
"Habibah." Lee berusaha turun dari ranjangnya, dia benar-benar tidak tahu Habibah sudah ada di ambang pintu, dan sudah pasti dia mendengar semuanya.
Wanita muda itu terpaku, mata yang bulat itu mulai berkaca-kaca bergerak menatap dua wajah yang juga sedang menatap dirinya.
"Habibah." Lee berusaha keras mendekatinya, mengabaikan lutut dan kakinya yang sakit.
"Jadi." Habibah mulai terisak.
"Habibah, bisakah mendengarkan penjelasanku?" ucap Lee pelan mendekatinya.
"Kau melakukan semuanya karena rasa bersalah." tangisnya pelan. "Dan aku, sangat percaya kepadamu."
"Tidak seperti itu, aku hanya ingin kau aman dan bahagia terlepas dari apa yang sudah ibuku lakukan. Aku benar-benar ingin kau bahagia, aku tidak ingin kau_"
"Kau sama saja dengan laki-laki lainnya, hanya menipu."
"Habibah." Lee menahan lengan Habibah namun tak mengurungkan langkah wanita itu, dia berjalan cepat sambil menangis, membuat Lee bingung setengah mati.
"Kau harus mengejarnya!" kesal Lee kepada Rudy Utama yang masih terpaku, mencerna semua yang telah terjadi. "Astaga, dia putrimu!" bentak Lee kemudian berjalan dengan susah payah.
"Ayo." Rudy menahan bahu Lee kemudian menuju mobilnya.
"Bisakah kalian mengejarnya lebih dulu?" perintah Lee kepada dua orang anak buah Rudy Utama.
"Baik Tuan, Nona Habibah naik angkot menuju terminal."
"Kita akan menemukannya." ucap Rudy mulai melaju menyusul anak buahnya yang sudah lebih dulu.
"Ini salahmu! Seandainya kau tidak mengambil rumah kakek Raharja. Dia tidak akan kehilangan arah di kota ini." kesal Lee lagi.
Rudy tak menyahut, mata yang terlihat fokus itu menyimpan kesedihan tersendiri. Harusnya dari awal ia mengenali Habibah, wajah dan kebiasaan seorang ibu pasti akan menurun kepada anak kandungnya.
Lalu bagaimana dengan Larisa? 'Selama ini aku memang bodoh.' ucapnya di dalam hati, dia tak mau banyak bicara sebelum hasil DNA dia dan Habibah keluar, lagipula baru saja beberapa jam lalu ia mendapatkan sampel darah Habibah, ketika dokter memeriksanya.
"Terminal." ucap Lee membuat Rudy sedikit terkejut, membelokkan mobilnya masuk ke dalam terminal.
Dari kejauhan, tampak wanita berkerudung itu sedang berdiri memandangi angkot.
Lee turun dan segera mendekat walaupun menahan sakit.
"Kau mau kemana?" tanya Lee pelan.
Dia tak menoleh, tentu suara Lee tak akan asing baginya. Hanya enggan melihat karena kecewa.
"Aku minta maaf." ucap Lee lagi.
__ADS_1
"Jam berapa berangkat Pak?" tanya Habibah kepada sopir angkot tersebut.
"Setengah jam lagi Mbak." jawab laki-laki paruh baya tersebut.
"Habibah." panggil Lee lagi.
Tetap sama dan Lee meraih lengan Habibah.
"Jangan seperti ini." ucap Habibah menatap tak suka.
"Aku ingin bicara." ucap Lee mendadak berubah peduli, tidak terlihat dingin seperti biasanya.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan." menghindari tatapan Lee padanya.
Lee memegang kedua bahu Habibah dan membuat mereka berhadapan.
"Maafkan aku Habibah, aku juga minta maaf atas perbuatan ibuku. Jika maaf kurang tepat untuk mengungkapkan rasa bersalahku, maka aku meminta kau mengampuni aku. Aku mengakui, ibuku memang jahat. Dan aku bersyukur tidak pernah mengenal dirinya." Lee berlutut pada akhirnya.
Tentu membuat haru wanita di hadapannya, air mata hangat jatuh begitu saja.
"Aku hanya berusaha agar kau bahagia, dan tidak terlalu menyalahkan aku." ucap Lee belum juga beranjak. "Walaupun aku gagal."
