
Aku selalu meyakini jika apa yang sudah digariskan Tuhan, akan ada jalan untuk melewatinya. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Akhirnya disinilah mereka berada. Restaurant depan Perusahaan menjadi pilihan Bima untuk mereka makan siang. Sungguh perkataan atasannya itu seperti petir di siang bolong.
Entah makhluk apa yang merasuki tubuh Bima. Amanda sudah tak peduli. Hati gadis itu diliputi kebahagiaan saat dirinya diajak makan berdua seperti ini. Suasana yang sangat jarang sekali akan ia rasakan harus dia nikmati saat ini.
Bima memberikan buku menu pada Amanda yang membuat gadis itu mendongakkan.
"Pilihlah dulu!" perintahnya dengan wajah dingin.
Amanda mengangguk dan segera meneliti makanan apa yang akan dia makan siang ini. Tak ingin membuat prianya menunggu, segera dia memilih apa saja makanan yang dapat masuk ke dalam perutnya.
"Ini, Tuan."
Setelah memberikan buku menu itu pada pelayan. Dua orang yang berbeda sifat itu akhirnya saling diam. Sungguh Amanda tak suka suasana seperti ini. Gadis yang biasanya banyak bicara itu harus berdiam diri karena lawannya juga seorang kulkas.
Menghela nafas pelan, Amanda membenarkan duduknya yang selalu gelisah sejak tadi.
"Ada apa?" tanya Bima yang memperhatikan gerakan Amanda sejak tadi.
"Eh tidak apa-apa, Tuan," sahut gadis itu gelagapan.
"Apa kamu yakin?" tanya Bima menelisik raut wajah Amanda hingga membuat gadis itu salah tingkah.
"Ya, Tuan. Oh tidak, saya hanya merasa aneh saja," ujar Amanda.
"Aneh?"
Amanda mengangguk. Dia mencondongkan tubuhnya kedepan dan meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Kenapa Tuan mengajak saya makan bersama?"
Skakmat.
Raut wajah Bima berubah. Dia tak menyangka gadis itu menanyakan hal ini. Bagaimana ia menjawab? Bahkan dirinya saja tak tahu apa yang dilakukan gerakan tubuhnya tadi yang selalu melakukan diluar nalar jika berada di dekat Amanda.
"Oh itu karena saya...saya…"
"Tidak perlu dijawab," potong Amanda cepat.
Gadis itu mengerti jika lelaki di depannya begitu gugup. Bisa ia tangkap dari gerak geriknya saja. Maka dari itu Amanda lebih memilih memotong ucapan Bima daripada mereka akan dilanda kecanggungan.
Lebih baik seperti ini saja. Tak ada kecanggungan apapun. Hanya saja, rasa malu dan debaran jantung yang kian menambah kadang membuat keduanya sering salah tingkah.
****
__ADS_1
New York.
Semakin malam, semakin berputarlah ucapan Bima dan Haura. Rey begitu frustasi karena ia masih bingung dengan apa yang akan dia lakukan.
Sedari Magrib, Rey hanya diam merenungi ucapan dua orang yang begitu berarti di hidupnya. Mereka berdua adalah orang yang selalu ada untuknya selama ini. Lalu sekarang? Mereka juga yang merekomendasikan jika permasalahan Rey akan teratasi jika ia menghubungi Khali saat ini juga.
"Bagaimana ini?" gumamnya dengan penampilan yang sudah acak-acakan.
Tubuhnya yang lelah begitu ingin ia guyur dengan air dingin. Apalagi, Rey belum membersihkan dirinya sejak ia datang ek apartemen. Memilih beranjak dari sofa, ia langsung saja menuju kamar mandi.
Mengisi bathup dengan air hangat dan busa. Ia segera membuka pakaian yang melekat di tubuhnya setelah buthupnya telah siap.
Perlahan tubuhnya mulai ia tenggelamkan ke dalam bak mandi berwarna putih itu. Memejamkan matanya, menikmati aroma yang begitu wangi dan menenangkan. Jujur saja dirinya menjadi sedikit tenang setelah merasakan bagaimana air hangat membasahi tubuhnya dan Rey memilih menikmati waktunya seperti ini dulu.
Berselang 20 menit. Akhirnya Rey memilih berdiri dan membilas tubuhnya dengan air dari shower. Perasaannya mulai tenang dan pikirannya sudah dingin. Dia juga sudah memilih bahwa dirinya akan menghubungi Khali selesai makan malam.
