
Sebanyak apapun halangan antara kita. Tak dapat menyurutkan keinginanku untuk bertemu denganmu, Sayang. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Setelah melewati perjalanan panjang. Akhirnya Rey tiba di benua Amerika dan lebih tepatnya dia sudah berpijak di tanah New York. Ini merupakan pengalaman pertama kalinya dia menginjakkan kaki disini. Di negara bebas yang selalu hidup 24 jam.
Rey segera meminta supir yang sudah disewa oleh Bima, untuk menemani kemanapun dirinya pergi ke Apartemen tempat dia akan tinggal.
Sebuah apartemen yang termasuk mahal sudah ada di depan mata Rey. Dia segera keluar dan diikuti oleh sopir mobil tersebut
"Terima kasih…."
"David, Tuan."
"Ya, terima kasih, David."
"Sama-sama, Tuan. Mari saya antar ke apartemen anda."
Rey mengangguk, dia berjalan bersama David yang menarik koper milik Rey dibelakangnya. Memasuki lift, David mulai menekan tombol lalu pintu mulai tertutup.
Tak butuh waktu lama, pintu lift kembali terbuka dan keduanya segera keluar. Rey tampak mengagumi keindahan interior dan desain di apartemen ini. Bahkan terdapat hiasan dinding seperti lukisan yang begitu estetic dan indah.
Tak lama, David mulai berhenti dan memberikan kunci yang sudah dia pegang sejak tadi sebelum dia menjemput Rey. Dibukanya pintu itu lalu keduanya masuk ke dalam dengan disambut bau apel yang menyegarkan.
"Apa Tuan cocok dengan apartemennya?" tanya David, "jika Tuan kurang cocok. Masih ada apartemen yang mungkin sesuai selera, Anda."
"Tidak perlu, David. Ini sudah cocok."
"Baiklah, Tuan."
"Nanti sore kamu jemput saya kesini, yah!"
"Baik, Tuan."
"Ya sudah, saya ingin beristirahat."
David mulai undur diri dan meninggalkan Tuannya itu sendirian. Dia mulai menyukai bosnya yang sekarang, karena menurutnya, Rey adalah majikan yang baik dan tak pernah marah-marah.
Selepas kepergian David. Rey segera berjalan menuju kamar yang berada di apartemen barunya ini. Selama waktu tak ditentukan, dia akan bekerja dan tinggal disini sambil mencari cara bagaimana bisa bertemu dengan kekasihnya.
Semua informasi dadi Bima sudah begitu akurat. Dari alamat mansion, alamat kantor dan alamat villa yang dimiliki Alexzandra sudah ada di tangan Bima semua.
Rey begitu bersyukur memiliki teman yang begitu kompeten seperti Bima. Dia begitu mengandalkan temannya itu karena dia sudah percaya pada kinerja Bima selama ini.
__ADS_1
Melihat ranjang yang lumayan besar dan sepertinya empuk. Rey segera melepaskan sepatu dan segera merebahkan tubuhnya yang merasa begitu lelah setelah melakukan perjalanan panjang dari tanah air kesini. Tak butuh waktu lama, lelaki itu sudah hilang mengarungi mimpi tanpa mengganti pakaiannya dulu.
****
Empuknya ranjang ternyata membuat Rey yang begitu lelah merasakan kenyamanan saat tidur. Dia masih mengarungi mimpi sampai tak sadar jika waktu sudah beranjak sore.
Dering ponsel membuat Rey memaksakan tubuh dan matanya untuk bergerak. Mencari tempat dimana benda itu berbunyi, lekas dia mengambil dan segera menggeser layar agar panggilannya tersambut.
"Hallo."
"Assalamualaikum, Rey. Sudah sampai?" suara lembut sang mama membuat Rey langsung tersadar.
Spontan pria itu duduk dan membetulkan posisinya. "Maafkan Rey, Ma. Rey udah sampai dari tadi. Tapi Rey malah lupa menghubungi mama karena ketiduran. Maaf."
Terdengar helaan nafas dibalik telepon. Rey menyadari jika mamanya pasti sudah lega mendengar kabar darinya. Dirinya sungguh menyesal bisa melupakan permintaan sang mama. Padahal dia sudah bisa menebak jika Mama Ria pasti kurang istirahat menunggu kabarnya seperti saat dia biasanya ada perjalanan bisnis.
"Gak papa, Sayang. Yang penting kamu sampai dengan selamat disana. Jangan lupa makan loh yah," ingat sang mama.
"Iya, Ma. Ya udah Rey mau mandi terus ke rumah Jessi yah," pamitnya.
"Oke, Sayang. Semangat dan hati-hati."
