Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Kekhawatiran Calon Papa Muda


__ADS_3


Aku khawatir karena keselamatan istri dan calon anakku. Jika ada apa-apa  dengan mereka, maka aku adalah orang pertama yang menyesal seumur hidup. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Kehamilan Jessica mampu membuat Rey lupa akan bayang-bayang wanita gila Marlena. Dia seakan sudah lupa akan kejadian beberapa hari yang lalu. Mungkin karena dia disibukkan akan sikap sang istri dan pekerjaan kantornya. Maka hal-hal penting membuatnya lupa.


Seperti saat ini. Sejak bangun pagi, Jessica tak mau ditinggalkan. Bahkan gadis itu bergelung di dalam selimut sambil memeluk tubuh kekar miliknya. Jika sudah begini, Rey hanya bisa memeluk sang istri dan mengusap punggungnya agar dia bisa segera pergi ke kantor.


Bukan dirinya egois. Tapi pekerjaan yang beberapa hari ini selalu dia bawa ke rumah semakin banyak. Belum lagi jadwal meeting dan pertemuan dengan beberapa kolega bisnisnya yang membuat Rey harus meninggalkan belahan jiwanya di rumah.


"Sayang," panggil Rey dengan suara lembut.


"Hmmm," sahut Jessi dengan semakin menyerukan wajahnya di dada sang suami. 


"Aku berangkat ke kantor yah."


"Gak boleh," ujar Jessi langsung membuat Rey lagi-lagi menghela nafas berat. 


Dia bingung harus membujuk seperti apa lagi. Karena memang semenjak hamil, Jessica begitu berubah dengan sifat biasanya. Gadis ini semakin manja dan emosinya naik turun. Tapi keuntungannya istrinya itu tidak merasakan mual yang berlebihan. 


Meski merasakan kesulitan akan mual dan makan. Tapi gadis itu begitu menikmati perannya saat ini. Dia hanya ingin kesehatan sang calon bayinya terjamin. Jadi apapun itu pasti akan dilakukan olehnya. 


Kembali dengan sepasang pengantin itu. Rey memutar otaknya agar dia bisa terbebas dan segera berangkat. Sudah bisa dipastikan Bima sedang menunggunya untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang tak bisa pria itu lakukan. 


"Bagaimana kalau kamu ikut ke kantor, Sayang?" tawar Rey membuat Jessi mendongak.


Kedua mata mereka saling beradu tatap dan tak lama Jessica mengangguk.


"Berarti aku boleh bekerja, 'kan?" 


"Boleh. Tapi dengan syarat…." Rey menjeda. Dia menghadiahi kecupan lembut di dahi sang istri dan melanjutkan perkataannya. "Gak boleh terlalu lama berdiri. Kalau capek berhenti dan jangan kemana-mana. Oke?" 


"Oke, Sayang." 


Jessica spontan beranjak dari kasur. Dia tersenyum dalam hati. Sebenarnya dia manja bukan karena tak ingin ditinggal, melainkan ia diizinkan ke kantor. Akhirnya berhasil rencananya, segera dia meninggalkan sang suami yang sedang menatapnya dengan heran. 


"Astaga." Rey menepuk kening. Tak habis pikir dengan kelakuan istri tercintanya. 


Namun lagi-lagi dia tak mau membangunkan singat tidur. Jika dirinya bertanya, sudah bisa dipastikan emosi Jessica akan menaik. Tak ingin semakin siang, Rey segera beranjak dan menyusul sang istri ke kamar mandi. 


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Bima masuk ke dalam ruangannya. Memang di lantai tertinggi ini ada dua ruangan yang menyatu. Ruangan milik Rey dan milik Bima. Tapi, ketika Rey bekerja, Bima selalu berada di depan ruangannya untuk menggantikan pekerjaan seorang Sekretaris. 

__ADS_1


Bagaimanapun seperti di awal. Keduanya bekerja hanya berdua saja dan itu membuat Bima harus betul-betul mengerti keadaan sahabat sekaligus bosnya itu. 


Sejak tadi pria itu bolak balik ke sana kemari menunggu kehadiran Rey. Matanya melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Sudah telat satu jam dia mengundur waktu meeting karena bosnya itu tak ada kabar.


Bima juga bingung harus menghubungi kemana. Karena menelpon nomor Rey ataupun Jessi sama-sama tak diangkat. 


"Kemana mereka," gumamnya sambil memejamkan mata. 


