
Kau tak berhak menghina atau mencaci kekurangan kekasihku. Karena hanya aku yang tahu bagaimana dia yang benar-benar dirinya. ~Jessica Caroline~
***
"Apa, Kak?" tanya Jessi dengan mata membulat penuh.
"Aku mencintaimu."
Perasaan kaget, marah dan kecewa menjadi satu. Ia tak menyangka jika pria yang selalu ada untuknya dulu, yang selalu menemani dirinya. Yang sudah dianggap sebagai kakak kandung dengan berani mengatakan hal ini di depannya.
Bahkan bisa Jessi lihat, jika pria di depannya itu begitu sungguh-sungguh dengan ungkapan hatinya. Segera gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Ini tidak benar, Kak."
"Apanya tidak benar?" tanya Jackson bingung.
"Perasaan, Kakak." Jawab Jessi dengan pandangan serius. "Asal Kakak tau. Selama ini Jessi menganggap kakak hanya sebatas kakakku saja dan tak lebih," ujarnya memberikan pengertian.
"Aku tau."
"Terus?" tanya Jessi dengan pandangan heran.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."
Bukannya marah, Jessi malah tertawa lebar. Apa katanya barusan? Membantu mencintainya? Apa ia tak salah dengar?
"Apa ada yang lucu?" tanya Jack dengan wajah serius dan kedua tangan yang mengepal.
Jessi mengelus dadanya untuk menahan gejolak yang akan membuat dirinya tertawa meledak. Ia menatap lelaki itu dengan pandangan tajam bak elang.
"Perlu kakak ingat. Aku sudah memiliki kekasih dan aku sangat mencintainya. Jadi, jangan harap jika aku akan melihat dan mencintaimu." Setelah mengatakan itu, Jessi segera berjalan meninggalkan Jack yang sudah menahan gemuruh di dalam tubuhnya.
Giginya gemeretak dan tangannya mengepal kuat. Ia tak menyangka jika gadis yang ia cintai akan mengatakan hal seperti ini. Segera Jack berdiri dan menatap punggung Jessi yang masih berjarak dari posisinya saat ini.
"Tapi, ayahmu lebih memilih aku daripada Rey," ucapnya Jack lantang dengan menyeringai mengejek.
Bisa dia lihat tubuh Jessi berhenti. Bahkan wanita itu mulai merasakan dadanya bergemuruh. Memejamkan matanya sesaat lalu dia menoleh sekilas ke arah belakang.
"Restu atau tidaknya. Aku, Jessica Caroline hanya akan menganggapmu seorang Kakak dan tak lebih."
__ADS_1
Tanpa mendengar ucapan apapun lagi, Jessi lebih memilih melanjutkan langkah kakinya dan menuju kamar. Sungguh rasanya ia ingin sekali menampar wajah Jack langsung. Namun, jika tak mengingat kebaikan lelaki itu selama ini, pasti ia sudah melakukannya sedari tadi.
Tanpa Jessi sadari. Sedari tadi percakapan mereka terlihat dan terdengar oleh seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah Stevent Alexzandra. Setelah memastikan putrinya masuk ke dalam, segera ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Jack yang sedang menatap kolam ikan di depannya.
Menepuk pundak pria yang selalu setia dengannya. Ia meminta Jack untuk duduk.
"Seharusnya kau tak secepat ini," ujar Stevent dengan menatap ke arah taman belakang rumahnya.
Dalam hati, pria itu selalu mengingat sang istri jika berada disini. Karena keberadaan taman ini dulunya adalah permintaan dari mendiang istrinya sendiri. Tak lama, ia mengalihkan tatapannya dan menatap ke arah Jack yang masih melamun.
"Jangan menyerah, Jack." Seperti mendapat angin segar. Jack segera menatap pria paruh baya yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Apa Tuan akan merestui kami? Jika saya mampu mencuri hati Nona Muda?"
Stevent tersenyum tipis dan mengangguk.
"Jika kau sudah mampu mengambil hati putriku. Restuku dengan pasti langsung kamu dapat."
"Benarkah, Tuan?"
