjadi. Mobil yang dikendarai Rey mulai mengikuti mobil Mario yang berada di depan.
Tujuan mereka saat ini adalah rumah sakit dimana Marlena dirawat disana. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Rey mengelus perut sang istri dan mengatakan kata cinta hingga membuat wanita itu tersipu malu.
__ADS_1
"Papa-mu memang suka ngegombal, Nak. Jadi nanti jangan kayak Papa yah," ucap Jessi sambil mengelus perutnya.
"Aku gak ngegombal loh. Ini benar dari hati terdalam," ujar Rey tak terima melihat istrinya mengira ia menggombal.
"Iya iya. Uhh suamiku sayang."
Tak lama. Mobil mereka mulai sampai di pelataran rumah sakit. Ternyata, ketika Jessica turun dari mobil. Dia bisa melihat bagaimana tubuh sahabatnya itu sudah terbaring di atas brankar.
Tak ada lagi Marlena yang seksi. Yang ada sekarang hanyalah seorang Marlena dengan tubuh kurus dan tak terawat. Wajah yang biasanya dirias itu, sudah sirna. Tinggal wajah wanita yang tertidur tenang dengan nafas yang beratur.
Samar-samar, ia bisa mendengar percakapan orang yang ia tebak jika itu adalah dokter yang menangani Marlena selama disini.
"Pasien sudah saya beri obat penenang, Tuan. Jadi saya pastikan dia tak akan marah dan mengamuk ketika berada di pesawat."
Apakah separah itu? Batin Jessi menatap iba pada sahabatnya. Dia mendekati brankar dimana Marlena dibaringkan. Matanya berkaca-kaca menatap bagaimana kondisi sahabatnya sekarang.
Apakah Jessica bahagia melihat Marlena sekarang? Jawabannya adalah tidak.
Bahkan dia saat ini merasa kasihan dan berdoa semoga Marlena bisa sembuh dan bersikap seperti semula. Bagaimanapun, wanita itu masih dianggap sahabatnya sendiri.
Mengambil tangan kanan Marlena dengan pelan. Lalu Jessi mencium dan menghadiahi sebuah kecupan singkat di kening wanita itu. Tak lupa doa doa kecil ia semat kan untuk kebaikan sahabat masa kecilnya.
Ohh sungguh wanita berhati tulus. Dimana jika diluar sana ketika mereka disakiti akan melakukan balas dendam. Tetapi tidak dengannya. Jessica sudah menerima semua takdir Tuhan dan dia percaya akan semua kuasanya.
Yang berhak membalas sakitnya hanyalah Tuhan sendiri. Karena semua balasan dan terjadi pastinya itu sudah setimpal dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia.
Setelah semua urusan selesai. Marlena mulai dimasukkan ke dalam mobil dan diletakkan di paha ayahnya sendiri. Sanoci menatap sedih dan membelai kepala putri satu-satunya.
"Maafkan Papa, Nak. Papa akan berusaha menyembuhkanmu nanti di New York."
Hati seorang ayah adalah hati yang paling rapuh saat ini. Sejahat-jahatnya seorang anak. Pasti orang tuanya yang merasa menyesal karena gagal dalam mendidiknya. Tapi mau disesali seperti apapun juga semua sudah terjadi. Yang ada sekarang hanya mereka harus berusaha untuk membuat Marlena kembali dan mengubahnya menjadi lebih baik.
Setelah melakukan perjalanan menuju Bandara. Akhirnya semua orang mulai turun dan masuk ke dalam. Tentu saja baik Rey maupun Jessi juga ikut mengantarkan mereka.
Saat semuanya mulai diantar dan dimasukkan ke dalam pesawat. Tersisa Mario dan Sanoci yang saat ini mendekati sepasang suami istri itu.
"Papa akan pulang, Jess. Papa minta maaf atas segala dosa Papa dan Si Mar selama ini. Papa juga mendoakan semoga kandungan kamu sehat dan lahiran dengan selamat," doa Sanoci sambil memegang tangan sahabat putrinya itu.
__ADS_1
Jessica mengangguk. Dia berjongkok dan mencium punggung tangan orang yang ia anggap seperti Papanya sendiri.
"Aku sudah memaafkan, Papa. Semoga Papa juga selalu sehat dan Marlena diberi kesehatan, Pa. Jaga kesehatan dan jangan lupa makan ya, Pa," ucap Jessica tulus sambil tersenyum. "Terima kasih juga atas doa Papa untuk kandunganku."
Setelah sang Papa. Mario juga mendekat dan tersenyum dengan wanita yang dulunya memenuhi rongga hatinya. Namun sekarang? Apakah masih ada cinta untuk Jessica? Jawabannya adalah tidak. Entah sejak kapan dia sudah tak merasakan getaran lagi di hatinya.
Bahkan Mario sudah menganggap Jessi hanya sebagai adiknya sendiri. Hal itu juga membuat Mario bersyukur karena kedatangan gadis yang baru bertemu beberapa kali dengannya, mampu menggeser nama wanita yang seharusnya tak boleh ia sukai.
"Hati-hati disini dan sehat selalu."
Setelah berpamitan. Mario dan Sanoci mulai meninggalkan Jessica serta Rey untuk masuk ke dalam pesawat. Tak ada lagi dendam atau amarah di antara mereka. Semuanya sudah selesai dan masalah yang terjadi sudah pergi. Akhirnya ujian awal yang Allah berikan mampu mereka lewati bersama-sama.
Melambaikan tangan mengantarkan kepergian mereka. Dan di hati Rey maupun Jessi hanya tinggal berharap semoga setelah ini tak akan ada masalah yang menimpa mereka lagi. Keduanya sama-sama memanjatkan doa semoga Allah senantiasa menjaga mereka dan menguatkan hubungan keduanya sampai tua nanti.
~Bersambung~
Yey selesai kan konfliknya. Tingga seneng-seneng deh, hihi.
Mau tamat sekarang gak? hahahah
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1