
Tak ada hal yang lebih penting sata ini, kecuali melihatmu sedang dalam keadaan baik-baik saja. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Gedoran di pintu semakin bertambah keras. Jessica menelan salivanya untuk menekan rasa ketidak percayaan dirinya. Dia sudah lama tak melatih ototnya untuk bertarung dan hari ini, dia harus berusaha melemaskan tulang dan ototnya kembali.
"Nona tidak perlu keluar. Biar Bapak saja," ujar Supir Taxi berpakaian biru.
Jessi menggeleng, "biar saya, Pak." sahutnya tenang.
Dia mengambil ponsel dan mencari nomer Rey dengan cepat. Lalu setelahnya dia menyodorkan benda pipih itu ke arah sang supir.
"Setelah saya keluar, Bapak kunci pintu ini. Lalu, tolong segera hubungi nomor yang sudah saya pilihkan, Pak." Supir Taxi menatap layar yang menyala. Dia menatap deretan nama yang tertera di sana.
"Sekarang Bapak siap-siap. Saya akan keluar dan segera kunci pintu ya, Pak." Supir Taxi mengangguk gemetaran.
Jujur dia begitu takut, satu wanita ramping melawan tiga lelaki berbadan besar. Ditambah dengan barang yang mereka bawa, membuat lelaki paruh baya itu melafalkan doa untuk penumpangnya ini.
"Semoga ada kendaraan yang lewat." Doanya dalam hati.
Setelah menarik nafas, Jessi membuka pintu dan segera menutupnya kembali. Dia melirik sekilas lalu berjalan ke arah depan mobil taxi yang dia tumpangi.
"Siapa kalian?" tanyanya dengan mata tajam bak elang.
"Ikutlah dengan kami cantik," ucap Lelaki yang memegang balok kayu dengan warna kulit lebih gelap.
"Kita bersenang-senang," sahut Lelaki di sebelah yang memiliki kulit lebih coklat.
"Jangan harap." Jessi tersenyum mengejek.
"Ikut kami dan jangan menolak."
"Jika menolak?"
"Kami akan memaksa!"
"Oh yah?" Jessi mulai memasang kuda-kuda.
Jika dilihat dari jumlah, maka dia akan kalah. Namun tak apa, daripada dia dibawa sebelum melawan.
"Banyak basi, cepat tangkap!" perintah lelaki yang membawa senjata api.
Segera dua lelaki itu berlari ke arah Jessi. Dengan sigap Jessi mundur sedikit. Lelaki berkulit hitam meraih tangan kirinya, namin dengan sigap, gadis itu memutar tubuh dan berganti melilit lengan pria hitam itu.
__ADS_1
Mendengar pria itu meringis, membuat Jessi semakin bersemangat. Diangkatnya kaki kanan lalu dia memukul telak tepat di wajahnya hingga pria hitam itu memegang hidungnya.
"Uhhh, sialan." Umpat Lelaki itu marah.
Tak tinggal diam, lelaki berkulit hitam memegang tangan kanan Jessi yang tak siap lalu memelintirnya. Hingga tubuh Jessi berada di depan lelaki itu dengan tubuh merapat.
Jessi mengaduh kesakitan, namun ini tak seberapa. Mengerahkan tenaganya, Jessi memukul wajah lelaki berkulit coklat dengan kepala bagian belakangnya hingga hidungnya mengeluarkan darah. Tak berhenti disitu, dia juga mengangkat lututnya dan tepat menusuk bagian senjata ular milik lelaki itu hingga jatuh terjengkang.
"Mati kau," seru Jessi semakin menginjak burungnya dengan kuat.
Namun tak lama, Tubuh Jessi tersungkur karena pukulan telak di punggungnya. Sepertinya dia lupa keberadaan lelaki berkulit hitam di belakangnya.
"Cepat bawa dia!" perintah lelaki yang hanya diam sedari tadi.
Saat dua lelaki yang masih saling meringis ngilu itu hendak memegang tubuh Jessi. Terdengar suara tembakan mengenai lelaki yang sedari tadi hanya memberikan titah.
Segera mereka semua menatap ke arah asal suara. Begitupun Jessi, dia menahan sakit di punggungnya dan mencoba menggerakkan kepalanya menatap para gerombolan lelaki yang keluar dari arah belakang mobilnya.
"Lepaskan dia!" titah lelaki memakai sapu tangan hitam untuk menutupi wajahnya.
"Jangan harap," sahut dua lelaki yang merasa baikan. Sedangkan pria yang ditembak beberapa menit lalu tewas ditempat, karena keahlian penembak jitu tepat mengenai jantungnya.
