Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Marlena Beraksi


__ADS_3


Tunggu lah hadiah dariku, Sayangku. Selamat atas kehamilanmu dan selamat datang kehancuranmu. ~Marlena Sanoci~


****


Kabar tentang kehamilan Jessica tentu saja langsung terdengar santer di telinga gadis yang sedang menyeringai lebar di dalam kamarnya. Tak ada yang tau apa maksud dari senyumannya itu kecuali dia sendiri. 


Beberapa hari ini memang dirinya berdiam diri di rumah. Tapi bukan diam karena dia berhenti. Melainkan dia sedang menunggu waktu yang tepat, dan sekarang ternyata tuhan sedang berada di pihaknya, pikir gadis itu. 


Matanya menatap ke sekeliling kamarnya. Lembar-lembar foto seorang pria tampan dan gagah sudah tertempel di sana sejak lama. Sepertinya memang dia sudah lebih dari obsesi pada pria yang tak lain adalah suami dari sahabatnya, Reynaldi Johan Pratama. 


Dia beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju dinding kamar yang terdapat foto besar wajah prianya itu. Dielusnya perlahan dan membayangkan jika yang dia pegang adalah wajah asli lelaki itu.


"Sebentar lagi, Sayang. Sebentar lagi kamu akan bersamaku," ucapnya dengan tawa menggelegar. 


Tak ada yang tau rencana gila apa lagi yang akan dilakukan oleh seorang Marlena Sanoci. Gadis itu benar-benar berdiam diri di kamar. Dia mengunci pintu kamarnya setelah mendapat kabar jika sahabatnya hamil.


Sebenarnya dia ingin sekali mengamuk. Tapi, melihat benda yang ada di tangannya selalu membuatnya tertawa. Tanpa buang waktu lag segera Marlena mengambil sebuah kotak yang ada di atas ranjang. Dia membawanya keluar dari kamar sambil berteriak ke asisten milik papanya.


"Ya, Nona?" tanya Asistennya itu sambil menunduk.


"Suruh orang untuk menyamar sebagai kurir dan antar kotak ini ke kediaman Jessica," ujarnya sambil menyerahkan kotak itu.


Bersamaan dengan itu. Mario yang baru saja keluar dari kamar menatap memicing ke arah interaksi dua orang di dekat tangga. Karena penasaran dia segera mendekat dan membuat Marlena yang sedang berbicara menoleh. 


"Apa yang sedang Kakak lakukan disini?" tanya Marlena dengan senyum meremehkan.


"Apa isi benda itu?" tanya Mario langsung menatap kotak yang ada di tangan asisten papanya. 


"Rahasia," sahut Marlena lalu mengibaskan tangannya kepada asistennya itu untuk segera pergi.


"Tunggu!" 


"Kakak," seru Marlena dengan nafas menderu. "Jangan pernah menahanku sebelum aku mencelakai gadis yang Kakak sukai," ancamnya dengan mata melotot tajam.


"Apa maksudmu, Mar?" 


"Jangan Kakak pikir aku tak tau apa-apa," ucap Marlena dengan senyum mengejek. "Kau menyukai sahabatku, 'kan?" 


Deg.

__ADS_1


Degup jantung Mario berdebar. Dia menelan ludahnya paksa dengan wajah tegang. Apa yang selama ini ditutupi ternyata terbongkar. Bagaimana sekarang? Apa yang harus dia lakukan. 


"Jangan pernah berpikir untuk mengacaukan rencanaku, Kak. Jika tidak, aku akan mencelakai gadismu itu," ancamnya dengan menunjuk wajah Mario.


"Kau harusnya sadar, Mar. Rey suami sahabatmu sendiri. Lalu kau ingin merebutnya?" 


"Ya aku akan merebutnya. Karena pria itu seharusnya menjadi suamiku," teriaknya lantang sampai membuat suara gaduh disana.


Banyak pelayan yang memilih pergi daripada harus melihat adik dan kakak itu beradu lidah. Keduanya memang memiliki watak keras kepala dan ambisi yang besar. Maka dari itu jangan tanyakan dari mama sikap Marlena yang seperti ini. Jika bukan dari ajaran Sanoci sendiri.


"Lebih baik Kakak sekarang bersiap-siap. Sebentar lagi wanitamu itu akan menjadi janda dan segera nikahi dia!" 


Setelah mengatakan itu, Marlena langsung pergi meninggalkan Mario yang wajahnya merah padam. Terlihat sekali jika pria itu marah besar dan tak terima atas ocehan dari adiknya sendiri. Namun, mati-matian dia menahan agar tak menampar wajah adik satu-satunya untuk menjaga hati kedua orang tuanya. 


