
Malam harinya ....
Nana pergi ke bar langganannya untuk minum. Ia yang sangat kesal pun terlihat murung dan begitu banyak minum. Saat ia hendak minum, seseorang mencegah Nana dan mengatakan kalau Nana tak boleh minum minuman beralkohol dengan kadar tinggi seperti itu.
"Nona, apa yang kamu lakukan? Itu kan alkohol dengan kadar yang tinggi," kata seseorang.
Nana menatap seseorang itu, "Si-siapa, kamu?" tanya Nana.
"Ah, maaf kalau aku tidak sopan. Aku Victor. Sejak tadi aku memerhatikanmu dari sana," jawab Victor memperkenalkan diri dan menunjuk kursi berjarak beberapa langkah dari Nana.
Nana terdiam mamandangi Victor. Sesaat Nana kaget, melihat pria tampan menghentikannya minum dan memperkenalkan diri. Nana merasa diantara pria yang pernah berkenalan dengannya, Victorlah yang paling tampan.
Victor izin pada Nana untuk duduk disebelah Nana. Tentu saja Nana langsung mengizinkannya. Victor bertanya, siapa nama Nana? dengan senyuman mautnya ia mencoba untuk mendekati Nana.
Nana mulai tergoda. Ia berpikir ia sedang beruntung didekati pria tampan. Tak bisa mendekati Owen, Nana berpikir untuk bisa dekat dengan Victor. Ia pun memperkenalkan diri dan mengubah nada bicaranya menjadi lembut. Ia bersikap lebih ramah.
"Hmm ... ternyata mendekatinya tak sulit. Jika seperti ini, dalam beberapa harisaja aku bisa dengan mudah memenangkan semuanya." batin Victor.
Victor minum minumannya, lalu bertanya apa hal yang Nana lakukan sendirian di bar? kenapa tak mengajak teman? Victor juga bertanya, apakah ada masalah? karena Nana terlihat tidak sedang baik-baik saja. Nana menganggukkan kepala, ia menjawab, ia memang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia sedang kesal pada seseorang di kantor.
"Siapa dia, yang membuatmu sampai seperti ini? dia kurang ajar sekali, beraninya membuat wanita secantik ini kesal," kata Victor.
Wajah Nana memerah, "Ahh ... itu, dia Sektetaris CEO. Aku kesal karena dia belagak dan sok sekali. Bahkan dia mengancamku," kata Nana.
"Dia seperti itu pasti karena iri padamu," sahut Victor.
Nana menatap Victor, ia setuju dengan pendapat Victor. Nana memang menganggap dirinya sendiri lebih cantik daripada Aline. Baginya Aline tak lebih dari serangga yang menggelikan.
__ADS_1
Victor mengambil kesempatan untuk memanas-manasi dan mempercepat ritme pendekatannya. Ia memegang tangan Nana, menggenggamnya, lalu ia membisikakn sesuatu pada Nana. Victor meminta Nana untuk tidak khawatir, karena dimatanya hanya Nana saja yang tampak cantik. Victor bahkan sengaja menjelek-jelekkan Aline karena ia ingin Nana percaya kalau hanya Nana yang terlihat di mata Victor.
Nana dan Victor bercerita satu sama lain. Victor hanya bercerita sedikit, dan tentu yang diceritakannya hanyalah bualan. Ia tak mungkin menceritakan apa adanya dirinya. Dan dengan bodohnya, Nana begitu saja percaya. Victor meminta Nana menceritakan lebih banyak tentangnya. Victor benar-benar lihai, sehingga dengan mudahnya membuat Nana jatuh dan masuk dalam perangkapnya.
***
Aline, Owen dan Maximilian baru selesai makan malam bersama. Aline mengantar Maximilian untuk gosok gigi dan mencuci muka, lalu berganti pakaian tidur. Aline membacakan buku cerita dan menunggui Maximilian sampai terlelap tidur. Setelah memastikan Maximilian tidur, Alina pun pergi meninggalkan kamar Maximilian.
"Max sudah tidur?" tanya Owen.
"Ya, sudah. Aneh sekali, kenapa hari ini dia sangat lengket padaku, ya?" tanya Aline.
"Mau bagaimana lagi. Dia sangat senang karena kamu akan segera menjadi Mamanya." jawab Owen.
