
Entah kenapa perasaanku terasa mengganjal dan merasa akan terjadi sesuatu di antara kita berdua. Tapi aku tak pernah putus berharap pada Tuhan. Agar menjaga hubungan kita sampai nanti takdirnya yang memisahkan. ~Jessica Alexzandra Caroline~
****
Menghabiskan waktu berdua adalah kegiatan yang sangat penting untuk sepasang suami istri. Selain untuk melepaskan penat karena waktu bekerja. Dengan adanya waktu berdua, mereka akan semakin terjalin ikatan batin.
Bermain bersama, bercanda bersama dan bercerita. Membuat hubungan keduanya akan semakin terbuka dan tak memicu sebuah pertengkaran. Hal itulah yang membuat baik Rey ataupun Jessi selalu meluangkan waktu di hari Minggu untuk pergi keluar.
Mereka benar-benar fokus akan liburannya setiap hari libur. Tak ada handphone, tak ada laptop, tak ada kerjaan atau satu hal apapun. Yang ada hanyalah tentang Rey dan Jessi saja.
"Kita kemana, Sayang?" tanya Jessi dengan pandangan mata menatap keluar jendela mobil.
"Pantai bagaimana?" tawar Rey menoleh ke arah istrinya sebentar sebelum kembali menatap ke depan.
Mendengar kata pantai. Membuat mata Jessica berbinar. Gadis itu menghadapkan tubuhnya ke arah sang suami dan mengangguk.
"Setuju. Ayo cepat, Sayang!" ujarnya semakin bersemangat.
Tak ada hal yang mampu Rey syukuri selain melihat wajah sang istri yang begitu bahagia. Wajah dengan bibir yang terus terkembang entah kenapa membuat hati pria itu menghangat.
Dirinya memang tak pernah salah memilih. Istrinya ini adalah gadis sederhana. Setiap mereka jalan-jalan berdua. Tak pernah sekalipun Jessi protes ketika Rey membelikan makanan atau apapun di pinggir jalan.
Malahan Jessi sendiri yang selalu memuji jika makanan di pinggir jalan lebih enak daripada di Restaurant. Terutama masalah harga. Lebih hemat dan rasanya terjamin.
Tak lama, dari mobil yang dikendarai oleh Rey. Jessi bisa melihat pantai yang membentang luas di sisi kiri jalan. Birunya yang begitu cantik selalu membuat mata lentik Jessica berbinar bahagia. Tak henti-hentinya bibirnya berceloteh agar mereka segera sampai hingga tanpa sadar membuat kedua sudut bibir Rey terangkat.
"Sebentar lagi, Sayang. Kita akan sampai," ucap Rey menggoda sang istri.
"Cepatlah, Suamiku! Lihat lihat pantainya begitu indah," teriak Jessi heboh saat mobil mulai memasuki parkiran pantai.
Dengan bertelanjang kaki. Jessi menurunkan kedua kakinya dengan bahagia. Tak lupa kacamata hitam membalut mata indahnya agar tak silau dengan terik matahari yang bersinar.
Kehadiran mereka berdua tentu saja membuat beberapa perhatian dari banyaknya pengunjung mengarah pada mereka. Sepasang anak adam dan hawa yang memiliki wajah tampan dan cantik terlihat begitu romantis saling berjalan bergandengan tangan.
__ADS_1
Baik Rey maupun Jessi tak ada satupun yang ingin melepaskan kaitan tangan mereka. Perlahan, pasir pantai yang begitu halus mulai menyentuh kulit kaki yang sedang bertelanjang tanpa sandal itu.
Bibirnya semakin mengembang tatkala merasakan kenyamanan dan keindahan akan pantai yang begitu memanjakan matanya saat ini. Setelah berkeliling mencari tempat yang pas. Akhirnya Rey menemukan sebuah tempat duduk tepat di bawah pohon kelapa.
Tak lupa, sebelum itu Rey sudah memesan es kelapa muda untuk menemani kegiatan mereka yang memakan waktu sampai siang.