Pergerakan tubuh Rey begitu cekatan. Memakai piyama hitam untuk membalut tubuhnya lalu ia segera beranjak dari kamar tidurnya.
Memasak adalah pekerjaan yang sudah biasa untuknya. Rey segera membuat makan malam dan mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Menepis pikiran yang membuat pikirannya pening. Rey lebih memilih menikmati makan malamnya terlebih dahulu.
Setelah semuanya sudah rapi. Rey segera menekan layar ponselnya dan mencari nomor orang yang menjadi pikirannya sejak tadi. Bunyi dari ponsel membuat jantungnya berdegup kencang. Dirinya mulai menata perasaannya agar lebih mantap dan tak ada ketakutan atau kecanggungan lagi.
Tak lama,
"Assalamualaikum." Suara dari orang yang tak ingin ia dengar ternyata kembali didengar.
Menjauhkan ponselnya sebentar. Rey menarik nafasnya begitu dalam dan mengeluarkannya. Setelah selesai, ia kembali mendekatkan benda pipih itu di telinganya.
"Ini siapa?" tanya suara perempuan dari seberang telponnya.
"Aku Rey, La."
"Mas Rey?"
"Ya benar," sahut Rey dengan pelan.
Entah kenapa ia gugup setengah mati. Namun, lelaki itu baru menyadari jika sudah tak ada debaran lagi di jantungnya. Hanya ada malu dan kecanggungan saja dari dirinya.
"Ada apa ya, Mas?"
"Aku ingin berbicara dengan suamimu."
"Oh, sebentar aku panggilkan."
Terdengar hening di seberang sana. Rey hanya bisa menunggu dengan perasaan tak menentu. Dirinya takut jika Khali tak mau membantunya. Karena harapannya saat ini hanya berada ditangan Khali.
Tak lama, suara pria yang begitu ia hafal mulai terdengar.
__ADS_1
"Ya, Tuan Rey. Ada apa?"
"Apakah saya mengganggu waktu anda?" tanya Rey.
"Oh tidak, Tuan Rey."
"Syukurlah. Saya ingin membahas sesuatu yang mungkin membutuhkan waktu lama," ujar Rey menjelaskan sedikit bahwa mungkin dia akan meminta waktu Khali sedikit lebih banyak.
"Baiklah, Tuan Rey. Sebentar saya akna pindah ke ruang kerja saya."
Rey bisa mendengar suara Khali yang sedang berpamitan dengan Aqila. Tapi sudah tak ada perasaan cemburu lagi dalam hatinya. Melainkan, ia sudah membayangkan bagaimana jika dirinya yang akan seperti itu dengan Jessica.
Mengingat kekasihnya. Selalu membuat Rey tersenyum tak tentu arah. Tapi lamunannya langsung buyar ketika suara Khali kembali terdengar.
"Tuan Rey," panggil Khali dari seberang.
"Iya, Tuan. Apa anda sudah berada di ruang kerja?"
"Ya. Memang anda ingin membahas apa?" tanya Khali tanpa basa-basi.
Rey mulai memanjat doa. Dia berharap semoga Tuhan baik padanya hari ini dan memudahkan segala jalan agar mendapatkan restu dari seorang Stevent Alexzandra.
"Saya memerlukan bantuan anda, Tuan."
"Bantuan seperti apa?"
Rey mulai menceritakan perihal perusahaan Stevent dan kenapa ia yang mengerjakan. Dengan baik Khali mendengar dari seberang sana dengan teliti. Tak ada kebohongan dari ucapan pria yang sedang memiliki masalah itu. Rey mengatakan dengan jujur dan berharap semoga Khali mau membantunya.
"Jadi saya ingin mengajak anda untuk kerja sama dengan anak perusahaan yang akan saya tangani ini. Lebih-lebih anda mau menanamkan modal atau berinvestasi di perusahaan ini," ujar Rey mengakhiri ceritanya.
"Baiklah, jika begitu kita akan bertemu seminggu lagi di Perusahaan saya yang ada di New York."
~Bersambung~
Hmm wah mau ketemuan loh mereka. Bakalan ketemu Aqila juga gak yah. ihirr
Gimana yah lanjutannya?
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di nome)