Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Ekstra Part Season 1 Part 3 (Aku Mencintaimu)


__ADS_3


Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya berpacaran. Tapi, aku bisa mengerti jika yang kurasakan saat ini adalah bukti bahwa aku mencintaimu. ~Bima Mahendra~


****


Tak henti-hentinya bibirnya berdecak kesal karena menunggu seseorang yang entah sedang apa. Baru kali ini sepanjang hidupnya, seorang Bima Mahendra diminta menunggu. 


Saat kesabarannya sudah habis. Bima hendak melangkah namun ia urungkan saat matanya menatap sebuah objek yang entah kenapa membuat tubuhnya mematung.


"Cantik," batin Bima dengan mata tak berkedip.


Sungguh gadis yang berjalan ke arahnya ini tak seperti gadis yang biasa ditemui di kantor. Penampilan serta make upnya yang berbeda, membuat seorang Amanda menjadi lebih menawan.


"Tuan," panggil Manda hingga menjentikkan jarinya ke wajah Bima.


"Ya." Bima tergagap. Dengan cepat dia menormalkan ekspresi wajahnya dan menatap seorang gadis berwajah bidadari ini menurutnya. 


Jangan ditanya bagaimana keadaan jantungnya. Debarannya begitu kencang hingga membuat kedua telapak tangannya dingin. Perasaan gugup dan salah tingkah membuat seorang Bima bingung harus melakukan apa.


"Ayo berangkat ,Tuan. Kenapa anda berdiam diri terus? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Amanda dengan menatap dress yang dia pakai.


Jika boleh jujur, yang membuat Amanda lama bukanlah saat merias diri. Melainkan, saat dirinya harus mengobrak-abrik lemari pakaiannya untuk mencari baju apa yang pantas untuk dipakai ke pesta pernikahan bosnya itu.


Hingga pilihan Amanda jatuh pada sebuah dress berwarna pink muda dengan belahan dada yang sedikit rendah hingga menampilkan dua pundaknya yang terbuka bebas. 


Oh sungguh penampilannya begitu pangling. Buktinya saja, abang Bima sampai gugup begitu, hehe.


Entah setan dari mana, Bima membukakan pintu untuk Amanda dan mempersilahkan gadis itu masuk. Sikapnya yang seperti ini malah membuat Amanda takut. Tapi dia mencoba menutupi rasa takutnya dengan berdehem dan duduk dengan tenang.


Sepanjang perjalanan, tak ada satupun yang membuka suara. Amanda yang lebih suka menatap jalanan dari kaca jendela, membuatnya selalu mengetuk jari di kaca itu dengan senyum bahagia. Sedangkan Bima? Pria itu ingin sekali membuka suara tapi dirinya tak tahu harus dari mana.


Ya mengertilah, pria kaku seperti es batu dan kulkas itu tak pernah berpacaran. Bahkan hidupnya penuh didedikasikan pada Rey dan perusahaan hingga membuat Bima tak pernah memiliki waktu untuk memikirkan wanita. 


Tak lama, mobil yang Bima kendarai mulai memasuki halaman parkir tempat mobil para undangan yang datang. Dia segera keluar dan merapikan jasnya hingga tak melihat jika ada seorang gadis berjalan ke arahnya dan tanpa bicara meraih dasi yang melilit di leher Bima dengan pelan. 


Posisi sedekat ini sungguh membuat keduanya canggung. Entah perasaan apa yang menyelinap di hati Rey, dia merasakan kenyaman jika berada di dekat gadis ini. Senyumannya, candanya dan tawa Amanda begitu menarik hatinya.


Bahkan saat ini, matanya tak mampu dialihkan untuk menatap ke arah lain. Memuji keindahan ciptaan tuhan yang satu ini lebih baik menurutnya. Wajah Amanda mempunya daya tarik untuk Bima hingga membuatnya tak sadar.


"Sudah selesai," ujar Amanda pelan dengan menunduk dan hendak menjauhkan tubuhnya sampai sebuah tangan menahan pinggangnya.


"Jangan menjauh dariku!" ucap Bima tanpa sadar.

__ADS_1


Hal itu sontak membuat mata Amanda yang sedang menatap bawah langsung mendongak. Pancaran kedua mata saling terpancar melekat hingga membuat jantung kedunya semakin berdetak kencang.


Entah siapa yang mendekat, Bima mengecup dahi Amanda dan menahannya hingga membuat mata gadis itu terpejam.


Bisa didengar dan dirasakan oleh Amanda. Jika jantung pria yang mencium dahinya ini berdegup kencang. Hal itu tentu saja sama dengan apa yang dirasakannya. 


Tak memperdulikan tatapan semua orang hingga Bima menjauhkan bibirnya dan menatap mata gadis itu lagi. Seakan bola mata itu begitu mampu menghipnotisnya setiap saat. 


"Ingat! Jangan lepaskan genggaman tanganku." Perintah Bima.


Amanda hanya mengangguk dan dengan tegas Bima menggenggam tangan Amanda yang menganggur dan mulai memasuki halaman rumah bosnya yang dipadati oleh banyak tamu.


Sepanjang jalan, banyak para karyawan Perusahaan Pratama yang menunduk hormat pada Asisten bosnya yang menikah ini. Wibawa Bima makin terpancar ketika tak ada senyuman di wajahnya. Apalagi ditambah, tangan Amanda yang sudah melingkar di lengannya membuatnya semakin merasakan senang dan tak ingin siapapun menatap atau mendekati gadis di sampingnya ini. 


