Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (6)


__ADS_3

Satu bulan kemudian ....


Ada kejadian tidak terduga yang membuat Owen sangat terkejut. Saat hendak mewawancarai calon Sekretaris baru, ia mendapati nama Aline Michaela dalam daftar nama.


"Apa ini, Hans?" tanya Owen pada Asistennya.


Hans melihat nama yang ditunjuk Owen. Hans sendiri juga kaget, saat melihat foto dan nama Aline ada dalam daftar.


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu apa-apa. Menyeleksi data dari calon Sekretaris baru, saya tidak ikut andil. Apa perlu saya melakukan sesuatu pada Nona Aline?" tanya Hans menatap Owen.


"Tidak perlu. Lupakan saja, dan pergilah panggil satu-satu sesuai urutan." kata Owen memerintah.


Hans pun memanggil calon pertama, untuk masuk ke dalam ruangan. Aline adalah calon terakhir. Ia sedang duduk menunggu giliran untuk dipanggil.


Satu per satu calon sudah diwawancarai dan nantinya akan diberi kabar diterima tidaknya sebagai Sekretaris CEO GoodFood. Terakhir, Aline dipanggil untuk masuk, dan melakukan wawancara langsung dengan CEO.


Hans membuka pintu dan mempersilakan Aline masuk ke dalam ruangan, lalu keluar dan menutup pintu. Hans menunggu di luar.


Melihat Aline masuk dan berjalan mendekatinya, Owen langsung mempersilakan untuk duduk. Ia membuka sebuah dokumen berisi data dan riwayat pendidikan Aline.


"Aline Michaela. Apa kamu yakin ingin bekerja sebagai Sekretarisku?" tanya Owen.


"Ya, Pak. Saya sangat yakin." kata Aline.


"Alasannya?" tanya Owen  menatap Aline.


"Ya? A-alasannya ... saya ... saya ingin menambah pengalaman. Ya, itu alasannya." jawab Aline.


"Ahh, sialan! Kenapa aku gugup sekali. Kalau boleh menjawab jujur aku akan katakan langsung kalau alasannya adalah dia. Uhh ... " batin Aline.


Owen terdiam dan berpikir serius. Dilihat dari segi manapun, Aline memang bukan sosok yang biasa-biasa saja. Owen juga tahu itu setelah bertemu Aiden Michaelo, Papa Aline. Bahkan setelah melihat riwayat pendidikan sampai pengalaman Aline yang tak main-main. Owen merasa aneh saja, seorang Direktur pemasaran bisa tiba-tiba mendaftarkan diri sebagai Sekretaris CEO. Mau dipikirkan seperti apapun itu bukanlah sesuatu yang masuk akal.


"Apa dia memang sangat butuh banyak pengalaman? Di perusahaan Papanya saja jabatannya seorang Direktur. Itu posisi yang tak main-main lagi. Apa aku harus tanyakan lagi alasannya?" batin Owen mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Apa ada masalah?" tanya Aline melihat ekspresi wajah Owen yang terlihat serius.


"Mmmm ... aku tidak tahu ini boleh aku katakan atau tidak. Hanya saja, dari lima calon yang sudah aku wawancarai, kamu yang paling membuatku ragu." kata Owen.


Deg ...


Aline langsung cemas. Ia berpikir jangan-jangan ada sesuatu yang kurang, yang membuat nilainya menjadi kurang dan tak layak menjadi Sekretaris CEO.


"Apa ada yang kurang dari saya?" tanya Aline sedih.


Owen kaget, "Bu-bukan kurang, tapi ini justru sebaliknya. Sampai aku berpikir, apakah layak kalau kamu jadi Sekretaris. Bahkan pengalaman kerjamu saja seluar biasa ini," kata Owen.


Aline mengerutkan dahi, "Hah? apa maksudnya? aku kan cuma menulis dan melampirkan riwayat pekerjaanku sebagai asisten manager dari devisi pemasaran. Apanya yang luar biasa dari itu?" batin Aline.


Karena bingung, Aline pun bertanya apa maksud dari perkataan Owen. Tidak mau basa-basi, Owen menunjukkan dokumen yang dilampirkan Aline untuk mendaftar sebagai Sekretaris. Saat membaca dan melihat berkasnya. Aline pun syok.


"Apa ini? hahh ... dasar Victor bodoh! bisa-bisanya dia menulis yang seperti ini. Padahal aku sudah bilang tulis sesederhana mungkin. Pantas saja ekspresinya begitu." batin Aline.


