
Semoga dibalik perpisahan ini, akan ada pertemuan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk kita berdua. ~Jessica Caroline~
****
Bisa Rey ingat, bagaimana Jessi menangis dan meronta saat diangkat seperti karung beras oleh Asisten Ayahnya. Sungguh Rey merasa menjadi lelaki yang gagal kali ini.
Namun, apakah dia harus menyerah? Apa dia harus mengalah kembali? Sungguh perasaannya memang benar adanya untuk Jessi. Dia mencintai wanita itu. Wanita yang bertingkah angkuh, judes, dan kocak jika sudah kenal, membuat hati Rey terpaut benar oleh seorang Jessi.
Rey terduduk di lantai teras sejak kepergian Jessi dari rumahnya. Dia meratapi nasibnya lagi saat ini. Namun elusan lembut di bahunya, membuat Rey yang tertunduk akhirnya mendongak.
Disana, sang Mama sedang tersenyum namun dengan bekas air mata yang begitu terlihat. Wanita paruh baya itu berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Mama Ria dengan lembut.
"Ya, Ma. Aku sungguh mencintai Jessi." Mama Ria bisa melihat kesungguhan sang putra disetiap ucapannya.
"Jadi, kejar lah dia, Nak. Raih cintamu dan menang kan hati Tuan Stevent agar memberikan restunya kepada kalian," ucanya dengan tersenyum.
"Apa Mama merestui kami?" tanya Rey yang tak percaya dengan ucapan sang Mama.
"Mama begitu menyayangi Jessi, Nak. Restu Mama juga sudah kalian dapatkan saat Mama melihat kamu bisa jatuh cinta kembali."
Spontan Rey memeluk tubuh sang Mama dengan erat. Dia bersyukur, saat ini Mamanya menjadi pensupport terbaik dirinya. Dia juga memiliki semangat untuk mengejar Jessinya itu.
Dia tak akan lagi menyerah, Rey juga tak akan takut. Dia akan berusaha, dia aku meyakinkan hati ayah dari kekasihnya itu agar keduanya bisa mendapatkan restu seperti ucapan sang Mama.
Rey mulai beranjak berdiri dengan dibantu sang Mama. Dia akan mengejar kemanapun Jessi berada. Tak akan ada lagi kata melepaskan dalam cintanya. Gadis itu adalah kebahagiaannya dan dia harus menjaga kebahagiaan itu agar bisa melangkah ke depan bersamanya.
"Aku akan menghubungi Rudi, Ma. Menyuruhnya mencari keberadaan Jessi dan Papanya."
Mama Ria mengangguk, "cepatlah, Nak. Sebelum dia pergi semakin jauh."
"Iya, Ma." Rey menyempatkan mencium pipi dan tangan sang Mama. Lalu dia segera berlari menuju kamarnya untuk menghubungi asisten serba bisanya.
Selepas kepergian putranya, Mama Ria berjalan dengan gontai menuju ruang tamu. Sungguh, sakit hati yang putranya rasakan menjalar ke hatinya.
Ibu mana yang tak sakit mendengar hinaan dari orang lain kepada putranya. Ibu mana yang rela, putra yang dia sayang menjadi sedih karena cintanya terhalang restu. Ditambah, masa lalu putranya karena campur tangan dirinya, membuat Mama Ria semakin merasa menyesal dna bersalah.
__ADS_1
Saat ini, dia hanya bisa berusaha dan mendoakan untuk kebahagiaan anaknya. Mama Ria juga akan mencari cara agar bisa membantu sang putra untuk bisa bertemu dengan Jessi dan Ayahnya.
"Maafkan Mama, Nak. Karena Mama kamu jadi seperti ini." Batin Mama Ria dengan memejamkan matanya sambil bersandar di kursi sofa.
****
Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil. Jessi sama sekali tak mengeluarkan suara. Gadis itu hanya menatap jalanan melalui jendela dengan air mata yang masih mengalir.
Sungguh dia tak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Disatu sisi, dia tak bisa meninggalkan Rey, kekasihnya. Namun disisi lain, dia hanya memiliki Daddy didunia ini. Bagaimanapun dia harus berbakti dan menuruti semua ucapan lelaki yang berada disampingnya ini.
Jessi menghapus air matanya yang terus mengalir. Dia berusaha tenang dan percaya, jika yang namanya jodoh. Sejauh apapun mereka dipisahkan, pasti akan bersatu kembali.
"Ya Allah, semoga apa yang sudah kau takdirkan, dipermudah." Gumamnya dalam hati.
Jessi sama sekali tak mau menatap Stevent sekalipun. Hingga membuat pria yang memiliki 1 anak itu merasa sedih.
