Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Saling Memaafkan


__ADS_3


Bukankah ujian pertama dalam pernikahan yaitu pribadi setiap pasangan masing-masing dan orang ketiga. Maka dari masalah kemarin, mengajarkan padaku untuk saling percaya, terbuka dan memahami satu dengan yang lain. ~Reynaldi Johan Pratama & Jessica Alexzandra Caroline~


****


Suara deheman seorang menyadarkan mereka dari pelukan yang begitu nyaman. Keduanya saling melepaskan dan canggung ketika melihat dua pria menatapnya dengan tajam dan satu orang pria yang menatapnya nanar. 


Jessica berjalan ke arah Mario yang menunduk kembali setelah ikut terkejut dengan deheman Bima dan Jack. Bisa dia rasakan jika saat ini Mario sedang dalam keadaan terpuruk. Dia memilih duduk disampingnya dan mengusap bahu pria itu hingga membuat keduanya saling bertatapan. 


"Aku ikut berduka dengan kabar Papa Sanoci, Kak. Aku doakan semoga Papa cepat sembuh." Doanya tulus hingga membuat beribu jarum seperti tertancap di ulu jantungnya. 


Terbuat dari apa hati sahabat adiknya ini?


Kenapa Jessica masih begitu baik setelah semua yang Marlena lakukan padanya. Tanpa Mario sadari, matanya berkaca-kaca menatap Jessica yang ternyata sedang menatapnya balik.


"Kakak minta maaf atas perbuatan Marlena kepadamu, Jess," ucapnya penuh rasa bersalah.


Jessica tersenyum. "Aku sudah memaafkannya, Kak. Bagaimanapun dia adalah sahabatku. Kita pernah tumbuh dan bermain bersama. Jadi apapun kesalahan diantara kita pasti ada suatu alasan yang membuatnya harus melakukan itu. 


Ketika mendengar sang istri mengatakan 'melakukan itu' pikiran Rey kembali ke malam kejadian dirinya ditahan oleh Marlena. Kenangan kissmark di dadanya, lalu tidur satu ranjang dengan wanita gila itu tanpa berpakaian. Hanya dirinya saja yang memakai kolor ketika bangun dari tidurnya.


Mengingat itu sungguh membuat Rey menelan salivanya. Dia menatap wajah sang istri yang mulai menghibur kakak dari sahabatnya itu. Apa yang akan dirinya lakukan?


Apakah dia harus jujur pada Jessica?


Apakah dia harus mengatakan jika dirinya telah tidur bersama dengan Marlena?


Mendadak kepalanya terasa pusing hingga dirinya mengaduh dan membuat Jessica yang awalnya tak menatap sang suami segera menghampiri.


"Ada apa, Sayang?" 


"Kepalaku sakit," ujarnya memegangi kepalanya.


Jessica membantu sang suami untuk duduk di sofa bersama Mario. Dengan telaten wanita berbadan dua itu memijat kepala Rey lembut dan membuat semua orang yang menatapnya iri. 


Ahh tolong ingatlah! 


Disana ada sepasang manusia adam, Jack dan Mario yang sama-sama jomblo.


Keduanya menyukai gadis yang sama namun sayang, hanya Rey lah pemiliknya.


Lalu Bima? Karena kesibukannya di kantor dan mengurusi Rey, membuat pertemuannya dengan Amanda bisa dihitung dengan jari.

__ADS_1


"Apakah masih sakit?" 


Rey menggeleng pelan. Sungguh pijatan sang istri mampu membuat pikirannya tenang. Dia bahkan merasa takut dan begitu bersalah jika benar dirinya melalui malam panjang bersama wanita gila itu.


Tapi Rey tak mau berbohong lagi. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Jessica dengan lembut. Lalu bergantian dia menatap ke semua orang yang ada disana.


Hanya kurang Mama Ria dan Nenek Maria saja. Karena memang umur yang mulai menua dan membuat mereka mudah lelah.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Sayang," ucapnya sambil menghembuskan nafas berat.


Sungguh, mengatakan semua ini butuh perjuangan dan tekad kuat untuk menghadapi apa yang akan selanjutnya terjadi.


Apakah istrinya akan meninggalkannya?


Apakah Jessica akan meminta cerai dan pergi jauh membawa calon buah hatinya?


