
Kebahagian itu kita yang menciptakan. Begitupun kita, caranya berbeda tapi tujuannya sama. Sama-sama membuat bibirmu melengkung hanya karena kehadiranku. ~Jessica Alexzandra Caroline dan Amanda Gandari~
****
Kedatangan Jessica kembali ke Perusahaan. Ternyata sudah disiapkan dengan cepat oleh Amanda. Gadis itu menunggu di pintu masuk Perusahaan dengan beberapa karyawan yang lain untuk ikut menyambut kehadiran kawan lamanya itu.
Baru saja kedua kaki jenjang yang dibalut oleh sepatu pantofel itu keluar dari mobil. Semua karyawan wanita mulai mendekat terutama Amanda.
"Selamat kembali ke Perusahaan," ucap semua karyawan dengan tawa bahagia.
Jessica tak pernah membayangkan jika kembalinya dia akan disambut se-antusias ini. Senyumnya mengembang saat satu per satu rekan kerjanya memberikan buket bunga kepadanya.
Air mata bahagia tak bisa dia tahan. Dia menangis melihat semua teman-teman kerjanya begitu menyayanginya. Bahkan buket bunga yang terlalu banyak, membuat Bima yang berada di dekat Jessica itu membantunya.
"Terima kasih atas sambutan kalian semua," ucap Jessi sambil menghapus air matanya.
"Sama-sama."
Dibalik jendela mobil, ada seorang pria yang tersenyum melihat interaksi sang istri dengan para bawahannya. Dia memang dulu tak pernah tahu bagaimana sikap dan pergaulan istrinya selama bekerja di kantor. Tapi, melihat semuanya disini. Membuktikan pada Rey bahwa Jessi adalah salah satu karyawan yang banyak disukai oleh rekan kerjanya yang lain.
Memang sengaja, dirinya tak ikut keluar dalam pesta penyambutan sang istri. Karena Rey takut kehadirannya akan membuat semua karyawan canggung dan nyaman. Maka dari itu, lebih baik dirinya menunggu disini hingga semua yang dipersiapkan selesai.
****
Semua orang mulai kembali ke kubikel dan meja kerja masing-masing. Sedangkan Jessica, dia berjalan mengikuti Bima menuju sebuah lift khusus para petinggi perusahaan.
"Untuk apa kita kemari?" tanya Jessi setelah pintu lift menutup.
"Tuan Rey menyuruh kita ke ruangannya sebentar, Nona."
Jessi hanya mengangguk. Dia lebih memilih melihat buket yang diberikan khusus oleh sahabatnya itu, Amanda. Sebuah buket bunga yang di dalamnya juga terdapat boneka kecil serta coklat membuat gadis itu begitu menyukai hadiahnya ini
"Emang Amanda paling mengerti aku," ucap Jessi pelan namun bisa didengar oleh Bima.
Pria itu hanya menatap Nona-nya itu dan tersenyum tipis. Dia begitu mengenali siapa pemilik barang yang dipegang oleh istri bosnya itu. Bagaimana dirinya bisa tahu? Karena sang kekasih, Amanda yang mengajaknya kemarin mencari buket itu untuk perayaan penyambutan Jessica.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Asisten Bima?" tanya Jessi heran.
Dia mengikuti arah pandang Bima dan bibirnya tiba-tiba menyeringai. Ah apakah apakah asisten suaminya itu tahu. Jika apa yang dia pegang ini dari kekasihnya? Mengingat sahabatnya berpacaran dengan orang kaku di sampingnya ini, selalu mampu membuat Jessi tertawa bahagia.
"Iya iya yang tau kalau dari pacarnya," sindirnya dengan menggerakkan kakinya ke kanan dan kiri.
Bima hanya diam, saat Jessi hendak bersuara kembali berbarengan dengan pintu lift yang terbuka. Melupakan keinginannya itu, segera dia berjalan meninggalkan Bima yang menatap kepergiaan Jessi dengan hati yang lega.
"Selamat selamat."
Dengan semangat, Jessica segera membuka pintu kerja ruangan sang suami dan berjalan menuju kursi kebesarannya.
"Kenapa kamu menghilang, Sayang?" tanya Jessi yang duduk di atas pangkuan sang suami, setelah meletakkan buket bunga dari Amanda di atas meja.
__ADS_1
"Aku tak mau mengganggumu, Istriku. Lalu kehadiranku membuat semua orang canggung," ucap Rey sambil mengusap wajah sang istri.
"Tapi aku akan merasa semakin bahagia jika kamu ada disana." Lirih Jessi dengan meletakkan kepalanya di dada sang suami.
"Maafin aku yah. Aku hanya takut saja, Istriku," bujuk Rey hingga membuat istrinya itu mengangguk.
Beberapa menit mereka memilih diam. Tanpa peduli jika diluar sana ada seorang pria yang menggerutu karena meja kerjanya dipenuhi oleh bunga-bunga milik istri bosnya itu. Sungguh Bima takut untuk membuka pintu milik Rey. Dia takut akan mengganggu atau merusak suasana yang ada didalamnya. Akhirnya, dirinya memilih mengalah dan mencari cara sendiri untuk membereskan semuanya dengan memasukkan ke dalam sebuah kardus besar.
