Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 10 (Malam Pertama)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 10 (Malam Pertama)


(PoV Rizki)


Malam ini, adalah malam pertama aku dan Annisa menjadi suami istri.


Tidak seperti pengantin lainya yang menunggu momen ini, aku justru ingin menghindarinya. Rasanya benar-benar tidak mudah untuk menyentuh wanita yang tidak aku cinta.


Aku masih duduk di halaman masjid, padahal sholat Isya sudah selesai setengah jam yang lalu.


 Entah apa yang akan dipikirkan Annisa di sana, tapi di sini, aku sedang mempersiapkan diri mencari alasan untuk menghindari Annisa malam ini. Aku tidak bisa menyentuhnya.


Pikiranku kalut, aku masih terbayang Sheila yang tadi pagi datang dengan bercucuran air mata.


Ingin kubalas pelukannya, tapi mustahil kulakukan karena aku sudah menjadi milik wanita lain, dan dia pun sudah menjadi milik pria lain.


Kurasa, Sheila akan memegang janjinya untuk mempertahankan pernikahannya dengan lelaki itu. Baguslah! Dia harus bahagia dengan lelaki yang sekufu dengannya.


Ragaku sudah menjadi milik Annisa, tapi pikiranku masih dipenuhi Sheila. Astagfirullah...


Aku berdzikir sebanyak mungkin untuk menghilangkan kekalutan hati. Aku tahu, tidak sepatutnya begini.


Annisa wanita baik, aku sangat mengakui itu. Tatapannya padaku begitu dalam. Sialnya, aku tidak bisa membalas tatapanku kepadanya, seperti tatapannya kepadaku yang penuh dengan cinta.


Aku bisa berusaha semanis mungkin memperlakukan Annisa, terutama di hadapan umminya.


Tapi untuk melakukan ‘itu’ rasanya aku tidak bisa berpura-pura. Tidak adil untuk Annisa jika aku melakukannya, sedangkan bayanganku masih dipenuhi oleh sosok Sheila.


Malam semakin larut, bulan sudah bersembunyi di balik awan malam.


Dengan berat hati aku harus segera pulang. Tidak mungkin aku terus menghindari Annisa, apalagi di malam pertama pernikahan kami.


Apa kata Ummi nanti kalau aku menghindari malam pengantin ini.


***


“Assalamualaikum” Aku membuka pintu dengan perlahan, tapi rumah sudah sepi. Jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Sepertinya, ummi sudah tidur. Perasaanku sedikit lega.


Aku berjalan ke kamar Annisa yang terletak di pojok ruang TV. Sedangkan kamar ummi berada di belakang dekat dengan dapur dan ruang makan.


Aku sangat berharap Annisa sudah tidur, sehingga aku tidak perlu mencari alasan untuk tidak menyentuhnya malam ini.


“Mas...”


Deg!


Terdengar Annisa memanggil, perlahan suara kaki semakin mendekatiku yang membelakangi arah dapur. Disusul aroma parfum yang kian wangi.


Tidak seperti parfum Sheila yang selalu menyengat, parfum Annisa justru sangat kalem wanginya.

__ADS_1


“Annisa buatkan susu jahe. Kata ibu, mas suka minum susu jahe kalau lagi kecapean” Dia menyodorkan gelas padaku.


“Terimakasih. Bawa ke kamar aja, sekalian Mas mau rebahan. Capek” Kataku sedikit ketus.


Ini pertama kalinya aku melihat dia tanpa memakai hijab. Rambutnya sebahu, lurus dan hitam.


Dia juga ternyata pandai bermake-up. Satu lagi yang membuat pangling, dia berponi.


Melihat Annisa sekarang, aku seperti melihat artis-artis Korea. Putih, mulus, dan memakai makeup tipis ala-ala wanita Korea.


Kukira wanita berpakaian gombrang dan berjilbab lebar seperti dia itu kuno. Ternyata aku salah, justru dengan cara itu dia menyembunyikan kecantikannya.


Tiba di kamar, kami hanya diam-diaman. Setelah kuhabiskan susu jahe yang dibuatkan Annisa, aku tidak tahu harus apa, aneh sekali rasanya berada satu kamar dengan wanita yang baru dua kali ditemui.


Aku masih bimbang dengan perasaanku. Meski setelah melihat penampilannya sekarang, hatiku sedikit bergetar. Tapi tetap saja, harus kuyakinkan dulu bahwa aku mencintainya. Baru aku bisa melakukan ‘itu’ dengannya.


Aku paham, jika aku menahan hak Annisa dengan tidak memberinya nafkah batin, aku akan berdosa. Tapi sungguh, aku tidak memiliki hasrat sama sekali kepadanya.


Bahkan, sekedar debaran jantung saja tidak aku rasakan. Bagaiamana bisa aku menyentuhnya?


“Annisa, mmm.. begini, untuk malam ini Mas belum bisa melakukan ‘itu’, Mas harap kamu mengerti. Hari ini mas lelah sekali.” Kataku mencari-cari alasan.


“Ndak apa, Mas. Kita masih punya banyak waktu. Sekarang Mas tidur, ya. Biar Annisa yang matikan lampunya.” Ucap dia sambil tersenyum.


Aku merasa heran, mengapa dia tahu kalau aku harus tidur dalam keadaan gelap.


Aku bersyukur malam ini bisa terbebas dari kewajibanku. Untuk besok, biar kupikirkan lagi caranya.


