
Aku sendiri yang akan menjagamu dari siapapun yang berniat mencelakai kita. Karena kamu adalah separuh nafas yang mampu membuatku bisa sampai di titik ini. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Beberapa hari kemudian semua berjalan dengan lancar. Tak ada gangguan dari wanita gila itu lagi. Hal ini tentu saja membuat Rey bernafas lega.
Entah kenapa setelah menutupi kenyataan bahwa klien perusahaannya itu adalah Marlena. Rey selalu dihantui rasa takut yang mendera. Bukankah ini sudah keputusannya? Toh dia menyembunyikan ini bukan karena apa, ia takut istrinya berpikiran macam-macam dan lebih mempercayai penjelasan sahabat gilanya itu.
"Kamu kenapa sih? Aku lihat akhir-akhir ini kek gelisah gitu, Sayang?" tanya Jessi saat keduanya sedang duduk di sebuah Restaurant.
Hari ini adalah hari libur. Maka dari itu baik Rey ataupun Jessi berniat menghabiskan satu hari ini bersama-sama. Mereka ingin berkencan, jalan-jalan dan menikmati waktu selagi Allah belum menitipkan benih di dalam rahimnya.
"Gak ada, Sayang." Rey menggeleng, "aku hanya banyak kerjaan aja."
"Oh." Jessi mengangguk, "lebih baik kamu bagi denganku jika ada banyak pekerjaan. Aku pasti bantu kok," ujarnya pelan dengan menatap sedih ke arah suaminya itu.
Rey tersenyum. Melihat bagaimana perhatiannya Jessica. Melihat bagaimana baik istrinya itu, dia semakin merasa takut jika terjadi sesuatu hal yang akan merugikan mereka. Tapi semoga saja Tuhan masih berbaik hati lagi padanya dan menjaga hubungan mereka berdua.
Sesaat pelayan mengantarkan pesanan mereka dan menatanya di atas meja dengan rapi.
"Selamat makan, Sayang. Yang banyak yah!" ucap Rey lembut dengan menghadiahi sebuah kecupan di punggung tangan istrinya.
"Selamat makan juga, Honey."
Keduanya mulai memakan makanan dengan lahap. Memang baik Rey dan Jessica sudah sengaja tak sarapan di rumah karena ingin menghabiskan waktu benar-benar berdua saja.
Keduanya sama-sama fokus dengan makanan yang mereka makan hingga tak menyadari jika ada seseorang yang berjalan ke arahnya.
"Hy, Jess," sapa seorang wanita dengan tiba-tiba.
Spontan suara dan kehadiran orang yang belum mereka lihat, membuat keduanya sama-sama mendongak
"Oh, Mar. Hai," sapa Jessi beranjak dari duduknya dan memeluk sahabatnya itu.
Berbeda dengan istrinya itu. Rey yang melihat kehadiran Marlena menatap tajam. Apa maksud dengan gadis itu hadir disini? Sudah bisa ditebak jika gadis itu hanya akan mengacau.
Belum selesai dia berujar dalam hati. Sebuah elusan tangan di punggung tangannya membuatnya tersadar. Rey melirik tangan gadis gila itu dengan amarah memuncak.
Rasa jijiknya semakin menjadi tatkala Marlena memberikan ciuman jauh sebelum pelukan istri dan gadis itu terlepas.
"Kau dari mana?" tanya Jessica lagi setelah menyuruh sahabatnya duduk di antara dia dan sang suami.
"Aku dari rumah kok," sahut Marlena dengan mencuri pandang suami sahabatnya itu.
"Lalu kau mau kemana?"
__ADS_1
Marlena mengangkat bahunya dengan gelengan kepala."aku tak tau. Hanya saja aku ingin bermain."
"Wahhh, bagaimana jika kita bermain bersama."
"Sayang!" seru Rey dengan meletakkan piring dan garpunya sedikit kasar.
"Kenapa, Suamiku?" tanya Jessica polos.
"Bukankah ini quality time?"
Jessica mengangguk.
"Terus kenapa kau mengajak orang lain? Bukankah jarang, kita ada waktu berdua?"
Jessica membenarkan ucapan sang suami. Memang semenjak dirinya kembali ke perusahaan. Kesibukan Rey semakin menjadi. Pertemuan mereka saja kadang hanya saat makan siang dan itupun Rey mencuri waktu untuk menanam benihnya ke rahim sang istri.
