Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Bolehkah Aku Bekerja?


__ADS_3


Tahun pertama sampai tahun kelima. Biasanya sebuah pernikahan akan diuji dengan sifat kedua belah pihak yang saling berlawanan. Tapi hal itu, membuatku belajar untuk saling terbuka dan jujur pada suamiku untuk menjalin hubungan dan ikatan batin yang baik. ~Jessica~


****


Hari-hari yang dilewati Rey dan Jessi setelah menikah merasa begitu bahagia. Selama satu bulan penuh, CEO dari Perusahaan Pratama itu benar-benar membawa sang istri berbulan madu keliling negara. Tujuan keduanya bukan untuk memikirkan segera mendapatkan keturunan, melainkan mereka ingin lebih menguatkan ikatan batin keduanya dan merasakan masa-masa berdua sebelum kesibukan kembali menghampiri mereka.


Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya Jessica. Dia begitu senang ketika Rey membawanya berkeliling negara tanpa membawa pekerjaan apapun selama mereka bulan madu.


Selain itu, Jessica juga merasa bahagia karena nenek, Mari. Sudah setuju untuk tinggal di Indonesia bersamanya. Ah lengkap sudah kebahagiaan mereka.


Tetapi ada satu hal yang selalu Jessica pahami. Awal pernikahan adalah ujian dua pasangan yang saling berbeda pendapat. Akan ada masanya mereka diuji dan baik Rey serta Jessi harus siap akan hal itu. 


Ujian pernikahan ini banyak macamnya. Bukan hanya dari dari orang ketiga. Melainkan, dari kesalahpahaman, komunikasi dan kejujuran itu adalah kunci agar hubungan mereka tetap akur.


Maka dari itu, Jessica dan Rey Selama satu bulan itu mulai menguatkan ikatan batin, belajar untuk berkomunikasi yang baik dan jujur pada pasangan apa yang selalu dia rasakan. 


Rey tak pernah mengeluh mendengar keluh kesah sang istri. Dia merasa bahagia karena Jessica sudah sangat terbuka dengannya. Menceritakan bagaimana kematian sang Mama. Serta mimpi buruk dan pil obat tidur yang selalu digunakan. 


Tentu saja Rey merasa kaget mendengar sang istri mengalami hal itu. Tapi, dirinya menyadari selama mereka menikah penyakit mimpi buruk Jessica tak pernah kambuh. Bahkan gadis itu bisa tertidur dengan nyaman hanya dalam pelukannya. Hal itu membuat Rey berusaha dan yakin jika sang istri akan selalu merasa baik-baik saja jika ada di dekatnya.


Hari ini, Rey akan kembali menjalani kegiatan utamanya yaitu bekerja. Sudah 2 hari dia pulang ke Indonesia dan dia memutuskan hari ini akan kembali masuk ke Perusahaan. Jujur dalam hatinya dia merasa tak enak hati dengan Bima. Tapi, melihat pria itu yang mengatakan kata 'baik-baik saja' membuat Rey bangga memiliki Bima di Perusahaannya.


"Jas dan bajunya udah aku siapin di ranjang ya, Sayang. Aku mau turun siapin sarapan," ujar Jessica setelah mengetuk pintu kamar mandi. 


Kegiatan mengambil dan menyiapkan pakaian kerja sang suami sudah menjadi rutinitas Jessi yang selalu dia lakukan. Sejujurnya Rey tak pernah memaksa sang istri untuk melakukan ini semua. Tapi tetap saja istrinya itu memaksa. Dia selalu bilang ingin belajar menjadi istri yang baik untuk Rey sebelum hadirnya buah cinta mereka.


Menuruni tangga, Jessica bersenandung dengan pelan. Dia akan menanyakan hal yang beberapa bulan lalu diajukan pada sang suami. Semoga saja Rey tak berubah pikiran batinnya.


Waktu memang masih menunjukkan pukul 6 pagi. Jessi dengan cekatan menyiapkan nasi goreng spesial untuk sang suami. Menu ini adalah menu favorit yang selalu Rey sukai dari ciptaan tangan sang istri. Bau harum mulai menyebar ke seluruh ruangan dan membuat siapapun yang mencium akan merasa kelaparan. 


Tak disadari, kedatangan sang suami yang masuk ke dalam dapur kotor membuat Jessica tetap melanjutkan acara memasaknya. Saat ini dia sedang mengupas buah apel dan alpukat untuk menjadi santapan manis setelah makanan berat.


"Astagfirullah," pekit Jessi terjingkat kaget.


Dia begitu terkejut merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya hingga membuatnya sedikit tersentak.


"Ngagetin aja sih, Rey." Jessi memukul lengan sang suami dengan pelan.


"Aduhh." Rey pura-pura mengaduh. "Tindakan KDRT nih." 


"Lebay deh." 


Rey tertawa geli. Dia mengeratkan pelukannya dan mencium tengkuk sang istri mengabaikan bahwa dirinya sudah berpakaian rapi. 

__ADS_1


"Pergilah ke meja makan dulu, Rey! Bajumu nanti kotor." Jessi memperingati dengan mata terus fokus mengupas apel.


"Kenapa kau selalu memanggil namaku?" tanya Rey karena ia begitu heran melihat istrinya selalu memanggil dia dengan nama.


