Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Lamaran


__ADS_3

"Duduklah."


Habibah mendengar ucapan Bibi Rumini, tapi matanya masih tertuju kepada laki-laki tersebut.


"Dia datang ingin bertemu denganmu Nak." ucap Bibi Rumini lagi.


"Iya Bi." Habibah menunduk, menyadari dia sudah menatap wajah laki-laki tersebut terlalu lama.


"Silahkan bicara, Bibi akan menyelesaikan pekerjaan Bibi sebentar." Wanita paruh baya itu kemudian beranjak menuju meja yang ada di ruangan lain tak berbatas dari ruang tamu tersebut.


Hening.


Masih menduga-duga jika kedatangan Lee adalah karena pesan darinya. Atau karena kebetulan, atau mungkin karena Lee punya keperluan lainnya.


Menutup rapat-rapat mata indahnya, menunduk agar tak terlihat serba salah. Habibah sungguh tidak tahu untuk apa laki-laki di hadapannya itu datang. Walaupun berharap dia adalah laki-laki yang selalu mengirim bunga dan Hadiah untuk dirinya.


'Tapi jika bukan? Astaghfirullah. Aku sudah salah menduga, atau jangan-jangan aku yang terlalu berharap? Bukan dia yang jatuh cinta dan ingin menikah, tapi aku!' Habibah semakin gugup dengan banyak berpikir.


"Apa aku mengganggu?" suara pelannya membuat Habibah menelan ludah.


"Ti...tidak." jawabnya singkat.


Tangannya melepas kopiah yang sejak tadi terpasang rapi, meletakkan di atas meja.


"Kau tidak suka aku seperti ini?" tanya Lee lagi.


Habibah menggeleng.


"Ah, ya Tuhan. Mengapa jadi asing seperti ini." ucapnya mengusap wajahnya.


"Tentu saja asing, kau datang tiba-tiba." Habibah menutupi perasaan serba salahnya, memilih untuk tidak menebak.


"Aku datang ingin_." menatap wajah yang mengerucut.


Habibah beranjak dari duduknya, menuju meja Bibinya dan berbicara sejenak.


"Assalamualaikum Bibi." ucapnya terdengar berpamitan.


Lee masih duduk tenang, menunggu Habibah kembali duduk, atau dia tidak suka berbicara dengannya? Lee ikut menduga-duga.


"Ayo ikut! Aku sedang ada keperluan di luar." ucap Habibah mengajaknya pergi.


Memang benar, suasana di ruangan itu membuat keduanya kesulitan mengungkapkan kata-kata.


Di halaman itu sudah terparkir sebuah mobil.


"Kau memiliki mobil baru?" tanya Habibah.


"Itu mobil lamaku, aku tidak punya uang untuk membeli mobil baru." jawabnya membukakan pintu untuk Habibah, perlakuannya masih sama, terlalu membuat istimewa.


"Mobil kita kemana?" tanya Habibah mengingat mobilnya yang ketika itu rusak dan dia tidak tahu seperti apa sekarang.


"Ada, tapi tidak pernah ku pakai. Ayahmu juga tidak mau mengambilnya." senang sekali mendengar kata mobil kita.

__ADS_1


Dia berbicara seperti biasa, dan enggan menoleh seperti biasa. Habibah yakin dia sedang salah orang.


"Kita akan kemana?" tanya Lee menoleh sedikit.


"Kemana saja." jawabnya kecewa. Hati seorang wanita memang aneh, bisa mendadak suka dengan apa yang menjadi khayalan. Parahnya malah tak sesuai harapan.


"Kalau kemana saja aku bisa mebawamu dan kau tidak bisa pulang."


"Apakah sekarang kau bekerja sebagai penculik?"


Lee tersenyum mendengarnya. Mobil mereka melambat lalu menepi di pinggiran desa yang tinggi, melihat matahari baru saja muncul dengan sinar hangat menerpa wajah keduanya.


"Aku ingin bicara serius denganmu." Lee mematikan mesin mobilnya.


Habibah menoleh wajah yang tampak halus tersebut.


"Aku anak dari wanita yang juga andil membunuh ibumu. Itu membuat aku tidak pernah tenang meskipun sudah berusaha untuk membayar kesalahannya. Tapi tetap saja aku merasa bersalah padamu." Lee menyandarkan kepalanya, menatap langit yang jauh.


"Yang bersalah ibumu, kau tak perlu membayarnya."


Lee menoleh sehingga keduanya saling menatap.