Aline berdehem. Ia pun menjelaskan, kalau ia sungguh ingin mencari pengalaman baru. Ia mengatakan, kalau ia sebelumnya pernah menjadi pekerja magang, lalu asisten manager, dan seterusnya sampai ia menempati posisi yang terlampirkan dalam dokumen. Aline juga mengatakan, kalau ia ingin mencari suasana baru.


Owen menganggukkan kepala, "Baiklah. Kita sudahi saja wawancaranya. Nanti kamu akan dihubungi untuk hasilnya." kata Owen.


"Terima kasih, Pak." kata Aline tersenyum cantik.


"Ya, sama-sama." jawab Owen.


Aline berdidi dan berpamitan. Ia berjalan mendekati pintu. Saat membuka pintu ingin keluar, pada saat bersamaan ia bertemu dengan Maximilian yang datang mencari Owen.


"Eh ... hai, Max." Sapa Aline tersenyum.


"Bibi Aline ... " panggil Maximilian senang. Yang lansung memeluk Aline.


Aline melepas pelukan Maximilian dan berlutut. Ia tersenyum menatap anak laki-laki yang sudah lama tak dilihatnya itu. Aline bertanya kabar Maximilian dan tentang sekolah Maximilian.

__ADS_1


Maximilian mengatakan kalau ia sehat dan sekolahnya baik-baik saja. Maximilian bertanya, apa yang dilakukan Aline di kantor Papanya? Aline menjawab, kalau ia mendaftar sebagai Sekretaris Owen. Mendengar itu Maximilian senang. Ia bertanya lagi, apakah Aline akan jadi Sekretaris Papanya? dan kapan mulai bekerja?


"Max ... Bibi masih menjadi calon saat ini. Belum jadi Sekretaris Papa. Baru saja Bibi selesai wawancara. Hasilnya nanti akan diberitahukan lewat pesan. Apakah Bibi lulus atau tidak." kata Aline menjelaskan dengan sabar.


Mendengar penjelasan Aline, Maximilian tampak sedih. Wajahnya langsung kusut. Ia tidak senang mendengar jawaban Aline.


"Kenapa tidak langsung jadi Sekretaris Papa dan masih harus menunggu kabar?" tanya Maximilian.


"Itu sudah aturan yang ditetapkan perusahaan. Mau tidak mau memang harus mengikuti aturan yang berlaku. Sama seperti di sekolah, Max juga akan taat pada aturan, bukan?" jawab Aline lagi-lagi menjelaskan pada Maximilian.


Maximilian mengangguk-angguk tanda mengerti. Aline meraba saku blazernya. Ia mengeluarman sesuatu dari saku dan memberikan pada Maximilian.


"Ini hadiah untukmu, Max." kata Aline. Meletakkan tiga bungkus permen ke telapak tangan Maximilian.


Maximilian senang, ia langsung menggenggam permen itu dan memeluk Aline dengan erat. Ia tidak hanya senang bisa bertemu Aline lagi, tapi senang juga diberi permen oleh Aline.


Aline cukup kaget saat Maximilian tiba-tiba memeluknya. Ia merasa canggung, tapi juga senang. Ia mengusap lembut punggung Maximilian dan perlahan melepas pelukan. Aline pun berpamitan pulang, karena masih harus pergi ke suatu tempat.


Max tidak mau begitu saja berpisah dengan Aline, tapi ia juga tidak boleh merengek meminta Aline untuk tetap tinggal.


Aline melambai, ia berjalan pergi meninggalkan Maximilian. Melihat putranya terpaku menatap kepergian Aline, Owen pun berjalan menghampiri putranya itu.


"Max ... " panggil Owen.


Maximilian menatap Owen, "Papa ... " panggil Maximilian.


"Ada apa? kenapa kamu sedih?" tanya Owen.


Maximilian tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, Pa." jawab Maximilian.


Owen tahu putranya menyenbunyikan sesuatu. Ia pun membujuk putranya bercerita, agar ia tahu apa yang sedang putranya pikirkan. Setelah cukup lama dibujuk, Maximilian pun akhirnya bicara. Sebenarnya ia sedih, karena hanya sebantar bisa bertemu Aline.


"Pa, apa Bibi Aline tidak  bisa jadi Sekretaris Papa saja? setelah pulang sekolah aku akan databg ke sini agar bisa bertemu Bibi." kata Maximilian mengungkapkan pemikirannya.

__ADS_1


Owen terkejut. Ini pertama kalinya Maximilian terlihat sangat sedih seolah telah kehilangan sesuatu yang berharga. Padahal putranya bukanlah anak yang biasa dengan mudahnya  mengutarakan isi pikirannya.


__ADS_2