Tapi yang perlu Rey ingat, dia tak mau berbohong lagi. Sudah cukup karena kejadian kemarin, dia hampir berpisah begitu lama dengan sang istri.


"Soal apa, Sayang?" 


"Sebenarnya saat malam pertama aku disekap oleh Marlena. Pagi harinya aku mendapati bahwa aku sedang…."


"Rey," panggil Mario tiba-tiba hingga membuat semua perhatian mengarah ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Rey bingung.


"Apakah kau ingin mengatakan tentang bagaimana pagi harinya kau bisa tidur berdua dengan Marlena di atas ranjang dan kissmark itu?" 


Perkataan Mario barusan tentu saja membuat jantung Jessica seperti ditarik kuat. Dia merasa sesak nafas dan sakit hati. Mata indahnya menatap wajah sang suami yang saat ini menatapnya juga.


Tanpa bisa Jessica hindari, air mata mulai menggenangi kedua matanya dan itu membuat Rey merasa bersalah kembali. Kenapa dia selalu membuat istrinya menangis? Bukankah dia sudah berjanji untuk selalu membuat Jessica bahagia. 


"Apa maksud semua ini?" tanyanya setelah mengatur nafas dan emosinya.


Jessica menatap sang suami dengan pandangan terluka. Dia beranjak berdiri dan menatap marah pada keduanya.


"Apa benar yang dikatakan kamu, Rey? Kamu udah tidur sama Marlena?" 


Rey tak menjawab. Dia hanya menunduk tak berani menatap sang istri. Bukan karena ia takut. Melainkan dirinya benar-benar tak mengingat apapun saat itu. Dia saja baru tersadar pagi harinya. 


Melihat sang suami hanya dia membuat Jessica mengepalkan tangannya. Dia sudah tak tahan akan semaunya. Ditambah mungkin karena efek hormon kehamilannya membuat Jessi tak bisa menahan segala emosi yang membludak.


Saat perempuan itu hendak meninggalkan ruangan Daddy Stev. Perkataan Mario membuat Jessica mematung.

__ADS_1


"Semua yang kau pikirkan itu salah, Jess. Yang terjadi pagi itu adalah rencanaku."


Spontan Rey menoleh dan menatap nyalang pria itu. Ditariknya kerah baju Mario hingga kedua wajah mereka bersitatap. 


"Apa maksudmu?" 


Melihat situasi yang tak memungkinkan. Bima membantu Rey menjauh dari Mario dan menenangkannya. Apapun itu, tak seharusnya mereka adu mulut di ruangan tempat Stevent dirawat. Namun, mungkin karena efek obat dan operasi, suara Jessica, Rey dan Mario tak mengganggu tidur pria paruh baya itu. 


Perlahan Mario menjelaskan semuanya dari awal. Dia juga bercerita tentang Marlena yang meminum alkohol untuk memperkuat dirinya sebelum meniduri Rey yang belum sadarkan diri. 


Pria itu juga mengatakan jika dia meletakkan pil tidur dan menaruh Marlena di ranjang yang sama agar obsesinya untuk tidur dengan Rey tak semakin tinggi.


"Jadi diantara kalian berdua malam itu tak terjadi apapun. Aku meninggalkan kolor saja agar semuanya seperti benar-benar terjadi. Lalu kissmark itu, sebenarnya itu dibuat oleh anak buah perempuan." Mario meringis ketika mengatakan kalimat terakhir. 


"Maafkan rencanaku yang membuat kissmark itu, Jess," ucapnya menyesal. 


Rey yang mendengar penjelasan Mario tentu saja bahagia. Dia merasa lega karena tak menodai pernikahannya. Namun mungkin tentang kissmark di dadanya sedikit membuatnya tak terima ketika tubuhnya harus dipegang oleh wanita lain.


Jessica perlahan berbalik. Air matanya sudah beruraian membasahi wajahnya. Tak ada lagi tujuannya sekarang selain berlari ke pelukan sang suami. Penjelasan dari Mario sudah cukup membuat hatinya lega. Tak peduli kissmark lagi karena itu hanya rencana yang terpenting Rey tak menodai ikatan suci mereka.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," ucap Rey ketika memeluk tubuh sang istri erat mengabaikan tatapan iri para jomblo yang ada disana.


~Bersambung~


Yey akhirnya akur lagi deh. Uhuyy


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)

__ADS_1



__ADS_2