
Siapkan tisu🤧
Ingatlah satu hal. Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Lalu, anak akan menjadi kekuatan besar bagi orang tuanya. Jika kehadirannya saja sudah tak dipedulikan, untuk apa seorang ayah dibutuhkan di dunia? ~JBlack~
****
Stevent tersenyum getir. Apa betul gadis di depannya ini adalah putri yang pernah dia gendong saat bayi dulu? Apa benar dia adalah gadis yang dulunya begitu manja kepadanya? Tapi kenapa sekarang, jarak antara mereka seakan begitu jauh.
Stevent berjalan meninggalkan ruang tamu tanpa kata. Dia tak ingin air matanya jatuh di depan putri yang begitu dia cintai. Tapi sebelum itu, ayah satu anak ini berhenti dan menarik nafasnya sebelum mengatakan perkataan yang begitu menohok relung hati Jessica.
"Pergilah! Hati-hati, Nak. Tidak perlu khawatirkan keadaan pria tua ini. Karena sebentar lagi Mamamu pasti akan menjemputku." Stevent langsung pergi meninggalkan ruang tamu dengan air mata yang menetes.
Apa yang dikatakan olehnya memang bukan main-main. Selama ini, dirinya selalu menutupi keadaan tubuh yang semakin hari semakin melemah. Namun, Stevent selalu berusaha agar terlihat baik-baik saja dihadapan sang putri.
Karena apa? Dia tak ingin putrinya tahu akan penyakitnya selama ini. Dia tak ingin Jessica menangis sedih saat tahi bagaimana keadaannya sekarang. Membuka pintu kamar, Stevent segera masuk ke dalam kamar dan menutupnya.
Disinilah, dia menjadi sosok seorang suami yang selalu menangis ketika teringat kesalahannya di masa lalu. Disinilah, dia menjadi seorang suami yang selalu rindu akan istri yang sudah meninggalkannya. Disinilah, dia menjadi sosok ayah yang selalu rindu akan sang putri yang sudah dewasa.
Tak ingin semakin membebani pikirannya. Stevent lebih memilih membaringkan tubuh lemahnya dan segera memejamkan mata untuk melupakan sejenak permasalahan yang ada.
****
Jika ditanya bagaimana Jessica saat mendengar perkataan sang ayah? Tentu saja dia berdiri mematung dengan pandangan shock. Pikirannya menerka apa maksud dari perkataan Daddynya itu. Kenapa rasanya semua yang dikatakan Stevent, seakan pria itu ingin pamit.
Jessica seakan tersadar ketika merasakan genggaman tangannya semakin menguat.
"Sayang," panggil Rey menyadarkan kekasihnya itu.
"Ya?"
"Kenapa kau sampai mengatakan itu?" tanya Rey heran atas keberanian kekasihnya.
Sungguh dia juga tak habis pikir atas apa yang sudah diungkapkan oleh sang kekasih Jessica. Karena menurutnya, perkataan kekasihnya itu pasti begitu membekas di hati Stevent Alexzandra.
"Aku sungguh membenci Daddy, Rey!" seru Jessi dengan pandangan terluka. "Kenapa dia tak pernah melihat usahamu sampai di posisi ini?"
"Jessi!" sentak Rey marah.
Dia memejamkan matanya saat tersadar akan tingkah lakunya.
"Kamu membentakku?" tanya Jessica dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan begitu, tapi kamu harus sadar, Sayang. Jika apa yang dilakukan Daddy mu hanya untuk kebaikanmu selama ini." Rey mencoba memberikan pengertian.
__ADS_1
"Kebaikan apa yang kau katakan, Rey?" tanya Jessi dengan wajah marah.
Rey bisa melihat jika gadis itu tengah dilanda rasa kecewa dan terluka. Namun, Rey sadar jika apa yang dilakukan Stevent hanya itu kebaikan seorang ayah yang hanya memiliki seorang anak saja dihidupnya.
"Kebaikan masa depanmu. Ayahmu tak ingin kau hidup dengan pria yang tak siap hidup jatuh jika masa itu datang. Ayahmu ingin kau berada ditangan pria yang tepat untuk menggantikannya." Rey menjelaskan dengan memegang tangan kekasihnya itu.
"Sadarlah, Sayang. Seharusnya kau berterima kasih pada Daddy mu," jeda Rey dengan menghapus air matanya.
