
Penyesalan itu datangnya hanya di akhir. Maka dari itu, sebelum kau melakukan sesuatu, lebih baik pikirkan dulu apakah semua itu sudah benar atau hanya ego sesaat. ~JBlack~
****
Suara teriakan dari dalam kamar membuat Jessica dan Rey yang sedang kalut dalam pikirannya terperanjat kaget. Segera Jessica berdiri dan berlari menuju kamar sang ayah. Namun, saat dirinya hampir sampai di pintu, dari sana keluarlah Jack sambil membopong ayahnya.
"Daddy kenapa, Jack?" tanya Jessica dengan air mata mengalir.
Jack tak menggubris. Pria itu segera berlari dengan berteriak memanggil kepala pelayan sambil berjalan menuju pintu utama.
"Siapkan mobil!" perintahnya saat sudah di depan pintu.
"Jack, kenapa dengan Daddy?" tanya Jessica meminta jawaban.
Bahkan gadis itu sudah menggoyang lengan Jack hingga tubuh pria itu ikut bergerak.
"Berhentilah, Nona! Kau mau membuatku jatuh bersama Tuan besar?" sentak Jack dengan wajah merah padam.
Jessica menangis, dia tak peduli dengan kemarahan asisten ayahnya itu. Yang dia pikirkan saat ini adalah ayahnya. Jessi bisa melihat wajah yang biasanya segar itu tampak pucat pasi.
Jack mulai berjalan menuju pintu mobil yang sudah terbuka. Dia hendak meletakkan Tuannya di atas bantal yang sudah disiapkan. Namun, Jessica yang meminta dirinya ikut, akhirnya membuat kakinya menjadi bantalan.
"Bertahan, Dad. Jangan tinggalin Jessi sendirian." Pintanya sambil menangis.
Dia mendekap dan mencium wajah sang ayah. Dia begitu merasakan dinginnya tubuh sang ayah. Jessi dengan lembut mendekapnya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Penyesalan itu begitu besar dihatinya. Bahkan, dengan melihat bagaimana kondisi ayahnya, rasa bersalah semakin membesar di dalam jiwanya. Dia tak peduli apapun, dia hanya mampu membisikkan kalimat penguat untuk sang ayah.
"Ku mohon, Dad. Maafkan putrimu yang egois ini. Tapi asal Daddy tau, Jessi begitu menyayangi Daddy."
"Jangan bilang kau menyayanginya disaat keadaan sudah seperti ini, Nona." sindir Jack dengan sarkas.
"Kau hanya mampu meminta maaf setelah keadaannya begitu terpuruk. Dimana rasa bersalahmu ketika mengatakan hal-hal yang menohok hati Daddymu sendiri?" tanya Jack dengan melirik anak tuannya itu dari kaca spion diatasnya.
Tak lama, mobil akhirnya berhenti di pelataran Rumah sakit dan segera para perawat dan dokter yang sudah dihubungi berhambur keluar.
Tanpa banyak kata, tubuh Stevent Alexzandra segera dibaringkan ke brankar pasien dan didorong menuju Unit Gawat Darurat. Dari belakang, Rey yang juga ikut menyusul pun menghampiri kekasihnya yang terlihat begitu berantakan.
Jessica masih menangis. Bahkan gadis itu sampai terduduk hingga pelukan seseorang membuatnya semakin menyalurkan rasa penyesalan yang tinggi.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi. Doakan saja Daddymu cepat sehat," ucap Rey dengan mengelus punggung kekasihnya.
"Aku jahat, Rey. Aku yang membuat Daddy masuk ke Rumah Sakit. Aku menjadi anak yang durhaka, Rey." Jeritnya tertahan.
Dia memukul punggung Rey untuk melampiaskan segala kesakitan dalam dirinya. Rasanya ia hanya bisa menangis dan meratapi kesedihannya.
"Tuhan, bolehkah aku meminta satu saja darimu," batin Jessica menjerit. "Tolong sembuhkan Daddyku. Karena hanya dia yang aku miliki di dunia ini."
