
Aku sudah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku. Maka jangan berharap, kamu akan bisa terlepas dari diriku setelah ini. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Hari ini, Rey meminta Bima untuk mengatur segalanya. Dia juga sudah mengatakan pada asistennya itu, untuk mengosongkan jadwalnya.
Bima tentu saja dengan keahliannya sudah mengatur ulang jadwal hari ini sampai ke depan. Untung saja, tak ada meeting atau apapun hingga membuat Bima tak semakin pusing.
Sedari tadi, Rey hanya bersantai ria di taman belakang rumahnya. Dia menghubungi Bima hanya melalui ponselnya atau lelaki itu yang akan ke rumahnya ini. Dia juga sudah menyuruh Bima untuk membuat sesuatu hal yang begitu menakjubkan.
Tentu saja Bima pun mengangguk setuju dengan semangat. Dia tak pernah seperti ini, namun melihat Bos sekaligus sahabatnya sudah yakin dan begitu bahagia. Akhirnya dirinya juga ikut merasakan kebahagiaan itu.
Saat Rey sedang asyik menjemur badannya, suara merdu wanita yang melahirkannya mulai terdengar dari belakang.
"Kamu gak kerja, Nak?" tanya Mama Ria sambil membawa nampan berisi teh hijau kesukaan anaknya itu.
Rey menggeleng kemudian dia membuka matanya. "Khusus hari ini, Rey mau kosongkan jadwal, Ma."
Mama Ria tentu saja bingung, dia meletakkan cangkir itu di depan anaknya dan kemudian memilih mendaratkan tubuhnya di kursi yang tersedia.
"Memang ada apa, Rey?"
Rey mendekat, lalu dia beralih duduk di samping mamanya. Kemudian berakhir dengan suara bisikan yang dilontarkan Rey di dekat telinga sang mama.
Setelah idenya terucap, Rey menjauhkan wajahnya dan sudah mendapatkan senyuman mengembang dari sang mama.
"Mama doakan semoga lancar, Nak. Mama udah gak sabar," ucap Mama Ria dengan mata berkaca-kaca.
"Doakan Rey ya, Ma." Mencium kedua tangan sang mama, "semua akan berjalan lancar dengan doa restu Mama."
Mama Ria mengangguk, dia mengusap kepala sang putra dengan penuh kasih sayang. Mama Ria berdoa, semoga rencana anaknya akan berhasil.
Demi apapun, jika itu untuk kebahagiaan putranya. Dia akan melakukan segala cara untuk mengabulkan permintaan putranya itu. Cukup sekali saja, dia pernah berbuat dosa pada buah hatinya ini. Tetapi sekarang, dia akan menebus segalanya dengan melakukan apapun yang diinginkan Rey seorang.
"Mama ikut Rey yah, kita cari hadiah bersama."
"Oke."
****
Di Kantor.
Hari ini entah kenapa tugas Jessica begitu padat. Bahkan banyak laporan yang menurutnya bisa dikerjakan oleh Amanda namun sekarang harus dia kerjakan sendiri.
Jessi tak tahu, ada apa dengan hari ini. Akan tetapi, mengingat dia hidup bergantung dengan perusahaan, maka dia akan melakukan apapun untuk pekerjaannya ini.
Jessica sungguh bekerja dengan giat. Bahkan dia juga sampai mengeprint berkas yang sudah dicoret tanpa sengaja karena salah menurutnya.
Hingga tanpa terasa, jam makan siang sudah terlewat. Perut Jessi mulai meronta minta diisi. Dia melirik ke arah jam yang menempel pada dinding bagian kanannya. Menghela nafas berat, tentu saja dia sudah merasa lemas. Waktu bahkan sudah menunjukkan pukul 2 siang.
Meregangkan otot tangan dan kakinya, pelan dia beranjak dari kursi kerjanya. Berjalan menuju pintu, dia membukanya dan keluar.
"Man!" panggilnya pelan.
"Ya?" sahut Amanda sambil mendongak.
"Kamu gak mau makan siang?" tanya Jessi heran.
"Memang sudah jam berapa?" tanya balik Amanda sambil meletakkan bolpoin di tangannya.
"Jam 2 siang."
__ADS_1
"Apa!!" Mata Amanda melotot. Dia tak percaya akan ucapan Jessi. Segera dia mencari ponselnya dan melihat jam berapa saat ini.
"Astaga, berarti sudah lewat?" Amanda mengatakannya dengan lesu.
Jessi mengangguk lesu. "Tapi aku lapar."
"Yaudah pesen aja, gimana?" sahut Amanda enteng
"Tapi…."
"Daripada mati kelaparan?" Amanda mengangkat alisnya.
Memang benar, lebih baik dia dimarahi daripada harus bekerja dengan perut kosong seperti ini. Dengan cepat, Amanda mengetikkan pesanan pada ibu kantin perusahaan dan dibales oke.
"Sudah," ujarnya senang sambil menyandarkan punggungnya.
Jessi hanya mengangguk lalu dia masuk ke dalam. Lebih memilih menuju sofa empuk di ruangannya, Jessi mulai menjatuhkan bobot tubuhnya dan berbaring.
Biarlah, dia akan menunggu makanan itu datang sambil tiduran sejenak. Rasanya tangan dan punggungnya begitu sakit serta otaknya yang lelah karena banyaknya pekerjaan hari ini.
****
"Aaaaa." Jerit Jessi saat tangannya tiba-tiba ditarik dan mulutnya dibekap dengan kuat.
Sekuat tenaga dia memukul tangan itu dan berusaha menggigitnya.
