Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Akhir dari Perjuangan


__ADS_3


Perlu diingat. Tak ada akan usaha yang mengkhianati hasil. Jika kamu sudah berusaha, berjuang, berkorban, berikhtiar dan berdoa. Maka jangan lupa pasrahkan hasilnya pada Allah. Karena apapun yang dia kabulkan, itu adalah hal terbaik untuk kita. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Hadiah terindah dari sebuah perjuangan dan pengorbanan adalah kebahagiaan. Begitulah yang dirasakan oleh Jessica dan Rey. Setelah melewati banyaknya masalah dan membuat mereka mulai dewasa akna hubungannya. Akhirnya kedua manusia adam dan hawa itu sudah dipersatukan dengan restu dari kedua orang tua mereka masing-masing. 


Jessica tersenyum bahagia. Dia begitu tak percaya jika Rey melamarnya dengan begitu cepat. Bahkan tanpa dirinya tahu, calon suaminya mendatangkan neneknya ke Indonesia untuk melihat prosesi lamaran mereka. 


Tentu hal itu membuat kebahagiaan yang dirasakan oleh Jessica berlipat-lipat ganda. Sudah cukup perjuangan mereka sampai di titik ini. Dia berdoa semoga tak ada lagi hal-hal yang akan terjadi menuju prosesi pernikahan mereka.


Obrolan kedua keluarga itu menghasilkan kesepakatan jika mereka akan menikah 2 minggu dari acara lamaran hari ini. Rey sudah tak mau menunda terlalu lama, menurutnya waktu segitu saja sudah begitu lama.


Dia ingin segera mengikat gadisnya agar tak ada lagi yang mampu memisahkan keduanya hingga maut sendirilah yang akan membuat mereka terpisah oleh alam. Biarlah dirinya dianggap egois atau pun tak sabaran. Rey hanya takut, takut jika calon mertuanya itu berubah pikiran. Takut jika asisten dari Stevent yang tak lain adalah Jack mencoba merusak keduanya. Meski Rey menyadari, jika cinta mereka tak akan mampu digoyahkan oleh siapapun. 


Saat ini, Jessica tengah duduk manis di teras rumah bersama dengan Rey. Mereka sudah melakukan janji temu untuk memilih cincin pernikahan keduanya. Tapi sebelum itu, Jessica ingin sekali mengatakan sesuatu yang begitu mengusik hatinya.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Rey to the point.


Jessica menatap Rey takut-takut. Sungguh dia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan ini tapi kenapa ketika melihat wajah Rey seakan keberanian yang dia punya lenyap hingga tandas.


"Tapi jangan marah yah?" rayu Jessi.


"Tergantung. Memang ada apa?" 


"Bolehkah aku bekerja di Perusahaan mu lagi, Sayang? Denger-denger dari Bima, Bu Lidya sementara ditarik kembali buat gantiin aku selama aku di New York?" 


Rey terdiam. Dia mengamati wajah calon istrinya itu dengan lekat. Dia bingung tapi dirinya juga tak mau memaksa. Bukankah jika sang istri bekerja maka dia akan selalu berada di dekat Jessi. Jika ia rindu maka Rey tinggal menekan telpon dan datanglah sang istri.


Menyeringai bibir, ekspresi Rey sungguh membuat Jessica menduga banyak hal. Takut jika permintaannya ditolak. Takut jika kekasihnya akan marah-marah. Bagaimanapun, jika mereka sudah menikah. Wajib bagi Jessi nurut akan permintaan suaminya, Rey. 


Bila sang suami bilang iya maka harus iya. Bila tidak, maka istri harus tidak juga. Begitulah istri, dia harus izin, pamit dan nurut jika ingin mendapatkan surganya Allah. Karena jika seorang perempuan sudah menikah, maka surganya sudah berada pada suaminya lagi. Berbeda dengan pria, meski dia sudah menikah tapi surganya tetap di kaki ibunya. Itulah perbedaan suami dan istri.


"Baiklah. Tapi…."


"Tapi apa?" potong Jessi cepat.

__ADS_1


"Kalau aku rindu kamu harus cepat ke ruanganku." 


Jessica tersenyum. Dia tak menyangka jika suaminya tak membatasi ruang geraknya meski ia sudah menikah. Dengan semangat, gadis itu mengangguk sambil memberikan jempolnya pertanda dia menyetujui syarat dari sang suami.


"Tapi kamu akan masuk ke Perusahaan setelah kita menikah." 


"Kok gitu?" tanya Jessica bingung.


"Ya, agar persiapan pernikahan kita bisa kamu atur dengan bebas."


