
Apapun yang aku inginkan. Harus aku dapatkan dengan cepat. Begitupun denganmu, Reynaldi Johan Pratama. Kau harus jatuh ke dalam pelukanku dan menjadikanku istri keduamu. ~Marlena Sanoci~
****
Kepergian Rey dan Bima membuat emosi dalam diri Marlena memuncak. Segera gadis itu mengamuk dan membanting meja yang tadi dipakai oleh Rey bekerja hingga terbalik.
"Kurang ajar kalian berdua. Tunggu sana apa yang akan aku lakukan!" seringai di bibirnya muncul dengan tawa jahat yang menggelegar.
Untung saja pintu ruangan itu tertutup hingga tak ada siapapun yang mendengar dan melihat kemarahan dari seorang gadis bule yang super seksi ini.
Tanpa banyak kata. Marlena berbalik dan berjalan meninggalkan restaurant dengan senyum sinis di bibirnya.
"Kita lihat apa yang akan terjadi sebentar lagi, Sayang," ujarnya mengingat pelukan yang begitu dia dambakan dengan pria yang sudah membuatnya tergila-gila seperti ini.
Asisten Marlena yang sedari tadi terdiam akhirnya kembali merapikan semuanya dengan baik. Meminta maaf pada pihak Restaurant dna menggantikan apa yang dirusak oleh Nona Mudanya ini.
Dia sudah tak kaget akan tingkah dari anak dari bosnya itu. Marlena memang anak dari pria kaya di New York. Anak perempuan satu-satunya dari dua bersaudara membuat kehidupan Marlena begitu dimanja dan dituruti apapun oleh kedua orang tua dan seorang kakak laki-lakinya.
Tak ada yang tahu akan siapa asal usul Marlena ini. Karena semua penduduk New York atau para pengusaha hanya mengetahui jika Tuan Sanoci adalah pemilik Perusahaan Sanoci dengan kedudukan kedua di Negaranya.
Semua pertemuan ini pun sudah direncanakan oleh Tuan Sanoci beserta anaknya ini, Marlena. Sungguh hati seorang ayah sepertinya begitu tak sanggup melihat sang anak harus merengek memohon untuk memenuhi keinginan anak gadisnya itu.
Setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggal. Marlena segera turun dan menutup pintu itu dengan kencang. Emosinya sudah naik turun melihat penolakan dalam diri pria yang dia cintai tadi.
Berjalan dengan wajah angkuh dengan nafas naik turun. Dia memasuki rumah yang beberapa hari ini atau beberapa bulan ke depan akan dia tinggali. Tujuannya saat ini hanya satu yaitu kamar sang papa.
Tok tok tok.
Berulang kali Marlena mengetuk pintu tak sabaran membuat gadis itu mengumpat dan matanya semakin memerah.
Saat dirinya hendak menendang benda yang terbuat dari kayu itu. Perlahan suara kunci diputar dan terbuka membuat niatnya urung dilakukan.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali, Papa?"
"Apa yang kau lakukan, Darling?" tanya Sanoci dengan wajah berkeringat dan pakaian berantakan.
Alis gadis itu mengerut. Dia menelisik penampilan sang papa yang membuatnya heran setengah mati.
"Papa sedang apa? Kenapa lama sekali membuka pintu?" tanya Marlena kesal sambil berdiri di posisinya.
"Papa sedang bekerja," sahut Sanoci santai.
"Bekerja?" ulang Marlena tak percaya.
Apa yang membuat papanya bekerja sampai terlihat kelelahan seperti ini? Bukannya AC di ruang kerja ini masih bekerja sangat baik.
Tak ingin mati penasaran. Segera gadis itu menerobos pintu kayu itu dan tercengang dengan pemandangan di depannya.
Apa maksud papanya bekerja dengan seorang jalan? Marlena melihat seorang gadis yang tak berpakaian sedang duduk santai di atas meja sang papa dengan posisi begitu menjijikkan. Segera gadis itu menoleh dan menatap papanya dengan tatapan penuh tanya.
"Papa bekerja ini?" nunjuknya ke arah gadis yang berdiri ketakutan dengan kaki gemetaran.
Toh dia tak akan bisa marah pada anak gadisnya ini. Karena bagaimanapun ia begitu menyayangi kedua anaknya sedari mereka lahir. Kehadiran Marlena dan anak pertamanya sungguh hal yang begitu ditunggu oleh Sanoci dari awal pernikahan. Dia juga sudah berjanji akan mencurahkan kasih sayang hingga membuat Marlena ya seperti ini.
"Aku hanya ingin tahu saja, Papa. Apa yang membuatmu seberantakan ini," ujar Marlena dengan santai.
"Ayo keluar! Kita akan berbicara di ruang tamu!" ajak Sanoci dengan santai.
Anak dan ayah itu segera keluar dari ruang kerja dan berjalan bersama dengan saling bercanda tawa. Sepertinya hal yang tadi Marlena lihat sudah merupakan hal biasa. Gadis itu begitu tahu akan kesenangan sang papa hingga membuatnya tak kaget lagi.
Sejak dulu gadis itu sudah tahu akan kegulaan papanya yang suka tidur dengan banyak wanita. Apalagi ditinya juga tahu jika Sanoci merupakan pria hyper sex yang tak pernah puas dengan satu wanita. Hal itu membuat baik Marlena atau Kakaknya selalu memilih bungkam dan tak ikut campur dalam urusan sang mama dengan papanya ini.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Sanoci setelah keduanya duduk di sofa ruang tamu.
"Berhasil dong, Pa. Tinggal kita lihat pertengkaran mereka berdua saja," ucap Marlena bahagia.
__ADS_1
Senyum licik tersungging di bibir keduanya. Otak ayah dan anak itu memang sama. Sanoci begitu mendukung keinginan sang anak hingga tak memikirkan apa resiko yang akan dia tanggung nanti jika terbongkar semuanya.
Tapi seperti kasih sayang pada sang putri serta kekuasaan yang besar membuatnya lupa akan siapa musuh yang akan mereka usik kali ini.
Jangan remehkan Tuan Sanoci seperti ini. Pria tua itu sama persis dengan Stevent Alexandra. Memiliki ambisi, memiliki pasukan di dunia hitam yang tak kalah besar milik Stevent. Tapi ya jika dibandingkan memang masih lebih besar mereka. Namun, apa yang dimilikinya sekarang membuat Sanoci yakin jika sang putri harus tetap bahagia dengan bantuannya.
"Anak pintar. Kau harus lebih berusaha untuk mendapatkannya jika ingin membuat Rey jatuh ke dalam pelukanmu, Darling," ujar Sanoci sambil memeluk bahu sang putri."
"Tentu saja, Papa. Aku sudah banyak merencanakan semuanya hingga akhirnya Rey akan jatuh ke dalam pelukanku."
~Bersambung~
Hahaha inget kan yang aku bilang. Tahan tahan yah jangan esmosi.
Tawa jahat.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1