
Tanpa perintah dari bos pun. Aku akan menjagamu. Bagaimanapun aku sudah menganggapmu bukan hanya sebagai sahabat melainkan seperti saudaraku sendiri. ~Amanda Gandari~
****
Pagi hari yang biasanya diisi canda tawa dan keromantisan sekarang berbeda. Terdengar perdebatan kecil di antara sepasang calon orang tua muda itu. Baik si pria dan perempuan tak ada yang mengalah. Sepertinya keduanya sama-sama kekeh dengan pemikirannya hingga membuat masalah itu semakin alot.
"Ya, Sayang. Aku ikut!"
"No. Ingat kamu hamil, Sayang."
"Tapi aku bosen di rumah terus," ujar si perempuan dengan cemberut.
Siapapun jika dikekang di dalam rumah dan tak boleh melakukan apapun pasti akan merasa bosan. Tapi sebenarnya dibalik itu semua, Rey menyuruh sang istri istirahat agar tak kecapekan.
Dia takut keduanya terjadi hal yang tak terduga jika tak mau diam. Tapi lagi-lagi hormon ibu hamil itu berbeda. Apa yang dia mau pasti dia memaksa.
Ya seperti Jessica sekarang. Sedari tadi wanita itu meminta untuk ikut ke kantor dan bekerja. Dia ingin membantu Amanda yang harus bekerja sendiri di bantu oleh Bima. Karena bagaimanapun, Jessi masih belum mau melepas posisinya.
Dia ingin bekerja meski dalma taraf mengurangi. Dirinya bukan sakit tapi hamil. Jadi tak semua orang hamil harus full bedrest pikirnya.
"Ayolah, Sayang. Diam dirumah yah?" bujuk Rey sambil menjatuhkan kecupan di pipinya.
Jessica menggeleng. Dia sudah kekeh dan tak mau dibujuk. Matanya mulai berkaca-kaca dan menatap sang suami dengan pandangan memohon.
Ah jika seperti ini bagaimana Rey bisa tahan.
Kelemahannya adalah air mata Jessica. Pria itu paling tak suka melihat istrinya sedih sampai menangis. Hingga akhirnya baiklah keputusannya sudah bulat.
Menghela nafas berat. Rey mengangguk. Baiklah daripada drama ini semakin panjang maka dia harus mengalah. Apalagi sebentar lagi ia memiliki jadwal meeting yang padat hingga mengharuskannya untuk segera ke kantor.
"Tapi janji yah. Kamu gak boleh kecapekan!" ujar Rey sambil mengelus kepala sang istri dengan sayang.
"Iya, Sayang."
Keduanya segera mandi bersama untuk mempercepat waktu yang terus berjalan. Dibantu sang istri, Rey segera memakai kemeja, jas, celana dan terakhir dasinya. Jessica benar-benar mendahulukan kebutuhan sang suami. Terbukti saat ini dirinya masih memakai handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah.
"Selesai," ucap Jessi sambil mencuri kecupan di bibir sang suami.
"Terima kasih, Sayang," kata Rey sambil tersenyum. "Pakailah dress yang longgar dan nyaman."
"Pasti."
Rey segera turun terlebih dahulu menuju meja makan. Tak beberapa lama sang istri menyusul dan mereka segera sarapan bersama. Kegiatan ini wajib dilakoni keduanya karena bagaimanapun itu adalah aturan dari Jessica.
Mengingat dulunya Rey dan dirinya seorang workaholic. Maka Jessica selalu meminta waktu untuk sarapan bersama. Bagaimanapun memang siang dan malam terkadang tak jarang mereka tak pulang bersama. Jadi mengantisipasi hal itu, sebagai istri, Jessica sudah mengatur semuanya.
Setelah semuanya beres. Mereka segera masuk ke mobil dan Rey mengendarai mobilnya sendiri. Dia begitu hati-hati karena mengingat kehamilan istrinya juga sudah menginjak 4 bulan. Perut buncit itu sudah terlihat hingga membuatnya selalu ingin mengelus dan mencium perut sang istri.
__ADS_1
****
Kedatangan Jessica ke kantor membuat semua orang menatap kagum ke arah pasangan itu. Ah bagaimana orang tak akan iri. Jika sikap Rey benar-benar berbeda jika bersama sang istri.
Romantis? Sangat.
Perhatian? Oh perhatian sekali.
Bahkan saat ini Rey melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri dan berjalan bersama menuju lift.
Aura Jessica semakin menguat. Bahkan kecantikan di wajahnya semakin bersinar. Karena memang menurut orang dulu, ibu hamil memiliki waktu dan caranya sendiri terlihat begitu cantik dan anggun.