"Aku tidak menyalahkan mu." ucapnya sangat pelan. "Aku hanya ingin pulang, dan menjalani hidup biasa saja. Tidak berharap kepada Mas Bram, tidak berharap tentang Ayah, juga tidak merepotkan dirimu." ucapnya mengusap air mata.
"Aku ingin pulang." ucapnya kemudian berjalan menuju pintu angkot yang sudah mulai penuh.
"Habibah." Lee berdiri dan meraih tangannya lagi walaupun di tepis Habibah.
"Biar aku yang mengantarmu." Kini Rudy Utama yang angkat bicara.
"Tidak, terimakasih." Habibah melangkah masuk dan kembali Lee menariknya, kali ini lebih kuat dan tidak bisa lepas begitu saja.
"Kau marah." ucap Lee lagi.
Habibah menggeleng. "Aku memang harus pulang."
"Bagaimana dengan sidangmu?" tanya Lee masih berusaha menahan.
"Aku akan datang." jawabnya kemudian masuk karena angkot akan segera berangkat.
"Habibah!" panggilnya ingin masuk tapi angkot sudah terlalu penuh.
Habibah hanya menoleh, lalu duduk di tengah-tengah.
"Habibah, aku benar-benar minta maaf. Aku minta maaf Habibah." ucap Lee setengah berteriak.
__ADS_1
Hingga mobil sudah melaju Lee masih terlihat mengejar dan mengatakan kata maaf yang tak juga di jawab.
Ia meremas rambutnya sendiri, menatap mobil yang kian menjauh dan menghilang kemudian.
"Dia butuh waktu." ucap Rudy Utama kepadanya.
Lee tersenyum sinis. "Harusnya kau yang mengejar dan memastikan dia aman." kesal Lee menggeleng dengan sikap tenang Rudy Utama.
"Anak buah ku sedang mengikutinya." jawab Rudy kemudian balas menggelengkan kepalanya melihat kekhawatiran berlebihan dari pria muda tersebut.
"Itu terdengar lebih baik." ucapnya menuju mobil Rudy Utama.
"Aku rasa itu bukan hanya rasa bersalah, tapi jatuh cinta." Rudy mulai melaju dengan tersenyum aneh.
"Apakah kau tidak merasa bersalah padanya?" kesal Lee tidak menyukai kata-kata jatuh cinta.
"Tentu saja, bahkan akulah yang paling bersalah." jawabnya menoleh Lee dengan wajah penuh sesal.
Hari-hari berikutnya, semua orang sedang merasa sendiri.
Bram terpaku dengan surat gugatan yang kini sudah ada di tangannya. Matanya kosong setelah menyaksikan nama yang tertulis itu.
Teringat dulu ia sangat menginginkan kata cerai, lalu setelahnya akan menikahi Larisa.
Dan kini menjadi kenyataan.Tapi rasanya malah menyakitkan.
Sidang pertama di mulai.
Habibah datang dengan seseorang gadis yang juga memakai kerudung sama seperti dirinya. Salah seorang santri yang sudah menempuh pendidikan hukum, dan kembali mengajar di pesantren milik Pamannya. Membantu proses perceraian yang sedang di jalani Habibah.
"Habibah, apakah sudah tidak ada kata maaf untukku?"
Bram mencoba mengajak bicara Habibah setelah persidangan yang hasilnya akan di tunda.
"Maaf Mas, kau dan Larisa memang harus menikahi. Dan aku tidak akan sanggup jika memiliki saingan dalam sebuah pernikahan."
"Aku tidak akan menikahinya."
"Itu bukan solusi Mas, bagaimana dengan dosa yang sudah kalian lakukan? Aku harap kau juga ikhlas, lagi pula awalnya kalian memang saling mencintai. Dan aku sedang mencoba berbenah diri, mundur dari posisi sebagai penghalang antara kau dan Larisa."
"Tapi, sekarang ini sudah berbeda Habibah. Aku mencintaimu." ucap Bram dengan suara bergetar, dia benar-benar menyesal.
"Cinta kepada manusia bisa datang dan pergi, dan ketika kita terlalu mencintai sesuatu, maka akan di uji dengan kehilangan. Setiap pertemuan akan berakhir, begitu pula pernikahan yang tak diinginkan ini. Maafkan aku yang sudah terlalu mencintaimu, dan mengejarmu, memaksamu untuk mencintaiku selama ini. Aku sangat berharap kau akan mengeluarkan kata talak itu, agar kita sama-sama tenang."
Bram menggeleng. "Aku tidak mau."
__ADS_1