Setelah panggilan keduanya terputus. Rey segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dengan cepat lalu dia segera memakai pakaian santainya. Celana panjang dengan kaos ketat membalut tubuh atletisnya menjadi pilihannya saat ini.
Dirasa semuanya sudah siap. Rey segera keluar dari apartemen turun kebawah. Dia memilih menunggu David di restoran bawah daripada menunggunya di dalam apartemen.
"Santai saja, David. Saya juga baru sampai," sahut Rey dengan senyum tipis.
"Apa Tuan masih ingin minum kopi?" tanya David begitu sopan.
Rey menggeleng, dia segera meletakkan uang di atas meja dan berjalan diikuti David menuju mobilnya.
David dengan lihai mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia juga sudah mengenal betul bagaimana Kota New York dengan baik. Hidup 5 tahun di negara ini sungguh menderita. Namun, pertemuannya dengan Bima sekitar 3 tahun membuat hidupnya berubah drastis. Menjadi teman jauh dari Bima tak membuat hubungan keduanya menjadi buruk.
Bima selalu meminta bantuan David ketika dia sudah terlalu banyak mengerjakan tugas. Pria itu akan mengirimkan email pada David untuk membantu dengan bayaran yang selalu Bima transfer ke rekening David.
Lalu saat ini, ketika Bima meminta tolong untuk menjaga bosnya. Dengan senang hati David menyetujui. Dia juga ingin sekali bekerja di perusahaan Rey ketika dirinya mengetahui jika temannya Bima bekerja ditempat bosnya yang saat ini duduk di belakangnya.
"Sudah sampai, Tuan."
Rey menatap mansion besar dan panjang itu di depannya. Dia menghela nafas berat lalu mulai meminta David mendekati gerbang tinggi itu.
Mereka berbicara bahasa inggris.
"Selamat Sore, saya ingin bertemu dengan Tuan Stevent," ucap Rey pada satpam yang bekerja di bagian depan.
__ADS_1
"Dengan Tuan siapa?" tanya Satpam yang memakai seragam berwarna hitam.
"Tuan Pratama."
"Tunggu sebentar."
Rey sudah menunggu dengan ketar-ketir. Dia takut jika kedatangannya tak diterima oleh Stevent. Namun ternyata dugaannya salah, pintu itu tak lama terbuka lebar dan satpam menyuruhnya masuk.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah mansion bernuansa putih. Di depannya terdapat taman yang begitu indah. Jalan dari gerbang ke pintu utama juga lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki.
Perlahan David menghentikan mobilnya ketika mereka sudah sampai di depan pintu utama. Rey segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu yang masih tertutup. Saat dirinya hendak keluar, ternyata Stevent Alexzandra sudah keluar terlebih dahulu.
"Punya nyali besar, kamu?" Stevent menunjuk Rey dengan wajah menahan amarah.
"Selamat Sore, Tuan. Maaf saya mengganggu waktu anda."
"Sangat mengganggu. Untuk apa kamu kemari?" tanya Stevent tanpa basa-basi.
Bahkan keduanya saat ini hanya berdiri di ambang pintu, dan seperti ayah satu anak itu tak berniat menyuruh tamunya ini untuk masuk.
"Saya kesini untuk bertemu anda."
"Untuk apa?" tanya Stevent sini. "Meminta restuku?" lanjutnya dengan tawa mengejek.
"Saya kesini memang ingin meminta restu anda," jawab Rey tanpa takut.
"Jangan harap."
Suara percekcokan dari luar pintu menarik perhatian Oma Maria yang saat itu sedang berjalan menuju kamarnya di bawah. Dia segera menuju ke arah jendela yang bisa melihat ada apa di depan sana.
Menyibak tirai ke samping, Oma Maria menatap punggung lelaki yang baru kali ini dia lihat. Menajamkan matanya, dia berusaha mengingat wajah pria yang mungkin sebentar lagi akan terlihat.
Ternyata keberuntungan berada di pihak Maria. Saat Rey didorong oleh Stevent untuk pergi dari rumahnya. Wanita paruh baya yang berdiri di dekat jendela bisa melihat wajah yang langsung dia hafal dengan baik.
Dia mengangkat sudut bibirnya ketika melihat bagaimana pilihan cucunya begitu tampan. Tak mau kehilangan jejak. Maria segera memotret foto Rey, dan mengirimnya pada seseorang untuk memberikan informasi lebih lanjut padanya.
~Bersambung~
Rencana hmm rencana....
Jangan lupa tekan like ya, like gratis loh.
Kalau ada rejeki poin atau koin, ya boleh lah bagi ke Je sebagai hadiah di karya ini, hehehe.
Terima kasih.
__ADS_1