Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Apa Kau Tak Takut?


__ADS_3


Jika kau bekerja dengan menggunakan cara tak halal. Maka, uang yang kau dapat adalah uang haram. Lalu, setega itukah kau memberikan nafkah untuk istri dan anakmu menggunakan uang haram ini? ~Khadijah Haura~


****


Kehadiran Bima tentu saja membuat Haur adan Haki semakin merasa senang. Pekerjaan hari ini memang lebih menghabiskan banyak tenaga, karena apa? Haura akan menemui semua klien yang sudah memutus kerjasama secara sepihak.


Jika dihitung, sudah ada 10 orang pengusaha yang menjadi incaran Haura hari ini. Tak mementingkan dirinya, dia hanya ingin semua ini selesai. Karena puncak dari permasalahan ini adalah kedudukan pesuruh yang lebih tinggi. Mengingat hal itu, jujur membuat hati Haura memanas. Tapi, dia selalu ingat pesan sang Kakak, untuk menahan amarah ketika berhadapan dengan seseorang.


"Semoga masalah ini cepat selesai, Nona," ucap Bima yang saat ini duduk di dekat Haki. 


Haura memutus lamunannya. Dia menatap ke arah Bima yang sedang menata berkas-berkas di atas meja. 


"Aamiin." 


"Anda sudah yakin, Putri?" tanya Haki untuk memastikan ide Haura kali ini.


"Sangat yakin. Aku harus bisa menemui mereka yang berpihak padanya." 


Jika sudah begini tak ada lagi yang mampu menahan keputusan seorang Haura. Haki sendiri sudah mengerti bagaimana kinerja gadis yang menjadi atasannya itu selama ini. Gerakan Haura 11 12 sama seperti Pangeran Khali.


Mungkin karena keduanya memiliki hubungan darah, membuat mereka sama-sama memiliki kemiripan jika sedang melakukan pekerjaan. Haura dan Khali selalu melakukan semua pekerjaan dengan cepat dan tanggap. Bahkan keseriusan dan ketelitian menjadi nomor satu untuk keduanya. Maka dari itu, banyak sekali partner kerja yang selalu senang jika berhadapan dengan keduanya. Karena bagaimanapun, adik kakak itu selalu memiliki jiwa tanggung jawab yang tinggi.


****


Berbeda dengan Indonesia yang sedang panas. Di New York, Jessi benar-benar tak mau bertemu sang ayah. Bahkan tiap sarapan dan makan malam, gadis itu selalu meminta pada kepala pelayan untuk mengantarkan makanan ke dalam kamarnya. 


Rasa kecewa dan marah masih menyelimuti hati Jessica. Tak mau mendengar alasan apapun, peristiwa ini sudah cukup menjadi jawaban untuk semuanya. Karena masalah ini pun, gadis itu menjadi enggan menghubungi kekasihnya dari kemarin. 


Jujur ada perasaan rindu membuncah dalam hatinya. Tetapi, mengingat bagaimana sang ayah yang tega menghancurkan perusahaan milik sang kekasih, membuat dirinya bingung harus mengatakan apa pada Rey saat ini.


Tiba-tiba, dering ponsel terdengar dan membuat gadis itu merangkak untuk melihat siapa gerangan yang mengganggunya. Mendadak jantung hampir melompat tatkala membaca nama sang kekasih tertera di sana.


"Aku harus mengatakan apa?" gumam Jessi pelan.


Dia ragu untuk mengangkat atau mematikan. Tak lama, panggilan itu tiba-tiba berhenti sendiri dan kemudian berbunyi kembali dengan nama yang sama. 


"Dia tak akan berhenti jika aku tak mengangkatnya," ucap Jessi meremas ponselnya.


Mencoba menetralkan degup jantung dan hatinya. Jessi perlahan mendekatkan benda pipih itu di telinga kanannya dan berdehem. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Jessi setelah mendengar jawaban salam dari sang kekasih.


Terdengar helaan nafas berat di seberang dan hal itu tentu saja membuat perasaan bersalah bergelayut di dalam hatinya. 


"Kenapa?" desak Jessi saat tak mendengar jawaban dari Rey.


"Kau kemana saja?" 

__ADS_1


"Aku gak kemana-mana," sahut Jessi bingung.


"Lalu, kenapa kau tak menghubungiku dari kemarin?" 


Deg.


Hmmm jika begini dia harus mengatakan apa? Mungkinkah dirinya harus berbohong? Namun, mengingat lelaki itu juga akan mengetahui permasalahan yang terjadi, lebih baik dirinya mengatakannya saat ini juga. 


"Aku...aku malu," lirih Jessi dengan pelan.


"Malu?" ulang Rey bingung dari suaranya.


"Ya. Aku sungguh malu padamu." Isak tangis Jessi mulai terdengar dan itu membuat Rey yang tak tahu apa-apa turut bingung. 


"Usst jangan menangis," bujuk Rey. "Katakan padaku, ada apa?" 


Menarik nafasnya dengan kuat dan mengeluarkan secara pelan. Jessi menata hatinya untuk mengatakan ini semua. Tak ada yang ingin disembunyikan, dan biarlah kekasihnya ini tahu jika semua ini adalah perbuatan ayahnya. 


"Maafkan aku. Perusahaan Pratama mendapatkan masalah karena Daddyku." 


