
Kebahagiaan itu mudah untuk dicapai jika kita termasuk orang yang bersyukur. Karena apapun itu, kebahagiaan adalah hal sederhana yang mampu kita raih tanpa perlu membelinya. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Mendapatkan kabar tentang sang Daddy yang sudah sadar. Membuat Jessica yang baru bangun segera mandi. Dia ingin cepat ke rumah sakit dan melihat kondisi Daddynya sendiri.
Pagi hari yang cerah menyambut kebahagiaan seorang wanita yang sedang hamil. Saat ini dirinya sedang berada di mobil sambil menatap keluar jendela menikmati kendaraan yang berlalu lalang.
Mendapatkan kabar tentang ayahnya yang sudah sadar. Membuat Jessica bahagia bukan main. Dia bahkan dengan rela langsung berangkat ke rumah sakit setelah memberikan kabar pada sang suami jika ia akan menyusulnya.
Tak ada yang mampu menggambarkan bagaimana bahagianya Jessica saat ini. Kesadaran sang ayah, pria yang begitu berarti untuknya membuat semangat baru dalam diri Jessica kembali naik.
Memang selama sang ayah tak sadar. Jessica menjadi malas makan dan kurang istirahat. Meski dirinya berada di rumah dan tidur di ranjang yang empuk tapi pikirannya tetap terfokus pada keadaan sang ayah.
Karena sangking terlarut akan pikirannya. Jessica tak menyadari jika mobil yang membawanya sudah sampai di pelataran rumah sakit. Segera ia turun dan menenteng kotak makan serta buah yang ia bawa khusus untuk sang suami dan ayah tercinta.
Pintu terbuka lebar dan Jessica masuk dengan senyum terkembang. Disana, Stevent duduk menyandar di ranjang dan tersenyum kepadanya. Tentu saja hal itu membuat air matanya mengalir. Dia bukan menangis karena sedih melainkan melihat ayahnya bisa sadar kembali menjadi hal begitu membahagiakan.
"Daddy," panggilnya begitu semangat.
Jessica sedikit berlari dan langsung memeluk tubuh Stevent setelah meletakkan barang bawaannya di meja. Ayah dan anak itu saling melepaskan kecemasan dan kerinduan yang mendalam. Tanpa sadar Stevent menangis karena ia begitu bersyukur bisa memenuhi janjinya untuk kembali ke sisi sang putri.
"Terima kasih, Dad. Terima kasih sudah mau kembali untukku," ucapnya sambil menangis dan memeluk erat sang ayah.
"Tentu saja, Putriku. Daddy akan kembali untukmu dan untuk calon cucuku."
Jessica melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata Stevent dan duduk di dekatnya. Semua interaksi mereka tak luput dari penglihatan Rey sejak tadi. Sungguh dia bersyukur mengetahui mertuanya sudah sadar. Hal utama yang selalu menjadi pikirannya sejak kemarin karena kondisi Stevent.
Dia takut, takut jika terjadi sesuatu pada sang mertua. Dia pasti menjadi orang pertama yang menyesal jika Stevent terjadi sesuatu. Bagaimanapun, semua yang terjadi pada mertuanya adalah untuk menyelamatkannya dirinya.
"Sekarang Daddy harus makan. Biar cepet sembuh dan kita pulang," ujar Jessica sambil membuka rantang makanan yang dia bawa.
Wanita itu juga tak lupa mengambilkan makan untuk sang suami yang sejak tadi terdiam entah apa yang dipikirkan. Jessica mendekat dan menyentuh lengan sang suami hingga membuat Rey tersentak kaget.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?"
__ADS_1
"Tidak ada, Sayang."
"Baiklah. Ayo kamu makan!" Jessica menyodorkan sepiring nasi yang sudah diberi lauk pauk olehnya.
Tak lupa dia juga menyuruh Jack dan Bima untuk ikut makan pagi. Karena memang dua pria itu juga setia menjaga Daddynya selama Stevent tak sadar.
Suasana kekeluargaan begitu terasa di sana hingga membuat siapapun yang melihat tentu saja bisa ikut merasa bahagia. Setelah semuanya selesai, Rey membantu istrinya membereskan semuanya dan menatanya kembali.
