
Aku tak peduli harus menggunakan cara apapun. Tetapi, kehadiranmu sungguh telah mengusik yang seharusnya menjadi milikku. ~Jackson~
****
Perintah dari Jackson sama dengan perintah Stevent Alexzandra. Selalu cepat dilakukan dan ditangani. Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya dan segera panggilan itu berakhir.
Senyum licik keluar saat dia selesai mengatakan itu. Tawa mengembang dengan pikiran melayang membayangkan jika lawan hatinya akan hancur membuatnya tertawa.
"Tunggu saja kehancuranmu."
Jackson segera berbalik dan berjalan masuk kedalam rumah Jessica. Tinggal menunggu kabar saja, jika semua selesai dan dirinya tinggal melihat bagaimana bingungnya seorang Reynaldi Johan Pratama.
Bagaimana perasaan lelaki itu jika Perusahaan yang dibangun oleh sang Papa mengalami kerugian. Bagaimana kacaunya keadaan yang akan dia buat dan kabar itu sampai di telinga musuhnya itu.
"Aku tak sabar melihat raut wajahnya dan segera pergi dari negara ini," ujar Jack dengan senyum sinis.
Berbelok ke kiri dia menuju kamarnya. Sambil menunggu kabar bahagia, Jack memilih membersihkan dirinya dan bersantai. Pekerjaannya hari ini sudah selesai dan semua urusan Stevent sudah diatur dengan baik.
Membuka pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalu terlihatlah tubuh yang berotot, dada bidang dan perut sispex. Ah siapapun pasti akan dengan senang hati menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan seorang Jackson. Meski pria itu hanya seorang asisten, jangan ragukan ketampanan dan kepintarannya.
Dia dididik langsung oleh Stevent dari kecil. Diajarkan ilmu bela diri, senjata api dan ilmu bisnis. Semua yang ada pada diri Stevent sama dengan diri Jackson. Pria itu juga sudah merencanakan menjodohkan putrinya dengan Jack sejak kecil. Namun, ia tak menyangka akan ada peristiwa ini yang membuatnya berpikir ulang.
****
Suara deringan ponsel memecah keheningan di dalam ruangan. Tiga pria yang sedang membahas pekerjaan itu segera memandang benda pipih yang sedang bergetar diatas meja makan. Rey lekas mengambilnya dan melihat diapa gerangan yang mengganggu saat ini.
Tak lama, senyum terbit muncul di sudut bibirnya ketika mengetahui jika sang kekasih hati yang menelpon.
"Sebentar." Rey beranjak berdiri dan menjauh dari dua pria yang sedari tadi menatapnya.
"Hmm?"
"Kamu ngapain sih?" tanya suara gadis yang begitu dia rindukan dari seberang telpon. "Lama banget angkat telpon dari aku," gerutunya berlanjut.
Rey mengulum senyuman manis karena merasa senang bisa mendengar suara cerewet dari kekasihnya ini.
"Aku lagi bahas pekerjaan sama Bima," sahut Rey memberikan penjelasan.
"Bima?" gumaman Jessi yang Rey tebak sedang mengingat nama yang baru saja ia katakan. "Bima sekretaris kamu?"
"Iya."
"Ohhh." Jessi di seberang sana manggut-manggut.
"Ada apa menghubungiku?" tanya Rey penasaran. Ia berpikir mungkin saja gadis itu sedang ada masalah atau hal yang penting.
"Oh itu, anu….anu…" suara Jessi terdengar terbata-bata.
__ADS_1
Rey kembali menarik sudut bibirnya membentuk senyuman lebar mendengar jawaban kekasihnya ini. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu saat ini. Sepertinya, membuat gadis itu merona sedikit saja tak apa.
"Merindukanku hmmm?"
"Aaa kenapa bisa dia tahu," teriak Jessi dalam hati. Betul saja tebakan Rey, pipi gadis itu seketika memerah. Dia benar-benar malu ketahuan sedang memikirkan prianya itu.
"Siapa yang rindu," ujar Jessi mengelak. "Nggak tuh." Lanjutnya.
"Ohh nggak yah? Yaudah aku matiin aj…."
"Jangan!" sentak Jessi cepat.
Gadis itu sudah kepalang tanggung. Buat apa menutupinya lagi. Toh ini wajar, jika dirinya rindu pada kekasihnya sendiri. Yang penting bukan rindu pada kekasih orang, hehehe.
"Kenapa? Katanya tadi kamu…."
