
Aline lansung menepis jawaban Owen. Ia mengatakan tidak semua orang akan seperti itu. Ia menujuk diri sendiri sebagai contohnya. Mendengar perkataan Aline, Owen tak kuasa menahan tawanya.
"Jangan tertawa. Aku serius, Owen," kata Aline.
Owen masih tetap tertawa. Ia tahu jelas kalu Aline serius dan ia percaya Aline bukanlah orang yang jahat. Hanya saja Owen merasa Aline itu menggemaskan saat bercerita.
"Kalau kamu seyakin itu pada dirimu sendiri, maka jadilah Ibu unyuk Putraku." kata Owen.
Aline memejamkan mata dan asal menjawab, tapi tiba-tiba ia membuka mata dan langsung bangun. Ia duduk menatap Owen, bertanya apa yang baru saja Owen katakan?
Owen mengusap lembut wajah Aline, "Menikahlah denganku, dan jadilah Ibu bagi Maximilian." kata Owen.
Aline melebarkan mata, "Kamu sedang melamarku? ini ajakan menikah sungguhan?" tanya Aline bingung.
"Tentu saja sungguhan. Apa kamu mengira aku sedang bercanda?" kata Owen.
Alin menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak berteriak. Ia langsung memeluk Owen. Ia serasa dipermainkan, tapi ia senang.
"Kapan aku mempermainkammu? tadi aku diam karena kaget. Aku tidak sangka kamu ingin menikah denganku yang seorang Duda." kata Owen.
Aline memukul bahu Owen pelan. Lagi-lagi Aline salah paham dengan pemikirannya sendiri karena terlalu menerka-nerka. Ia merasa malu, dan serasa ingin masuk ke dalam lubang tikus. Owen mengusap-usap punggung Aline. Ia meminta maaf, kalau jawabanny terlambat. Owen mengatakan, hari itu adalah hari yang tak terduga baginya.
***
Keesokan harinya ....
Aline menunggu Maximilian bangun. Begitu tahu Aline ada di hadapannya, Maximilian pun tersenyum senang. Aline memeriksa suhu tubuh Maximilian. Ternyata Suhu tubuh Maximilian sudah turun.
"Bibi kapan datang?" tanya Maximilian.
"Umh, selamam Bibi ketiduran saat menunggumu. Bibi tidak jadi pulang." jawab Aline beralasan.
Aline tidak mungkin berkata kalau semalaman ia tidur dalam pelukan Owen di sofa ruang kerja.
"Hari ini Bibi akan pergi?" tanya Maximilian.
__ADS_1
"Ya, Bibi akan pergi kerja. Bibi kan sekarang adalah Sekretaris Papa Max." jawab Aline.
Maximilian tampak senang. Ia pun meminta pada Aline untuk bisa pergi ke kantor. Aline menjawab, kalau Maximilian harus bicara pada Papanya kalau ingin ikut.
Aline menggendo Maximilian. Mereka keluar dari kamar Maximilian dan pergi ke kamar Owen. Sesampainya di depan pintu, Aline mengetuk pintu dan membuka pintu. Aline mengintip, lalu masuk ke dalam kamar. Baru saja Aline menutup pintu, ia dikejutkan oleh suara Owen.
"Ada apa kalian datang ke kamar?" tanya Owen.
Aline berbalik dan terkejut karen Owen hanya bertelanjang dada. Bahkan Owen hanya melingkarkan handuk untuk menutupi pinggang.
"Aaa ... ke-kenapa tidak pakai pakaian?" kata Aline.
"Apa maksudmu? aku kan baru mandi, dan baru mau ganti pakaian. Bukan sengaja tidak pakai Pakaian." jawab Owen.
"Kalau begitu gantilah dulu, aku dan Maximilian akam menunggu di luar." kata Aline.
"Kenapa keluar? Tunggu saja di luar, aku akan ganti di kamar mandi." kata Owen.
Aline dan Maximilian duduk di sofa. Owen mengambil celana dan kemeja, lalu berjalan pergi menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Takut apa? Papa tidak akan marah hanya karena kamu ingin ikut," kata Aline.
"Tetap saja aku takut, Bibi." gumam Maximilian.
Tidak beberapa lama Owen keluar sambil mengancing kemejanya. Ia mendekati lemari hendak mengambil dasi.
