
Aline dan Nenek Vivi pun berbincang bersama, sedangkan Vivi pergi ke dapur membuat minuman untuk Aline. Nenek Vivi bertanya, apakah cucunya bekerja dengan baik? Aline mengiaka dan jujur berkata pernah menegur Vivi saat pertama kali datang ke rumah Owen. Aline berkata, ia punya alasan tersendiri dan meminta maaf pada Nenek Vivi apabila tersinggung.
"Saya menegur Vivi buka tanpa alasan. Saya selalu panik dan cemas, jika terkait anak-anak. Saat keponakan saya sedang sakit, sayalah orang pertama yang paling berisik dan terus mengomel. Bahkan Kakak dan Kakak ipar saya pun tahu kebiasaan saya soal itu sampai tak berani bicara lagi. Saat itu saya kaget, karena pakaian Max basah dan tempat tidurnya juga. Saya langsung tegur tanpa pikir panjang," kata Aline menceritakan kejadian saat itu.
Nenek Vivi tersenyum, "Tidak apa-apa. Itu jutru bagus untuk Vivi. Aku sudah tua, dan tak bisa mengajarinya dengan baik. Lagipula aku tak bisa apa-apa lagi sekarang. Bisa berjalan dan mengurus diri sendiri saja sudah sangat bersyukur kepada Sang Kuasa." kata Nenek Vivi.
Aline senang, ternyata niat baiknya diterima. Karena tak mau berlarut-larut, ia lantas bertanya soal Nana pada Nenek Vivi. Pertama-tama Aline menceritakan apa yang terjadi, dan niatannya. Aline berkata, ia ingin membantu Owen untuk menguak kejahatan Nana. Aline bahkan berpikir, bisa jadi Nana adalah dalang dibalik semuanya, termasuk kejadian buruk yang menimp Nenek Vivi.
Nenek Vivi pun terkejut, pemikiran dan perkiraan Aline tepat sasaran. Ia mengaku jika apa yang terjadi padanya memanglah ulah Nana. Nana mendorongnya dari tangga saat ia lengah.
"Saat itu aku baru dari latai dua membersihkan kamar tamu. Nana dan aku memang sempat bertengkar beberapa jam sebelumnya. Karena aku secara tak sengaja menguping dengar percakapannya dengan seorang pria di telepon. Aku ketahuan menguping dan dihajar oleh Nana habis-habisan. Karena tak terima, akupun mengancam akan membongkar semuanya pada Tuan, saat Tuan pulang kerja. Dan belum sampai bertemu Tuan, aku sudah jatuh didorong dari tangga. Dan saat di ruma sakit pun Nana mengancam akan membunuhku kalau aku buka mulut. Begitulah, akhirnya aku tak bicara apa-apa sampai detik ini. Aku memutuskan pensiun karena tak lagi bisa bekerja." jelas Nenek Vivi bercerita.
"Wanita itu memang licik sekali. Aku tak akan membiarkannya," gumam Aline.
Aline lantas bertanya, apakah Nana masih menghubungi atau apa? Nenek Vivi menjawab, jika ia meminta bantuan Dokter untuk diam-diam pergi dari rumah sakit. Dokter itu adalah teman sekolah putrinya, Mama dari Vivi. Dan atas bantuan Dokter itu juga ia dibantu mencari rumah dan perawat untuk menjaganya. Jadi, Nana tidak tahu keberadaannya. Dan Vivi pun diminta tutup mulut, tidak boleh mengaku jika ia adalah cucunya atau mungkin saja nyawanya juga ada dalam bahaya.
__ADS_1
"Vivi sudah aku larang. Namun, dia bersikeras ingin mencari bukti kesalahan Nana yang sudah mendorongku," kata Nenek Vivi.
Aline memegang tangan Nenek Vivi. Ia berkata pada Nenek Vivi untuk tidak khawatir. Ia pasti bisa menjatuhkan Nana dan mengungkapkan kebusukan Nana. Aline lantas bertanya, apa saja yang diketahui Nenek Vivi tentang Nana, agar ia bisa mengumpulkan lebih banyak bukti.
Nenek Vivi pun berkata, kalau ia sebenarny masih berhubungan baik dengan temannya, yang merupakan saksi mata kejadian dimana Nyonya rumahnya dahulu diberi obat oleh Vivi dan akhirnya melahirkan sebelum waktunya, sampai meninggal. Dan karena syok, pelayan itu segera mengundurkan diri dengan alasan anaknya sakit, kebetulan sekali anaknya memang sedang sakit keras. Tidak ada seorang pun yang tahu kalau ia telah memergoki Nana mencampurkan sesutu ke dalam minuman Nyonya mereka. Dan Nenek Vivi sendiri baru tahu fakta itu setelah satu tahun setelahnya. Saat Nenek Vivi tak sengaja bertemu pelayan itu saat sedang berbelanja di supermarket.
