Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
BIMANDA


__ADS_3


Entah perasaan apa ini, tapi baru kali ini aku merasakannya dengan gadis di depanku ini. Siapa lagi jika bukan, Amanda Gandari. ~Bima Mahendra~


****


"Makan dulu, Nak," panggil Mama Ria saat melihat Bima sedang tergesa-gesa hendak keluar.


"Maaf, Ma. Ini sudah telat."


"Tunggu sebentar. Mama bawakan bekal dan harus kamu makan di kantor."


Akhirnya Bima mengalah. Lelaki dengan lingkaran panda di matanya, serta wajah kusut berjalan menuju meja makan. Mendudukkan dirinya disana, dia menjatuhkan kepalanya diatas meja makan. Matanya sudah sayup-sayup ingin terpejam. Namun, mendengar langkah kaki Mama Ria membuatnya harus berusaha menahan kantuk yang mendera.


"Kamu ngantuk, Bim?" tanya Mama Ria.


"Ehhh, enggak, Ma." Bima menggeleng.


"Jangan bohong. Mata kamu sudah mengatakan semuanya."


Akhirnya Bima mengaku juga. Mau ditutup atau disembunyikan pun tak akan bisa. Mata dan wajahnya sudah mengatakan bahwa dia kurang istirahat. Dia kembali menegakkan tubuhnya saat melihat mama dari bosnya itu memasukkan kotak bekal didalam paper bag.


"Ini. Satu lagi, pakai supir Mama buat berangkat." 


"Tapi, Ma…."


"Tidak ada penolakan."


Akhirnya Bima mengangguk. Dia mencium punggung tangan majikan yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri sebelum berangkat. Setelah itu, segera ia pamit dan memasuki mobil yang sudah ada supir di dalamnya.


"Langsung ke kantor, Tuan?" 


"Jangan panggil begitu, Pak. Gak enak," ucap Bima bersungut.


Supir pribadi Mama Ria terkekeh dan mengacungkan jempolnya. Akhirnya mobil itu mulai melaju dan membelah jalanan Kota Jakarta yang begitu cerah.


Sepanjang perjalanan, Bima menggunakan waktunya untuk tidur. Sungguh matanya sudah tak kuat menahan untuk terpejam. Biarlah dia tertidur sejenak sebelum melaksanakan banyak tugas untuk hari ini.


Suara bising dari luar mobil tak membuat Bima terusik. Lelaki itu masih asyik dan nyaman terbuai oleh indahnya alam mimpi. Hingga akhirnya, perusahaan pratama mulai terlihat.


Supir Mama Ria menjadi kasihan untuk membangunkannya. Namun, kewajiban tetaplah kewajiban. Beliau segera membangun kan lelaki muda di belakangnya itu dengan perlahan. 


"Mas Bim, bangun." Supir menggerakkan lengan Bima dengan pelan.


Tak lama, mata itu mulai bergerak terbuka. Dia menggeliatkan tubuhnya pelan dan menatap keluar jendela jika benar dirinya sudah sampai di kantor.

__ADS_1


"Maaf ya, Pak. Saya ketiduran," ucap Bima tak enak hati.


"Gak papa, Mas Bim. Saya tahu, mas pasti kelelahan."


Bima mengangguk lalu dia pamit untuk masuk ke dalam. Kedatangan Bima pasti membuat ruangan yang tadinya ramai langsung hening. Tak ada karyawan yang berani dengannya meski dia hanya seorang Asisten. Sikap tegas, cuek dan dingin Bima mampu membuat karyawan tak berkutik ketakutan.


Hingga saat dirinya hendak menutup pintu lift. Sebuah tangan muncul diantara pintu itu hingga membuatnya terbuka kembali.


Bima menatap tajam gadis di depannya. Dia tak menyangka ada yang berani menahan pintunya saat dia berada di dalam.


"Maaf, Tuan. Saya saya…." 


"Masuk!"


Dengan menelan ludahnya paksa, gadis yang sedang membawa tas kerja serta sebuah map ditangannya berjalan gemetaran masuk ke dalam lift. Tak lama, pintu mulai tertutup dan membuat suasana semakin hening.


Bima melirik sekilas ke samping. Dia teringat jika gadis itu adalah sekretaris dari Direktur Keuangan. Melihatnya, membuat Bima menjadi ingat jika Jessica tak ada dan membuat posisi itu menjadi kosong. 


Kepalanya menjadi semakin sakit, saat mengingat jika banyak pekerjaan dan beban yang akan dia hadapi. Namun, demi sang sahabat sekaligus bosnya, dia akan mengorbankan dirinya yang sudah sangat berterima kasih pada keluarga Rey, karena mereka, dirinya bisa berada di posisi saat ini.