Perkataan Jessi sungguh membuat tubuh Rey mematung. Apakah yang dikatakan gadisnya itu benar? Setega itu, lelaki yang sudah dianggap sebagai ayah mertuanya ini menghancurkan bisnis yang sudah lama ia bangun.


Rey bahkan tak mengindahkan suara Jessica yang berteriak di seberang sana melalui telepon. Dirinya masih terkejut dan saat ini dan masih merasakan sakit yang luar biasa di hatinya.


****


Suasana Restoran yang seharusnya ramai, saat ini menjadi hening. Dengan kekuatan kekuasaan Haura, dia membooking resto makan ini untuk pertemuannya dengan klien pertamanya ini.


Maka dari itu, Haura memesan semua tempat ini, agar pembicaraan mereka tak terganggu siapapun dan berjalan lancar.


"Silahkan anda ingin memesan apa, Tuan." Haura bersuara dengan tegas. 


Sedari Pria ia terka berumur 60 tahun ini datang, Haura tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya menyoroti bagaimana pria yang umurnya seperti abinya di rumah ini berlagak. 


Menunggu dengan sabar, Haura menatap gerak-gerik lelaki yang terlihat seperti gelisah di depannya ini.


"Santai saja, Tuan Wijaya. Saya hanya ingin mengobrol berdua dengan anda." Haura tersenyum tipis, bahkan sangat tipis sampai pria di depannya tak menyadari. Hingga kedatangan pelayan membuat suasana sedikit mencair. 


Haura sendiri tak memesan makanan. Dia hanya memilih segelas es jeruk untuk menenangkan pikirannya jika takut-takut obrolan ini akan berakhir bersitegang.


"Apa bisa dimulai?" tanya Haura setelah melihat pria di depannya selesai dengan cemilan dan minumannya yang tinggal sedikit. 


"Silahkan."


Keadaan yang sepi, membuat suasana semakin menegang. Bahkan saat sebuah berkas di letakkan di atas meja oleh Haura dan dibuka. Membuat wajah Tuan Wijaya berubah. Raut gelisah dan takut menjadi satu, dan itu semakin membuat senyum miring Haura tercetak jelas.


"Tak perlu takut, Tuan. Saya hanya ingin membahas pekerjaan saja."


"Apa maksud, Anda?" tanya Wijaya to the point.

__ADS_1


"Aku tak ingin apa-apa. Hanya ingin bertanya beberapa hal," sahut Haura tenang.


Wajah cantik itu tanpa senyuman. Tak ada rasa takut apapun dalam dirinya. Saat ini, dia benar-benar siap untuk mengambil hati dan meyakinkan Tuan Wijaya untuk kembali pada Perusahaan Rey. Karena semua ini, bukan kehendak Wijaya dari hati. Melainkan dari sebuah trik yang dimainkan oleh anak buah Jackson pada pria di depannya. 


"Kenapa anda memutuskan kerjasama dengan Perusahaan Pratama?" 


"Karena saya tidak suka dengan kinerja CEO disana yang tak profesional." 


"Oh begitu?" Haura manggut-manggut. Dia menatap Haki dan segera lelaki itu mengerti. 


Sebuah amplop coklat diletakkan tepat di depan Wijaya di atas meja.


"Apa itu?" tanya Wijaya dengan perasaan semakin menentu.


"Buka saja, Tuan!" 


Dengan tubuh yang sudah gemetaran, Wijaya mengambil amplop coklat itu dan membukanya. Matanya melebar ketika mengetahui apa isi foto isi.


Jepretan dirinya saat bertemu dengan salah satu utusan Jackson yang sedang memberikan uang banyak pada pria di depannya ini. Haura tersenyum miring, dia tak akan membuat pria didepannya semakin bertingkah. Lebih baik, langsung saja dan cepat selesai. 


"Ini...ini." Wijaya terbata. Tubuhnya semakin gemetaran saat merasakan aura berbeda di ruangan ini. 


Jangan remehkan kemampuan Haura yang sama persis dengan Khali. Dia mampu menaklukan musuhnya hanya dengan tatapan mata dan tajam lisannya jika itu dibutuhkan.


"Tidak perlu mengelak," potong Haura. "Saya bahkan sudah mengetahui semuanya. Bagaimana anda menerima uang yang lebih banyak dan memilih memutuskan kerjasama dengan pihak Pratama tanpa alasan yang jelas." Sorot mata Haura semakin menajam. Dia sudah kesal pada orang yang selalu tak jujur dan memakai cara licik. 


"Apa anda tidak takut, Tuan Wijaya?" tanya Haura dengan suara pelan namun tegas. "Menerima uang yang sudah jelas betul bahwa itu uang haram dan memberikannya pada istri anda di rumah?" 


Telak.


Wijaya mematung, dia mencerna ucapan Haura yang tak memberikan celah untuknya menjawab. Sebab sepertinya semua ucapan yang dikatakan oleh gadis itu adalah benar.


"Apa anda tidak berpikir. Bagaimana jika uang haram itu digunakan oleh istri anda untuk membeli makanan bagi anak-anak anda di rumah?" seru Haura lagi.


"Jika itu terjadi, maka sama saja dengan anda menanam bangkai haram di tubuh putra putri anda di rumah."


~Bersambung~


Jangan melihat parasnya yang cantik. Mbak Haura juga bisa serem ternyata eyy. 


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di nome)



__ADS_2