Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Part 87 MCS


__ADS_3

Di lain tempat..


Terjadi kericuhan di mansion utama. Ada lebih dari 20 orang yang mencoba menerobos masuk ke dalam mansion. Terjadi baku hantam bahkan terdengar beberapa kali suara tembakan dari sana.


Beruntung nya bima sudah mengosongkan mansion. Para asisten rumah tangga, supir dan tukang kebun sudah bima pulangkan beberapa hari lalu. Tapi bukan di pecat, hanya meminta mereka untuk sementara kembali kerumah masing masing. Nanti jika kondisi sudah normal lagi, bima akan memanggil mereka untuk kembali bekerja.


Beberapa orang dari pengawal dan penerobos sudah banyak yang terluka. Bahkan ada 2 orang yang entah dari kelompok mana sudah tewas tergeletak dengan bersimbah darah.


Situasi mencekam itu berlangsung hampir satu jam. Letak mansion jauh dari hiruk pikuk kendaraan bahkan jauh juga dari pemukiman warga yang lain. Menuju ke mansion harus melewati perbukitan meski ada di tengah kota. Bukit bukit itu di buat oleh Tuan Yuda saat membuat mansion utama, agar pemandangan menuju ke sana tidak gersang dan terlihat hijau.


Karena sudah banyak yang gugur, para penerobos itu pun mundur teratur meninggalkan mansion tanpa membawa korban dari kelompok mereka yang berjatuhan..


"Bos, mansion utama di serang..!!"


Salah seorang pengawal itu menghubungi nomor david yang kini masih berada di pesawat..


**


Di Pesawat menuju Bandara JFK


Bandar Udara Internasional Jhon F Kennedy..


"Bos, mansion utama di serang..!!"


David mendapat kabar dari pengawal mereka yang berjaga di mansion bahwa mansion utama telah di serang oleh sekelompok orang bersenjata.


David pun langsung memberitahukan hal ini pada bima. Bos nya itu meminta david untuk mengambil foto para mafia yang menjadi korban tembak di mansion tersebut.


Tidak menunggu lama, pengawal yang di perintah kan langsung mengirim beberapa foto yang menjadi bukti telah terjadi kekacauan di mansion.


Bima lalu menghubungi sepupunya yaitu dokter Sebastian atau yang akrab di sapa dengan sebutan dokter Tian..


Bima meminta dokter tian untuk datang ke mansion bersama dengan beberapa perawat yang bekerja di rumah sakit milik keluarga havidi itu untuk mengurus para pengawalnya yang terluka. Tidak lupa bima juga meminta sepupunya untuk membawa beberapa orang yang tewas kerumah sakit nya. Bima meminta tian untuk mengambil organ tubuh orang orang yang tewas itu untuk di donasikan pada para pasien yang membutuhkan donor organ dalam.


Setelah itu, bima kembali mengetikkan pesan dan menyisipkan foto yang tadi di ambil oleh pengawalnya, lalu dia kirimkan pada seseorang..

__ADS_1


Perjalanan masih panjang, bima kembali menutup kedua mata nya. Dia cukup tenang karena mantan sahabatnya itu belum mengetahui dimana bima menyembunyikan istrinya.


Padahal bima membuat rumah itu sebagai hadiah untuk dinda, tapi kini rumah itu jauh lebih berharga karena letaknya yang tidak di ketahui sehingga sangat aman untuk istrinya tetap berada di sana.


Sebelum itu, bima sudah memberi perintah pada david, tidak ada yang boleh meninggalkan rumah besar itu termasuk pak war dan asisten rumah tangga mereka sampai keadaan kembali aman.


Bima juga meminta david untuk menambah lagi jumlah pengawal di mansion agar menggantikan para pengawal yang terluka. Untung saja tidak ada pengawal dari bima yang menjadi korban tewas. Meski beberapa orang pengawal mendapatkan luka serius dan harus mendapat banyak jahitan karena terkena sabetan benda tajam.


**


Sementara itu di pesawat yang lain..


Diki masih terus sibuk dengan ponsel nya, sementara riko memilih untuk tidur selama perjalanan. Dia yang biasa bangun menjelang tengah hari, hari ini di paksa untuk bangun sebelum matahari terbit.


Ya, mau bagaimana pun dia harus berkorban demi sahabat nya, karena kedua sahabatnya itu pasti akan melakukan hal yang sama jika dirinya berada di posisi bima sekarang.