Ahh Amanda merasakan bahagia. Cintanya semakin bertambah untuk pria ini. Dia tak menyangka akan ada masanya dimana dia selalu bermimpi melingkarkan tangannya pada lengan pria yang dia cintai ini. Lalu sekarang menjadi kenyataan. Tak hanya itu, kecupan di dahi saja mampu membuat gadis itu melayang dan melongo tak percaya.


Amanda mengira ini semua hanyalah mimpi. Tapi, merasakan sakitnya cubitan tangan di lengannya mampu menjadi bukti bahwa semua ini adalah nyata. Kenyataan yang memang benar terjadi bahwa dia sudah sedekat ini dengan Asisten kulkasnya ini. 


Bima langsung mengajak Amanda menuju pelaminan yang untungnya mulai sepi. Dia berjalan menghampiri sepasang pengantin yang selalu menebar kebahagiaan itu. 


"Selamat atas pernikahannya, Tuan Rey. Semoga Tuhan memberkati dan menjaga hubungan anda bersama istri sampai maut yang memisahkan." Doa Bima tulus setelah melepaskan jabat tangan dan pelukan keduanya 


"Terima kasih, Bim. Kamu adalah teman, sahabat dan rekan kerjaku yang terbaik. Aku doakan kamu segera menyusul." Goda Rey ketika melihat bagaimana kedekatan anak buahnya yang tak ia sangka itu.


"Ah kau sahabat nakal. Selamat yah!" Amanda memeluk Jessica.


Kedua wanita yang saling bersahabat itu melepaskan kerinduan dengan saling memeluk satu dengan yang lain. Sungguh baik Amanda ataupun Jessica sangat merindukan moment ketika mereka berdua. Tapi,


"Jangan lama-lama, Manda!" seru Rey menarik sang istri dari pelukan Amanda. 


"Astaga, Rey. Dia sahabatku," ujar Jessica tak habis pikir. 


"Tapi tetap saja. Kau hanya milikku. Tak ada yang boleh memelukmu lama kecuali aku." 


"Huh dasar bucin!" 


"Awas, Bim. Kamu akan merasakan kebucinan juga. Aku akan menunggu itu!" 


Tak mau mendengar omong kosong bis sekaligus temannya itu. Bima menarik tangan Amanda dan mengajaknya turun. Kalimat dari Rey selalu terngiang dan membuat kaki Bima tanpa sadar membawa Amanda ke sebuah tempat sepi.


"Kita mau kemana, Tuan?" tanya Amanda bingung.


Ternyata, Bima membawa gadisnya di halaman belakang yang jarang dilewati orang-orang. Segera dia menghadapkan tubuh Amanda hingga keduanya saling berhadapan.

__ADS_1


Kondisi dan suasana seperti ini membuat perasaan Amanda berdebar. Pikirannya melayang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kenapa asisten kulkas ini membawanya kesini dan beribu pertanyaan ingin segera dia lontarkan sampai pertanyaan Bima membuat Amanda terdiam.


"Apa kamu mendengar doa dari Tuan Rey?" 


"Hah!" Amanda melongo. Tapi pikirannya bekerja keras berpikir kalimat mana yang dimaksud oleh pria di depannya ini.


"Semoga kau segera menyusul," ujar Bima membuat mata Amanda menatap spontan ke arahnya.


"Iya. Saya ingat, Tuan. Kenapa?" tanya Amanda pelan.


Bima melakukan perang batin dengan pikirannya. Dia tak tahu apa yang dia rasakan dan lakukan ini benar atau tidak. Tapi, melihat ada pria lain yang mendekati atau menatap Amanda daja dia merasa terbakar. Ketika berada didekatnya, mampu membuat rasa nyaman dan bahagia di hati Baim sendiri. 


Apa hal ini mampu menjadi alasan untuknya mengatakan sesuatu yang sudah ada di otaknya sekian lama.


"Amanda." 


"Ya, Tuan?" Amanda menatap Bima yang sedang menatapnya balik. 


Bima mendekat. Dia meriah pinggangnya hingga tubuh keduanya melekat.


"Apakah kamu merasakan jantungku ini?" ujar Bima membawa telapak tangan Amanda dan meletakkannya di atas dadanya. 


Benar saja ,degupan kencang begitu terasa di tangan Amanda hingga membuat gadis itu termangu.


"Aku tak tahu apa yang sedang kurasakan ini, Manda. Tapi, ketika bersamamu aku merasa nyaman. Di dekatmu aku merasa bahagia. Jauh darimu aku selalu merasa uring-uringan. Apalagi, melihat ada pria lain yang mendekatimu, hatiku langsung terbakar." 


Speechless tentu saja. 


Ini adalah momen langka dimana untuk pertama kalinya Bima berkata panjang lebar selain di luar konteks kerja dan di hadapan Rey. 


"Mungkin aku banyak kekurangan, Amanda. Aku juga bukan pria romantis. Tapi aku bisa yakin jika apa yang aku rasakan ini adalah bukti bahwa aku…" Bima menjeda.


Tatapan keduanya semakin lekat. Hingga menyalurkan kehangatan dari pancaran sinar cinta yang tak disadari keduanya. 


"Bahwa aku mencintaimu." 


~Bersambung~


Uwuww yey akhirnya Bima gak jomblo lagi. Haha..Pria kulkasnya sold out juga guys. hahaha.


Jangan lupa like bab ini yah. Uhuyyy


__ADS_1


__ADS_2