
Jangan menjadi seseorang yang gila harta dan gila kekuasaan. Karena apa yang kau miliki, pasti ada masanya menjadi hilang dan tak berguna di matamu. ~Khali Mateen~
****
Kedatangan seseorang yang tak diduga, membuat Haura yang sudah siap dengan kuda-kudanya segera berdiri tegak. Dia menggaruk tengkuknya yang berada di balik kerudung untuk menutupi kebingungannya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya suara itu lagi mengudara.
Haura menelan ludahnya paksa. Mata tajam yang sudah lama tak dia lihat, akhirnya kembali muncul disaat seperti ini.
"Kakak," lirihnya dengan menunduk.
Ternyata orang yang berdiri dan hampir melihat kejadian baku hantam itu adalah Khali Mateen. Dirinya datang ke Indonesia karena mendapatkan kabar dari sang penjaga adiknya yang tak lain adalah Haki. Pria itu mengatakan padanya, jika Haura akan menemui Jack seorang diri di Restaurant.
Dari situ firasat seorang Kakak tiba-tiba muncul. Dia merasa akan terjadi sesuatu hingga akhirnya datang kesini membawa istrinya. Dalam hati, Khali bersyukur dia menemukan sang adik sebelum terjadi hal yang terduga. Meski dia berpikir, jika diantara keduanya berkelahi. Maka pasti tak akan ada yang menang dan kalah.
Segera Khali berjalan dan menuju seorang pria yang berdiri tak jauh dari posisi sang adik.
"Kau seorang pria, tapi bagaimana bisa berani mengangkat tangan di depan wanita?" tanya Khali dengan mata tajam mendominasi lawan bicaranya.
"Gadis itu sendiri yang terlalu berani dan memancingku."
"Meskipun dia berani mengangkat tangan kepadamu, tapi tak seharusnya kau juga membalasnya," ucap Khali dengan tatapan tajam.
"Kau!" tunjuk Jack dengan wajah bengis. "Jangan ikut campur urusanku atau kau…."
"Dia adikku dan aku berhak atas dirinya." Suara dingin Khali membuat Jack terdiam. Atmosfer disana juga semakin tak nyaman.
Khali meminta sang istri membawa Haura pergi dari Restaurant dan langsung disetujui olehnya. Sepeninggal kedua wanita yang begitu dicintai oleh Khali, dirinya memilih duduk di seberang meja yang sudah ditendang oleh Jack dan meminta pria itu duduk.
"Aku hanya ingin mengatakan ini saja padamu," ucap Khali setelah beberapa menit mereka terdiam.
Pangeran Brunei itu sengaja tak bersuara, agar Jack merasakan dirinya tenang dulu dan emosinya turun. Karena bagaimanapun, berbicara dengan orang yang sedang emosi, maka seperti kita berbicara dengan orang gila.
Menasihati apa pun tak akan mampu diserap oleh mereka jika keadaan mereka sedang marah. Karena emosi sedang memenuhi pikiran mereka dan membuat akal sehatnya tak bekerja.
__ADS_1
"Meski perasaanmu ditolak, cobalah menerimanya. Jangan gunakan kekuasaanmu untuk menghancurkan seseorang yang tak setanding dengan kekuatanmu. Karena itu sama saja, kau pantas disebut seorang pecundang."
"Kau berpendidikan, kau pandai, dan berkuasa. Apalagi ditambah kau berada di kekuasaan seorang Stevent Alexzandra, tentu saja semua orang pasti akan takluk padamu. Tapi, kekuasaan itu tak sebanding dengan kekuasaan sang pencipta yang lebih tinggi daripada kita," jeda Khali sambil menatap pria yang sedari tadi terdiam. "Gunakan semua yang kau miliki dengan baik, sebelum Tuhan mengambilnya darimu dan dia meminta pertanggung jawaban atas semua yang kau lakukan di akhirat." Setelah mengatakan itu Khali beranjak berdiri dan berbalik.
Namun sebelum dia meneruskan langkah kakinya, Khali berhenti sejenak tanpa menoleh sedikitpun pada Jack dan perkataannya sungguh membuat jantung pria bule itu berdebar kencang.
"Karena apapun yang kau lakukan disini, orang tuamu yang berada di surga akan melihatnya."
****
Tak ada yang berani membuka suara sepanjang perjalanan menuju apartemen. Haura hanya menunduk dan meremas kedua tangannya untuk menghilangkan kegugupannya. Dirinya sadar diri, jika ia juga salah dalam situasi ini. Namun, apapun yang terjadi, dirinya harus berani bertanggung jawab.
