
Mungkin melupakan masa lalu adalah hal tersulit. Tapi jika kita mencoba menerima dan mengikhlaskan semuanya. Maka, kebahagiaan akan mengitari kita untuk menjejaki masa depan dengan tawa bahagia. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Wanita yang biasanya suka bicara mendadak menjadi pendiam. Dia hanya bisa menunduk setelah beberapa menit yang lalu dipersilahkan masuk. Ruangan private yang diisi dengan satu buah meja dan dua buah sofa menjadi tempat yang tepat untuk Mama Ria bertemu dengan Stevent Alexzandra.
Lelaki yang terkenal kejam itu sudah duduk di depannya dengan pandangan angkuh. Tak ada rona wajah ramah dan senyuman dari bibir Stevent sedikitpun. Sepertinya, dari wajah pun ia sudah bisa menebak siapa wanita di depannya ini.
"Ada perlu apa anda menemui saya?" tanya Stevent to the point.
Dia tak mau bertele-tele lagi. Sungguh, mendengar ucapan Pangeran Brunei tadi membuat rahangnya mengeras. Dia tak suka dipermainkan dan ini adalah salah satu hal yang menurutnya membuang waktu menjadi hal tak penting.
"Jika anda hanya diam, saya akan pergi. Waktu saya begitu berharga untuk dihabiskan hanya menunggu anda yang sedari diam." Ketusnya dengan wajah angkuh.
Ya memang begitulah Stevent. Pria yang tak punya hati semenjak istrinya meninggal. Dia hanya akan bersikap hangat kepada Maria dan Jessica saja. Jika diluar keluarga, maka sikap angkuh dan kejam nya yang akan menguasai.
"Maafkan saya, Tuan. Perkenalkan saya Ria. Ibu dari Reynaldi Johan Pratama," ucapnya dengan kaki gemetaran.
Menurut Mama Ria, sikap dingin Stevent ini lebih dingin dari sikap almarhum suaminya. Entah kenapa aura pria paruh baya di depannya ini begitu kuat hingga membuat semua yang ingin dia sampaikan menjadi lupa.
"Saya kesini ingin membicarakan tentang hubungan Rey dengan putri anda, Tuan."
Stevent masih terdiam. Dia menunggu apa yang ingin disampaikan oleh wanita paruh baya yang diketahui jika dia adalah ibu dari pria yang dicintai putrinya itu.
"Tolong restui hubungan putra saya dengan putri anda, Tuan."
Stevent tersenyum sinis. Dia sudah tahu akan kemana pembicaraan ini berakhir. Dirinya bisa melihat tatapan seorang ibu yang begitu tulus dan dia yakin jika sikap wanita ini hampir mirip dengan mamanya dulu.
"Atas dasar apa anda menyuruh saya merestui hubungan putra anda yang statusnya duda itu dengan putri saya yang masih perawan?" tanya Stevent dengan mata menajam.
"Atas dasar cinta keduanya, Tuan. Mereka saling mencintai satu sama lain," sahut Mama Ria dengan pandangan menunduk.
__ADS_1
"Cinta?" ulang Stevent dengan tertawa sarkas.
"Orang hidup bukan dari cinta saja. Tapi status dan kemapanan menjadi salah satu hal saya menyeleksi calon suami putri tunggal saya, Jessica."
"Tapi dari cinta mereka akan saling bahagia."
"Semua akan merasakan cinta jika sudah terbiasa bersama. Lama kelamaan putriku juga akan melupakan putra anda dan menjauh jika Jessi sudah menikah dengan pria pilihan saya," ujar Stevent dengan sombong.
Mama Ria semakin menunduk. Dirinya saja sudah sakit mendengar jika wanita yang sudah memenuhi hati anaknya itu ingin dinikahkan dengan orang lain. Lalu bagaimana perasaan putranya jika Rey yang mendengar sendiri.
Apa yang harus dilakukan jika seperti ini? Ternyata berbicara dengan Stevent pun bukanlah hal mudah? Dirinya hampir saja menyerah tapi terbayang akan senyuman Rey membuat semangatnya kembali menggebu.
