Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Keputusan Besar


__ADS_3


Tugas istri adalah menangkan ketika suaminya gelisah dan marah. Begitupun denganku, aku harus bisa menjadi air ketika kamu menjadi api. ~Jessica Alexzandra Caroline~


****


Setelah tubuh sang Mama hilang di balik pintu. Rey menghempaskan tubuhnya di sofa yang sejak tadi ia duduki. Pikirannya kembali keruh dan terngiang-ngiang permintaan sang Mama.


Bukannya dirinya tak ingin bersikap profesional. Tetapi, masalahnya saat ini adalah hubungannya dengan sang istri yang dipertaruhkan. Jika ia terus-terusan dekat dengan wanita gila maka dirinya takut dia akan semakin menjadi.


Sungguh rasanya kepalanya saat ini ingin meledak. Apalagi ketika melihat ke arah meja kerjanya, seketika semangatnya turun drastis. Dia sudah tak mau melanjutkan pekerjaannya. Saat ini ia hanya butuh sang istri. Butuh pelukannya dan ketenangan.


Tanpa kata, Rey berjalan meninggalkan ruangannya dan menuju ruangan sang istri yang beda beberapa lantai dengan lantai ruangannya. 


****


Kedatangan Rey yang tiba-tiba membuat Amanda yang sedang bekerja spontan berdiri. Dia membungkukkan badannya sedikit memberikan hormat kepada suami sekaligus bos tempatnya bekerja. 


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" 


"Apakah istriku ada di dalam?" tanya Rey tanpa basa-basi. 


"Iya, Tuan. Nona ada di dalam," sahut Amanda menjawab.


"Terima kasih." Setelah itu Rey segera membawa langkah kakinya memasuki ruangan sang istri. 


Dirinya mengedarkan pandangan mencari tubuh yang begitu menenangkan itu tapi tak ada. Ruangan ini kosong dan sepi. Yak lama, suara pintu terbuka membuat Rey mengalihkan pandangannya.


"Hy, Sayang. Sedang apa?" sapa Jessica yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku ingin menemuimu," ucap Rey dan menarik tangan sang istri untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. "Kamu habis ngapain?" 


"Aku habis buang air kecil. Gak tau kenapa sejak tadi aku pipisan," ujar Jessica dengan cemberut.


Apa yang dikatakannya memang benar. Sungguh karena kantung kemihnya berulah, dia harus meninggalkan pekerjaannya untuk bolak balik ke kamar mandi. Sampai-sampai ****** ******** pun basah karena dirinya terlalu sering kencing.


"Tapi gak ada yang sakit, 'kan?" Jessica spontan menggeleng. 


Dia menatap wajah sang suami dan bergantian dengan jam yang ada di ruangannya ini. Keningnya berkerut ketika melihat jika ini masih jam kerja. Lalu kenapa suaminya ini berada disini? Apalagi dasi yang Rey pakai sudah longgar dan terlihat sekali wajahnya yang begitu kusut.


Jessica mengulurkan tangan kanannya dan dibelainya pipi serta rahang tegas suaminya ini. "Ada apa kamu, Sayang? Kenapa kamu terlihat tertekan?" 


Rey menghela nafas berat. Dia memilih meletakkan kepalanya dalam pangkuan sang istri tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Dia merasakan belaian di kepalanya begitu tenang dan nyaman hingga membuat pikirannya yang sejak tadi berat sedikit terobati. 


Jessica tak bertanya lagi. Dia tahu posisinya ini dan hanya menunggu sang suami bercerita sendiri kepadanya. Ia tahu pasti akan ada beberapa hal yang disembunyikan seseorang karena belum siap untuk membicarakannya. Maka dari itu yang bisa ia lakukan saat ini hanya menenangkan dengan memberikan belain serta ciuman di wajah Rey yang mulai terlelap.

__ADS_1


Saat Jessi sedang asyik membelai kepala sang suami. Suara ketukan pintu membuatnya sedikit berteriak. 


"Oh Maaf, Nona. Saya…." 


"Tidak apa-apa, Manda. Ada apa?" potong Jessi cepat.


Sungguh Amanda begitu antusias melihat pasangan suami istri di depannya. Dia tak menyangka bos yang terkenal kaku itu bersikap manja seperti ini. 


Melihat itu semua tentu saja mengingatkannya pada sang kekasih. Dia membayangkan bagaimana jika dirinya dan Bima yang melakukan adegan seperti itu. Hingga tanpa sadar membuat Amanda tertawa kecil. 