"Jadi, apa ada yang ingin kalian berdua katakan?" tanya Owen.
Aline mengusap kepala Maximilian. Ia lantas berjalan mendekati Owen yang sibuk menatap dasi di laci. Aline pun memilihkan dasi untuk Owen, dan mengenakan dasi itu.
"Apa Maximilian boleh ikut ke kantor?" tanya Aline, memasang dasi di leher Owen.
"Apa dia memintamu bicara padaku?" tanya Owen menatap Aline.
Owen dan Aline bicara dengan nada suara pelan agar tidak didengar Maximilian. Selesai memasangkan dasi, Aline membantu Owen mengenakan jas.
__ADS_1
Aline merapikan jas Owen, mengusapnya lembut. Aline mengatakan kalau tidak ada lagi pria tampan yang melebihi Owen. Mendengar pujian Aline, Owen hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku mau mengurus Maximilian. Kamu pergilah sarapan dulu," Kata Aline.
Aline langsung pergi, memanggil Maximilian dan menggandeng tangannya pergi meninggalkan kamar Owen. Aline mengatakan pada Maximilian kalau ia diizinkan dan harus segera bersiap-siap. Maximilian menganggukkan kepala sambil tersenyum.
***
Setelah bersiap-siap, Maximilian dan Aline bergabung di meja makan. Mareka lantas sarapan bersama-sama. Owen bertanya pada Aline, bagaimana keadaan Maximilian? Aline menjawab, kalau Maximilian sudah sehat. Hanya perlu mengatur pol makan dan istirahat untuk kedepannya.
"Max ... bagaimana perasaanmu?" tanya Owen.
"Aku senang sekali, Pa. Semalam aku memimpikan Bibi Aline, tadi pagi saat bangun aku melihat Bibi duduk di sampingku menungguku. Dan sekarang aku makan bersama Bibi Aline juga. Aku sangat senang ... " ucap Maximilian tersenyum lebar.
Owen senang, sekarang putranya sudah mulai banyak bicara, juga pandai mengutarakan perasaan. Sebelumnya ia harus bekerja keras untuk tahu kemauan putranya yang tidak ia mengerti.
Aline mendapat panggilan dari Aiden, Papanya. Ia meminta izin menerima panggilan lebih dulu, dan langsung pergi membawa ponselnya ke arah halaman belakang lewat dapur.
Melihat Aline pergi, Owen lekas memanggi Maximilian dan berbisik seuatu. Owen bertanya, bagaimana kalau Max punya Mama seperti Aline? mau atau tidak? Maximilian kaget, matanya langsung berbinar dan menganggukkan kepala dengan cepat.
"Papa dan Bibi Aline akan menikah?" tanya Maximilian.
"Belum untuk saat ini, tapi pasti untuk kedepannya. Yang terpenting Max mau, kan? kalau Max menolak Papa tidak akan menikah," kata Owen.
"Bibi itu sangat baik dan sangat cantik. Papa tahu, kalau aku bertemu Yurika dan Yeriko di sekolah, mereka akan selalu memuji Bibi Aline. Aku iri mereka bisa dekat dan bisa kapan saja bertemu Bibi. Sedangkan aku tidak." ucap Maximilian bercerita.
"Baiklah. Ini rahasia kita, ya. Nanti Papa akan meminta Bibi Aline bicara pada Max soal ini. Sepertinya semalam Bibi Aline sedikit khawatir dan ragu, takut kalau Max tidak menerima Bibi Aline sebagai Mama." kata Owen.
"Ya, Pa. Aku akan diam dan menjaga rahasia." kata Maximilian langsung mengatupkan bibir atas dan bawahnya setelah bicara.
Owen tersenyum mengusap kepala Maximilian. Rasa khawatirnya pun sirna, ia juga sedikit khawatir. Meski suka belum tentu mau menerima. Jadi, ia ragu apakah putranya mau memiliki Mama baru atau tidak.
Maximilian lanjut makan. Wajahnya tampak berseri-seri. Ia sangat senang saat tahu Aline akan menjadi Mamanya.
"Akhirnya aku punya Mama. Aku tidak akan dikatai sebagai "Anak Papa" terus. Karena sebentar lagi aku juga "Anak Mama". Asik ... Bibi Aline akan menjadi Mamaku." batin Maximilian.
__ADS_1