"Jujur setelah mendengar cerita itu, aku terus menaruh rasa curiga pada Nana." kata Nenek Vivi.
Aline sangat terkejut. Ia tidak percaya Nana melakukan itu pada sepupunya sendiri. Aline sampai tak bisa berkata-kata lagi. Ia duduk bersandar, tubuhnya serasa lemas tak berdaya.
"Ba-bagaimana bisa ... dasar wanita sialan! dia itu manusia atau bukan sebenarnya? Bagaimana ini? apa yang akan Owen katakan semisal dia tahu kalau Nana ternyata adalah dalang dibalik kelahiran prematur Max, yang menyebabkan Amanda meninggal dunia. Apakah pria itu masih akan baik-baik saja?" batin Aline.
Tiba-tiba ponsel Aline berdering. Aline mendapatkan panggilan dari Victor. Aline meminta izin pada Nenek Vivi untuk menerima panggilan. Aline lantas berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dari Nenek Vivi duduk.
"Ada apa?" Tanya Aline begitu menerima panggilan Victor.
__ADS_1
"Hallo, Nona Boss saya menghubungi dengan membawa kabar baik. Anda mau dengar?" kata Victor.
"Kabar baik apa? oh ... apa kamu sudah tidur dengannya? Aku tak yakin wanita seperti Nana mudah terbujuk," kata Aline.
"Haha ... kamu meremehkan pesonaku rupanya. Menggodanya itu sangatlah mudah. Dia hanya wanita yang haus akan kasih sayang dan perhatian. Baru bertemu, dipuji dan diberi perhatian sedikit saja dia langsung tergoda. Apa kamu tahu? dia bahkan langsung membawaku ke Hotel dan berkata akan memberiku apa saja kalau aku mau menemaninya bermain. Dan aku punya hal menarik lainnya. Aku juga sudah merekamnya untuk jaga-jaga, aku akan kirim nanti setelah ini. Intinya ... wanita itu mengaku ia telah membunuh sepupunya dan ingin mengusai semuanya, juga ingin menjadi istri dari suami sepupunya itu. Dia bahkan menawariku menjadi pria simpanannya." jelas Victor.
Aline kaget, "Hahh? a-apa? kamu serius?" sentak Aline tak percaya.
"Serius, Aline. Aku sendiri juga terkejut, kenapa tiba-tiba dia memberitahuku hal itu. Padahal aku kan tak mengenal siapa sepupunya dan tak mau tahu juga. Setelah tidur denganku, dia memeberiku uang, karena aku mengeluh dia lantas menambahi uangku. Intinya dia tak bisa melihatku mengeluh, itulah kelemahannya. Dia sangat puas dan sangat tertarik padaku saat ini. Sehingga mudah bagiku mendapatkan apa saja darinya," kata Victor.
"Kerja bagus, Victor. Aku akan memberimu bonus setelah ini. Jangan lupa kirim rekamannya. Dan ya ... kalau dia begitu tergila-gila padamu, kenapa tak sekalian kamu kuras habis saja? Hahaha ... pasti menyenangkan bermain-main dengan wanita bodoh." kata Aline.
"Itulah rencanaku. Namun, aku masih ragu, haruskah aku begitu kejam?" tanya Victor.
"Tak apa-apa. Ambil semua miliknya untuk kamu miliki. Kalau perlu ambil sahamnya, dan minta dia menjualnya padaku. Kita bisa pakai nama perusahaan nanti. Yang paling aku butuhkan itu saham yang dia miliki di GoodFood, Victor. Aku tak berharap lebih, karena kita baru mulai, tapi itulah tujuanku memintamu mendekatinya." kata Aline.
__ADS_1
"Hm, begitu ya. Baiklah, kita bicarakan lagi itu nanti. Yang terpenting saat ini aku harus lebih memujinya untuk mendapatkan hatinya. Semakin aku mengumbar kasih sayang, semakin dia jatuh cinta padaku. Begitu alur ceritanya saat ini, Nona." kata Victor.
Aline memuji kelihaian Victor merayu wanita. Mereka berbincang panjang. Aline mendengarkan Victor bercerita tentang pendekatannya dengan Nana. Dirasa sudah cukup lama berbincang. Aline berpamitan untuk mengakhiri panggilan. Sebelum itu, Aline meminta Victor terus menempeli Nana. Ia percaya Victor bisa sepenuhnya menguasai Nana. Panggilan pun berakhir, tak lupa Aline berterima kasih atas kerja keras dan informasi yang diberikan Victor.