
Sesama manusia tidak berhak kita menghakimi manusia yang lain. Ketika sesamamu melakukan hal jahat kepadamu, ikhlaskan dan maafkan. Karena apapun yang terjadi di dunia itu, nanti akan ada balasannya masing-masing. ~Jessica Alexzandra Caroline~
****
Malam harinya.
Saat sepasang pengantin itu saling menyantap makan malam mereka. Tiba-tiba suara ponsel yang berdering membuat Rey mengambilnya karena jaraknya lebih dekat dengannya.
Keningnya berkerut ketika melihat nama Mario yang tertera di sana.
"Siapa, Sayang?" tanya Jessica melihat suaminya yang diam.
"Mario," sahut Rey sambil menggeser layar hijau.
"Ya?" jawab Rey setelah panggilan itu tersambung.
"Papaku sudah sadar, Rey. Tolong bilang ke istrimu juga yah. Karena kemarin Jessi selalu meminta kabar Papa."
"Alhamdulillah. Oke kita bakalan kesana."
Panggilan terputus dan hal itu membuat Jessica begitu penasaran dengan kabar apa yang dibawa oleh Kakak dari sahabatnya itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Jessi saat Rey meletakkan ponselnya di atas meja makan.
"Tuan Sanoci sudah sadar, Sayang," ujar Rey dengan tersenyum.
"Alhamdulillah. Kita kesana yah?"
"Tentu. Kita akan menengok orang yang sudah berbaik hati menjaga Daddy."
Apakah Rey cemburu karena Jessi dan Mario dekat?
Tidak sama sekali.
__ADS_1
Pria itu tahu jika istrinya hanya menganggap Mario seperti menganggap Jack hanya sebagai kakaknya saja.
Ditambah, keberadaan Sanoci di rumah sakit juga karena menjaga mertuanya. Jadi sebagai rasa terima kasih, tentu saja mereka akan selalu menjenguk dan datang ketika kabar apapun terdengar.
"Lanjutin aja makan dulu, Sayang. Habiskan!" titah Rey melihat sang istri yang makan dengan lahap.
Memang setelah kandungan Jessi menginjak minggu ke 15. Rasa lapar selalu menderanya. Bahkan bisa jadi Jessi memakan makanan yang berkarbohidrat sebanyak 5 kali sehari. Belum lagi buah dan cemilan ibu hamil membuat Rey selalu berusaha memenuhi segala keinginan sang istri.
Tak ada hal yang membahagiakan selain ini. Melihat sang istri dan calon bayinya sehat serta nafsu makan sang istri yang kembali. Sudah cukup semua itu begitu membuatnya bersyukur atas nikmat yang Allah beri kepadanya.
****
Berjalan sambil bergandengan tangan. Keduanya baru saja sampai di rumah sakit. Tak sedikitpun Rey melepas genggaman tangannya pada sang istri karena dia selalu ingin berada di dekat Jessi.
Jangan lupakan. Tak selamanya pria kaku dan cuek di luar tidak bisa bersikap hangat ketika di rumah. Karena bisa jadi, mereka hanya menampakkan kehangatan dan cintanya ketika bersama sang istri saja.
Bukan karena apa. Menjaga imagenya untuk selalu dihormati itu perlu. Apalagi Rey adalah CEO dan juga keluarga yang selalu disorot oleh wartawan. Hingga membuatnya benar-benar menjaga tingkahnya ketika berada di luar rumah.
Jessi mengetuk pintu terlebih dahulu dan mendorongnya pelan.
Tentu saja suara wanita itu membuat orang yang berada di dalam menoleh.
"Kalian sudah datang rupanya," ucap Mario mempersilahkan keduanya berada di dekat sang Papa.
"Halo, Pa. Bagaimana keadaan, Papa?" tanya Jessi setelah mencium punggung tangan ayah dari sahabat yang ingin merebut suaminya itu.
"Papa baik-baik saja, Jess," sahut Sanoci menatap wanita yang sudah disakiti oleh putrinya itu.
Meraih tangannya pelan. Jessi merasa terkejut. Namun dia bisa melihat ada hal yang ingin disampaikan oleh pria paruh baya itu hingga membuat Jessi mengusap punggung tangan Sanoci pelan.
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan segala kesalahan putri Papa Marlena. Papa benar-benar menyesal atas semuanya."
Jessica tersenyum. Dia sudah bisa mengerti apa maksud perkataan dari pria itu. Karena bagaimanapun, dia sudah tahu semuanya dari Mario.
Jessica marah? Tentu saja tidak.
__ADS_1
Tapi dia memang kecewa pada tindakan Sanoci yang membantu sang putri.
Tapi Jessi mencoba menempatkan dirinya di posisi sebagai ayah seperti Sanoci.
Bagaimanapun pasti seorang ayah tidak akan bisa membantah kemauan anaknya sendiri. Apalagi itu juga termasuk untuk membahagiakannya. Sudah pasti seorang ayah pasti langsung menerima apapun yang diminta anaknya sendiri.
Tapi Jessica juga kecewa akan satu hal. Kenapa Sanoci tak memikirkan dirinya juga? Kenapa Sanoci tak berfikir jika pria yang diinginkan putrinya adalah suami dirinya? Apakah Sanoci tak menganggapnya seperti perkataannya dulu jika ia sudah seperti putrinya sendiri?
Tapi itu semua tak penting untuk dipikirkan. Jessica benar-benar sudah memaafkan semuanya. Dia tak mau memiliki dendam kepada siapapun. Karena apapun itu, tak berhak sebagai seorang manusia menghakimi manusia lain.
Jessi membalas genggaman tangan Sanoci lembut dan mengangguk.
"Aku sudah memaafkan, Papa. Jadi jangan meminta maaf lagi. Yang penting sekarang, Papa harus sembuh dan sehat seperti semula."
~Bersambung~
Apapun kesalahan orang yang menjahatimu. Jangan sampai ada dendam kecil di hatimu. Yang hanya perlu kau ingat jika di dunia ini akan ada tabur tuai atas apa yang selalu kita lakukan selama hidup di dunia.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1