"Tolong nanti kamu handel semua pekerjaan Jessica." Perintah Bima dengaj tegas.


Amanda mengangguk cepat, "baik, Tuan." 


"Lalu setelah mengecek semua berkas, tolong antar ke ruangan saya." 


****


Karena keahlian dan kepandaian seorang Amanda. Tak perlu waktu lama, semua berkas yang dia kerjakan akhirnya selesai. Jujur dirinya tak berbeda jauh dengan Bima. Pekerjaan yang dihandle oleh Jessica akhirnya menumpuk padanya dan membuat dirinya kewalahan. 


Tapi, Amanda tetap belum tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu. Jujur dirinya khawatir karena Jessica belum memberikan mabar satu pun padanya. Kemarin Amanda juga sudah datang ke kosan Jessica, namun para teman kosnya mengatakan jika Jessica tak ada di dalam.


Dengan perasaan takut namun senang. Amanda membawa setumpuk berkas di tangannya dan berjalan menuju lift. Tujuannya hanya satu, yaitu ruangan Bima. Dia segera berjalan menuju ruangan yang terkenal angker itu dengan segudang perasaan bahagia serta takut.


Ahhh mungkin hanya dirinya saja yang berani menetapkan hatinya untuk lelaki seperti Bima. Namun, tetap saja sebagai manusia, tak ada yang tahu kepada siapa hati kita berlabuh. Begitupun yang dirasakan oleh Amanda. Dia hanya sebagai wanita dewasa yang merasakan perasaan bunga-bunga ketika menatap wajah yang hampir tak pernah menunjukkan senyuman. 


Setelah berdiri di depan pintu hitam itu, Amanda menarik nafasnya pelan lalu mulai mengetuknya dengan tempo sama. 


"Masuk!" 


"Uhh suaranya." Batin Amanda meronta.


Baru saja dia membuka pintu, dirinya sudah dihadapkan oleh Bima yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan duduk begitu wibawa. Berjalan pelan, Amanda segera menyerahkan berkas di tangannya ke arah meja kerja Bima.


"Sudah, Tuan." 

__ADS_1


"Bagus," sahut Bima tanpa mengalihkan tatapannya.


Dirinya kembali tak mengindahkan keberadaan Amanda sampai gadis itu mengeluh karena kakinya sakit karena berdiri. Hal itu membuat Bima tersadar jika masih ada orang lain di ruangannya.


"Kamu ngapain berdiri disitu?" tanya Bima menatap tajam.


"Saya menunggu, Tuan. Berkasnya butuh dicek oleh anda, 'kan?" Jelas Amanda pada Bima.


Entah kenapa penjelasan Amanda membuat hatinya sedikit merasa bersalah. Ketika melihat gadis itu tetap kokoh berdiri menunggunya. Dia segera menyuruh Jessica duduk dan dirinya segera mengecek seluruh berkas itu dengan cepat.


Ditemani gadis untuk pertama kalinya di ruangan. Entah kenapa membuat perasaan berbeda dari dalam diri Bima. Dia merasa jantungnya berdegup kencang. Apalagi, ketika melihat wajah Amanda yang tetap tersenyum sambil menunggunya semakin membuat pikiran dan perasaannya tidak karuan. 


****


New York.


"Mama akan membawa Jessica ke Las Vegas," ucapnya mengulang perkataannya yang baru saja dia katakan.


"Stevent tetap tidak setuju," sahut lelaki yang memakai jas warna navy dengan kemeja putih. 


Tadi saat dirinya sedang berkutat dengan pekerjaan. Mamanya, Maria datang dan mengatakan hal mengejutkan padanya. Tentu hal itu membuat pikirannya yang sedang tertuju pada pekerjaan langsung terpecah.


"Apa kamu ingin anakmu meninggal secara diam-diam?" sindir wanita yang duduk disampingnya dengan menatap Stevent tajam. 


"Apa maksud, Mama?" tanya Stevent tak mengerti. 


"Jelas kamu tak tahu. Putrimu itu setiap malam selalu berdiri di balkon tanpa mengenakan selimut apapun. Dia terus menangis sampai aku masuk ke kamar dan menyuruhnya istirahat." Jelas Maria dengan posisi tetap.


"Aku membawa cucuku ke Las Vegas agar dirinya tenang dan melupakan semua kejadian disini. Setuju tak setuju, mama akan tetap membawanya kesana." 


~Bersambung~


Hihihi Bima kalau udah kerja lupa segalanya geng. Hihi untuk gak dikutuk sama mbak Manda karena nungguin.


Ahh Omaku juga pinter bujuk Stevent juga yah. Semoga berhasil bawa Jesis dari sangkar emas bapaknya, heheh.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di nome)



__ADS_2