"Ada apa, Manda?" pertanyaan Jessi membuat Amanda terkejut. Buru-buru dia menggelengkan kepala dan memberikan berkas yang menjadi tujuannya masuk kesini.


"Saya mengantarkan ini, Nona." 


"Baiklah. Makasih yah," ucap Jessi dengan senyuman.


Lalu segera Amanda menjawab dan meninggalkan ruangan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. 


Setelah Amanda pergi, tak beberapa lama mata Rey mengerjap dan dia mulai bangun dari pangkuan sang suami.


"Kenapa bangun?" tanya Jessi sambil merapikan rambut sang suami memakai jari tangannya.


"Aku sudah baikan, istriku. Terima kasih banyak. Kamu selalu menjadi tempat yang paling tenang dan nyaman buat aku," ujar Rey dengan menatap mata sang istri penuh cinta.


Jessi yang mendengar tersenyum. Dia begitu bersyukur bisa menjadi tempat ternyaman suaminya ini. Karena bagaimanapun tugas istri juga tentang itu, 'kan? Harus menjadi air disaat sang suami terbakar. Harus menjadi sebuah pelukan ketika sang suami berontak. Dua pasangan yang saling bersatu itu harus bisa menjadi lawannya untuk saling melengkapi, itulah pikiran Jessi. 


Rey mendekat dia menghadiahi sebuah kecupan di kening, dua pipi, dua mata dan berakhir di bibir. Mereka sama-sama menyalurkan cinta dan sayang semakin besar hingga rasa takut dipisahkan semakin besar.


Setelah melepaskan ciumannya. Rey tam menjauh wajah mereka. Ia diam melihat sang istri yang sedang menatapnya balik. Rey mengambil tangan sang istri dan memegangnya kuat lalu menghembuskan nafas berat.


"Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu, Sayang?" 


"Tentu saja," sahut Jessi dengan tersenyum.


"Jika suatu hari nanti terjadi hal yang tidak kita inginkan. Ku mohon percayalah padaku, pada suamimu ini. Apakah bisa?" 


Jessi terdiam. Apa yang sedang ada dipikiran sang suami. Namun apapun itu Jessica tetap menjawab dengan anggukan.


"Aku akan selalu percaya padamu. Karena kamu adalah suamiku, Sayang."


"Terima kasih. Terima kasih banyak." Rey memeluk sang istri dengan erat. Hatinya mulai tenang dan lega mendengar jawaban Jessica sekarang. 


Jika sudah begini ia yakin Jessi tak akan terpengaruh. Gadis itu memang pikirannya tak ada yang bisa menebak sekaligus Rey sendiri. Tapi pria itu berdoa semoga istrinya ini memang selalu percaya kepadanya.


****

__ADS_1


"Bim," panggil Rey setelah dirinya berada di depan ruangannya.


Dia baru saja kembali dari ruangan sang istri dan sudah memikirkan semuanya. Pilihannya dan keputusannya sudah bulat. Baiklah ia akan menuruti ucapan sang mama untuk menjadi pemimpin yang profesional.


"Siapkan berkas kerjasama dengan Perusahaan Sanoci sekarang! Lalu telpon sekretarisnya untuk pertemuan kita besok!" titahnya tanpa ragu. 


Bima terdiam. Apakah Tuannya ini benar melakukan semua ini? Apa yang sudah terjadi hingga membuat orang yang selalu ia bantu ini berubah begitu cepat? 


"Kenapa diam, Bim? Kau tak mengerti?" tanya Rey saat melihat sahabatnya itu hanya diam.


"Anda serius, Tuan?" tanya Bima dengan bahasa formal.


"Ya. Tapi aku juga ada pekerjaan untukmu." 


Bima mengangguk. Rey kemudian mendekat dan berbisik lirih membicarakan tentang semua rencana yang sudah diatur. Bima segera mengangguk setelah semua yang dikatakan oleh bosnya itu sudah ia mengerti. 


"Baik, Tuan. Saya mengerti."


"Segera hubungi mereka dan lakukan begitu cepat Bim!" 


Setelah bosnya masuk, Bima segera menghubungi sekretaris dari pihak Sanoci dan menjelaskan apa yang menjadi tujuannya. Dia harus melakukan ini dengan cepat dan segera menutup telepon setelah lawan bicaranya mengerti dan menyetujuinya.


Meletakkan gagang telepon. Hima meraih ponsel yang sejak tadi dia letakkan dan segera menekan sebuah nomor yang sudah lama tak dihubungi.


"Aku ada pekerjaan bagus untukmu. Lakukan semuanya dengan cepat!" 


~Bersambung~


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)

__ADS_1



__ADS_2