Jessica beralih. Dia menatap sahabatnya dengan tak enak.
"Maaf yah," ucapnya tak enak hati.
Tanpa keduanya sadari. Sedari tadi Marlena menahan emosinya yang sudah ingin meledak. Kedua tangannya yang berada di bawah meja sudah terkepal kuat siap menghantam. Tapi tetap saja, dia harus menahan dan menahan agar semua rencananya berhasil.
"Gapapa, Jess. Aku juga ingin jalan-jalan sendiri."
"Syukurlah." Jessi bernafas lega. Setidaknya dia tak memiliki rasa canggung dan segan jika sahabatnya itu memang berniat ingin jalan-jalan sendiri.
Rey sudah tak peduli. Dia tak acuh dan kembali menikmati makanannya dengan tenang. Tak peduli bagaimana gadis itu berlaga, dirinya akan tetap diam.
Setelah pelayan mengantarkan pesanan Marlena. Mereka terus menikmati makanan dengan ditemani percakapan dua orang sahabat yang saling bertukar cerita.
Saat Rey hendak mengambil minuman. Sebuah usapan di kakinya membuatnya berhenti sejenak. Tapi mengingat ada sang keberadaan sang istri, dia memilih mengabaikan dan tak peduli akan tingkah apalagi yang gadis gila itu lakukan.
****
"Aku ke kamar mandi dulu ya," pamit Rey pada sang istri yang sudah selesai dengan sarapannya.
"Iya, Sayang."
Sepeninggal Rey. Marlena menatap sekeliling, dia ingin melihat apakah sahabatnya ini memakai bodyguard bayangan atau tidak. Jangan lupakan, insting tajam indra milik Marlena begitu peka. Hingga membuatnya selalu menang dari ancaman pihak musuh sang papa.
"Ternyata mereka memang berdua saja," gumam Marlena dalam hati.
"Rencananya, kamu akan menetap atau kembali ke New York, Mar?" tanya Jessica menatap wajah bule sahabatnya itu.
"Sepertinya menetap. Papa aku ada disini soalnya," ujarnya dengan senyuman.
"Wahh, Om San disini?" Marlena mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mengunjungi Papamu."
"Boleh. Kabari saja aku jika ingin datang."
"Siap."
Tak lama, Rey sudah kembali dan segera berjalan menuju sang istri. Entah apa yang dibicarakan dua pasangan suami istri itu. Marlena hanya menatapnya dari posisi ya duduk.
Terlihat Jessica mengangguk dan dia menatap Marlena dengan perasaan tak enak hati.
"Maaf ya, Mar. Aku duluan," ucapnya dengan membereskan ponselnya dan memasukkan ke dalam tas yang dia bawa.
Marlena mengangguk. Lalu keduanya segera berdiri dan tak lupa memeluk serta mengucapkan salam perpisahan.
Segera Rey menarik tangan sang istri dan berjalan meninggalkan Restaurant tanpa menatap ke belakang kembali. Hatinya sudah lega bisa membawa istrinya pergi dan menjauh kan dari mara bahaya yang begitu gila.
"Kamu kenapa sih? Kok kayaknya gak suka banget sama sahabat aku?" tanya Jessi setelah mobil yang dikendari Rey meninggalkan Restaurant.
"Aku hanya tak suka siapapun merusak waktu kita berdua, Istriku." Rey menekankan ucapannya agar sang istri mengerti.
Memang sungguh dia paling membenci si pengacau. Apalagi yang datang orang yang sudah membuatnya begitu jijik. Tentu saja Rey sendirilah yang akan membasmi hama itu dan menjauhkan sejauh mungkin dari istri yang begitu dia sayangi.
"Sudah jangan memikirkan hal lainnya, Sayang. Bukankah kita akan bersenang-senang?" rayu Rey dengan wajah memelas dan sukses itu mampu mengalihkan perhatian istrinya
"Tentu saja. Kita akan menghabiskan uang milik Reynaldi Johan Pratama agar dia besok kembali bekerja dengan giat." Di akhir perkataannya disambut dengan gelak tawa dari sepasang pengantin yang begitu terlihat saling mencintai.
~Bersambung~
Pokoknya kalau ada si Mar-mar ini bikin emosi aja hahaha.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1