Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (17)


__ADS_3

Aline mengambil Apron dan mengenakan Apron. Ia menyiapkan semua peralatan dan bahan memasak. Pelayan yang tadi mengambil nasi menawarkan bantuan, Aline dengan senang hati menerima tawarannya dan meminta pelayan itu mencuci jagung.


Aline mencari panci yang akan ia gunakan untuk memasak bubur. Ia melihat sekeliling dan menemukan panci yang dicarinya. Aline berjinjit ingin meraih panci itu, sayang sekali tangannya belum sampai. Saat Aline ingin berbalik dan mengambil kursi, tiba-tiba ia dikejutakan oleh Owen yang berdiri dibelakangnya dan mengambilkan panci yang sebelumnya ingin ia ambil.


Aline menatap Owen, Owen juga menatap Aline. Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang begiti dekat. Jantung Aline langsung berdegup kencang. Wajah Aline pun memerah.


"Wuaaaaaaaaaa ... a-a-a-apa ini? i-ini kan terlalu dekat." batin Aline ingin sekali berterik dan melompat-lompat karena senangnya.


"Te-te-terima kasih, Pak." ucap Aline gugup. Aline langsung memalingkan pandangannya.


Aline mengambil panci dari tangan Owen. Tanganya sedikit menyentuh tangan Owen. Aline langsung tersentak, ia tidak bermasud menyetuh, tapi justru malah tersentuh. Aline lantas meminta mamaf, menjelaskan kalau ia tidak sengaja.


"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," kata Aline.


"Tidak apa-apa. Meski itu disengaja," gumam Owen.


Aline kagat, "Hah? apa maksud Anda?" tanya Aline.


Owen kaget. Lagi-lagi bicara asal tanpa sadar. Owen ingin sekali mengutuki mulutnya sendiri karena bicar tak sesuai pikirannya.


"Bu-bukan apa-apa. Aku akan duduk temani Max. Kamu lanjutkan saja kegiatanmu," kata Owen yang langsung pergi mendekati Maximilian.


Aline bingung. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Owen. Ia pun mengabaikan perkataan Owen dan tak ambil pusing memikirkannya. Ia lanjut memasak karena ingat maximilian pasti sudah sangat lapar.


***


Aline selesai membuat bubur. Ia mengajak Maximilian cuci tangan sebelum makan, lalu duduk tenang. Aline meletakkan sebuah mangkuk berisi bubur ke atas meja di hadapan Maximilian. Dan meminta Maximilian memakannya.


"Bibi ... aku mau disuapi," kata Maximilian merengek.


Aline tersenyum, ia segera menarik kursi dan duduk di samping Maximilian. Aline paling senang dengan anak-anak. Karena itu juga ia tidak tega kalau ada anak yang merengek. Aline mengaduk bubur dan meniup-niup agar bubur tidak terlalu panas. Dirasanya sudah dingin, Aline segera menyendok dan menyuapkan bubur pada Maximilian.


Maximilian membuka mulut dan memakan bubur. Senyumnya langsung mengembang. Saat ditanya apakah rasanya enak? Maximilian menganggukkan kepala dan mengacungkan kedua ibu jari tangannya. Aline tersenyum, ia mengusap bibir Maximilian yang cemot dan menyuapinya bubur lagi.


Owen diam mengamati. Ia tersenyum melihat putranya tampak sangat senang dan ceria. Pandangan Owen tertuju pada Aline. Dari samping wanita itu terlihat cantik, tanpa sadar Owen mengamati Aline begitu lekat, sampai matanya melihat ke area paha Aline. Seketika Owen berpaling. Ia baru ingat kalau Aline hanya pakai kemeja tanpa celana. Jika dipakai duduk, maka kemeja yang dikenakan akan terangkat. Tak heran ia langsung dihadapkan olehpaha putih mulus milik Aline.

__ADS_1


"A-apa yang baru saja aku lihat? bagaimana bisa aku memerhatikan wanita yang baru saja aku kenal seperti ini?" batin Owen.


Owen berpikir, kalau ia tidak boleh punya pikiran aneh dan macam-macam pada Aline. Ia tidak boleh goyah dan tergoda oleh apa yang dilihatnya.


***


Setelah selesai makan dan minum obat Aline mengantar Maximilian ke kamar untuk istirahat.


"Max, karena ini sudah malam, Bibi pamit pulang, ya." kata Aline.