Dengan telaten Jessica juga meminumkan obat dan menyuruh Daddynya untuk istirahat. Melihat Stevent sudah tidur dengan tenang, Jessica mengajak Rey keluar dari ruangan dan menitipkannya pada Bima serta Jack.
"Mau kemana hmm?" tanya Rey melihat istrinya begitu semangat mengajaknya berjalan keluar dari rumah sakit.
"Aku ingin makan es krim, Sayang," ujarnya sambil membayangkan sedang merasakan dinginnya es krim di dalam mulutnya hingga membuat Rey yang melihatnya begitu gemas.
"Baiklah. Mari Tuan Putri, kita harus membelinya. Mungkin itu termasuk mengidam," ucap Rey dengan mata berbinar.
Jessica terkekeh. Ia tak percaya jika sang suami begitu bahagia melihatnya menginginkan sesuatu. Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan Rey menjalankan kendaraannya menuju sebuah kedai es krim yang tak jauh dari sana.
"Aku ingin semangkuk es krim coklat berukuran besar," ucap Jessica dengan mata berbinar ketika melihat beberapa macam es krim di depannya.
Ya saat ini mereka sudah sampai di kedai yang dituju dan langsung memesan apa yang diinginkan Nyonya Muda Pratama itu.
Bukankah masa kehamilan adalah masa yang tak akan terulang kembali selain ia akan mengandung lagi?
Bukankah masa kehamilan setiap anak akan berbeda?
Maka dari itu baik Rey maupun Jessica akan berusaha menghadapi kehamilannya kali ini dengan suka cita.
Tak lama, seorang pelayan mengantarkan pesanan Jessica yang disambut antusias oleh wanita itu. Namun dia mengernyit heran melihat di nampan hanya ada satu mangkuk dan membuatnya menoleh pada sang suami.
"Aku memesan satu karena takut kamu gak habis, Sayang," ucap Rey ketika tahu apa maksud tatapan sang istri.
Jessica mengangguk. Dia tak protes karena memang dia juga mengerti jika ukuran besar juga jika ia memakannya sendiri pasti tak akan habis. Tapi, namanya mengidam tak ada yang tahu keinginannya. Entah nanti habis atau tidak Rey hanya berjaga-jaga saja.
"Emmm rasanya enak, Sayang. Apa kamu mau mencoba?" Jessica mengatakan sambil memejamkan matanya saat sesendok es krim masuk ke dalam mulutnya.
"Suapin," rengek Rey manja hingga membuat Jessica terkekeh.
__ADS_1
Istri mana yang tak senang melihat suaminya manja kepadanya. Istri mana yang tak bahagia bisa merasakan kehangatan dari sikap sang suami hanya untuk dirinya seorang. Jessica begitu tahu dan paham sikap Rey di kantor berbeda dengan dia di rumah.
Rey akan berubah 180° menjadi pribadi yang diam dan tegas jika berada di dunia pekerjaan. Namun jika sudah berhubungan dengan istri dan keluarga, hanya akan ada sikap hangat dan manja yang akan ia tunjukkan pada orang terkasihnya.
Pria itu menatap bahagia sang istri yang makan dengan begitu lahap. Bahkan Jessica tak menyadari jika ia makan sudah seperti anak kecil. Belepotan hingga sampai di sekitar bibirnya membuat Rey segera meraih tisu yang ada disana.
"Pelan-pelan saja, Sayang. Aku tak akan mengambil es krim milikmu," goda Rey membuat keduanya tertawa.
"Ini sungguh nikmat, Sayang. Mungkin karena hormon kehamilan membuat rasa es krim menjadi enak 5 kali lipat."
Rey menggeleng. Dia merasa lucu akan jawaban sang istri. Tapi memang pria itu pernah membaca dalam artikel kehamilan jika memang banyak perubahan pada sikap ibu hamil yang membuatnya berbeda ketika masih belum berbadan dua dan Rey pun bisa melihatnya sekarang.
Tapi ia tak akan protes atau apapun. Dalam hatinya dia hanya berdoa akan keselamatan sang isteri sampai nanti melahirkan dan sang calon anak mereka lahir di dunia dengan selamat.
~Bersambung~
Uhuyy jadi inget suami deh kalau pas ngidam ngidam gini, hahaha.
Mau up lagi gak?
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1