
Selagi aku bisa, apapun itu pasti akan aku lakukan. ~Bima Mahendra~
****
Hari mulai berganti hari. Bulan mulai berganti bulan. Tanpa terasa kehamilan Jessica mulai memasuki minggu ke 16 yang berarti usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat.
Perut yang dulunya rata mulai terlihat membuncit. Pola makannya semakin naik dua kali lipat. Bahkan belum lagi mood Jessica yang naik turun sering membuat Rey harus lebih banyak mengelus dada.
Kesehatan Daddy Stevent juga mulai membaik dan keadaan luka tembaknya pun mengering. Dia bahkan sudah bisa berjalan tanpa kursi roda meski harus pelan-pelan.
Begitu pun dengan hubungan antara Bima dan Amanda. Meski waktu mereka lebih banyak dihabiskan bekerja tapi pria itu sedikit berubah tentang memberikan waktu khusus untuk sang kekasih.
Seperti hari ini. Setelah satu minggu jadwal Bima bekerja begitu padat. Akhirnya ia menyisihkan waktu untuk mengajak kekasihnya itu berkencan. Dia benar-benar mulai berubah ketika pembicaraan Jessica dengannya minggu lalu begitu mengusik.
Bagaimana Bima tak terusik? Jika Jessica mengatakan bila ia tetap menjadi lelaki tak peka, maka Amanda bisa saja mencari pria lain yang lebih peka darinya.
Apalagi jika ia tetap tak mengurangi waktu untuk Amanda, pasti gadis itu juga mulai merasa bosan dengan cara hubungan mereka yang seperti ini.
Maka dari itu, ia akan usahakan menyisakan waktu kencan setiap hari libur dan mengajak makan bersama setiap pulang kerja.
Amanda segera masuk ke dalam mobil ketika dia baru saja keluar dari rumah yang baru saja ia beli 2 bulan yang lalu. Ternyata pekerjaannya mampu membuatnya membeli rumah meski sederhana tapi terasa sejuk untuknya.
"Kita mau kemana?" tanyanya setelah memasang seatbelt.
"Kencan," sahut Bima sambil menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
Amanda melongo. Apakah ia tak salah mendengar? Kencan katanya? Biasanya juga kekasihnya itu akan banyak pekerjaan meski hari libur. Begitupun dirinya. Terkadang tak ayal dia juga membawa pekerjaan yang belum selesai ke rumah.
Amanda hanya mengangguk. Toh terkadang di dalam lubuk hatinya terbesit rasa ingin berpacaran seperti orang lain. Yang memiliki waktu bersama, keluar bersama, berkencan bersama. Tapi balik lagi, dia juga sadar diri akan pekerjaannya dan pekerjaan Bima yang sangat penting dan membutuhkan mereka.
Mobil mulai membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai padat karena hari libur. Namun, semua itu tak mengganggu untuknya. Amanda begitu menikmati jalanan ini karena hatinya juga merasa senang.
Tak lama, setelah mobil keluar dari padatnya kendaraan perlahan mulai melaju kembali dan menuju sebuah tempat yang sudah Bima rencanakan.
****
Dahi Amanda mengkerut. Ketika mobil yang membawa mereka memasuki area parkiran daerah Monas. Dalam pikirannya mulai mengembara banyak pertanyaan. Apakah ia akan berkencan disini?
Sampai Amanda tak sadar jika Bima sudah membukakan pintu untuknya dan mengusap pipinya begitu lembut.
"Ya?"
Amanda menggeleng. Lalu matanya mengedar dan memang benar yang ia pikirkan.
"Apakah kita akan berkencan disini?" tanyanya setelah keluar dari mobil.
Bima mengangguk. "Kenapa? Apa kamu gak suka?"
"Bukan begitu. Tapi," Amanda menggelengkan kepalanya, "kamu kan gak suka keramaian?"
Ah pertanyaan seperti ini saja, entah kenapa membuat hati Bima menghangat. Dia harus bersyukur atau apa karena mendapatkan kekasih yang begitu memahami dirinya. Jika diluar sana banyak wanita yang begitu untuk agar kekasihnya memiliki banyak waktu. Tetapi tidak dengan Amanda.
Gadis itu unik dan berbeda. Bahkan dia begitu pengertian dan memahami kesibukannya yang begitu padat. Lalu sekarang, ketika mereka akan berkencan pun Amanda masih memikirkan dirinya.
__ADS_1
"Jangan memikirkan itu. aku akan melakukan apapun jika memang itu membuatmu bahagia."
~Bersambung~
Duh Si Kulkas bisa so sweet juga hihi.
Maaf ya baru update. Mataku sakit dari semalam. Alhasil aku ngetik yang biasanya 1 bab cuma 30 menit- 1 jam sekarang bisa sampai 3 jam an.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1