Jessica bahagia? Tentu saja. Memilih calon suami atas kehendaknya, menikah dengan pria yang dia cintai. Memiliki calon suami yang tak akan menekan atau merubah sesuatu yang begitu dia sukai.


Rey sendiri tahu betul. Jika kekasihnya bukanlah tipe gadis pendiam. Dia paham betul, Jessica adalah gadis aktif dan suka bekerja. Maka dari itu, sedikitpun tak pernah terlintas di pikiran Rey untuk menolak permintaan sang istri. Yang penting, masih dalam taraf wajar. 


"Baiklah, Rey. Makasih banyak," ucap Jessica tulus sambil mengusap punggung tangan kekasihnya itu. 


"Untuk?"


"Untuk semua yang kamu lakukan. Terima kasih juga sudah membuktikan dengan kamu melamarku." 


"Bukankah aku sudah mengatakan. Jika aku tak mau menunda lagi. Jika boleh, sekarang pun aku bisa membawamu ke KUA," goda Rey membuat pipi Jessi bersemu merah. 


****


Dua telapak tangan itu saling menggenggam. Bahkan tanpa malu, Rey menampilkan kemesraannya di hadapan khalayak umum yang berada di dalam mall. 


Sudah kukatakan bukan, Rey adalah orang cuek dengan keadaan. Dia akan melakukan hal-hal yang menurutnya baik. Tanpa peduli omongan atau pandangan orang sudah. Yang penting dia nyaman, maka akan Rey lakukan.


"Rey banyak yang liatin kita," bisik Jessi ketika melihat banyak pasang mata mengamati mereka. 


Tentu saja hal itu membuatnya tak nyaman. Tapi, gadis itu sadar jika pria yang berada disampingnya ini adalah pria yang digilai banyak wanita diluar sana. Status dudanya saja tak dipedulikan, karena ketampanan Rey begitu berkarisma dan terpancar.


Keduanya segera memasuki sebuah toko perhiasaan langganan Mama Ria. Disana kedatangan Rey tentu saja membuat semua pelayan menunduk hormat dan segera memerintahkan salah satu pelayan terbaik untuk membantu Rey dan Jessi mencari perhiasan yang diinginkan.


"Selamat pagi, Tuan muda, Nona Muda. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan dengan pakaian hitam dan berkata begitu sopan.


"Tolong tunjukkan cincin pernikahan limited edition dan termahal yang kalian punya!" 

__ADS_1


Mendengar itu, segera pelayan itu ijin pamit mengambil dia belakang. Semua orang tak ada yang mau mencari masalah. Mereka saling membantu dan keadaan fi dalam toko pun sunyi. Sepertinya, Jessi baru menyadari jika pasti toko ini sudha dibooking untuk melayani mereka berdua oleh Bima.


Tolong ingatkan! Dibalik Rey masih ada Bima si super robot hehe. Pria yang masih bingung akan perasaannya itu mampu melakukan banyak hal jika bersangkutan dengan Rey. Hal itulah yang membuat Rey sendiri begitu terharu akan kesetiaan yang Bima miliki.


Tak beberapa lama. Pelayan tersebut kembali dengan membawa kotak kaca berisi banyak barisan cincin pernikahan yang begitu mewah dan mahal. Ada 5 model cantik disana yang begitu memanjakan mata Jessica.


"Wah. Ini begitu indah," ucap Jessi pelan namun masih didengar oleh pelayan dan Rey sendiri. 


"Betul, Nona. Ini adalah 5 cincin pernikahan yang kami punya dan limited edition." Pelayan itu memberikan penjelasan dengan detail. Dia berdoa semoga sepasang calon pengantin berpengaruh di Indonesia ini, setuju untuk membeli salah satu cincin yang disodorkan pada mereka.


"Mana yang bagus, Rey?" tanya Jessi sambil mengambil cincin dari kotak kanan dan melihat modelnya 


"Semua bagus." 


"Ihh, dipilih lah." Kesal Jessica.


Beginilah pria jika diajak memilih dan berbelanja. Pasti akan bilang bagus, bagus dan cantik. Tak ada lagi, karena mereka juga takut kena imbas jika sedikit saja salah ketika memberikan pendapatnya.


"Dengar!" pinta Rey memegang pinggang calon istrinya agar menatap ke arahnya.


Ahh ingat Rey. Masih banyak pegawai di sana yang melihat adegan romantis. Tingkahmu itu sungguh membuat siapapun yang melihat menjadi baper sendiri. 


"Apapun yang kamu pilih dan pakai. Pasti akan terlihat cantik seperti wajahmu." 


~Bersambung~


Duh abang klepek-klepek hati adek yang baca. Hahaha.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di nome)



__ADS_2