Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Ikatan Batin Istri


__ADS_3


Perasaan apa ini, Tuhan. Kenapa aku merasa sesak dan sakit yang begitu berlebih. Apakah ini pertanda buruk untuk hubunganku? ~Jessica Alexzandra Caroline~


****


Prang.


Suara pecahan kaca itu mampu menarik atensi seorang gadis cantik yang sedang fokus akan pekerjaannya. Meninggalkan meja kerjanya, dia melangkahkan kakinya ke arah sumber suara. Matanya membelalak seketika saat melihat jika benda itu adalah potret pernikahannya yang sengaja dia letakkan disana. 


Jessica mendekat, dia berjongkok kemudian mengambil sebuah kertas yang sudah jatuh telungkup di lantai. Dengan hati-hati gadis itu membersihkan fotonya dari pecahan kaca. Setelah bersih segera ia membalikkan fotonya dan terpampanglah di hadapannya. 


Tapi tunggu, kenapa perasaan sakit? Dadanya terasa nyeri hingga membuat gadis itu meletakkan tangannya di dada. Dia memejamkan matanya untuk menenangkan perasaan yang tak karuan. Jantungnya tetap berdebar kencang hingga membuat pikirannya kemana-mana.


"Apa yang terjadi denganku, Ya Allah?" gumamnya sambil mengatur nafasnya.


Menopang tubuhnya dengan berpegangan pada benda yang bisa dijadikan penguat. Akhirnya Jessica mulai berdiri dengan tangan memeluk foto pernikahannya. Entah kenapa pikirannya saat ini tertuju pada sang suami. 


Apa ada sesuatu dengan Rey? Kenapa batinnya merasakan ada sesuatu yang buruk. Tak ingin mati penasaran. Jessica segera meletakkan fotonya dan keluar dari ruangannya. Dia tak menggubris panggilan Amanda. Tujuannya saat ini hanya satu, ruangan sang suami. 


"Semoga semua baik-baik saja, Tuhan." Doanya dalam hati. 


Menginjakkan kakinya di lantai tertinggi. Jessica segera mengayunkan kedua kakinya menuju satu-satunya pintu yang ada disana. Keningnya berkerut ketika melihat meja milik Bima kosong.


Tanpa perlu mengetuk, Jessica segera masuk dan matanya menelusuri seluruh ruangan yang tak asing di matanya. 


"Sayang," panggilnya sambil berjalan menuju ruangan istirahat.


Kosong.


Hanya itulah yang ditemui Jessica. Segera gadis itu kembali ke ruangannya dengan sejuta pikiran. Sepertinya karena insiden pecahan kaca membuat gadis itu lupa jika sang suami memiliki janji temu dengan rekan kerjanya.


Saat dirinya hendak menekan tombol telepon ke nomor sang suami. Seketika ingatannya kembali teringat akan  pertemuan Rey dengan rekan bisnisnya. 


"Astaga aku lupa. Mungkin Rey sedang meeting sekarang," ucapnya dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.


Perasaannya masih berdebar. Rasa sedih dan amarah sepertinya mengguncang hatinya. Tapi dia tak tahu pertanda apakah ini. Jessica hanya bisa mengatur nafas serta minum air putih untuk meredakan semuanya.


Karena terlalu fokus dengan menenangkan pikirannya. Jessica tak tahu jika ada Amanda yang masuk ke dalam ruangan.


"Kamu baik-baik aja, Jess?" tanya Amanda melihat wajah sahabatnya ini sedikit pucat.


Membuka matanya. Jessica menggeleng pelan. "Dadaku sakit."


"Hah sakit? Sakit gimana?" tanya Amanda panik. Gadis itu sampai hendak beranjak namun ditahan oleh Jessica.

__ADS_1


"Tenang, Man," ujar Jessi. "Aku hanya merasa nyeri dan sesak doang. Tapi aku gak tau perasaan apa ini. Rasanya gak enak banget di dadaku."


"Mungkin karena kamu kelelahan, Jessi. Apalagi ini sudah jam makan siang. Aku pesen makan siang yah?" tawar Amanda membuat Jessica mengangguk.


Akhirnya, dengan perasaan takut Amanda segera memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Dia berdoa semoga memang benar tak ada apa-apa pada sahabatnya ini. Karena bagaimanapun dia takut. Dia takut jika istri bosnya ini sakit dan tak diizinkan bekerja kembali. 


Setelah menunggu hampir 10 menit. Akhirnya makanan yang dipesan oleh Amanda sudah berada di tangannya. Dia segera kembali masuk namun sebelum itu berhenti di depan meja resepsionis.