"Tak hanya itu." Lee menarik nafas beratnya. "Setelah semuanya kita lalui bersama, aku malah jatuh cinta padamu."


Habibah tak bergeming, memandangi wajah laki-laki yang sedang mengungkapkan perasaannya, dada bidangnya terlihat naik turun dengan nafas yang sedikit memburu, gugup dan khawatir jelas ada di sana.


"Itu yang membuatku malu, bertemu denganmu." Lee menunduk.


"Lalu?"


"Kau tahu, aku sudah pernah menikah." ucap Habibah pelan.


"Dan sudah bercerai." Sambung Lee lagi.


"Aku pernah bicara padamu untuk hanya jatuh cinta kepada istrimu saja. Sedangkan aku pernah mencintai mantan suamiku, kau bukan yang pertama."


"Tapi bisa menjadi yang terakhir."


Jawaban Lee membuat pembicaraan mereka berhenti sejenak.


Habibah merogoh kantong pakaian panjangnya. Meraih sesuatu yang masih tersimpan sejak lama.


Habibah memberikannya kepada Lee.


Lee mengambil dan melihat isinya. Kemudian tersenyum sedikit, kembali menatap langit yang sudah mulai terang.


"Apakah Lendra itu namamu?" tanya Habibah sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya.


"Ya." jawab Lee singkat.


Habibah menghadap pria yang mengulum senyum tersebut.


"Kau serius?" tanya Habibah lagi meminta Lee menatap dirinya.

__ADS_1


"Iya."


"Bukankah namamu Lee..."


"Lee Minho?" sahut Lee terkekeh geli.


"Sesuai dengan wajahmu." Habibah sedikit menggerutu.


"Kau tahu, saat usiaku satu tahun ayah mengalami kecelakaan. Dia tidak mungkin mengurusku. Aku di urus oleh seorang suami istri sopir ayah saat itu. Dia orang Jawa yang memakai bahasa sangat kental, dan senang sekali memanggilku dengan sebutan Lee, artinya anak laki-laki."


"Ku pikir itu namamu. Mengingat Paman adalah orang luar." Habibah ikut terkekeh.


"Ayah hanya keturunan Jepang."


Keduanya sama-sama tersenyum dengan hal yang sama.


"Tapi isi dari kartu ini benar-benar aku yang membuatnya." Lee mengembalikan kartu tersebut kepada Habibah.


"Untuk apa? Bukankah itu sangat jauh berbeda dengan dirimu. Bahkan aku tak pernah mendengar kau mengatakan assalamualaikum. Apalagi sholat, lalu adzan!"


"Apa aku harus bilang padamu jika sholat, lalu harus menelpon mu lebih dulu ketika Adzan di masjid dekat rumahku?"


"Tidak." Habibah memainkan kartu dari Lee tersebut. "Hanya terdengar aneh ketika kau begitu lembut, sopan dan sangat baik sekali ketika mengirim pesan. Biasanya kau tidak seperti itu, langsung ke pada intinya." Habibah kembali membahas perbedaan sikapnya saat ini.


"Seperti apa?"


"Seperti... Ayo pulang, atau... Dia ada disini! Ayo pergi!"


"Ayo menikah!"


Duduk yang menghadap Lee dengan banyak protes itu mendadak lemas, Habibah menyandarkan diri di jok belakangnya.


Mulutnya terkunci dengan mata terus menatap Lee yang juga tak mau berkedip menatap dirinya.


"Ayo menikah." ulangnya lagi lebih mendekati Habibah.


"Eh, kau tidak boleh mendekat." Habibah semakin gugup, membuka pintu dan segera keluar dari mobil tersebut.


Tentu saja Lee tak membiarkannya, menyusul keluar dan mendekati Habibah lagi.


"Habibah." panggilnya pelan.


Habibah masih terdiam, menikmati udara segar di ketinggian itu dengan berbagai perasaan.


"Ibuku sudah sakit-sakitan, itu sebabnya ayahmu tidak menghukumnya saat ini. Paru-parunya rusak, kemungkinan dia tidak akan hidup lebih lama." Lee masih saja ragu jika mengingat ibunya.


Habibah berbalik menghadap Lee yang terkadang tidak percaya diri karena masa lalu.


"Kau sudah menemuinya?" tanya Habibah.


Lee menggeleng. "Dia tidak menganggap ku ada, dan sebaliknya."


"Kalau begitu kau temui ibumu." Habibah kembali menuju mobil mereka.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan lamaran ku?"


__ADS_2