
"Saya mau di periksa dengan dokter cantik itu. Saya tidak mau di periksa oleh dokter lain..!!" suara seorang wanita yang terlihat sudah tua sedang berdebat di bagian resepsionis..
"Tapi nyonya, dokter cantik yang anda maksud itu sedang menangani pasien di ruang operasi."
Saya tetap mau dengan dokter cantik.." pekik orang tua itu semakin membuat mereka menjadi pusat perhatian..
"Ada apa ini ??" tanya bima
"Begini tuan, ibu ini ingin di periksa oleh dokter cantik, eh maksud saya dokter luna tuan. Tapi saat ini dokter luna sedang ada jadwal operasi.." kata resepsionis rumah sakit itu menjelaskan kronologi keributan yang terjadi
"Kira kira berapa lama lagi dokter itu selesai ??" tanya bima
"Sebentar tuan.." perawat yang bekerja di bagian resepsionis itu pun mulai memeriksa dan menghitung kira kira berapa menit lagi waktu yang di butuhkan untuk menunggu dokter luna selesai dengan operasi nya..
"Sekitar 1 setengah jam lagi.." ucap nya memberi tahu setelah memastikan
"Nyonya, apa anda mau menunggu sekitar 1,5 jam lagi ??" tanya bima..
"Jika anda mau menunggu, silahkan menunggu dengan tenang. Jika tidak, silahkan membuat janji terlebih dulu untuk bertemu dengan dokter cantik itu.." kata bima pelan tapi tegas dan sama sekali tidak berbelit belit..
Nyonya tua itu pun tersenyum.. "Baiklah, aku akan menunggu di sini dengan tenang.." katanya seraya mengambil posisi duduk di salah satu kursi di dalam lobby rumah sakit tersebut
"Terimakasih, tuan." kata resepsionis itu pada bima..
Bima hanya mengangguk tanpa mau bicara apapun lagi..
"Astaga. Ternyata di dunia nyata ada pria seperti dia. Dingin, cuek, tapi penuh perhatian dan satu lagi tidak banyak bicara." katanya sambil menatap punggung bima yang semakin menjauh keluar dari rumah sakit
"Benar, aku juga tidak menyangka. Apalagi wajahnya, astaga dia seperti dewa. Tampan sekali.." balas perawat yang lain
*Di mobil..
"Aku jadi penasaran bos. Siapa dokter muda itu.." kata david ketika bokongnya sudah menempel sempurna di jok pengemudi
Bima hanya diam sambil menatap ke luar jendela. Pria itu sama sekali tidak tertarik untuk membicarakan wanita lain selain istri nya.
__ADS_1
David yang melihat ekspresi di wajah bos nya pun kembali menutup rapat mulutnya. David sebenarnya kasihan melihat bos nya itu seperti tidak memiliki lagi semangat untuk hidup. Yang di lakukan nya sejak kepergian sang istri yang entah kemana itu hanya bekerja, bekerja dan bekerja tanpa kenal lelah. David bahkan hampir di pecat saat tidak bisa menemukan keberadaan dinda. Meskipun david sudah berapa kali di usir oleh bima, tapi david tidak pernah meninggalkan bos sekaligus teman sekolah nya itu. David tahu seberapa hancur nya bima saat ini. Dan hanya dinda lah yang bisa menyembuhkan luka di hati pria itu..
David melajukan mobil nya itu untuk kembali ke hotel..
*Di rumah sakit..
"Lun, kamu tahu nggak ?? Tadi pemilik rumah sakit yang baru datang kesini.." kata jenifer ketika melihat teman nya itu sudah keluar dari ruang operasi dan kini berjalan menuju ruangan nya lagi..
"Benarkah ??"
Jenifer mengangguk cepat.. "Dia tampan lun, sangat tampan.."
Luna menyunggingkan senyumnya merasa lucu dengan ekspresi jenifer yang menurut nya sedikit berlebihan.. "Dari mana kamu tahu kalau dia tampan ??"
"Aku melihatnya sendiri, tadi dia berhenti cukup lama di depan ruangan mu.."
Luna mengerutkan kening nya..
"Aku juga tidak tahu, lun. Tapi sepertinya dia tertarik dengan ruangan mu ini.." kata dokter jenifer mengekor luna lagi sampai masuk ke ruangan nya..
Kring kring..
Bunyi telepon di ruangan luna..
"Halo.." luna langsung mengangkat sambungan itu..
"Oh, baiklah. Suruh langsung ke ruangan ku.." luna pun menutup telepon nya lebih dulu.
"Siapa lun ??" tanya dokter jenifer penasaran..
"Nyonya Maria. Dia bersikeras ingin aku yang memeriksa nya.." kata luna seraya mengambil dan memakai kembali jas putih kebesaran nya..
"Astaga. Nyonya Maria yang ingin cucu nya menikah dengan mu, itu ??"
Luna mengangguk.. "Sudah. Jangan di bahas. Kembali ke ruangan mu, sebentar lagi beliau pasti tiba di ruangan ku.." kata luna pada teman nya. Jenifer pun langsung keluar dari ruangan luna, sebab dia pun malas bertemu dengan pasien luna yang satu ini.
__ADS_1
Tok tok tok..
Pintu ruangan luna di buka..
"Selamat siang, nyonya maria. Silahkan masuk.." kata luna mempersilahkan wanita tua itu untuk masuk dan duduk di hadapan nya..
"Apa ada yang bisa saya bantu ??" tanya dokter luna.
Luna tahu pasti nyonya maria datang menemui nya bukan untuk di periksa, tapi untuk kembali menawarkan nya menjadi cucu menantu wanita itu.
Sebenarnya luna sudah menolak. Luna sudah mengatakan pada wanita tua itu bahwa dia sudah bersuami dan memiliki satu orang anak. Tapi nyonya maria tidak perduli, dia hanya ingin luna yang menjadi cucu menantu nya..
"Apa dokter cantik ada waktu malam ini ??" tanya nyonya maria tanpa basa basi
"Mohon maaf nyonya, saya tidak bisa. Putra saya di rumah pasti sudah menunggu.." kata luna menolak dengan halus seperti biasanya
"Kalau begitu bawa saja. Saya tidak keberatan. Saya hanya ingin mengenalkan dokter cantik dengan cucu saya, setelah kalian bertemu terserah dokter cantik apakah dokter cantik mau melanjutkan ke arah yang lebih serius atau tidak.."
Luna menelan saliva nya. Sungguh sulit memberikan pengertian pada wanita itu bahwa dia sama sekali tidak tertarik dengan pertemuan tersebut.
Kring Kring..
Telepon di ruangan itu berbunyi lagi..
"Maaf nyonya, sebentar.." kata luna sebelum mengangkat sambungan tersebut..
"Halo..."
.....
"Oh, baiklah saya segera kesana.."
Luna kembali menutup telepon nya..
"Nyonya, mohon maaf apa masih ada yang ingin di bicarakan, karena saya harus memeriksa pasien di ruangan lain.." kata luna lagi dengan sopan
__ADS_1
"Baiklah dokter cantik. Silahkan lanjutkan pekerjaan mulia mu. Dan semoga dokter bisa mempertimbangkan lagi tawaran saya yang barusan.."