Tak ada yang mengeluarkan obrolan apapun sampai mobil sampai di depan Apartemen tempat tinggal Haura. Aqila segera turun diikuti oleh adik iparnya ini.
"Masuklah dulu! biar Kakak menunggu Kak Khali disini."
Haura hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Dirinya sudah lelah dan takut membuat kakaknya kecewa. Akhirnya segera ia melangkahkan kakinya menuju apartemen untuk menunggu kedatangan kakaknya yang pasti akan menasehati tindakannya yang sekarang.
Tak lama setelah Haura masuk, Aqila tersenyum melihat mobil yang membawa suaminya sudah sampai. Segera dia berjalan menuju Pangeran Khali yang baru saja turun dari dalam mobil.
Mendengar ucapan istrinya, Khali menatap mata Aqila yang selalu menatapnya penuh cinta.
"Apakah adik kecilku itu meminta istriku ini merayuku." Spontan Aqila menggeleng.
"Aku hanya tak ingin Haura menangis, Sayang. Dia hanya salah mengambil keputusan saja."
Khali hanya mengangguk. Dia memang paling tak bisa memang dengan perasaan adik atau istrinya ini. Posisi dia yang seorang Kakak dari dulu, membuat Khali selalu menyayangi sang adik dan tak pernah memarahinya. Tapi, dia tetap bertindak tegas dengan apa yang selalu dilakukan sang adik agar Haura memiliki sifat tanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Haura," panggil Khali saat menemukan sang adik duduk di sofa ruang tamu sambil menunduk.
Yang dipanggil hanya menjawab dengan pandangan menunduk. Seperti inilah Haura jika bersalah, dia selalu menunduk dan tak berani menatap kakaknya. Karena dia selalu mengira jika Khali akan marah dan memukulnya. Padahal sejak mereka kecil dan bersama, sekalipun Khali tak pernah memukulnya kecuali jika mereka sedang berlatih silat dan taekwondo.
"Kau tau kesalahanmu, Ra?"
Jika sudah dipanggil menggunakan panggilan nama dengan suara dingin. Saat itulah Haura mengerti jika sang Kakak sedang kecewa dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Maafkan Haura, Kak."
__ADS_1
"Apa kesalahanmu, Ra?"
"Haura bertemu dengan Jack hanya berdua saja dan meminta Haki menunggu di lantai satu."
"Lalu?" lanjut Khali ingin tahu apa yang akan dijelaskan oleh sang adik.
"Seharusnya Haura meminta Haki tetap mengikuti ke lantai dua dan menjaga Haura jika Jack melakukan kekerasan."
"Terus?"
"Jika Haki ikut di lantai dua. Maka tugas dia untuk menjaga Haura dari hal yang tak terduga."
"Apa kau sudah paham maksud, Kakak?"
Perlahan kepala yang menunduk itu terangkat. Mata Haura sudah memerah dan terlihat genangan air mata disana yang siap jatuh kapan saja.
"Maafkan Haura, Kak. Haura selalu bikin kakak khawatir."
"Akhirnya kamu sadar, Princess. Kakak hanya takut dengan keadaanmu. Karena apapun yang terjadi sama Haura maka umi dan abi juga akan merasakannya."
Segera Haura menghambur ke pelukan Khali. Dia selalu bersyukur memiliki Kakak yang menyayanginya. Selalu membuatnya mengerti semua hal dan menasehati dirinya jika ia berada di jalan yang salah.
Aqila sendiri yang melihat fenomena di depannya hanya tersenyum dan menghapus air mata harunya. Jujur, melihat keakraban kakak adik di depannya ini, selalu mengingatkan dirinya jika tentang sang Kakak Adel dan Axel. Dia merindukan kebersamaan dengan saudara kandungnya dan ingin segra bertemu dengan mereka berdua.
~Bersambung~
Ahh sini Aqila sayang aku peluk jauh deh.
Ini dikomen kemarin ada yang bilang Haura sama Jack aja. Ada lagi Haura sama Axel aja.
Hmm enaknya gimana yah? Aku bingung jadinya hehe.
Btw ini bab ketiga loh, wooo mantap banget. Jad aku gak punya hutang ya geng.
Aku minta like aja guys. Ini novel gak ada gaji, mangkanya aku minta like doang biar aku jadi semangat upnya. Yang belum like diatas yuk balik ke atas lagi.
__ADS_1