Saat dirinya asyik bergelung dengan kebingungannya. Suara pintu terbuka membuatnya membuka mata. Senyum tipis tersungging di bibirnya melihat kehadiran gadisnya, kekasih yang sudah memenuhi hatinya yang lama beku. 


"Ngapain?" tanya Bima menaikkan salah satu alisnya.


"Nih," ujar Amanda menyerahkan sebuah paper bag, "aku bawain sarapan. Pasti belum makan, 'kan?" 


Hati Bima menghangat. Selama ini dia taj pernah mendapatkan perhatian lebih selain dari Rey atau Mama Ria. Tapi sekarang, setelah keberadaan Amanda di sampingnya. Gadis itu melengkapi hidupnya kembali. Memberikan warna dan menghangatkan satunya yang lama membeku. 


"Makasih," ucapanya tulus menatap mata sang kekasih.


"Sama-sama. Dimakan yah! Aku balik, dahhhh." Amanda melambaikan tangan dan segera meninggalkan ruangan Bima. 


Pria itu menatap kotak bekal yang ada di dalam paper bag setelah kepergian sang kekasih. Senyumnya mengembang saat melihat nasi goreng ditambah telur mata sapi disana. 


Dia segera memakannya dengan cepat karena takut bosnya itu segera datang. Jujur perutnya memang sudah lapar tapi mau bagaimana lagi. Bosnya lebih penting dan Bima selalu mengutamakannya. Hingga terkadang pria itu mengatakan kesehatan dirinya sendiri. 


****


Keduanya segera memasuki lift dan saling bercerita satu dengan yang lain. Wajah gembira Jessica tak mampu ditutupi. Gadis itu benar-benar senang bisa keluar dari kamar dan bebas bergerak kesana kemari.


"Ingat pesanku. Jangan melakukan hal berat. Mengerti?" 


"Aku mengerti, Sayang." Jessi mendaratkan bibirnya di hidung sang suami dan segera keluar dari lift.


Bibirnya tersenyum dan tangan melambai mengantarkan kepergian sang suami ke lantai paling atas. Dia segera berbalik dan melihat Amanda yang juga sedang menatapnya balik. 


"Ah akhirnya kamu kembali, Bumilku," ucap Amanda heboh dan memeluk tubuh sahabatnya itu.


Jessica tertawa. Dia membalas pelukan sahabatnya itu sambil bergerak ke kanan dan ke kiri. 


"Berkat kepintaranku akhirnya aku bisa kerja lagi."


"Maksudnya?" tanya Amanda dengan kening berkerut. 


"Kita ngobrol di dalem aja. Kaki aku capek juga berdiri," ajak Jessica dan Amanda menurut.


"Baiklah, Bumil." 

__ADS_1


Setelah keduanya duduk tenang di atas sofa. Segera Jessica menceritakan bagaimana sikap suaminya selama di rumah. Dari posesifnya, lalu tak boleh ini dan itu. Tak boleh turun lah, semua diceritakan hingga membuat Amanda sampai tertawa terbahak dan mengeluarkan air mata.


"Hahaha serius? Tuan seperti itu?" 


"Serius, Man. Mangkanya aku ngerayu dia biar aku boleh kerja."


"Baiklah. Tapi melihat ancaman Tuan Bos. Aku akan menjagamu disini. Mengingatkanmu dan menyentil dahi mu jika kamu melanggar." 


Setelah mengatakan itu, tawa keduanya meledak bersamaan. Jessica merasa beruntung bersahabat dengan Amanda. Karena gadis itu begitu friendly, begitu perhatian dan mudah bercanda. Jadi hal itulah yang membuatnya nyaman jika selalu bersama kekasih asisten suaminya itu.


****


Rey duduk di kursi kebesarannya dengan diikuti oleh Bima yang berdiri di depannya. Mereka berdua mulai terlibat pembicaraan penting sebelum meeting dimulai.


"Apakah semua pegawai sudah kamu atur, Bim?" tanya Rey tegas menatap tajam asistennya itu.


"Sudah, Tuan. Saya kemarin mengumpulkan semua pegawai dan meminta mereka saling menjaga Nona Muda."


"Bagus. Awasi terus istriku dan jangan sampai kelelahan. Karena aku takut istri dan calon anakku terjadi hal yang tak terduga."


"Siap, Tuan." 


~Bersambung~


Maaf telat up. Mesti begini aku, kalau mau masuk konflik utama dan ending pasti up nya lambat soalnya bingung.


Bab selanjutnya si Mar Mar ya


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)

__ADS_1



__ADS_2