Keduanya duduk berdampingan dengan kaki mereka luruskan kedepan. Matanya terpejam menikmati semilir angin pantai yang menerpa wajah dan tubuh mereka.
Udara sejuk dan khas pantai begitu terasa di hidung mereka. Bahkan tak lupa Rey serta Jessi mengambil gambar keduanya dengan senyuman manis untuk diupload di akun sosial media milik masing-masing.
"Bagus, 'kan?" tanya Jessica saat tangannya asyik menggeser beberapa jepretan foto diponselnya.
"Iya, Sayang." Rey mengangguk. Tubuhnya memang condong ke samping dan bergesekan dengan tubuh sang istri. "Tapi ini lebih bagus," nunjuknya ke sebuah foto yang saling berhadapan dengan wajah tersenyum.
Jessica mengangguk setuju, "aku upload boleh?"
Selalu seperti ini. Selama mereka menikah, Jessica tak pernah absen dalam berpamitan untuk melakukan apapun pada sang suami. Baik itu keluar, melakukan sesuatu pasti atas izin dari sang suami.
"Boleh."
Setelah tombol send dia tekan. Jessi meletakkan ponselnya ke dalam tas dan menjatuhkan kepalanya pada pundak sang suami. Tangannya juga melingkar di lengan Rey dan tatapan keduanya sama-sama memandang hamparan pantai yang begitu indah.
Rey hanya mengangguk. Keduanya kembali diam seperti ingin menikmati dan menyimpan segalanya didalam memori otak mereka agar bisa mengenang dan menyimpan semua kebahagiaan ini untuk suatu hari nanti.
Tak ada yang tahu kan? Sampai berapa lama mereka akan hidup berdua. Sampai kapan mereka akan menjalin hubungan ini hanya Tuhan yang bisa menakdirkan. Tapi jika boleh meminta, baik Rey maupun Jessi sama-sama meminta agar cinta mereka sampai di akhir hayat. Biarlah Tuhan sendiri yang akan memisahkan mereka tanpa gangguan orang ketiga ataupun keempat.
"Bolehkah aku meminta sesuatu, Sayang?" tanya Jessi membuat Rey menoleh.
"Meminta apa?"
"Jagalah hatimu untukku meski Tuhan memisahkan kita."
Spontan ucapan sang istri membuat Rey menegakkan tubuhnya. Dia menatap tajam mata sang istri dengan perasaan yang entah kenapa tak bisa dijabarkan.
"Kamu ngomong apa sih? Jangan aneh-aneh ya," seru Rey kesal.
__ADS_1
Dia tak percaya sang istri mengatakan hal-hal keramat seperti itu. Pikirannya yang sudah gelisah semakin tak karuan. Dia takut akan terjadi suatu hal nanti diantara keduanya. Tapi jika boleh berdoa. Rey ingin istrinya selalu berada disampingnya sampai mereka memiliki anak dan cucu-cucu yang lucu.
"Kan bener, Sayang?" ujar Jessica pelan. Dia menarik lengan sang suami untuk menjadi bantalan kepalanya lagi
"Ingat! Jangan pernah menduakan aku yah. Meski kita berpisah tapi masih ada di dunia yang sama," ucap Jessi menyodorkan jari kelingkingnya.
Rey tak mengerti lagi akan pikiran sang istri. Tapi dia mengangguk dan menerima ikatan kelingking itu dengan wajah yakin.
"Aku berjanji dan akan membuktikan bahwa hanya ada kamu, aku dan anak-anak kita di pernikahan ini, Sayang. Aku tak akan membuka hati untuk gadis lain dan menyakitimu."
Jessica tersenyum. Dia mengangguk dan segera berhambur ke pelukan sang suami. Entah kenapa pikirannya terasa janggal setelah kejadian minyak wangi itu.
Dia mengerti di masa depan masih ada masalah yang sedang menunggu mereka. Tapi, dia hanya ingin berharap dan menjaganya sekarang. Selebihnya Jessi akan memasrahkan pada Tuhan untuk kebaikan hubungan mereka.
"Terima kasih, Sayang. I Love You."
"I Love You too."
~Bersambung~
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di ****)