
Aline menceritakan apa yang terjadi pada Yuna. Dengan seksama Yuna mendengar, ia manatap Aline dengan serius saat temannya itu sedang bercerita.
"Aku tidak tahu, alasan Papa tidak senang itu apa. Saat aku tanya apa Papa marah? Papa jawab tidak, tapi wajahnya ... " kata Aline menghentikam kata-katanya.
Yuna mengerutkan dahi, "Aline ... apa keputusanmu ini tidak telalu buru-buru? Begini, aku bukannya tak memihakmu yang ingin mendapatkan Pak Duda itu. Hanya saja, kamu juga perlu memikirkan perasaan Paman. Belum lagi Kak Alwin dan Kak Alvin. Apa kira-kira mereka akan setuju begitu saja? coba pikirkan baik-baik dulu," kata Yuna, memegang erat tangan Aline.
Aline menarik napas dalam, lalu mengembukan napas perlahan. Ia bingung, ia tidak tahu letak kesalahannya.
Yuna menegaskan lagi, jika jatuh cinta pada Owen memang bukan sebuah kesalahan. Hanya saja Aline perlu melihat dari semua sisi, termasuk sudut pandang Papa juga dua Kakaknya nanti kalau tahu. Yuna tahu kalau ini akan mudah bagi Aline, mengingat ini adalah kali pertama Aline merasakan rasa suka dan teratarik pada lawan jenis.
"Jadi, aku harus apa?" tanya Aline menatap Yuna.
"Apa lagi, kamu tentu harus minta maaf dan membujuk Paman. Paman berkata beliau tidak marah, kan? sesuai ucapan beliau juga, kemungkinan beliau masih syok dan brlum bisa mencerna ceritamu yang tiba-tiba mengatakan kamu mencintai Pak Duda dan tiba-tiba juga kamu melamar pekerjaan di perusaan Pak Duda itu. Kamu kan bukan lagi anak remaja Aline, umurmu sudah dua puluh delapan tahun. Sudah dewasa. Kamu juga harus bersikap dewasa, berpikir selayaknya usiamu." kata Yuna memberi nasihat.
Aline menatap Yuna, "Ya, benar katamu. Aku memang terlalu bersemangat dan hanya fokus memikirkan cara mendekati Owen tanpa tahu apa yang akan keluargaku pikirkan. Aku memang egois. Papa pasti sangat kaget, sampai Papa mengira aku kerasukan dan bertanya apakah aku ini Aline putrinya atau bukan." kata Aline.
Yuna tersenyum, "Kalau aku jadi Paman, pasti akan bersikap sama. Lagipula kamu memang aneh. Entahlah, aku sudah merasa kamu aneh sejak di rumah sakit waktu itu. Oh, ya ... ceritakan padaku. Bagaimana kamu bisa salah memasukkan riwayat pekerjaanmu. Apa dokumen itu bukan kamu sendiri yang menyiapkannya?" tanya Yuna.
Aline menjawab, kalau saat itu ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan ia meminta Victor yang merupakan orang kepercayaannya menyiapkan semuanya. Aline berkata, bahkan ia sudah mengarahkan dan menjelaskan beberapa kali apa saja yang perlu diperhatikan. Dan saat selesai dibuat Aline tanpa memeriksa meminta Viktor mengantar ke perusahaan GoodFood.
Yuna tertawa keras. Ia tidak habis pikir, seorang Aline yang sangat teliti dalam pekerjan pun sampai bisa seperti itu. Yuna berkata, mungkin saja memang Aline tak boleh menyembunyikan apa-apa saat ingin mendekati Owen.
__ADS_1
"Sayangku, ahh maksudku Owen langsung kaget begitu dia tahu pekerjaanku dan riwayat pendidikanmu. Aku benar-benar bingung awlanya, kenapa dia terus mengerutkan dahi dan menatap dokumen dihadapannya. Dan aku baru tahu setelah dia meberitahunya padaku. Ahh ... aku sempat kesal dan berniat memarahi Viktor hari ini. Karena aku lulus, aku pun mengurungkan niatku untuk marah-marah pada Victor. Anggap saja ucapannya benar. Aku tidak boleh menyembunyikan apapun daria pria itu." kata Aline.
