
Sebuah ayah tak salah. Ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya. Dia juga yang akan menjadi garda depan jika putri yang begitu dia sayangi disakiti oleh pasangannya. Begitupun aku, aku sangat menyayangi putriku sampai dasar lubukku yang paling dalam. Namun, apapun yang aku rencanakan semuanya akan ku kembalikan pada takdir Tuhan. ~Stevent Alexzandra~
****
Di Belahan bumi yang lain. Tawa bahagia seorang gadis terpecah jelas. Dia senang mendengar suara seseorang yang sudah naik pitam. Sepertinya, mempermainkan emosi orang yang mudah tersulut lebih indah daripada yang biasa-biasa saja.
Haura, gadis itu menatap layar laptopnya yang menampilkan wajah seorang lelaki bule tampan dengan tubuh proporsional. Mata tajamnya, bulu mata lentik dan alis tebalnya menjadi daya pikat sendiri bagi pria itu. Namun, di mata Haura semuanya sama aja. Tak ada yang lebih menurutnya, ditambah sikap pria itu begitu arogan dan temperamental.
"Kita lihat saja lusa. Bagaimana jika singa mengaum," gumamnya dengan seringai licik.
Haura memang tak main-main sekarang. Dia benar-benar mengundang Jack untuk ke Indonesia agar mereka bertemu. Dirinya akan mencoba menerobos pertahanan diri pria yang sudah lama berdiri di kehidupan bawah tanah.
"Tak ada yang mustahil. Jika Allah sudah mengetuk, maka pasti kun fayakun dan jadilah."
Haura segera beranjak dari ruang kerjanya dan segera merangkak diatas tempat tidur. Waktu sudah hampir tengah malam dan tubuhnya butuh istirahat penuh. Beberapa hari ini memang diakui tubuhnya kekurangan tidur, telat makan dan tak berolahraga. Itulah yang mengakibatkan tubuh Haura menjadi sakit saat ini.
Setelah membaca doa tidur dan surat-surat pendek, segera Haura mulai memejamkan mata dan mengarungi alam mimpi dengan cepat. Terlihat memang matanya sudah tak dapat ditahan untuk terbuka hingga membuatnya dengan cepat terlelap dibawah alam mimpi.
****
"Semoga kerjasama kita berjalan lancar, Tuan," ucap Rey dengan Bahasa Inggris lancar.
Saat ini, pria itu memang sedang melakukan meeting penting untuk menjalin kerja sama dengan salah satu pengusaha besar di New York. Pertemuan yang tak disengaja di antara Rey dan Pihak Klien, ternyata membawa jalan baik untuk pria yang sedang memperjuangkan semuanya.
Dengan bantuan Allah, bahkan klien itu datang sendiri tanpa diduga. Dari tak sengaja bersenggolan, lalu berkenalan hingga mulai membahas pekerjaan di antara keduanya. Lalu terakhir, terjalin lah kerjasama di antara keduanya.
"Lebih baik anda makan dulu, Tuan," tawar Rey ketika melihat klien barunya ini hendak pulang.
"Baiklah. Kali ini saya akan menuruti anda. Tapi lain waktu, anda harus mau saya ajak makan seperti ini." Goda pria memakai jas berwarna abu-abu tua.
"Siap, Tuan," timpal Rey dengan senyuman lebar.
__ADS_1
Semuanya makan dengan rapi. Bahkan hanya ada denting sendok dan garpu yang terdengar meski jarang. Setelah selesai, keduanya mulai berpisah di depan Restoran dan kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Kita kemana, Tuan?" tanya David saat dirinya sudah duduk tenang di kursi kemudi.
"Ke rumah Tuan Stevent."
"Hah!" kaget David sampai menoleh.
"Iya aku serius, David. Tapi hanya sampai di depan saja. Aku ingin melihat rumah itu sebagai penyemangat diriku yang mulai lelah."