"Ust Mbak La," panggil Amanda hingga membuat wanita yang dipanggilnya menyahut. 


"Tuan Rey sama Tuan Bima belum kembali?" 


Lala menggeleng, "belum, Man. Kenapa?" 


Gadis itu hanya menggeleng. Lalu tak lupa dia segera menuju ruangan Jessi setelah mengucapkan terima kasih.


Pikirannya menerawang kemana sang kekasih sekarang. Tak ada pesan singkat yang biasa dikirim Bima dalam gawainya. Menghembuskan nafas berat, Amanda memilih positif thinking.


Toh dia sendiri tahu betul bagaimana pekerjaan kekasihnya itu. Jadi hal seperti ini sudah membuat seorang Amanda mengerti. 


"Ayo makanlah, Jess! Nanti jika kamu sakit, Tuan Rey tak akan mengizinkanmu kerja lagi, gimana?" tanya Amanda takut.


Jessica menoleh. Dia bisa melihat ketakutan dalam diri Amanda hingga membuatnya terbahak. 


"Malah ketawa. Serius nih!" kesalnya sampai menghentakkan kaki ke lantai. 


"Wahhh mantap." Heboh Amanda sampai bertepuk tangan. "Eh ayo makan duluan, Nyonya. Saya gak mau bekerja sendiri," godanya membuat sedikit perasaan sesak di dadanya tadi menghilang.


"Makanlah yang banyak, Jess. Jangan mikirin hal aneh dulu. Percayalah pada suamimu! Karena itulah tugas istri ketika kita berjauhan."


"Tau dari mana, Man? Bijak amat padahal belum nikah.


"Loh ya jelas dong. Amanda gitu harus paham," sombongnya sambil mengibaskan rambutnya. 


Kedua gadis itu akhirnya tertawa terbahak melupakan sedikit kesakitannya yang sedikit terobati dengan kelakuan mereka. Jessica masih merasa nyeri tapi dia mencoba untuk tenang agar dada-nya kembali tenang. 


****


Di dalam mobil.


Seorang pria sedang melepaskan jasnya dengan kasar ke samping dan melepaskan lilitan dasinya juga. Wajahnya masih merah padam menandakan bahwa dirinya masih emosi.


Dia mengepalkan tangannya sampai matanya terpejam ketika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. 


Apa yang sudah dia lakukan barusan? Rey terlihat begitu menyedihkan. Pakaian sudah basah dan kotor. Wajahnya yang tampan terlihat begitu tertekan. Menghembuskan nafas beratnya berkali-kali untuk meredakan emosinya, pikir Rey. 

__ADS_1


"Jangan katakan apapun pada istriku, Bim."


"Tapi, Tuan…" 


Rey menggeleng, "aku tak mau menyakitinya. Apalagi semua ini karena wanita gila itu." 


"Tapi Nona harus tau semuanya, Tuan. Agar tak menjadi kesalahpahaman di kemudian hari," nasihat Bima menatap Tuannya dari spion atas. 


"Aku tak mau dia bersedih, Bim. Biarlah menjadi rahasia kita terlebih dahulu," Rey memohon.


Sepertinya memang dia takut. Takut jika sang istri tahu akan kebaikan sahabatnya itu. Biarlah saat ini dirinya menjaga jika nanti Tuhan memberi tahu, biarlah dirinya yang akan menjelaskan, pikir Rey. 


"Baiklah, Tuan."


Bima mengalah. Dia tak bisa melakukan apapun ketika Tuannya sudah memohon. Dalam hati pria itu bersumpah untuk membantu Rey apapun yang terjadi. Dia akan ada di garda terdepan disaat Rey sedang ada suatu masalah. 


Mobil mulai menembus kemacetan yang ada. Selama perjalanan menuju perusahaannya, Rey mengambil tisu dan membersihkan kemeja yang terasa basah.


Jujur tubuhnya merasa tidak nyaman. Tapi mau dikata apa? Dia sedang di mobil dan tak ada baju gantinya disini. 


"Apa tak bisa hilang, Tuan?" tanya Bima menatap apa yang dilakukan Rey di depan rumahnya. 


"Entahlah, Bim kenapa ini susah sekali. Apa memang gadis gila itu sengaja?" tanya Rey pada asistennya, Bima. 


"Sepertinya, Tuan. Saya merasa dia memiliki niat buruk pada Anda dan hubungan Anda, Tuan."


~Bersambung~


Duh Abang Rey tuh lihat Jessica sampai jagain kamu loh.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di ****)



__ADS_2