Sebenarnya aku belum ngantuk, itu hanya alasan agar aku bisa terbebas dari kewajiban malam ini.


Aku hanya diam dan berpura-pura tidur. Telingaku menangkap setiap gerakan Annisa yang masih duduk di kursi meja kerja.


Sepertinya, dia sedang berkutat dengan laptop untuk mengecek laporan penjualan minggu ini.


Annisa memiliki usaha fashion muslimah. Dari set gamis, hijab, cadar, bahkan atasan panjang yang modelnya sangat fashionable.


Dari segi materi, usahanya ini, Annisa terbilang cukup. Bahkan mungkin bisa mencapai lebih dari penghasilan bulananku.


Dia gadis yang mandiri dan tidak manja. Di usianya yang masih delapan belas tahun, dia mampu mencukupi segala kebutuhannya sendiri.


Sepeninggal abinya, ummi meneruskan usaha yang sejak awal di rintih bersama.


Mereka mempunyai usaha toko grosiran di pasar induk. Ummi juga mempunyai kos-kosan delapan pintu di dekat Universitas ternama di Cirebon.


Meskipun secara finansial keluarga ini terbilang berada, namun cara hidup mereka sangat sederhana.


Aku kagum pada semangat mereka dalam berikhtiar mencari rezeki.


Suatu saat nanti, aku akan mengikuti jejak mereka menjadi pengusaha. Untuk sekarang, aku hanya bisa menikmati setiap prosesnya.

__ADS_1


Mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk modal. Rencananya, aku ingin membuka usaha bengkel motor dan mobil, dan menyediakan segala macam sparepart bagi kedua kendaraan tersebut.


Namun tentu saja itu membutuhkan modal yang banyak. Dan aku harus bekerja lebih keras lagi untuk mewujudkan apa yang sudah aku impikan sedari dulu.


Dengan ikhtiar dan doa yang kuat, semoga kelak apa yang aku impikan bisa tercapai.


“Mas, apa sudah tidur?” Tanya Nisa sembil menoleh ke arahku.


Aku tidak menjawab pertanyaannya, malah aku pura-pura sedikit mendengkur agar dia yakin bahwa aku sudah benar-benar pulas.


Aku merasakan Nisa menutup laptopnya dan berjalan mendekatiku. Dia berhenti di pinggir ranjang tepat berada di sampingku.


Dia duduk di lantai dan menyenderkan kepalanya ke ranjang, kini aku merasa wajahnya tepat berada di hadapan wajahku.


Dengan lembut dia membelai rambutku, dari ujung mata aku melihat bahwa dia sedang menatapku lekat-lekat.


“Mas, aku benar-benar gak nyangka, kamu yang dulu menolongku malam itu, sekarang berada di kamarku.” Ucap Nisa berbisik.


“Malam itu aku sangat ketakutan, aku takut gelap dan pobia dengan petir, apalagi hujannya sangat lebat. Aku berdoa dan menangis meminta tolong kepada Allah. Tidak lama, kamu datang dan menolongku. Sejak saat itu, kamu mengganggu pikiranku. Padahal aku sama sekali tidak mengenalmu, tidak tahu namamu, dan tidak tahu statusmu, tapi dengan lancang aku selalu memintamu kepada Allah. Tidak di sangka, doaku terkabul, Mas. Dan sekarang kamu di sini, aku sangat bersyukur.” Kata Annisa lagi melanjutkan perkataannya.


Mendengar ceritanya, aku langsung teringat kejadian malam itu setahun yang lalu. Ya, malam dimana hujan sangat lebat dengan petir saling menyambar.


Waktu itu aku pulang dari pesantren Syauqina untuk menengoknya, dan mampir sebentar ke rumah teman SMA.


Melihat dia yang kebingungan, aku tidak tega membiarkannya begitu saja. Benarkah gadis yang kutolong waktu itu adalah Annisa?


Bahkan dulu aku tidak melihat wajahnya karena ditutupi oleh masker. Tapi jika diingat lebih seksama, motor yang kuperbaiki waktu itu sama persis dengan motor Annisa yang berada di garasi.


Ya Allah, apa ini kebetulan? Tidak! ini tidak mungkin kebetulan.


Ini adalah skenario yang dirancang sebegitu tertatanya oleh pemilik kehidupan.


Apakah akan ada kejutan lagi di lembaram berikutnya?


Annisa masih mengelus rambutku. Dia tidak berhenti menatapku di tengah remangnya cahaya lampu.


Sedikit risih dengan keadaan ini, aku pura-pura menggeliat dan berpindah posisi membelakanginya. Dia tampak sedikit kaget, lalu dengan segera, dia berpindah ke sofa yang berada di dekat jendela kamar.


Sedikit heran, mengapa Annisa tidak tidur di ranjang? Padahal di sebelahku masih kosong dan lega karena ranjang ini berukuran paling besar, tapi dia memilih tidur di sofa.


Apa yang dia pikirkan? Apakah dia merasa canggung tidur denganku?


Mataku semakin berat, aku tidak menghiraukan Annisa yang sudah pulas tidur di sofa.


Dan akupun tertidur di ranjang pengantin sendirian. Dibaluti selimut yang hangat dan cahaya lampu remang-remang.


Pihak WO mendesain kamar ini seromantis mungkin untuk kami, namun pada akhirnya, kami memilih tidur masing-masing.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2