Aline menganggukkan kepala. Memang benar apa yang Owen katakan. Di kantor pada saat Aline bertanya pun, Maximilian terlihat sangat senang dan wajahnya langsung berseri-seri.
Aline mendekat pada Owen, "Apa kamu mengusirku? bagaimana kalau aku tak mau pulang, hm?" goda Aline. Mengusap lebut dada bidang Owen.
Owen mendekatkan wajahnya ke wajah Aline. Ia menempelkan hidungnya ke hidung Aline . Owen berkata, kalau Aline tak mau pulang, maka dengan senang hati ia akan menyambut Aline masuk dalam kamarnya. Aline tersenyum, ia tahu Owen hanya ingin menggodanya saja. Owen tak mungkin serius akan membawanya masuk dalam kamar. Dan karena pikirannya itu, Aline pun dengan beraninya kembali menggoda Owen. Aline berbisik, ia ingin digendong masuk ke dalam kamar.
Owen keget. Permintaan Aline terdengar seperti ajakan yang mengarah ke hal lain di dalam kamar. Owen pun menatap Aline, ia memastikan lagi apakah Aline sungguh-sungguh dengan perkataannya atau hanya candaan. Aline mengusap leher Owen dan berkata, tidak seru kan kalau hanya bercanda.
"Kyaaaaa ... " teriak Aline kaget. Saat tiba-tiba Owen menggendongnya.
"Jangan berteriak di sini. Berteriak saja sepuasmu di kamar," kata Owen.
"A-apa maksudnya?" Tanya Aline dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Jangan beralasan. Hal yang kamu ucapkan tak bisa ditarik kembali. Kamu yang memintanya sendiri tadi agar aku gendong ke kamar, kan?" kata Owen.
Owen menggendong Aline berjalan menuju kamarnya. Aline mengalungkan dua tangannya memeluk Owen. Ia bisa mencium aroma khas pria kesayangannya itu. Sampai tanpa disadari Owen, Aline mengendus-endus leher Owen.
"Aline, apa yang kamu lalukan?" tanya Owen.
"Eh, a-apa? a-aku tak lalukan apa-apa," jawab Aline.
"Kamu ini benar-benar, ya." kata Owen.
Owen membuka pintu kamarnya dan masuk, lalu menutup pintu dengan kakinya. Ia membawa Aline ke tempat tidurnya, membaringkan Aline di sana.
"Ahhh ... akhirnya aku bisa berbaring dan bertemu bantal." kata Aline yang langsung berguling-guling.
Owen tersenyum melihat tingkah lucu Aline. Ia tampak menggemaskan di mata Owen.
"Kamu mau mandi? kalau masih mau berbaring, maka aku duluan yang mandi." kata Owen.
"Ya, kamu saja yang mandi duluan. Aku masih mau begini," kata Aline.
Owen pun berbalik dan pergi ke kamar mandi. Aline tiba-tiba bangun dari posisi berbaring. Ia berpikir, bukankah kalau ini adalah kesempatannya untuk lebih dekat dengan Owen? Aline pun segera turun dari tempat tidur dan berjalan cepat pergi ke kamar mandi. Aline berdiri di depan pintu kamar mandi dengan perasaan berdebar. Ia terus mengatai diri sendiri sebagai wanita gila.
"Apa ini tidak akan jadi masalah? bagaimana kalau nanti Owen marah?" batin Aline.
Aline menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik napas dan mengembuskan napas perlahan. Ia segera membuka pintu dan masuk, lalu menutup pintu kamar mandi. Saat berbalik, Aline terkejut karena Owen ada dihadapannya tanpa mengenakan sehelai pun pakaian.
"Aaa ... " teriak Aline berbalik dan menutup wajahnya dengan dua tangan.
__ADS_1
Owen juga kaget, dan merasa malu. Hanya saja ia membuang rasa malunya, lalu mendekati Aline. Owen bertanya apa yang Aline lakukan? Aline kaget, apa boleh ia mengatakan apa yang ia pikirkan saat berbaring tadi. Kalau ia ingin mandi bersama Owen? Aline menggelengkan kepala, ia beralasan kalau ia lupa dan hendak pergi. Baru saja Aline melangkah, Owen menarik tangan Aline dan memeluknya dari belakang.