****
Jessica terlihat mondar mandir di depan ruang UGD. Sudah berulang kali Rey menyuruh gadisnya untuk duduk tapi ditolak mentah-mentah olehnya.
Jessi hanya ingin menunggu kabar sang Daddy. Dia ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan orang yang begitu dia cintai ini. Sedangkan Rey, pria itu tak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya bisa menunduk sambil menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.
Meski dirinya tak memiliki hubungan darah dengan sosok Stevent? Tapi dari sini saja, dia bisa melihat bagaimana pedulinya ayah anak satu itu pada putri kesayangannya ini. Rey bahkan berpikir jika hidup Jessica lebih baik darinya. Mendapat kasih sayang sang ayah, memiliki sandaran hidup ketika dia jatuh. Dan memiliki superhero yang selalu menjaganya disaat semua orang berniat mencelakainya.
"Tolong sembuhkan beliau, Ya Allah." Doanya dengan mata terpejam dan sedikit air mata mengalir.
Bunyi pintu terbuka, membuat Jessica segera mendekat ke arah dokter yang sedang melepaskan masker di hidungnya.
"Keluarga Tuan Stevent?"
"Ya saya, Dok. Saya putrinya. Bagaimana keadaan Daddy saya?" tanya Jessica tak sabaran.
"Bisa."
Dengan langkah pasti, Jessica mengikuti dokter paruh baya di depannya ini. Jujur perasaannya saat ini takut. Kenapa harus berbicara tertutup ini? Apa ada masalah penting tentang keadaan ayahnya sekarang?
Mereka berbicara bahasa inggris.
"Daddy saya bagaimana, Dok?" tanya Jessica tak sabaran.
Terlihat dari raut wajah Dokter di depannya ini. Jika akan ada sesuatu hal yang terjadi pada ayahnya. Tapi, dia tak ingin berpikiran buruk dulu. Jessica selalu memanjat berdoa untuk kesembuhan sang ayah dan dia juga ingin segera meminta maaf padanya.
"Saya harus mengatakan ini pada, Nona. Mohon maaf sekali lagi, Tuan Stevent sudah berada di stadium lanjut pada kanker paru-parunya."
Deg.
Jantungnya seakan ditusuk oleh ribuan jarum. Bahunya seakan terhantam oleh batu besar yang berat. Matanya seperti terkena bawang merah yang membuatnya memerah dan air matanya mengalir.
"Semua itu bohong kan, Dok?" tanay Jessica tak percaya.
__ADS_1
Dirinya masih menyangkal karena selama ini sang papa selalu terlihat baik- baik saja. Tak pernah sekalipun Stevent mengeluh disaat dia belum kabur dari rumahnya. Tapi, kenapa semua ini terjadi.
"Saya tidak bohong, Nona. Tuan sudah mengidap penyakit ini dari kecil. Bisa dibilang penyakit paru-parunya bawaan dari lahir."
Bagai tamparan keras dia harus menerima semua perkataan yang benar adanya. Jessica tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap kosong dengan lelehan air mata yang terus mengalir.
"Saya harus berbuat apa, Dok. Tolong sembuhkan Daddy saya!" pinta Jessica sampai memohon di hadapan pria paruh baya berjas putih ini.
"Penyakit Tuan sudah tak dapat disembuhkan lagi, Nona."
"Apa!" Air matanya semakin meluruh. Bahkan hidungnya sampai memerah karena terlalu banyak menangis.
Apa ia tak salah dengar? Lalu dirinya harus melakukan apa sekarang.
"Tapi…."
"Tapi apa, Dok?"
"Penyakit Tuan masih bisa diobati."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk Daddy saya, Dok. Saya akan membayar berapapun yang penting ayah saya sehat."
"Kami hanya Dokter bukan Tuhan. Mintalah pada Tuhan untuk kesembuhan ayah anda, Nona. Kami akan melakukan semuanya yang terbaik."
~Bersambung~
Hmm aku yakin Jessica terpuruk banget. Hiks.
Kalau ada typo bilang yahh.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1