"Benar, Jack. Aku sudah menganggapmu seperti anakku. Aku yakin kau bisa melindunginya melebihi pria itu."
Pria itu yang dimaksud pasti siapa lagi, jika bukan 'duda tampan kita.' Mendengar ucapan Stevent, Jack tersenyum dan mencium punggung tangan ayah dari wanita yang ia cintai.
Stevent mengangguk, namun saat lelaki itu hendak undur diri. Perkataan Jack barusa saja mengejutkan dirinya.
"Apa Tuan mengijinkan saya, untuk mencari cara agar pria itu gagal dalam menjalankan syarat anda, Tuan?" tanya Jackson penuh sopan.
Bagaimanapun syarat itu juga berawal dari Stevent sendiri. Maka dari itu, saat ini dirinya ingin menghancurkan rencana apapun yang menunjang keberhasilan proyek Rey agar lelaki gagal dan pergi dari New York.
"Saya mengijinkan!"
Setelah mengatakan itu, tanpa kata Stevent meninggalkan Jackson yang sedang menatapnya dengan senyum kemenangan dan tawa bahagia.
"Apapun rencanamu, aku akan menghalanginya, Bodoh." Senyum menyeringai terbit di wajah Jack dengan tatapan penuh kebencian.
Pria itu benar-benar akan menghancurkan segala cara yang Rey lakukan. Dia akan membuat pria itu tak dapat melaksanakan syarat dari Stevent dan berakhir mengalah dalam pertandingan.
Senyum mengembang terpancar di wajahnya dan tangannya kembali menari diatas layar ponsel dengan tatapan menakutkan.
"Tunggu saja, dan nikmati apa yang akan aku lakukan."
__ADS_1
****
Setelah melakukan istirahat total. Akhirnya ketiga lelaki itu duduk bersama di atas kursi makan. Di Hadapan mereka sudah ada banyak lembar kertas yang akan menjadi tugas mereka sekarang.
"Bagaimana, Bim?" tanya Rey dengan menatap penuh tanya ke arah orang kepercayaannya itu.
"Ini adalah deretan nama perusahaan dan pemiliknya yang menurut saya bisa membuat perusahaan ini menaik, Tuan." Bima menyodorkan lembar putih yang berisi nama-nama pengusaha yang terkenal di New York.
Dia meneliti satu persatu nama itu dengan kening berkerut. Jujur, ia tak pernah bertemu dengan satu dari nama yang tertulis disini. Namun, nama mereka begitu familiar di telinganya.
"Apa kamu yakin?"
"Saya yakin, Tuan. Kita harus menyakinkan mereka dan membuat mereka percaya untuk bisa bekerja sama dengan kita," tutur Bima dengan suara yakin.
"Baiklah. Terus?"
"Jika yang diucapkan Tuan tadi memang benar. Maka, dengan kerja sama anda bersama Tuan Khali saja sudah mampu menaikkan performa anda di kalangan pebisnis dan pengusaha. Mereka pasti akan berpikir jika anda orang yang dapat dipercaya karena Tuan Khali saja sampai bekerja sama dan berinvestasi besar di perusahaan ini."
"Kau benar, Bim." Rey mengangguk.
Pria itu tak bisa membantah karena memang kenyataan itu benar. Mungkin, jika Khali tak mau membantunya, bisa dipastikan ia tak akan bisa membangun perusahaan ini lagi dan mengalami kesusahan untuk mengenalkan diri di kalangan para pengusaha yang suka berinvestasi dan para klien besar yang sangat menguntungkan untuknya.
"Siapkan semuanya, Bim. Besok kita akan memulai semuanya dari awal dan aku yakin kita akan bisa melewati semua ini dan membawa kekasihku untuk menjadi Nyonya Pratama."
~Bersambung~
Hayoo apa yang lagi direncanain Jackson yah? Hmmm jadi penasaran.
Kalau aku cepet-cepet nyelesain konflik ini maka novel ini bakalan tamat geng. Karena memang ini sudah konfliknya jadi nikmati step by stepnya.
Masih banyak bab yang belum ditulis dan masih ada misteri di dalamnya. Jadi sabar dan semoga aku bisa nyelesain novel ini sampai tamat.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di nome)