Tidak memperdulikan riko yang sudah terlelap masuk ke alam mimpi nya, diki dengan wajah yang sudah kesal karena sedari tadi wanita nya tidak mengangkat telepon dari dia. Mungkin sudah lebih dari 100 kali sejak pagi diki menghubungi nomer chacha.


Rasanya ingin sekali dia meminta pada pilot untuk memutar balik pesawatnya. Duduk dengan gelisah menunggu kabar dari chacha. Diki, Riko, dan Bima memang sama. Jika sudah menemukan belahan jiwa nya, mereka akan mati-matian menjaga wanitanya. Posesif dan overprotektif dua kata itu yang bisa menggambarkan bagaimana kedua Om Om itu memperlakukan wanita nya.


**


Di apartemen chacha..


Semalaman chacha tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan ucapan diki yang akan menemani nya untuk menemui sang ayah kandung.


Chacha membayangkan apakah ayah nya akan menerima dia atau tidak. Atau apakah ibunya akan mengizinkan kalau chacha menemui ayah kandung nya.


Gadis itu menghabiskan waktu semalaman berdebat dengan isi kepalanya. Hingga menjelang pagi, barulah dia tidur itu pun karena kelelahan memikirkan hal hal yang belum terjadi.


Sekitar pukul 1 siang chacha baru membuka mata nya. Dengan lenguhan khas orang bangun tidur chacha mengerjapkan kedua matanya.


"Ya ampun jam berapa ini ??" gumam chacha saat terik matahari masuk ke sela sela jendela kamar apartemen nya..


Chacha pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, "Astaga, lowbat..!!"

__ADS_1


Ponsel chacha mati karena kehabisan baterai. Dengan segera chacha pun mengecas ponsel nya. Sambil menunggu daya ponselnya penuh, chacha segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar nya. Dia memilih untuk langsung membersihkan diri nya, lalu setelah itu dia akan langsung pulang kerumahnya. Pasti ibu nya khawatir karena sejak pagi belum memberi kabar terbaru keberadaan nya pada sang ibu.


Chacha lupa, selain sang ibu dia juga harus memberitahukan apa yang dilakukan nya pada diki, calon suaminya.


Gadis itu hanya membutuhkan waktu 5 menit di kamar mandi. Mencuci muka dan menyikat gigi, 2 point penting yang tetap harus di lakukan oleh chacha meski dia sedang terburu buru.


Setelah itu, chacha berganti baju dan meninggalkan apartemen nya. Satu hal yang penting, dia melupakan ponselnya yang masih di isi daya.


Butuh waktu hampir 1 jam chacha akhirnya sudah tiba di rumah ibu nya. Dengan tergesa gesa chacha pun masuk ke dalam rumah.


"Astaga.. Anak perawan jam segini baru pulang ??" sindir ibu pada anak gadisnya


"he he.. maaf bu chacha keasyikan main dirumah temen sampai ketiduran disana..!!" ucap chacha seraya mencium pipi sang ibu sambil terkekeh


"Ck, kamu ini ya gak berubah berubah..!! Kamu itu udah lulus kuliah cha, apa harus seperti ini terus ??"


Semenjak tahu kebenaran tentang rahasia ibu nya selama ini, chacha selalu menunduk diam saat di marahi oleh ibunya. Dia tidak pernah melawan lagi bahkan hanya untuk sedikit berdebat dia sama sekali tidak melakukan nya.


Dia merasa beban ibu nya sudah terlalu berat, dan jangan sampai dia menambah nya lagi dengan melawan dan menaikkan nada nya saat bicara dengan sang ibu.


Melihat chacha hanya diam sambil menunduk, ibu pun lalu mengusap pucuk kepala chacha..


"Kamu udah makan belum ??" tanya ibu


Chacha menggeleng, lalu ibu mengajak chacha ke meja makan, mereka berdua pun makan siang bersama.


Setelah makan siang, chacha kembali ke kamar pribadi nya di lantai 2.


Dia meletakkan tasnya di atas meja, lalu chacha dengan segera menjatuhkan bokongnya di kasur..


"Ko, kaya ada yang lupa ya..??" gumam chacha "tapi apa yaa...??" sambungnya lagi seraya memejamkan mata mencoba mengingat ingat apa yang di lewatkan nya.m


"YA AMPUN HANDPHONE GUE...??!!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2