
Cinta itu memang indah tapi tak bisa dipaksakan. Karena jika kita memang benar mencintainya, maka kita juga harus siap melepaskan agar dia bahagia meski tanpa kita. ~Mario Sanoci~
****
Di sebuah rumah besar nan mewah. Terdapat seorang ayah dan dua orang anaknya duduk bersantai di ruang tamu. Dengan anak perempuannya yang bermanja pada sang ayah dan putranya sedang duduk santai sambil melihat tablet yang berada di tangannya.
Keadaan seperti ini memang sudah menjadi rutinitas untuk Sanoci. Tapi sang ratu di rumahnya tak tahu apa yang sedang terjadi di antara dua anak dan suaminya itu.
"Gimana, Pa? Papa udah ngabarin calon mertua aku?" tanya Marlena sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang papa.
Mario yang duduk disampingnya hanya melirik sekilas lalu kembali menekuni pekerjaannya. Sedangkan Sanoci, dia mengelus rambut putrinya dan mengangguk.
"Sudah, Sayang. Kita tunggu saja. Papa yakin dia bisa membujuk anaknya agar mau bekerja sama dengan kita," ucap Sanoci dengan tersenyum
"Aku juga berharap, Pa. Apapun yang terjadi aku harus dekat dengannya," ujar Marlena kekeh.
Dia sudah buta mata untuk semuanya. Tak peduli pria yang dia cintai adalah suami dari sahabatnya. Yang terpenting dia harus bisa mencuri pria itu dan menjadikan dia miliknya.
Tak lama, bunyi mobil di depan rumah membuat semua orang menatap ke arah pintu masuk. Siapa gerangan orang yang datang dan merusak quality time mereka ini.
Tak lama, suara langkah kaki dan munculnya sekretaris Sanoci membuat Marlena menegakkan tubuhnya. Dia menyipitkan matanya ketika melihat orang kepercayaan papanya tak membawa apapun.
"Apa yang kau bawa?" tanya Sanoci to the point.
"Saya hanya ingin menyampaikan jika Tuan Rey mengajak kita untuk bertemu membahas kerjasama, Tuan," ujar pria yang mengenakan kemeja putih berpenampilan rapi itu.
"Bagus. Kapan?"
"Besok, Tuan. Nanti pihak Tuan Rey akan memberi kabar selanjutnya."
"Bagus. Ya sudah pergilah!" Sanoci mengibaskan tangan dan segera pria itu pergi meninggalkan kediamannya.
Sepeninggal sekretarisnya itu. Marlena tertawa bahagia. Bahkan gadis itu sambil berhore ria dan berdiri. Sebentar lagi rencananya akan berhasil, pikirnya. Dia akan mendapatkan cintanya dan membuat pria itu meninggalkan istri sekaligus sahabatnya itu.
"Terima kasih, Pa. Berkat Papa aku bisa dekat dengannya," ucap Marlena dan memeluk papanya itu.
Dia menghadiahi ciuman tulus seorang anak pada ayahnya. Terlihat sekali jika keduanya saling menyayangi terlepas perbuatan buruk yang dilakukan oleh Sanoci dan Marlena.
__ADS_1
Sejak dulu memang Sanoci selalu menyayangi putra putrinya tanpa membedakan. Dia akan selalu bersikap adil dan tanpa sadar membuat anak gadisnya seperti ini. Sikap Marlena seperti ini juga karena Sanoci yang selalu menuruti kemauan anaknya itu. Hingga akhirnya ya seperti itu sikap mereka.
"Sama-sama, Sayang. Kamu bahagia?" tanya Sanoci mengusap rambut pirang putrinya.
"Tentu saja, Pa. Aku begitu bahagia."
Senyum tertarik di sudut bibir Sanoci dan membuat siapapun yang melihat menjadi ikut bahagia. Pemandangan semua itu terlepas dari mata tajam milik Mario.
Pria itu menatap datar ke arah adik perempuan yang begitu dia sayangi dan ayahnya itu.
"Apa kamu begitu berharap mendapatkan pria yang sudah memiliki istri?" tanya Mario dengan nada penuh sindiran.
"Apa maksud Kakak?" tanya Marlena menatap kedua mata sang kakak.
"Ya kamu pikirkan saja. Saat ini kamu hanya obsesi semata, Mar. Bukan cinta yang kamu rasakan," ucap Mario sambil meletakkan tabletnya di atas meja.