"Aduhh, jangan digigit."
Ehhh
Suara ini, Jessi spontan terdiam. Perlahan bekapan di mulutnya terlepas dan dia segera berbalik.
"Ya Allah, aku kira siapa." Jessi melotot kesal ke arah Rey yang menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Ya, 'kan. Kalau kamu gak ditarik bakalan lepas pulang."
"Lah emang jam pulang, 'kan ini?"
"Bener, tapi aku mau kamu nemenin aku dulu." Ajak Rey.
"Kemana?" tanya Jessi, "gak lihat nih." Menunjuk ke arah pakaiannya yang kusut.
"Aku masih kucel, bau dan belum mandi." lanjutnya.
"Udah gak apa-apa. Masih cantik kok." Rey segera menarik tangan Jessi setelah memastikan keadaan aman terkendali.
Mereka berdua segera memasuki mobil yang sudah begitu dihafal oleh Jessi. Dia menatap Rey yang tak kunjung menyalakan kendaraan besi itu.
"Kenapa gak jalan?" tanya Jessi bingung.
"Kamu harus tutup mata dulu yah?"
"Jangan macam-macam!" ancam Jessi dengan wajah garang.
"Memang aku mau macam-macam bagaimana. Satu macam aja lebih enak."
"Reyy!"
"Iya iya, aku gak bakal macam-macam kok."
Akhirnya gadis itu mengalah, Rey mengambil sapu tangan hitam yang sudah dia siapkan dari pagi. Lalu mulai melilitkan ke kepala Jesai dengan pelan agar tak menyakiti mata indahnya itu.
"Oke, sekarang ngapain?" tanya Jessi setelah matanya tertutup.
__ADS_1
"Diam dan tenang."
Jessi mendengar Rey mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. Gadis itu mencoba menerka apa yang akan dilakukan oleh Rey. Namun sepertinya otak yang biasanya pintar saat ini sedang lelah. Akhirnya Jessi lebih memilih menyandarkan punggungnya dan tertidur.
****
"Bangun, Putri Tidur."
Jessi menguap sambil menutupi mulutnya. Lalu dia mencoba membuka mata namun tak bisa dan seketika mengingat jika matanya sedang ditutup oleh kain.
"Sudah sampai?" tanya Jessi pelan.
"Ya, tunggu disini." Bisa dia dengar Rey membuka pintu dan keluar dari sana. Namun tak lama, pintu disisinya terbuka dan Rey memegang tangannya untuk membantu dirinya keluar.
"Ini dimana sih, Rey?"
"Di suatu tempat."
Jessi mencoba mencium keadaan sekitar. Namun semakin kesini, dia merasakan angin yang lumayan kencang menerpa rok yang dia pakai. Bahkan, bunyi deburan ombak air bisa didengar di telinga nya.
"Apa ini pantai?" batin Jessi saat dia merasakan keadaan sekitar.
"Berhenti." Jessi menghentikan langkahnya dan mengikuti Rey yang menggerakkan tubuhnya untuk menghadap ke suatu arah.
"Aku akan lepas, tapi kamu jangan buka mata dulu. Oke?"
"Oke," sahut Jessi dengan tak sabar.
Perlahan, dibukanya kain hitam itu hingga akhirnya mata indah Jessi sudah terlihat. Sungguh jantungnya berdegup kencang. Namun dia tak akan mundur lagi, malam ini, Rey sudah bertekad akan mengatakan semuanya. Agar tak ada lagi kata penantian yang tak berujung diantara keduanya.
Rey mulai berjongkok di depan Jessi. Melipat salah satu lututnya dan tangannya memegang sebuah benda berwarna merah untuk ditujukan pada gadisnya itu.
"Setelah hitungan ketiga, kamu buka mata secara pelan."
Jessi hanya mengangguk.
"Satu...dua...tiga."
Mata milik Jessi mulai terbuka. Buram dan perlahan mulai berganti jelas. Tatapan pertama yang dia lihat adalah Rey yang berjongkok di depannya dengan kotak beludru menampilkan sebuah cincin berlian begitu indah.
Terharu tentu saja. Bahkan matanya mulai mengeluarkan air mata kebahagiaan. Dia tak menyangka jika lelaki yang dia cintai akan melakukan ini untuknya malam ini.
"Will you marry me?"
Perlahan alunan lagu Beautiful in white mengalun indah. Semakin membuat suasana mereka haru dan romantis.
Jessi masih meneteskan air matanya karena tak bisa mengungkapkan rasa bahagianya itu. Namun dia tak menampik, bahwa dirinya senang. Lelaki yang dia cintai melamarnya yang berarti menandakan bahwa lelaki itu sudah menaruh rasa untuknya.
Menarik nafas pelan, Jessi menepis air mata yang terus mengalir di sudut matanya.
"Yes, i will." Jawabnya dengan tegas dan membuat Rey segera berdiri dan memakaikan cincin itu di jari manisnya.
"Terima kasih, terima kasih sudah mau menunggu dan meyakinkan hatiku untukmu."
Jessi hanya bisa mengangguk dan segera menghambur ke pelukan lelaki yang sudah melamarnya ini. Dihirupnya aroma maskulin yang begitu menenangkan ini hingga perasaannya semakin bahagia tatkala mendengar kata yang terucap dari bibir kissable milik seorang, Reynaldi Johan Pratama.
"I Love You, Jessica Caroline."
~Bersambung~
Huwaaa akhirnya mereka sudah saling meyakinkan hati dan mantap. Tinggal menuju hmm detik-detik kelanjutan.
Tim JesRey, hayoo syukuran hehe.
__ADS_1