Mario menghela nafas berat. Dia segera berjalan dengan cepat dan harus mengetahui apa isi dari benda itu. Biarlah apa yang akan terjadi nanti jika dia berhasil mendapatkan kotak itu. Abaikan gadis yang sudah menjadi adiknya itu untuk keselamatan wanita yang dia cintai.


Matanya menatap awas ke depan. Dia mencari kemana mobil yang dipakai asisten papanya itu. Dia menaikkan laju mobilnya dan menatap geram ketika melihat apa yang dicarinya tak ada. 


Tangannya mencengkram kuat setir kemudi dengan gigi gemeretak menahan amarah. 


"Kemana dia?" ujarnya sambil memukul kemudi mobilnya. Namun kata-kata dari Marlena tadi terbayang di pikirannya dan membuatnya kembali sadar. 


"Astaga. Bagaimana bisa aku terkecoh. Pasti dia menuju rumah Jessica dan suaminya," serunya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 


"Semoga hadirku tepat waktu disana." 


****


Saat dirinya hampir saja sampai di perumahan rumah Rey. Tiba-tiba mobilnya mendadak oleng dan segera Mario menginjak pedal rem dengan kuat dan mendadak. 


Dugh. 


"Ughhh," lirih Mario dengan memegangi dahinya. 


Pria itu mengaduh kesakitan dengan perasaan berdebar. Segera Mario keluar dari mobilnya dan mencari apa yang membuat kesayangannya ini oleng.


Tangannya mengepal kuat saat melihat ban mobil depannya kempes. Dia tendangnya ban itu hingga membuatnya berdecak kesal.


Bugh.


"Aghh kenapa harus sekarang." Marahnya dengan memukul ban mobilnya.

__ADS_1


Baiklah, Mario mulai mengatur nafasnya. Dia ingin menetralkan otaknya agar bisa berpikir jernih. Setelah merasa nyaman dan tenang, segera ide cemerlang itu hadir di pikirannya.


Tanpa menunda, tanpa menunggu anak buahnya. So pria itu segera berlari menuju salah satu rumah yang ada disana. Mario sudah tak peduli akan mobilnya sekarang. Tujuannya saat ini hanya Jessica. Rumah gadis yang selama ini dia mata-matai. 


Mengabaikan keringat yang membasahi pakaiannya. Mario terus saja berlari sambil matanya menatap awas kedepan. Dia terus saja berlari tanpa peduli jika nafasnya sudah tersenggal-senggal. Pria itu memilih membungkuk sebentar saat nafasnya sudah terlalu berat. 


Dia menatap ke belakang dan berharap semoga pengawalnya segera sampa. Namun, ternyata belum ada kendaraan yang datang. Dengan tekad kuat, dia melanjutkan langkah kakinya dan berlari sekuat tenaga. 


Beberapa meter dia berusaha berlari akhirnya sampailah dia di dekat rumah Rey dan Jessica. Matanya menatap tajam pada seorang pria yang mengenakan pakaian jas pengiriman itu.


Dia bingung harus melakukan apa. Mendadak otak pintar Mario menghilang. Nafasnya semakin sesak ketika melihat kotak yang tadi dibawa oleh asisten papanya sudah ada pada kurir itu.  


Saat dirinya hendak melangkah ternyata kurir itu menyadari jika ia diikuti. Segera pria yang memakai pakaian jasa pengirim itu menuju pintu utama hingga membuat Mario mematung.


Tak mudah dia masuk ke dalam. Jika ia masuk apa yang akan dirinya katakan pada para satpam disana. Akhirnya Mario hanya bisa memejamkan matanya dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. 


Beberapa hari ini memang Mario selalu melihat pergerakan Marlena. Namun ternyata apa yang dia lakukan salah. Gadis itu diam-diam ternyata pandai dan dirinya merasa kecolongan. Tubuh Mario semakin lemas saat melihat siapa gerangan yang membuka pintu.


Wanitanya disana. Menunggu benda keramat yang Mario yakin akan membuat sesuatu besar terjadi. Hingga akhirnya tubuh Mario limbung saat dia sudah tak sanggup akan apa yang terjadi selanjutnya.


Tubuhnya yang memang lemah dan sakit beberapa hari ini. Membuat dirinya tak sadarkan diri. Namun sebelum Mario pingsan, dia berdoa semoga wanitanya itu kuat untuk menghadapi semuanya. 


~Bersambung~


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)

__ADS_1



__ADS_2