****
"Apakah kamu ingin langsung bekerja, Sayang?" tanya Rey saat sang istri turun dari pangkuannya.
"Tentu saja, Suamiku. Kasihan Amanda jika aku disini," ujarnya pelan. "Apalagi Bu Lidya sudah tak bekerja, 'kan?"
Rey mengangguk membenarkan perkataan sang istri. Kemarin Bima sudah menemui Bu Lidya dan memberikan pesangon serta ucapan terima kasih dan maaf telah merepotkannya beberapa bulan ini.
"Baiklah, tapi…." jeda Rey hingga membuat Jessi yang sudah berdiri itu menatap sang suami.
"Cium aku dulu," pintanya merajuk sambil menyentuh pipi dan bibirnya.
Ah kemana pria yang biasanya cuek dan berwibawa ini? Kenapa sekarang hanya ada pria yang manja dan terlihat begitu mencintai sang istri? Semua sikap Rey begitu berbeda memang 180° dari sikapnya di luaran sana.
Hal itu tentu saja selalu membuat Jessica bersyukur. Karena apa? Semua sikap manja dan sikap hangat sang suami, hanya akan dinikmati oleh dirinya dan mertuanya saja.
"Manjanya bayi besarku," ucap Jessi menangkup kedua pipi sang suami.
"Disini yah," menunjuk kedua mata dan menciumnya penuh kasih.
"Auu sakit," ringis Rey menggosok hidungnya yang sedikit memerah.
"Ulu ulu, sini sini. Belum selesai loh, Sayang," rayu Jessi dengan wajah dibuat se-imut mungkin.
Tak kuat dengan tingkah gemas istrinya. Rey segera menarik sang istri hingga kembali duduk dipangkuannya dan segera menghadiahi banyak ciuman di wajah gadis yang sudah memenuhi hatinya itu. Gelak tawa begitu menghiasi ruangan Rey dan membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan ikut bahagia.
****
Di depan ruangan bos besar. Terdapat sepasang kekasih yang saling tatap penuh cinta. Keduanya tak sengaja bertemu ketika Amanda yang saat itu ingin segera mengajak rekan kerja atau istri dari bosnya untuk memulai pekerjaanya.
"Sayang," panggil Amanda pelan hingga membuat Bima yang sedari terdiam tersentak kaget.
"Hemm?" Bima berdehem. Dia menetralkan rasa keterkejutan dan debaran jantungnya yang selalu berdetak tak karuan saat ada Amanda disana.
"Dimana Jessica?"
"Ada di dalam," sahut Bima santai sambil mencoba membuka lembar tiap lembar di atas mejanya.
"Oh." Amanda manggut-manggut, "ya sudah, aku masuk yah."
"Jangan!" tolak Bima membuat Amanda yang hendak menyentuh pintu terjengat kaget.
Bima segera bangkit dan keluar dari mejanya untuk menuju posisi sang kekasih. Setelah itu dia segera menarik tangan Amanda hingga membuat sang empunya bingung.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih?" kesal Amanda menghentakkan tangan sang kekasih yang sedikit kencang.
"Jangan mengganggu mereka," ucap Bima menegaskan dan pikirannya melayang mengingat bagaimana ciuman dua bosnya itu tadi di dalam mobil.
Ah kenapa dia harus mengingatnya sekarang. Tak sengaja juga mata tajam milik Bima menatap bibir yang dipoles oleh lipstik pink terlihat begitu menggoda itu.
"Ya Tuhan. Kenapa begitu menggoda?" gumam Bima pelan sambil matanya tertuju pada bibir seksi kekasihnya itu.
"Sayang."
"Hmmm."
"Kamu ngapain ngajak aku kesini?"
"Karena aku ingin menciummu." Spontan Bima mengatakan tatkala pikirannya sudah terpenuhi oleh bibir Amanda yang seperti melambai-lambai ke arahnya.
Mata Amanda membulat penuh. Pipinya terasa panas dan ia yakini jika saat ini sudah merona merah. Apa kekasihnya itu tak waras? Kenapa minta cium disaat seperti ini. Tidak romantis sekali pikirnya.
"Sepertinya pikiranmu semakin melantur. Aku kembali saja," Amanda yang berbalik menjadi tertahan karena tangannya ditahan oleh sang kekasih.
"Amanda." Uhh wajah kulkas itu sekarang terlihat begitu imut. Mata penuh pengharapan hingga membuat ide jahil dalam diri Amanda keluar.
"Baiklah. Aku akan menciummu. Tapi dengan syarat tutup matamu, Sayang."
Rey menurut. Sepertinya pria itu memang sudah terlanjur terkotori matanya oleh kelakuan pengantin baru itu. Menatap kiri dan kanan, Amanda mendekat dan menahan tawa yang begitu kuat.
Sesaat diciumnya pipi Bima dan segera berlari dengan tertawa terbahak.
"Hahaha bye bye, Sayang. Jangan nakal yah." Amanda melambai dan segera masuk ke dalam lift dengan cepat.
Bima yang melihat dan menyadari tingkah jahil sang kekasih hanya mampu tersenyum tipis. Ternyata hanya dengan seperti ini saja kebahagiaan sudah begitu kentara dan Bima berharap agar hubungan keduanya terus begini sampai ia siap untuk melamar pujaannya itu.
~Bersambung~
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1