Namun sebagai seorang ayah tunggal, pasti dia memiliki rencana dan keinginan sang putri semata wayangnya bahagia dan hidup berkecukupan.
"Maafkan, Daddy."
Jessi hanya diam. Dia memang mendengarkan apa perkataan ayahnya itu, tetapi untuk saat ini. Dia sungguh tak ingin berbicara satu kata pun. Kekecewaan yang bercokol di hatinya serta dipaksa menjauh dadi Rey. Mampu membuat Jessi yang biasanya ceria hanya berdiam diri.
Memejamkan matanya, sekali lagi gadis itu menangisi takdirnya yang entah akan kemana. Tanpa banyak kata, Jessi mengikuti ayah dan bodyguardnya keluar dari mobil.
"Ayo, Nak. Masuk!" ucap Stevent mencoba tetap tenang.
Jessi hanya diam tak menjawab. Gadis itu menuruti semua perkataan ayahnya ini. Berjalan bersama, dirinya menghitung langkah tiap langkah yang akan membawanya ke sebuah pesawat besar milik Alexzandra.
Satu hal yang kembali dia lihat adalah, kemewahan pesawat pribadi milik keluarganya. Gadis itu segera masuk ke dalam tanpa membalas perkataan pramugari yang menyambutnya.
Jessi memilih duduk di pinggir jendela dengan pemandangan Bandara Jakarta di depannya.
"Jika kita berjodoh, kita akan bertemu kembali, Sayang." Hatinya sedih dengan air mata yang masih mengalir.
****
Rey begitu kalang kabut. Dirinya baru saja mendapat kabar dari Bima, jika lokasi Jessi terakhir yang bisa dilacak berada di Bandara Soekarno Hatta. Dia segera mengendarai mobilnya dengan cepat menuju Bandara.
Tak lupa, Rey juga menghubungi semua anak buahnya untuk datang ke Bandara mencari keberadaan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ku mohon Tuhan. Jangan kau jauhkan kami dengan takdirmu." Doanya dalam hati.
Rey menambah laju mobilnya tanpa memikirkan keselamatan dirinya lagi. Yang pasti, dia harus cepat sampai ke Bandara dan menghentikan kepergian Jessi kali ini.
Memarkirkan mobilnya sembarangan. Rey segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam Bandara dengan tergesa. Disana, dia langsung berhadapan dengan Bima dan anak buahnya yang lain.
"Kemana Jessi, Bim?" tanya Rey dengan kepala celingukan.
"Bima!" sentak Rey dengan nafas menderu.
Dia menatap satu persatu anak buahnya dan berakhir ke arah Rey yang menunduk. Tanpa babibu lagi, Rey menarik kerah baju Bima sambil melotot tajam.
"Kemana dia?" tanya Rey dengan menaikkan suaranya.
Tak peduli lagi banyak pasang mata yang menatap mereka. Saat ini yang hanya ada di pikirannya, dimana kekasihnya itu berada.
"Nona Jessi sudah berada di pesawat pribadi dan akan segera take off."
"Apa!!" Rey melepaskan kerah baju Bima dengan tubuh terhuyung ke belakang. Sungguh kabar dari Bima mengguncang hatinya dan dia tak terima.
Menggelengkan kepalanya. Rey menguatkan dirinya untuk melangkahkan kaki dan mengejar keberadaan kekasih hatinya.
Berlari seperti orang kesetanan. Dia menuju sebuah pintu masuk untuk para penumpang. Disana, sudah ada petugas yang mencegatnya hingga membuat Rey tak bisa masuk.
"Pak tolong. Izinkan saya masuk ke dalam. Pacar saya dibawa pergi, Pak." Mohon Rey dengan mata memerah dan penampilan acak-acakkan.
Kedua petugas itu mengenali siapa pria di depannya ini. Akan tetapi, keduanya tetap harus menjalankan prosedur seperti ketentuan. Tak lama, Bima datang dan membantu Rey hingga lelaki itu bisa berlari dan memasuki area lepas landas.
Matanya bergerak ke sana kemari hingga matanya menangkap sebuah pesawat terbang yang sudah berjalan hendak take off, dengan nama Alexzandra di badannya. Segera pria itu berlari tergesa sambil berteriak memanggil nama Jessi berulang kali.
"Jessica!" teriaknya sampai terduduk menatap pesawat yang membawa kekasihnya mulai terbang menjauh.
~Bersambung~
Mereka berpisah, huhu. Aku nangis lihat mereka harus berjauhan.
Kalau ada typo bilang yah, aku bakalan segera revisi geng. Jangan lupa di like yah. Biar bisa naikkan level karya novel ini.
Terima kasih.
__ADS_1