Maximilian langsung murung, "Tidak mau. Aku masih ingin Bibi di sini. Aku rindu Bibi. Hiks ..." kata Maximilian menangis.


"Sebenarnya aku juga masih ingin berlama-lama di sini. Hanya saja Owen pasti tidak akan senang," batin Aline.


"Umh, Max ... a ..." belum sampai kata-kata Aline selesai diucapkan, Owen yang baru masuk kamar pun menyela.


"Bisakah kamu tinggal sebentar lagi? setidaknya sampai Max tertidur." sela Owen..


Aline menatap Owen, lalu menatap Maximilian. Ia mengusap kepala Maximilian dengan lembut dan penuh kasih.


"Sungguh? Bibi sungguh akan menemaniku sampai aku tidur?" sahut Maximilian seolah tidak percaya.


Aline mengangukkan kepala, ia pun membaringkan Maximilian dan menyelimuti Maximilian.


"Tidurlah ... " pinta Aline.


Maximilian bangun, ia tiba-tiba memeluk Aline erat-erat dan melepaskan pelukan, lalu mencium pipi Aline.


Aline kaget, ia tidak sangka akan dipeluk dan dicium oleh Maximilian. Aline senang, ia membalas mencium kening Maximilian dan membaringkan Maximilian lagi.


"Selamat malam, Selamat tidur, Max ...  " ucap Aline lembut.


"Ya, Bibi." jawab Maximilian memejamkan mataya.


Aline menggenggam erat tangan Maximilian, dan menunggui Maximilian sampai terlelap tidur.

__ADS_1


***


Maximilian akhirnya terlelap. Aline pun pergi meninggalkan Maximilian dikamarnya sendirian. Ia harus bersiap pulang karena sudah malam. Baru saja Aline keluar dari kamar Maximilian, ia dikejutkan oleh Owen yang tiba-tiba memanggilnya.


"Aline ... " panggil Owen.


Aline memanglingkan pandangan, "Ya?" jawab Aline.


"Mau minum denganku dulu sebelum pulang? ada sesuatu yang ingin aku sampaikan juga," ajak Owen.


Aline kaget, ia tidak percaya Owen akan mengajaknya minum. Aline senang, ia tidak perlu susah payah mendekati Owen, karena pada akhirnya Owenlah yang mendekatinya dulu.


"A-apa tidak apa-apa? rasany kurang sopan kalau saya minum dengan Pak CEO," kata Aline basa-basi.


"Kenapa bicara seperti itu? Kalau di luar kantor, anggap saja kita rekan dan tidak perlu bicara formal." kata Owen.


"Ya?" gumam Aline melongo.


"Apa aku tidak salah dengar? pria ini bilang aku tidak apa-apa bicara santai dan menganggapnya rekan?" batin Aline.


"Hoho ... ini kesempatan emas buatku. Pak CEO, jangan salahkan saya kalau nantinya Anda jatuh hati pada saya, ya. Karena Andalah yang memulainya lebih dulu," batin Aline lagi.


"Ba-baiklah kalau begitu." jawab Aline.


Aline senang sekali diajak minum bersama Owen. Rasany ia ingin melompat dan berteriak kegirangan. Hanya saja ia tidak boleh memperlihatkan sisinya yang seperti itu. Ia harua terlihat tenang dan elegan, agar Owen tak menyadari perasaan Aline yang menggebu.


Owen mengajak Aline ke ruang kerjanya. Di atas meja sudah ada satu botol wine, dua gelas, dan dessert yang tersedia. Owen lantas mempersilakan Aline untuk duduk. Aline pun duduk, pada saat Aline melihat wine di atas meja, dan ia langsung berkata kalau itu adalah Wine kesukaaan Papanya. Owen menanggapi, dan mulai tertarik dengan cerita Aline.


"Apa kamu hanya tinggal bersama Papamu saja?" tanya Owen memulai percakapan setelah keduanya sama-sama saling diam.


Aline menganggukkan kepala  "Ya, dua kakak kembarku sudah berkeluarga dan mereka pisah tempat tinggal dengan kami sejak setelah menikah." jawab Aline.


"Di mana Mamamu?" tanya Owen menatap Aline yang duduk dihadapannya.


"Mamaku sudah tiada. Beliau meninggal seminggu setelau melahirkanku." jawab Aline.

__ADS_1


Owen terkejut. Ia tidak menduga Aline adalah seorang wanita yang tumbuh dewasa tanpa peran Mama dan hanya dibesarkan oleh Papanya saja.


__ADS_2