Yuna dan Aline panjang lebar membicarakan Owen. Yuna tertarik mendengar kejadian saat Aline sedang wawancara. Ia ingin Aline menceritakan semuanya.
Saat asik bercerita, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Aline dan menyapanya.
"Aline ... " panggil seseorang itu.
Aline dan Yuna kompak menatap arah suara. Aline mengerutkan dahi, seseorang yang menyapanya bukanlah orang asing baginya. Seseorang itu adalah salah satu mantan kekasih Aline bernama Mattew.
"Oh, Hallo, Mattew ... " sapa Yuna. Sedangkan Aline hany diam saja dan langsung memalingkan pandangannya.
"Hallo, Yuna." sapa balik Mattew.
"Oh, aku sedang mengantar Mamaku ke supermarket. Karena akuĀ malas ikut masuk aku kebilang pada Mama kalau aku menunggu di Caffe sebelah. Saat masuk aku melihat kalian. Aku beruntung ... " kata Mattew.
Yuna tersenyum. Ia tidak tahu lagi harus bicara apa. Yuna tak seberapa akrab dengan Mattew. Mereka hanya sebatas kenal saja.
"Aline, kenapa diam saja?" tanya Mattew.
"Memangnya aku harus sekali bicara?" jawab Aline mematap tajam ke arah Mattew.
__ADS_1
Mattew kaget, "Ah, bu-bukan begitu. Kita kan sudah lama tak bertemu semenjak saat itu. Setidaknya aku ingin kamu menyapaku," kata Mattew.
Aline tersenyum masam, "Menyapamu? Aku? (Menunjuk hidungnya sendiri) hahaha ... untuk apa juga aku menyapa pria sepertimu. Pergi sana, dasar!" usir Aline kesal.
Aline tidak akan pernah lupa. Ia yang sudah berbaik hati menerima pernyataan cinta Mattew didepan banyak orang tak disangka hanya dipermainkan Mattew. Untung saja Aline tak memiliki rasa pada Mattew, ia murni mengasihani Mattew yang sudah mempersiapkan kejutan saat memintanya menjadi kekasihnya.
Yuna bingung, karena Aline temannya mulai menumbuhkan tanduk. Yuna pun beridiri dan langsung manarik Mattew pergi. Terlihat Yuna sedang memberikan penjelasan pada Mattew tentang keadaan Aline yang tidak sedang baik-baik saja. Perasaan Aline sekarang sedang kesal dan bisa meledak kapanpun. Begitu yang Yuna katakan pada Mattew.
Mattew bertanya apa yang membuat Aline seperti itu? Yuna menggelengkan kepala, ia berbohong dengan mengatakan ia tidak tahu apa-apa. Karna ia belum berani bertanya. Setelah menjawab, Yuna pun segera meminta Mattew memesan minuman dan mencari meja lain.
"Sudah, ya. Aku pergi dulu." kata Yuna yang langsung berjalan cepat kembali ke tempat duduknya.
Mattew merasa belum puas, tapi ia juga tak mau membuat Aline semakin membencinya. Karena tidak ingin mengacau pikiran Aline atau memancing emosi Aline, Mattew pun pergi meninggalkan Caffe. Ia tidak jadi membeli kopi. Ia memilih untuk masuk ke supermarket dan ikut belanja dengan sang Mama.
Yuna menatap kepergian Mattew, "Wah, dia langsung pergi? padahal aku sudah membohonginya," batin Yuna menertawakan kebodohan Mattew.
Alind menatap Yuna, "Ada apa? kamu terlihat sangat senang?" tanya Aline. Ia melihat arah pandang Yuna, tapi tak menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Bukan apa-apa. Sudah, lupakan saja. Ayo, ceritalah lagi. Aku dengarkan," pinta Yuna. Meminta Aline bercerita.
Kali ini Aline menceritkan topik lain, ia menceritaka tentang pekerjaannya dan beberapa orang yang mengesalkan untuknya. Dengan penuh emosi dan penuh penjiwaan Aline bercerita. Aline sangat bersemangat.
__ADS_1
Yuna mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda kalau Yuna menanggapi serius cerita Aline. Semakin lama melihat aline cerita, Yuna tersenyum dan lama-kelamaan tertawa lebar. Ia melihat Aline yang marah-marah seperti Bibi penjual di pasar yang selalu kesal kalau ada pembeli yang curang dan tidak mau antri.