
Kamu memang tak romantis. Tapi aku bisa melihat bagaimana cinta di matamu untukku begitu besar. ~Amanda Gandari~
****
"Apakah hubungan kita ini tak akan berakhir di atas pelaminan?"
Pertanyaan ini membuat pria yang biasa tenang menjadi gelisah. Banyak yang biasanya tak mudah gugup, menjadi berdebar. Sungguh dia tak menyangka jika sang kekasih akan menanyakan hal ini sekarang.
Mengingat kata pelaminan. Bima mengingat pembicaraannya dengan Rey dua hari yang lalu.
Saat itu dirinya sedang memberikan berkas pada sahabatnya itu di ruangan Rey. Lalu keduanya mulai bergelut dengan banyaknya berkas hingga menjelang makan siang.
Tak lama, Rey meletakkan berkas di tangannya dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Sepertinya pria itu memang lelah hingga matanya terpejam
Sedangkan Bima? Pria itu malah masih fokus dengan pekerjaannya. Hingga tiba-tiba pertanyaan dari mulut Rey membuat fokusnya terpecah dan spontan mendongakkan kepalanya.
"Apa kamu gak berniat menikah, Bim?"
Terkejut? Tentu saja.
Bahkan mata Bima sampai terbelalak dengan degup jantung yang berdebar. Jika boleh jujur, selama ini memang dirinya masih belum memikirkan pernikahan. Dirinya masih terfokus untuk berada di samping Rey hingga pria itu aman dan bahagia.
"Bim!" seru Rey membuat Bima terfokus pada wajah sahabat sekaligus bosnya itu.
"Apa kamu emang gak ada rencana untuk menikah?" tanya Rey menatap tajam asistennya itu.
"Aku memang belum memikirkannya, Rey." Ah jika mode begini pasti panggilan mereka sudah seperti sepasang sahabat karib.
"Kenapa?" tanya Rey yang begitu penasaran akan jawaban Bima.
Sungguh dalam benak Rey, pria itu bisa melihat jika Bima begitu mencintai Amanda. Tapi melihat jawaban asistennya itu sekarang, sungguh membuat dirinya bingung bukan main.
"Aku masih harus menunggu kamu benar-benar bahagia dan aman. Lalu setelah itu aku akan memikirkan diriku." Jawaban Bima membuat Rey terpana.
Bukannya dia terharu, malahan dia merasa sakit.
Kenapa? Menurut Rey karena dirinyalah yang membuat asistennya itu tak mau menikah.
__ADS_1
Padahal di dalam lubuk hati Rey, pria itu sudah begitu mendukung hubungan Bima dengan Amanda.
Tapi jika begini, Apa yang harus ia lakukan?
"Apa kamu yakin menungguku benar-benar bahagia?" Bima mengangguk. "Sampai Amanda berpaling dan pergi meninggalkanmu?"
Deg.
Degup jantung Bima semakin kencang. Apa dia tak salah dengar? Jika temannya, sahabatnya dan bosnya itu mengatakan hal seperti itu.
"Apa maksudmu?"
"Ih ayolah, Bim! Kemana otak cerdasmu itu. Pasti kamu sudah paham apa maksudku," ujarnya kesal sambil memalingkan wajahnya.
Bukannya Bima bodoh. Tapi sungguh otaknya mendadak bodoh dan linglung. Apa maksud dari Rey mengatakan jika Amanda akan berpaling?
Pikirannya semakin tertekan ketika mendengar kelanjutan ucapan Rey sekarang.
"Yang harus kamu tahu, wanita itu gak suka digantungin Rey. Amanda juga cukup umur dan dia pasti sudah memikirkan matang-matang untuk kelanjutan hubungan kalian. Kalau kamu gak ngasih kepastian, aku yakin Amanda akan meninggalkanmu dan memutuskan hubungan kalian."
"Sayang," panggil Amanda membuat Bima mengerjap kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Aku mikirin pertanyaan kamu," ujar Bima membuat Amanda menatap wajah sang kekasih.
"Apakah pertanyaanku sulit?"
Bima menggeleng. "Tapi aku salut kamu menanyakan itu padaku."
"Aku menahan rasa malu untuk menanyakan itu padamu. Karena aku gak mau hubungan kita tak berujung dan semu," ucap Amanda lirih sambil menunduk.
Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Mencoba menetralkan degupan jantung yang sedari tadi bertalu. Melepaskan sedikit ego dan malu untuk menanyakan hal sensitif itu hingga akhirnya pertanyaan itu bisa meluncur dari bibirnya tipisnya.
"Aku tau itu."
"Lalu?"
Bima menahan senyuman. Dia mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan dan membuat mata keduanya terpejam.
Ah sungguh posisi ini begitu disukai keduanya. Saling menghirup oksigen bersama dan aroma bibirnya saling masuk ke hidung mereka.
__ADS_1
Rasa nyaman dan cinta semakin besar pasti bisa dirasakan oleh keduanya. Hingga entah kenapa menimbulkan rasa nyaman ketika berada di titik ini.
"Memangnya kamu mau menikah denganku?"
Ahhh Amanda mematung. Tubuhnya terasa kaku hingga matanya sulit mengerjap. Sungguh dia tak menyangka kekasihnya menanyakan hal itu sehingga membuatnya mencoba menarik nafas menyadarkan jika ini bukan mimpi.
"Apa kamu sedang melamarku?" tanya Amanda sambil menahan senyum.
Sungguh Amanda tak menyangka jika akan ditanyakan seperti ini diposisi seperti ini.
"Bisa dibilang seperti itu," sahut Bima dengan bibir tersenyum, hingga membuat Amanda bersemu merah.
"Aku...aku mau menikah denganmu."
~Bersambung~
Woo geng mau nikah loh. Siapin amplopan Koin dan poin yah, hehehe🤣
Maaf baru update yah. Aku baru pulang refreshing. Besok mau curhat aku yah. Di Bab selanjutnya oke.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1