"Karena dia masih menyayangi dan menjagamu sampai saat ini." Sambung Rey dengan menatap lekat kedua bola mata kekasihnya ini.
"Tapi Daddy sudah begitu keterlaluan, Rey."
"Dia ingin yang terbaik untukmu, Sayang."
"Nggak, Rey."
"Dengarkan aku!" Rey menarik dua pundak Jessi hingga keduanya berhadapan.
Perlahan, Rey merapikan anak rambut sang kekasih dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Bersyukurlah, Sayang. Masih ada seorang ayah yang mengkhawatirkanmu, menjagamu dan menyayangimu. Saat ini memang kau berkata lebih memilihku. Tapi, jika suatu hari Daddymu sudah tak ada? Apa kau tak menyesal dengan pilihan yang kau pilih tadi?"
Deg.
Perkataan Rey sungguh seperti tamparan panas di wajahnya. Air matanya kembali mengalir dan pikirannya memutar akan reaksi sang papa yang mengatakan sesuatu hal yang seperti tak mungkin.
Rey yang tak kuasa langsung menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan. "Usst, pergi dan minta maaf pada Daddy."
Jessica masih terdiam. Dia menangis tergugu di pelukan Rey hingga tanpa sadar jika disana, sudah ada Jack yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kemana, Tuan?" tanya Jack tanpa memperdulikan dua orang yang sedang berpelukan.
"Tuan besar ada di kamar, Tuan Jack."
Perbincangan Jack dengan kepala pelayan membuat Jessica melepaskan pelukan mereka dan menatap kehadiran Jack yang berjarak beberapa meter saja darinya.
"Kau dari mana, Jack?" tanya Jessi dengan menghapus air matanya.
Jack menoleh, dia menatap dingin gadis yang menempati seluruh hatinya ini.
"Saya dari apotik," sahut Jack.
"Apotik? Untuk apa kau kesana?"
"Tentu saja membeli obat, Nona."
__ADS_1
Pikiran-pikiran Jessi kembali terngiang akan ucapan sang Daddy. Dia segera berjalan mendekati Jack hingga jarak keduanya berdekatan.
"Siapa yang sakit?"
Jack masih diam. Dia hanya menatap mata gadis yang dia cintai ini dengan pandangan sulit diartikan.
"Siapa yang sakit, Jack?" sentak Jessi dengan suara lantang.
"Tuan besar."
"Apaa!" Jessi terkesiap. Gadis itu sampai membelalakan matanya tak percaya akan perkataan orang kepercayaan ayahnya ini.
Benarkah obat itu untuk Daddynya? Jika iya, kenapa selama ini dirinya tak tahu. Bahkan selama ini, Jessica selalu melihat ayahnya terlihat baik-baik saja.
"Kau bingung?" tanya Jack dengan seringai sinis.
"Apa maksudmu, Jack?"
"Selama ini kau selalu egois akan tingkahmu. Pergi dari rumah tanpa memberi kabar sedikitpun pada Tuan besar. Hingga dia sakit pun kau tak tau," sindir Jack menatap sinis gadis yang dia cintai itu.
"Jangan bertele-tele, Jack!"
"Kau sebagai anak seharusnya tau, Nona. Daddy mu selama ini menahan sakit sendirian, dan kau begitu egois dengan memikirkan kepentinganmu saja selama ini." Hardik Jack.
Tubuh Jessica semakin terhuyung. Dia shock berat mendengar jika ayahnya memang sakit. Tapi kenapa dia tak tahu sedikitpun. Apa benar yang dikatakan oleh Jack bahwa dia sudah egois selama ini?
Apa dia sudah begitu keterlaluan hingga dia teringat akan ucapannya yang begitu menusuk relung hati sang ayah. Hingga Gadis itu jatuh terduduk dilantai dengan air mata luruh begitu deras.
"Menyesal heee?"
Jack sudah tak peduli jika di depannya ini adalah anak dari orang yang begitu dihormati. Selama ini memang pria itu lah yang menemani Stevent berobat kemanapun. Hanya dirinya lah yang selalu ada di dekat Stevent ketika pria itu seharusnya ada di dekat anaknya dikala sakit.
"Tangisanmu saat ini hanya omong kosong, Nona. Karena umur Tuan besar sudah tak lama lagi."
~Bersambung~
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di nome)