"Karena aku belum terbiasa, Suamiku." 


"Nah begitu lebih baik."


Jessica mengangguk. Gadis itu sadar jika panggilannya memang terkesan kurang ajar. Tapi memang ia masih merasa bingung dan canggung jika memanggil Rey dengan sebutan suamiku, sayang dan yang lain. Mungkin, jika dalam waktu-waktu yang dibutuhkan dia bisa memanggil dengan panggilan itu karena terpaksa.


"Ya sudah. Ayo sana! Bajumu akan lusuh nanti." 


Rey menurut. Dia melepaskan pelukannya setelah mendaratkan sebuah ciuman di wajah sang istri. Melangkahkan kakinya keluar dari dapur, Rey meninggalkan Jessi yang mulai merapikan dapur yang sudah diacak-acak.


****


Makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Ada nasi goreng, roti dan selai serta buah-buahan sudah tersaji dengan baik. 


Senyum manis terbit di bibir Rey melihat sang istri benar-benar belajar menjadi istri yang baik untuknya. Dia tak pernah memaksa Jessi untuk memasak karena dirinya masih sanggup untuk menyewa seorang koki. Tapi, penolakan dari sang istri membuatnya tak bisa melawan. 


Rey akhirnya menuruti kemauan bidadari pemilik hatinya ini. Tapi dengan syarat, Jessica tak boleh kecapean dan melakukan semuanya sendirian. Hanya khusus memasak saja sang istri yang melakukan. Untuk lainnya, seperti mencuci, menyapu dan mengepel Rey sudah menyiapkan banyak pelayan untuk membantu pekerjaan sang istri. 


Saat Rey asyik melihat pergerakan sahamnya di layar tablet. Suara langkah kaki membuatnya mendongak dan menatap terpana. Istrinya yang ijin membersihkan diri sudah terlihat rapi di depannya.


"Apa ada yang aneh denganku?" 


Rey tersenyum tipis. Dia mengangguk hingga membuat Jessi menatap penampilannya.


"Apa yang aneh?" tanyanya dengan bingung.


"Kamu terlihat lebih cantik dan manis ketika memakai dress itu," ucap Rey tulus dan membuat pipi Jessica memerah.


Oh kata-kata manis dan rayuan seperti ini sudah menjadi hal yang didengar oleh Jessi selama sebulan ini. Dia tak menyangka sang suaminya ini berubah drastis dan sungguh membuatnya selalu tersipu malu. 


Rasa cinta dan sayangnya semakin besar untuk Rey dan membuat ketakutan tersendiri untuk seorang Jessica. Dia takut akan ada seseorang yang berniat jahat memisahkan mereka. Ia juga takut akan ada masa dimana suaminya ini merasa bosan. Tapi, sebelum hal itu terjadi. Jessi akan belajar pada mertuanya serta Daddynya untuk menjadi istri yang selalu menyenangkan bagi sang suami. 


"Gombal terus sih," ujar Jessi dengan wajah sudah merah menggemaskan. "Ayo makan, Suamiku. Nanti kamu telat!" 


"Aku gak gombal loh. Ini beneran kalau istriku bertambah cantik."


"Yayaya aku percaya. Yasudah ayo makan!" Jessi menyerahkan piring yang sudah dipenuhi dengan nasi dan telur goreng.


Segera keduanya makan dengan tenang dan sesekali candaan akan terselip jika keduanya makan hanya berdua. Bukankah keromantisan dan keharmonisan harus mereka jalin menggunakan hal-hal sederhana. Karena bagaimanapun, bahagia tak melulu soal uang. Melainkan, hal sederhana saja bisa membuat mereka jauh merasakan lebih bahagia dengan luar biasa.


"Suamiku," panggil Jessi saat mengantar sang suami sampai ke teras depan.

__ADS_1


"Ya, Sayang?" 


Rey berhenti tepat di depan sang istri. Dia melihat keraguan di mata Jessi dan membuat hatinya diliputi rasa penasaran.


Perlahan tangannya mengusap rambut Jessica dan menghadiahi kecupan manis di dahinya. 


"Ada apa? Katakan saja jangan ragu. Bukankah kita belajar untuk saling terbuka?" 


Jessica tersenyum. Dia tak menyangka suaminya ini begitu banyak mengalami perubahan. Dan dia meyakini jika Rey tak akan marah untuk hal yang akan ditanyakan ini.


"Aku hanya ingin bertanya soal pertanyaanku yang dulu. Apakah aku boleh bekerja kembali ke perusahaan?" 


Rey tersenyum. Dia tak lupa akan hal itu. Hanya saja ia menunggu kapan waktu yang tepat sang istri akan mengingatkannya. 


"Bukankah aku sudah menjawabnya, Istriku. Tentu saja boleh dan mulai besok kau akan berangkat ke perusahaan bersamaku."


"Serius?" Rey balas mengangguk.


"Tapi…"


"Tapi apa, Suamiku?" potong Jessi cepat menunggu suaminya ini.


"Jangan lupakan tugasmu sebagai seorang istri. Lalu, kamu harus sudah ada di rumah sebelum aku pulang." 


~Bersambung~


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)


__ADS_1


__ADS_2