Segera para gerombolan tadi langsung mengepung dua lelaki yang membegal Jessi. Gadis yang masih memiliki sisa kekuatan itu, mencoba berdiri dengan menahan sakit di punggungnya. Dia berjalan sambil tergopoh dan membungkuk menuju mobilnya.
Namun ternyata, saat Jessi hendak jatuh kembali, Supir Taxi itu datang membantunya masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana ini, Non?" tanya Supir taxi menatap ke arah Jessi.
"Kita pergi, Pak. Biarkan saja mereka."
Jessi tak peduli siapa mereka untuk saat ini. Yang penting dia sudah terlepas dari mereka saat ini. Segera Supir Taxi memundurkan mobilnya dan kembali mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Tahan ya, Non. Kita ke rumah sakit saja yah?"
"Gak perlu, Pak. Antar saya ke saja ke alamat tujuan."
"Tapi lukanya…."
"Gak papa, Pak. Nanti saya obati sendiri."
Supir Taxi akhirnya menyerah. Dia mengantarkan Jessi ke alamat awal yang sudah dituju. Tak butuh waktu lama, mobil mulai sampai di depan gerbang Kosan. Jessi segera turun dengan pakaian acak-acakan dan rusak. Dia kembali menahan sakit di punggungnya agar lelaki paruh baya di depannya tak merasa bersalah.
"Gak perlu, Non." Supir taxi menolak ketika Jessi memberikan uang.
"Jangan ditolak, Pak. Ini udah musibah, gapapa kok."
__ADS_1
Akhirnya lelaki itu menerima dengan pasrah dan tak lupa mengucapkan maaf karena tak bisa membantu.
Setelah taxi yang dipesan mulai meninggalkannya, Jessi menegakkan tubuhnya sedikit untuk meluruskan otot punggungnya. Namun sayang, sepertinya pukulan balok kayu itu terlalu keras hingga Jessi mengaduh kesakitan dan kembali membungkuk.
"Ya Tuhan, sakit banget."
****
Di sebuah apartemen mewah. Terdapat seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat kuat sedang memukuli wajah bodyguard yang menurutnya tak becus.
"Bagaimana bisa kalian datang terlambat, hah?" deru nafas memburunya begitu jelas. Matanya melotot terlihat sekali bahwa dia sedang menahan amarah yang membludak.
"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-bwenar kehilangan jejaknya tadi." Ampun Jack dengan menahan sakit di wajahnya.
"Bagaimana keadaannya tadi?"
"Nona muda tersungkur karena pukulan balok." Jawab Jack jujur hingga dia mendapatkan pukulan kembali di wajahnya.
"Seret para sialan itu dan bawa ke hadapanku," serunya tak terbantahkan. "Cari siapa dalang dari semua ini, dan…."
"Dan apa, Tuan?" tanya Jack.
"Kirim foto putriku pada lelaki itu sekarang!"
Jack dengan segera melakukan perintah Tuannya. Jujur dia juga sedang khawatir pada nona mudanya itu. Jack mengingat bagaimana kedekatan mereka dulu, hingga dia takut terjadi hal tak terduga pada gadis kuatnya itu.
****
Di tempat lain. Sebuah bunyi pesan masuk membuat Rey yang saat ini sedang di ruang kerja segera mengambilnya. Sedari tadi pikirannya sedang tak tenang. Dia juga menunggu kabar dari kekasihnya yang sedang dalam perjalanan pulang ke kosannya.
Rey mengerutkan dahinya melihat notif sebuah nomor tak dikenal. Namun tak ambil pusing, dia segera membuka pesan itu dan mengklik foto yang masih terlihat buram.
Menunggu beberapa menit, akhirnya foto itu terlihat jelas. Mata Rey melotot melihat foto gadisnya tersungkur disana.
Rasa cemas mulai menjalar ke seluruh otaknya. Dia segera berlari keluar dan mengambil kunci mobilnya. Tak peduli dengan dirinya yang saat ini memakai celana pendek dengan kaos polos yang membalut tubuh kekarnya. Yang terpenting saat ini bagaimana keadaan gadisnya itu.
Bisa Rey lihat, Jessi sedang menahan sakit di fotonya tadi. Jelas itu membuat Rey ingin segera sampai di kosan milik wanitanya itu.
"Persetan dengan semuanya. Yang pasti, aku harus segera sampai."
~Bersambung~
Huwaaaa perdana bikin adegan pukul orang. Gimana feelnya guys? Jan diketawain ya, aku berusaha ini loh. Ampek nonton film barusan, huhu.
Udah jangan lupa kasih like gratisnya dong. Jika mau dukung novel ini, boleh beri hadiah atau vote novel Abang Dude yah. Terima kasih.
__ADS_1