Apalagi ditambah perubahan bentuk tubuh Jessica. Semakin membuat Rey berubah begitu posesif. Pria itu selalu meminta istrinya memakai dress longgar untuk menutupi anggota tubuh yang sudah membesar.
Sehingga hal itulah yang membuat Rey saat ini terus menggerutu. Pria itu tak sengaja melihat karyawan pria di kantornya melihat istrinya dengan pandangan kagum. Uhh rasanya ingin sekali dia melakban mata keranjang pria lain dan mendepaknya jauh.
"Ingat pesanku, Sayang! Jangan kecapekan oke?" ucap Rey mengingatkan ketika pintu lift menuju lantai ruangan Jessica terbuka.
"Siap, Tuanku," sahut Jessica.
Rey menarik tengkuk sang istri dan mencium istrinya dengan lembut. Uhh bibir ini selalu menjadi candu untuknya. Tak ada kata bosan bagi Rey karena semua yang ada pada Jessica selalu memabukkan hingga gadis itu memukul lengan sang suami karena kehabisan napas.
"Kebiasaan," ujar Jessica cemberut.
Tak mau suaminya semakin menjadi. Dia segera keluar dan melambaikan tangannya. Di depan sana, dirinya sudah disambut oleh Amanda. Sahabatnya itu terlihat begitu bahagia melihat kedatangannya.
"Jelaslah. Aku bosan di rumah," ucapnya malas.
Setelah berbincang sebentar, Jessica segera masuk ke dalam. Dia ingin sekali mengecek dan melihat angka-angka lagi di berkas-berkas perusahaan. Ah entah apakah ia mengidam atau memang dirinya yang rindu bekerja
Tetapi merasakan bisa duduk dan berada di depan laptop mampu membuatnya lupa akan sekitar.
Jessica benar-benar mengerjakan berkas yang tak terlalu tebal. Dia masih ingat akan calon bayinya dan ia tak mau karena keegoisannya maka anaknya yang menanggung.
Merasa haus. Jessica segera beranjak dan keluar dari ruangan. Dia menuju pantry yang terdapat di lantai ini dan bermaksud membuat dua gelas jus jeruk. Uh rasa jeruk mengalir di tenggorokannya pasti akan membuat dirinya segar.
Namun saat Jessica hendak mengambil gelas. Tiba-tiba muncul tangan yang sudah mengambilnya duluan dan membuat ia menoleh.
"Amanda," ucap Jessica dengan kening berkerut. "Kamu ngapain kesini?"
"Seharusnya aku yang tanya. Kamu mau ngapain?" tanya Amanda serius.
"Aku haus. Terus pengen minum jus jeruk, mangkanya aku mau buat."
"Biarin aku aja. Kamu sini." Amanda menarik tangan sahabatnya itu dan mengambil kursi duduk untuknya.
"Duduk. Biar aku yang buat."
"Tapi biar aku aja, Man."
__ADS_1
"Sttt, diam." Amanda meletakkan telunjuknya di bibir.
Ahhh apa kata sahabatnya tadi. Biar aku saja? Uhh jika Bosnya tau bisa-bisa dirinya akan kena marah.
Bisa dia ingat bagaimana tadi Bima datang dan mengatakan untuk menjaga sahabatnya itu. Jessica tak diizinkan melakukan hal apapun kecuali duduk.
Maka dari itu untung saja tadi dirinya melihat kemana Jessica berjalan. Jika tidak bisa-bisa hari ini ia tak akan selamat dari amukan Tuan Rey yang terhormat.
"Nah ini." Jessica menyodorkan segelas jus jeruk itu pada sang sahabat
"Kamu itu aneh. Orang aku bisa buat sendiri."
Hmmm kalau kamu buat sendiri. Aku bisa digantung sama Pak Bos, batin Amanda.
"Udah. Minum gih! Kasihan ponakan aku kehausan."
Jessica terkekeh. Namun dia segera meneguk air berwarna orange yang begitu menggoda iman. Uhh segar sekali rasanya. Membasahi kerongkongan yang kering dan mendinginkan kepalanya yang gerah karena mengerjakan berkas tadi.
"Enak banget, Man. Makasih yah."
"Oke. Lain kali kalau mau apapun bilang yah!"
Biar aku aman dari sasaran Tuan Rey, lanjutnya dalam hati.
~Bersambung~
Hahaha Amanda gedeg sendiri hihi.
Maaf baru update yah. Aku bener-bener istirahatin mata aku. Dan Alhamdulillah udah gak semerah kemarin. Terima kasih atas doa kalian semua.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1