"Ya aku merindukanmu." Jessi mengatakan dengan cepat.
"Nah begitu dong."
"Ihh kamu kerjain aku yah!" kesal Jessi
"Kalau gak gitu, kamu gak bakalan ngaku." Jessi mengangguk di sana. Dia memang harus dipancing terlebih dahulu agar menepis rasa malu yang selalu muncul untuk mengatakan hal seperti 'rindu.'
Beberapa menit hening, sampai Rey berpikir apakah gadis itu tertidur.
"Eh nggak," sahut Jessi.
"Terus kenapa diem?"
"Bagaimana dengan syarat dari Daddy?" Jessi menggigit bibir bawahnya. Ini pertanyaan sensitif dan dirinya menyadari. Namun, jujur saja bahwa ia sangat penasaran. Sudah sampai mana sang kekasihnya ini sekarang.
"Aku sedang berusaha," sahut Rey.
Jessi diam hanya terdengar helaan nafas berat di sana. Bisa dipastikan jika Rey sedang dalam masa sulit.
"Maafkan aku," lirih gadis yang tengah menahan isakan. "Maafin Daddy juga, Sayang."
Rey tersenyum tipis. Dia mengerti jika kekasihnya ini sedang tak enak hati padanya.
"Jangan meminta maaf. Bukankah ini ujian hubungan kita?" Jessi mengangguk setuju.
"Tapi…"
"Tak ada kata tapi. Aku hanya perlu dukunganmu saat ini. Jangan ada kata menyesal atau apapun yah. Doakan aku dari sana supaya aku bisa memenuhi syarat dari ayahmu dan kita segera menikah."
Jessica terharu? Tentu saja. Dia tak menyangka sudah mendapatkan hati pria yang dulunya tak tersentuh. Dirinya senang jika cintanya sudah terbalaskan. Saat dia hendak mengeluarkan suara. Tiba-tiba Rey bersuara terlebih dahulu.
"Aku matikan dulu yah. Nanti aku hubungi lagi." Tanpa menunggu jawaban dari Jessi. Segera Rey memutus sambungan telepon dan beralih menatap Bima yang terlihat begitu panik.
__ADS_1
"Ada apa, Bim?" tanya Rey dengan raut wajah bingung.
"Itu, Tuan…" Bima bingung. Dia harus mengatakan apa pada bosnya ini. Dirinya saja merasa shock mendapatkan kabar telpon dadakan dari Indonesia.
"Cepat katakan, Bim! Ada apa?"
"Perusahaan ada masalah, Tuan. Harga saham kita anjlok dan banyak klien kita yang memutuskan kerjasama tanpa alasan."
"Apa?" Tubuh Rey menegang. Aliran darah di tubuhnya seperti berhenti mengalir. Wajahnya mendadak pucat dan pasokan oksigen seakan hilang dan ia merasakan sesak napas.
Mengumpulkan kekuatan pada dirinya. Rey segera menggeser layar ponselnya dan melihat kurva saham miliknya. Matanya membulat penuh. Benar yang dikatakan oleh Bima. Sahamnya menurun drastis dan dia juga mendapatkan email dari asisten mamanya.
Tak lama ponselnya berdering dan tertera nama sang Mama disana. Rey menarik nafasnya lebih dalam dan menghembuskannya. Ia sudah tahu reaksi apa yang mamanya tunjukkan sebentar lagi. Menggeser pada ikon hijau lalu dia segera mendekatkan benda pipih itu di telinganya.
"Nak, maafkan Mama, maafkan Mama, Rey." Isak tangis Mama Ria terdengar.
"Usttt, jangan menangis, Ma."
"Perusahaan sedang tak baik-baik saja, Nak. Saham turun dan banyak yang memutus kontrak kerja kita."
"Aku tahu. Tapi ku mohon, Ma. Jangan menangis. Kalau mama nangis, aku tak memiliki kekuatan lagi."
Setelah merasa mamanya mulai tenang. Rey kembali berucap, "Mama harus tenang, yah. Ingat sakit jantung, Mama."
"Iya, Rey."
"Tunggu Rey akan pulang sekarang."
Setelah mematikan sambungan telepon. Rey segera menatap ke arah Bima dengan serius.
"Siapkan pesawat! Kita pulang ke Indonesia sekarang!"
~Bersambung~
Hmm hmm gimana yah? Abang Rey bakalan pulang ke Indonesia dong? dan berhasil atau nggak rencana Jackson?
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1