Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Makin Aneh dan Dugaan Mama Ria


__ADS_3


Jika betul tak lama lagi aku akan dipanggil oleh sebutan Ayah. Maka itu adalah sebuah bonus kebahagiaan yang begitu mengesankan untukku. Tapi di balik kebahagiaan ini, ada rasa takut dan khawatir mengingat jika kehadiran wanita gila itu masih ada disini dan ditambah kejadian kemarin membuatku semakin waspada. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Rey terperangah tak percaya. Jadi dirinya diminta berhenti mendadak hanya karena semangkuk bubur. Bubur? Di Pinggir jalan lagi. Dia menghela nafas pelan dan mengangguk. 


"Aku yang akan membelinya yah. Kamu disini karena ingat kesayanganku tidak memakai pakaiannya," ujarnya sambil melirik ke bagian rok sang istri. 


Jessica memonyongkan bibirnya. Namun, dia menurut. Bagaimana ia bisa menolak, jika memang dirinya merasa tidak nyaman dengan keadaan bawahnya yang terkena angin.


Segera Rey keluar dari mobil dan menghampiri warung bubur yang dipadati oleh banyak orang di depannya. Kedatangan pria tampan itu tentu saja menjadi perhatian banyak orang. Apalagi wajahnya yang familiar membuat beberapa orang terlihat segan untuk membuatnya menunggu. 


"Kenapa Anda pindah?" tanya Rey bingung saat melihat bapak-bapak yang lebih tua darinya memilih mundur.


"Lebih baik Anda dulu saja, Tuan." 


"Ehhh." Rey tertegun. Namun dirinya langsung menggeleng, "tidak apa-apa, Pak. Bapak aja dulu, saya bisa mengantri." 


Bapak itu tetap saja menggeleng. Akhirnya Rey segera maju terlebih dahulu agar antrian tak semakin panjang. Setelah mengatakan kepada si penjual, Rey menatap langit yang mulai menggelap. Dia menunggu beberapa menit hingga akhirnya pesanannya sudah selesai.


"Ini terlalu banyak, Tuan," ucap penjual bubur saat menerima tiga lembar uang ratusan. 


"Tidak apa-apa, Pak. Anggap saja rezeki dari Allah," ujar Rey sopan. "Mari, Pak. Terima kasih."


Semua orang disana menatap kagum akan kemurahan seorang pengusaha dan pebisnis kaya raya itu. Bahkan mereka sampai tak percaya jika orang kaya masih mau membeli makanan di pinggir jalan. 


Tak mau membuang waktu, Rey segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali untuk segera sampai di rumahnya.


"Kenapa cepet banget, Sayang?" 


"Iya tadi banyak banget pembelinya yang milih mundur." 


"Hah mundur?" Jessica menoleh dengan kening berkerut.


"Iya, Sayang. Jadi alhasil aku udah di depan duluan."


Jessica tak banyak bicara. Dia memilih diam sambil menatap kotak bubur yang baru saja di bawa sang suami. Entah kenapa ada kelegaan dan kesenangan sendiri ketika melihat sang suami membelikan apa yang dia inginkan. Hingga tak beberapa lama, akhirnya mobil yang membawa mereka sudah sampai di pelataran rumah.


Segera keduanya turun dan memasuki rumah dengan perasaan lelah yang menggunung. Memasuki rumahnya Jessica segera menuju dapur. Dia seperti lupa jika dirinya tak memakai pakaian dalam dan ingin segera menyantap bubur yang sudah diberikan oleh sang suami tercinta. 


"Sayang," panggil Rey membuat Jessi menoleh.


"Ayo ke kamar dan ganti baju!" 


"Tapi…."

__ADS_1


"Sayang," panggilnya lagi dengan lembut hingga tak mampu membuat Jessica menolak.


Dia meletakkan kotak bubur diatas meja dan mengikuti sang suami ke atas. Dia dengan cekatan membantu suaminya membereskan pakaian kotor dan tas kerjanya lalu setelah itu bergantian dengan dirinya sendiri.


****


Jessica berjalan dengan tidak sabaran menuruni tangga untuk segera menyantap buburnya. Dari belakang, Rey mengikutinya dengan menggelengkan kepala melihat bagaimana tingkah sang istri yang sangat menggemaskan. 


"Jangan lari-lari, Yang. Nanti jatuh!" nasihat Rey namun tak digubris oleh sang istri.