"Aku sungguh mencintainya, Kak," seru Marlena marah.
"Serius?" tanya Mario dengan nada mengejek. "Kenapa aku melihat kamu hanya terobsesi saja dan ingin mengambil Rey dari tangan istri sahnya itu."
Marlena terdiam. Dia menatap marah pada kakaknya itu. Wajahnya merah padam dengan tangan mengepal kuat. Dia tak percaya jika pria yang selalu menyayangi bisa mengatakan hal seperti itu.
"Kakak tahu apa tentangku?" ujar Marlena berteriak. Gadis itu sudah beranjak berdiri dan melotot tajam ke arah sang kakak.
Telak.
Marlena hanya mampu terdiam dan menatap ke arah Mario dengan mata yang mulai memanas.
"Aku sudah mencari tahu semuanya, Mar. Aku tahu bagaimana kau menggoda Rey dengan begitu binal," ujar Mario sarkas..
"Mario!" seru Sanoci tak terima.
"Apa, Papa? Betul, 'kan yang kukatakan? Dia hanya ingin mengambil kebahagiaan sahabatnya dan mencuri pria yang bukan haknya," ujar Mario tetap senang.
"Papa jangan terlalu menuruti semua yang diinginkan Marlena. Dia hanya ingin bersama Rey dan setelah merasakannya pasti Marlena akan membuangnya."
"Itu tidak benar!"
"Itu benar," potong Mario cepat.
__ADS_1
"Apa kamu tak melihat bagaimana cara mereka berdua saling mencintai?" tanya Mario menegakkan tubuhnya. "Mereka saling mencintai dan aku yakin kamu tak akan bisa merusak cinta keduanya," sambungnya dan langsung berdiri.
Dia sudah menyerah dan lebih baik diam. Mario begitu tahu tabiat adiknya dan membuatnya selalu ingin pergi mengunjungi sang mama.
Sikap antara papa dan adiknya memang sama. Sama-sama keras kepala dan ambisi yang tinggi. Mario hanya berharap semoga apa yang dilakukan oleh Marlena tak membahayakan siapapun. Terutama wanita yang sudah begitu lama menghinggapi hatinya.
Mario Sanoci, pria tampan dengan wajah bule itu begitu menyukai gadis manis yang selalu main ke rumahnya dulu.
Gadis yang ia kenal dengan nama Jessica Alexzandra Caroline adalah sahabat dari adiknya sendiri, Marlena. Sejak lama, dirinya memang begitu mencintai dalam diam pada Jessi karena kehidupannya yang kelam.
Dia takut jika menyatakan cinta pada Jessi maka kehidupan gadis itu akan terancam. Karena bagaimanapun, Mario begitu tahu siapapun yang terlibat dengan dunia bawah, maka dia harus siap konsekuensi yang ada.
Tapi karena rasa sukanya lambat laun berubah menjadi cinta. Membuat Mario bertekad tak akan mengatakan atau menyatakan perasaannya demi keselamatan gadis cantiknya itu. Biarlah ia akan mencintai dalam diam, menjaganya dari jarak dekat dan berani menjadi bodyguard bayangan hanya untuk menjaga wanitanya itu dari mara bahaya yang akan datang.
Membanting pintu mobil dengan keras, Mario segera meninggalkan halaman rumah dalam keadaan marah. Ia tak mau merusak kebahagiaan wanitanya itu. Sungguh pria sepertinya adalah golongan pria yang sulit ditemukan.
Dia berjanji akan menjaga Jessica dari tindakan nekad dari adiknya sendiri. Biarlah dia akan melawan ayah dan adiknya yang terpenting cintanya pada Jessi membuatnya yakin untuk menjaganya terlalu dalam.
"Aku tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh mereka. Tapi yang pasti, aku akan berusaha menjagamu dari sini meski aku tau kau sudah ada pria lain yang menjagamu," ucap Mario sambil mencengkram setir kemudi. Mata tajam itu terus mengarah ke depan dengan kecepatan mobil yang begitu tinggi.
Dia hanya ingin mendatangi suatu tempat yang akan membuatnya bertemu wanita yang masih memenuhi hati dan jiwanya meski hanya dari jarak jauh.
~Bersambung~
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di ****)