
Sungguh keadaan ini begitu membuatku takut. Namun aku harus tenang karena ada seorang tulang punggung yang bersamaku. Mungkin aku harus bisa melawan mereka dengan sekuat tenagaku sampai bala bantuan datang, jika ada. ~Jessica Caroline~
****
Seperti janji mereka, akhirnya keduanya sudah bersiap ke mall setelah membereskan ruangan dan meja kerjanya. Dua gadis itu begitu bersemangat dan dengan cepat membersihkan dan merapikan semuanya.
"Selesai." Jessi memandang meja kerjanya.
Sebelum dia keluar, Jessi menuju kamar mandi terlebih dahulu. Sepertinya menata make up dan buang air kecil adalah opsi terbaik.
Menotol dengan bedak di permukaan wajahnya. Tak lama dirinya sudah terlihat segar dan tak kusut lagi. Ya mungkin yang terlihat kurang nyaman adalah pakaiannya. Namun tak mungkin, 'kan? Jika mereka harus pulang dan berganti pakaian dulu.
Tak ingin berlama-lama, Jessi segera keluar dari kamar mandi dan terkejut mendapati keberadaan sang kekasih di ruangannya.
"Sudah lama?" tanya Jessi sambil berjalan membawa bedak dan lipglosnya.
Rey menggeleng lalu melangkah menghampiri kekasihnya. "Mau kemana hmm?" tanya Rey sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Jessi.
"Aku mau ke mall bareng Amanda."
"Naik?"
"Taxi lah. Aku kan gak bawa mobil." Jelasnya.
"Aku anter aja," ujar Rey cepat.
Jessi menggeleng. "Gak perlu."
"Perlu, kalau kamu menolak berarti…."
"Tak jadi." Lanjut Jessi dengan memutar bola matanya malas, "baiklah, ayo antar aku pak supir tampanku."
Jessi tersenyum genit lalu mengambil tasnya. Segera keduanya berjalan bergandengan tangan. Namun sesaat, Jessi melepas tangannya tatkala keduanya sudah mencapai pintu ruangan gadis itu.
"Kenapa dilepas?" tanya Rey yang tak rela.
"Takut ada yang liat," sahut Jessi.
"Tapi…."
"Plis," rengeknya manja. "Kalau kita sudah resmi, aku bakalan berani mengatakan pada dunia tentang hubungan kita."
"Bener?" Jessi mengangguk yakin.
Akhirnya mereka keluar dengan wajah bahagia. Disana, sudah ada Bima dan Amanda yang berdiri menunggu mereka.
"Bima, antar mereka ke mall."
"Baik, Tuan."
Rey segera berjalan diikuti oleh Bima. Lalu di belakang dua gadis itu juga berjalan sambil menjaga jarak.
__ADS_1
"Cie, ngapain aja tadi?" bisik Amanda heboh.
Jessi mencubit lengan Manda hingga sang empu mengaduh. "Gak ngapa-ngapain. Jan mesum."
Amanda hanya cengengesan karena berhasil menggoda temannya itu. Setelah mereka sudah keluar dari Perusahaan Pratama.
Segera keempatnya berjalan menuju mobil yang sudah dikode oleh Bima ketika dibunyikan alarmnya. Jessi sempat celingukan menatap beberapa deretan mobil karena takut terdapat rekan kerjanya yang melihat.
"Sepi, Jess." Suara Amanda terdengar pelan.
Gadis itu juga sedang mengedarkan pandangan karena takut mengalami kesialan juga. Lebih baik mereka mencari aman daripada harus menghadapi pertanyaan dan fitnahan dari banyak orang.
Saat Jessi baru saja sampai, dia dikejutkan oleh tingkah manis kekasihnya ini. Bahkan Amanda yang melihatnya tak percaya.
Seorang Reynaldi Johan Pratama, membukakan pintu hanya untuk seorang Jessica Caroline. Bahkan tak lupa, bosnya itu mencium punggung tangan Jessi tanpa malu. Sungguh pipi Amanda menjadi memerah menatap kedua manusia yang saling kasmaran itu.
Saat kedua orang itu sudah masuk ke pintu penumpang, akhirnya pandangan dirinya dan Asisten Bima bertemu.
"Cepet masuk!" perintah Asisten Bima dengan wajah datarnya.
"Ya Tuhan, orang ini jan ditanyain romantisnya. Gak bakal bisa," gerutu Amanda sambil membuka pintu mobil.
Segera Bima melajukan kuda besi itu menuju salah satu mall yang sudah ditunjuk oleh Jessi. Lagi-lagi, suara Rey dan Jessi lebih mendominasi di dalam ruangan mobil ini.
Bahkan Amanda sampai gemas sendiri melihat sikap bosnya yang berubah 180° pada sahabatnya itu. Menurutnya, lelaki seperti ini yang begitu idaman. Mereka akan menjadi hangat jika bersama pujaan hatinya dan akan dingin jika bersama orang lain.