Setelah sampai di meja makan dan diikuti oleh Rey. Jessica membukanya dengan pelan dan segera mengambil sendok. Matanya begitu berbinar saat membuka tutup kotak bubur dan terpampanglah makanan yang membuat air liurnya ingin sekali menetes. 


Jessica mendekatkan hidung mancungnya dan menghirup aroma harum antara bawang dan rempah yang ada di dalam bubur. 


"Baunya enak banget," ucapnya dengan bahagia.


"Ya sudah. Makanlah, Sayang," ucap Rey ikut mengembangkan senyum ketika melihat tingkah istrinya yang seperti ingin melahap habis kotak bubur itu. 


Jessi mengangguk. Dia menatap bubur itu lagi dengan lekat. Tapi kenapa keinginan dirinya tiba-tiba lenyap. Bahkan sekarang dia menginginkan hal lain hingga membuatnya mengalihkan pandangan matanya ke arah sang suami.


"Kenapa?" tanya Rey yang melihat istrinya diam. 


"Aku pengen ngeliat kamu yang makan bubur ini, Sayang." 


"Apa! Aku," tunjuknya pada dirinya sendiri. 


Jessica menyerahkan sendok dan kotak bubur itu di depan sang suami. Lalu setelah itu menyangga kepalanya dengan tangan dia menatap begitu antusias sang suami yang mau melahap habis makanan lembek itu.


"Katanya tadi kamu mau. Kenapa sekarang aku?" tanya Rey heran.


"Entahlah. Aku jadi pengen liat kamu yang makan," sahut Jessi sambil mengedikkan bahunya. 


Saat dua orang itu saling berdebat. Tiba-tiba kedatangan Mama Ria dan Daddy Stevent membuat keduanya berhenti. 


Terlihat jelas wajah Jessica yang cemberut karena sang suami tak mau menuruti keinginannya. Rasanya dia ingin sekali menangis namun ditahan karena keberadaan sang ayah. 


"Apa yang kalian ributkan?" tanya Stevent setelah duduk di sebelah putrinya.


"Ini bubur, Daddy." Itu suara Rey. Dia yang menjawab karena sang istri hanya diam menunduk.


"Lalu?" tanya Mama Ria yang membuka suara.


"Jessi ingin aku yang memakannya, Ma. Tapi aku sedang malas makan. Tadi juga yang minta ini dirinya. Mangkanya aku memintanya Jessi yang makan." 


"Tapi aku gak mau makan bubur. Aku cuma pengen liat kamu yang makan." 


Alis Mama Ria mengernyit. Kenapa rasanya tingkah menantunya ini aneh.

__ADS_1


"Jessi cuma pengen lihat?" ulang Mama Ria dan langsung dijawab anggukan oleh sang menantu.


Tak lama senyum mengembang muncul di bibir wanita paruh baya itu setelah sebuah pikiran muncul di otaknya. Perilaku Mama Ria tentu saja membuat ketiga orang disana heran dan dipenuhi tanda tanya besar.


"Ada apa, Ma?" tanya Jessica oelan.


"Iya, Ma. Kelihatan banget kalau mama lagi bahagia." Sambung Rey yang menatap ke arah sang mama.


"Kamu sudah halangan, Nak?" 


Jessica tertegun. Dia melupakan hal itu memang. Sudah lama sekali dirinya tak mendapatkan halangan. Bahkan seingatnya Jessica merasakan halangan ketika mereka belum menikah. Lalu sampai sekarang, dia sudah tak mendapatkan itu lagi.


"Aku melupakan itu, Ma. Sudah lama sekali aku tak halangan." 


Jawaban Jessica tentu saja membuat Stevent maupun Mama Ria saling pandang. Mata mereka saling memancar penuh pengharapan dan air mata mengalir dari mata keduanya. 


"Daddy kenapa menangis?"


"Daddy bahagia, Nak."


"Bahagia kenapa?" tanya Jessica heran.


Sungguh sepasang pengantin itu saling pandang karena tak tahu apa yang sedang di pikiran oleh orang tua mereka. Hingga sebuah kalimat yang meluncur dari bibir Mama Ria membuat tubuh Jessi dan Rey mendadak kaku. 


"Sepertinya tak lama lagi kamu akan dipanggil ayah, Rey." 


~Bersambung~


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️ Vote seikhlasnya yah


▶️ Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2