Tak ada bantahan. David begitu menurut pada bos barunya ini. Menurut pria yang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang itu, Rey adalah sosok majikan yang baik dan adil untuk bawahannya. Maka dari itu, dirinya tak ingin membuat kekacauan atau mengecewakan bosnya yaitu, Reynaldi Johan Pratama.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh David berhenti di dekat rumah yang masih terlihat sama ketika terakhir dia datang kesini. Bola mata Rey menatap lekat ke arah jendela yang ada di rumah Stevent. Dia hanya ingin satu, semoga Allah mendengar doanya untuk menatap wajah gadis yang sudah sangat ia rindukan.
"Tuan ingin melihat, Nona Jessi?" tanya David pelan.
"Ya, David. Meski hanya dari jauh dan sebentar."
David menghela nafas berat. Dia sudah biasa melihat pemandangan ini hampir dari seminggu yang lalu. Dirinya tahu betul bagaimana sakitnya dia, jika ditinggal oleh Jessica Alexzandra Caroline. Mungkin, Jessica akan semakin tertekan dan jatuh sakit, jika dia kembali merasakan itu kembali.
"Itu Nona, Tuan." Tunjuk David ke arah balkon.
Rey mengangguk antusias. "Kau benar, David."
Rey menatap lekat wajah yang sudah sangat dirindukan itu. Menatap seperti ini, bukan semakin menyembuhkan melainkan semakin membuatnya sesak nafas karena rindu dengan kekasih hatinya.
"Pergi!"
David lantas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Stevent yang terlihat sepi. Sepanjang perjalanan, pria itu mengabaikan dering ponsel khusus yang dipasang untuk kekasih hatinya itu. Rey bisa menebak jika gadisnya melihat mobil yang membawanya pergi dari rumahnya
"Aku harus lebih bersemangat untuk masa depan kita, seperti janjiku pada ayahmu dan janji ku padamu."
Tekad adalah kunci dasar untuknya melewati semua ini. Tak ada hal yang lebih membuatnya bisa berdiri disini selain semangat dan tekad dari dalam dirinya.
__ADS_1
Rey tak mudah untuk berada di posisi ini. Bagaimana ketika dia teringat pengorbanan Jessi yang membuatnya bisa berpaling pada gadis itu. Merasakan debaran jantung lagi setelah sekian lama. Hingga dia memutuskan memantap diri dan mencoba membuka hatinya lag dan berhasil.
Sekarang, di sini. Di New York akan menjadi sejarah untuknya dalam sekali seumur hidup. Bagaimana seorang Reynaldi Johan Pratama memperjuangkan cintanya. Meninggalkan mama dan perusahaan untuk mengejar cinta dan restu dari calon ayah mertua.
Tak mudah memang, tapi Rey selalu mendoktrin dirinya. Bahwa apa yang ia lakukan saat ini hanya untuk melatih dia berjaga-jaga jika suatu hari hal ini terjadi di perusahaannya juga.
Disini, seorang Stevent Alexzandra tak salah. Dirinya hanya menginginkan anaknya bahagia selalu tanpa kekurangan apapun. Dia juga ingin pernikahan putri semata wayangnya menjadi sekali selama hidupnya.
Stevent tak ingin putri yang dia rawat bersama almarhum istrinya mengalami sakit hati karena pasangan. Dia ingin terbaik untuk Jessica. Maka dari itu, saat ini dirinya hanya melaksanakan seleksi terbaik tentang pilihan putrinya sendiri itu.
"Pulanglah, David." Perintah Rey saat dirinya baru saja keluar dari mobil.
"Tapi, Tuan. Pekerjaan kita…."
"Aku akan menyelesaikannya seorang diri." Potong Rey cepat, "istirahatlah dan nikmati waktu yang aku berikan padamu sebelum besok kita akan bekerja lagi agar perusahaan ini semakin naik."
"Tinggal satu bulan lagi. Satu bulan lagi aku harus menyelesaikan semuanya. Mudahkanlah semuanya, Ya Allah. Aamiin," Batin Rey mengatakan.
~Bersambung~
Tak akan ada Ayah yang menginginkan putrinya mengalami sakit hati. Begitupun hati Stevent, dia tak jahat hanya saja dirinya sedang menyeleksi orang yang akan menggantikan dirinya untuk menjaga Jessica seumur hidup.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1