****
"Ingat, hati-hati oke." Nasihat Rey ketika keduanya berada di dalam mobil.
"Kalau pulang, kamu kabarin aku yah. Biar aku jemput."
"Gak usah, Sayang." Nah kalau begini harus pakai jurus merayu. Jika tidak, Jessi bisa pastikan lelaki itu akan menjemputnya nanti. Padahal dirinya masih belum tahu ingin pulang jam berapa, dia ingin jalan-jalan dan berbelanja terlebih dahulu.
"Baiklah, yang penting kabarin aku terus."
"Siap, Bapak Negara."
Akhirnya Jessi bernafas lega. Dia melambaikan tangannya saat mobil Rey mulai meninggalkan dia dan Amanda.
"Duhh aku jadi gemes sama tingkah Tuan Rey."
Spontan Jessi menoleh. "Kok bisa?"
"Ya bisa, dia beda banget saat sama kamu dengan orang lain."
Jessi hanya tersenyum, lalu dia mulai mengajak Amanda untuk masuk ke dalam.
"Kita mau beli apa?" tanya Amanda sambil menatap beberapa toko di dalam mall.
Disini adalah Mall yang paling lengkap di Jakarta. Dari pakaian wanita, pria, anak dan bayi. Lalu segala aksesoris pun ada. Bahkan perhiasan pun serta beberapa barang branded lainnya juga tersedia. Tak lupa, bagian food court juga ada di sisi bagian timur Mall.
Gadis yang biasanya berhemat terlihat begitu kalap. Bahkan Jessi dan Amanda sampai heboh sendiri ketika mencari barang yang dicari.
__ADS_1
Pandangan Jessi begitu teliti saat dia menatap sebuah kemeja ternama di depannya. Dia ingin membelikan kemeja ini untuk Rey sebagai hadiah.
Menimang-nimang, akhirnya dia mendapatkan kemeja yang begitu cocok dengan prianya itu. Dengan senyum mengembang dia segera keluar dari toko pakaian pria setelah mendapatkan apa yang dia cari.
"Kemana lagi kita?"
"Makan," sahut Amanda heboh.
Segera kedua gadis itu menuju food court yang masih buka. Ternyata tanpa sadar, mereka telah berbelanja sampai waktu sudah hampir menuju jam 9 malam.
Pantas saja perut mereka terasa lapar. Hingga akhirnya mereka segera memilih menu makanan yang begitu mereka inginkan dan makan dengan lahap.
Hmmm perasaan bahagia dan perut kenyang membuat keduanya tak henti-hentinya menebar senyum senang sedari tadi. Biarlah, khusus malam ini mereka menghamburkan uang untuk membeli pakaian yang jarang sekali mereka lakukan.
****
"Makasih yah," ucap Amanda ketika taxi baru saja sampai di depan kosannya. "Kamu beneran gak mau tidur disini?" tawarnya lagi.
Ya, tadi setelah makan, keduanya segera memesan taxi untuk mengantarkan mereka pulang. Karena jarak antara kos'an Amanda dan Mall lebih dekat. Akhirnya Jessi mengantar temannya itu terlebih dahulu.
"Gak usah, Man. Aku langsung pulang aja, dah malem."
"Oke, hati-hati yah. Jan lupa kabarin aku."
"Siap, bye bye Man. Assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumsalam."
Setelahnya Amanda menatap kepergian taxi yang membawa sahabatnya itu. Sedangkan Jessi, gadis itu sedang bertukar pesan dengan Rey sedari tadi.
Lelaki itu sudah mengomel karena Jessi sampai lupa waktu. Namun lagi-lagi, kemarahannya akan menurun ketika diyakinkan oleh Jessi jika dia baik-baik saja.
Baru saja gadis itu meletakkan ponsel di dalam tasnya. Tak lama mobil yang dia tumpangi berhenti mendadak. Untung saja kepalanya tak terkantuk ke depan karena Jessi begitu menahannya.
"Astagfirullah. Ada apa, Pak?" tanya Jessi dengan mengusap dadanya.
"Itu, Non." Tunjuk Supir di depan mobilnya.
Bisa Jessi lihat disana, terdapat 3 lelaki yang sedang berdiri di sana dengan membawa senjata api dan sebuah kayu.
"Sepertinya mereka begal, Non." Supir taxi itu ketakutan. Jessi bisa melihatnya, dia memaklumi karena umur beliau juga sepertinya hampir 70 tahunan.
Jika begini dia harus bagaimana. Tak mungkin, 'kan, dia menghubungi Rey. Yang ada dia akan membuat lelaki ya itu khawatir.
Lamunan Jessi buyar ketika suara gedoran di kaca mobil sampingnya begitu keras.
"Cepat keluar!"
~Bersambung~
Udah tegangnya berhenti dulu, buat nanti sore yah. Hehehe.
__ADS_1
Kira-kira siapa mereka?