Mama Ria menghela nafas berat dan sudah memikirkan hal apa yang akan dibicarakan ini. Ia sudah tahu jika ini aib anaknya. Tapi sepertinya hanya inilah alasan salah satunya agar Stevent merestui hubungan putranya dengan Jessica.
"Rey menjadi duda adalah kesalahan saya, Tuan. Saya memaksakan pilihan saya disaat dia sudah memiliki pilihan hidup." Mama Ria memulai membuka suara kembali setelah beberapa menit terdiam.
Dengan lantang dan lancar, Mama Ria menceritakan semuanya. Kisah putranya Rey dengan Aqila hingga dia tak merestui dan memaksa sang putra menikah dengan gadis pilihannya yang tak lain adalah almarhum Rossa.
Raut wajah Stevent tentu saja masih datar. Tapi di dalam pikirannya, dia tak menyangka jika wanita yang dia tahu egois ini bisa mengatakan masa lalunya. Jujur akan semua yang pernah ia lakukan tanpa merasa malu sedikitpun. Ada perasaan sedikit iba dari diri Stevent. Tapi dia juga tak menyangka ada ibu yang seperti itu pada putranya sendiri.
"Hingga untuk pertama kalinya. Saya melihat senyuman indah itu kembali hadir lagi atas kehadiran putri anda Jessica di kehidupan putra saya." Tutupnya bercerita.
"Apa anda ingin menjadi saya kedua. Melihat putri anda sendiri sedih dan tak memiliki semangat hidup hanya karena pilihan kita, Tuan?"
Sontak pertanyaan Mama Ria terasa menohok di hati seorang Stevent Alexzandra. Entah kenapa pikirannya menjadi membayangkan bagaimana jika putrinya menangis setiap hari. Bagaimana jika betul apa yang dikatakan oleh Ria tentangnya.
Apakah dia juga akan membuat kesalahan? Apa dirinya akan membuat anaknya tak memiliki semangat hidup? Apakah dia sanggup melihat putrinya yang selalu bahagia menjadi pendiam dan tak lagi tersenyum?
Lagi-lagi spontan kepala Stevent menggeleng. Dia tak mau merenggut kebahagiaan putrinya. Sudah cukup dirinya melihat kesedihan Jessica ketika ditinggalkan oleh istri tercintanya.
Stevent juga merasakan dulu bagaimana dia ditinggal oleh Mamanya Jessica. Sakit, kecewa, tak sanggup dan ingin bunuh diri pernah terlintas olehnya. Tapi, melihat Jessica, membuatnya mengerti jika tujuan hidupnya saat ini hanya untuk kebahagiaan putrinya saja.
"Saya hanya berharap, semoga anda bisa memahami apa yang saya katakan, Tuan. Agar anda tak dirundung rasa bersalah dan penyesalan begitu mendalam," ucap Mama Ria kembali bicara.
__ADS_1
"Saya begitu yakin jika anda adalah seorang ayah yang begitu menyayangi putrinya. Semoga kita bisa menjadi besan yang baik dan anda bisa menerima hadirnya putra saya di kehidupan putri anda."
Mama Ria menutup ceritanya melihat putri dan putranya menangis dihadapannya saat ini. Dia tak menyangka akan menceritakan semuanya dengan jelas tanpa melewatkan satupun dari putranya ini.
"Mama," panggil Rey memeluk mamanya.
"Jangan merasa bersalah lagi, Ma. Mari kita lupakan masa lalu dan sama-sama berjalan menuju masa depan yang indah."
"Iya, Nak. Mama akan mulai berjalan dan menerima semua masa lalu setelah melihat kamu bahagia," ucap Mama Ria melepas pelukan putranya.
"Rey sudah bahagia, Ma." Pria itu menatap kekasihnya dan memegang tangan Jessi dengan lembut. "Kehadiran Jessica membuat hidup Rey kembali seperti dulu."
Mama Ria tersenyum. Dia ikut bahagia mendengar putranya bisa menerima semuanya dan menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Mama bisa melihatnya, Nak. Jika begitu, ayo segeralah melamar calon menantu Mama ini dan berikan mama cucu-cucu yang lucu."
~Bersambung~
Ahh bab selanjutnya tinggal otw halal, uhuyy. Dan tamat hahahha.
Ketawa jahat.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1